Ahmad Abdul Haq


TOKOH DI BALIK AKSI PANGGUNG

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 08 April 2011 21:30 WIBTOKOH DI BALIK AKSI PANGGUNG

TOKOH DI BALIK AKSI PANGGUNG Pernahkah Anda menonton Java Jazz? Teater Koma? atau Deteksi Basketball League? Nah perlu Anda ketahui ketiga tontonan di atas saat ini sangat populer dan digemari oleh publik di tanah air. Dan, juga perlu juga Anda ketahui, dibalik kesuksesan ketiga aksi panggung itu, terdapat perjuangan para tokoh penggagasnya yang tak kenal lelah dan mungkin bisa menginspirasi kita. Itulah antara lain tujuan kami mengangkat topik itu kali ini.

Awalnya menyelenggarakan pagelaran musik jazz di tahun 2005 Peter F Gontha, Sang Penggagas mengalami kerugian yang cukup signifikan. Begitu juga ketika penyelenggaraan ditahun berikutnya, ia juga masih mengalami banyak kerugian. Namun pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 4 Mei 1948 pantang menyerah. “Di tahun ketiga baru balik modal. Dan, setelah itu baru memetik keuntungan”, ujar Peter Gontha. Mendatangkan musisi jazz kelas dunia seperti James Brown dan Santana tentu tidak mudah. Namun, Peter mengaku mempunyai trik khusus sehingga mereka mau datang ke Indonesia dan menjadikan pertunjukkan musik jazz sangat digemari kalangan tua dan muda.

Sementara itu bagi Nano Riantiarno, pimpinan Teater Koma, ancaman pelarangan atau pencekalan dari aparat keamanan sudah menjadi “makanan” sehari-hari kala itu. Pada era jaman Orde Baru segala bentuk kreativitas seni pertunjukkan sangat dibatasi. Apalagi yang kerap mengkritik atau menyindir pemerintah yang sedang berkuasa. Begitu halnya dengan Teater Koma. “Pernah suatu ketika, kita sudah latihan selama enam bulan, pada saat pertunjukkan kita tidak dapat izin”, kata Nano mengenang. “Anak-anak yang sudah latihan sekuat tenaga hampir putus asa” ujar Nano menambahkan. Tapi, kala itu Nano dan istrinya, Ratna Riantiarno bahu membahu dan pantang menyerah. Menurut Nano, justru dirinya merasa tertantang dengan segala bentuk pengekangan dan pelarangan itu. Nano dan Teater Koma terus berkarya, sehingga masyarakat yang awam tentang tontonan teater berbondong-bondong datang ke Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan pertujukkan Teater Koma dengan lakonnya kala itu yang terkenal antara lain, Maaf..Maaf..Maaf, Teater Kacoa dan Sam Pek Ingtai.

Pada awalnya olahraga bola basket hanyalah pernainan yang digemari kalangan tertentu saja. Namun di tangan seorang Azrul Ananda olahraga bola basket makin digemari dan penggemarnya makin banyak. Berawal ketika ia pulang dari sekolah di Amerika Serikat pada tahun 2000. Pria yang kini tinggal di Surabaya, JawaTimur itu kemudian membuat sebuah rubrik remaja di koran Jawa Pos yang ia pimpin. Berkat kesuksesan rubrik remaja yang diberi nama Deteksi itulah kemudian ia mendirikan liga bola basket remaja, Deteksi Basketball League pada 2004. Melalui kompetisi yang teratur dan pertunjukan yang menarik, pelan tapi pasti DBL kemudian dikenal publik di Jawa Timur. Azrul kemudian membuat langkah besar, yaitu dengan menggandeng pemain NBA dari Amerika Serikat untuk membimbing dan melatih pemain bola basket remaja itu. Kini DBL yang sudah berubah nama menjadi National Basketball League menjadi ajang kompetisi olahraga bola basket secara nasional. Dan, Azrul Ananda yang kini baru berusia 33 tahun itu, akan terus berjuang membesarkan kompetisi olahraga bola basket yang sangat ia gemari itu.

 
 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy