Ahmad Abdul Haq


INSPIRASI DARI LAPANGAN KOMPETISI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 09 September 2011 21:30 WIBINSPIRASI DARI LAPANGAN KOMPETISI

INSPIRASI DARI LAPANGAN KOMPETISI Berbagai nilai positif dalam olahraga patut dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan. Tak dapat dipungkiri, selain manfaat latihan untuk kebugaran fisik, olahraga juga melatih mental bagi individu yang melakukannya. Nilai-nilai yang bermanfaat tersebut seperti kerjasama, solidaritas, persahabatan dan sportifitas, fair play, disiplin, ketekunan, serta kerja keras untuk mencapai prestasi. Memperingati Hari Olahraga Nasional tanggal 9 September, Kick Andy menghadirkan para mantan atlet dan atlet yang tak hanya berprestasi di lapangan tetapi juga menginspirasi dalam kehidupan.

Muslimin, mantan penarik becak, yang menjadi atlet angkat berat. Termotivasi ingin merubah garis kehidupannya, Muslimin bekerja keras sejak remaja untuk bisa menjadi atlet angkat besi. Mulai dari menarik becak, hingga berjualan nasi di Terminal Arjosari, Malang. Setiap hari, hampir selama 10 tahun sejak 1995, Muslimin harus mengumpulkan uang Rp 20 ribu setiap hari untuk bisa memenuhi asupan gizi bagi seorang atlet angkat besi. Untungnya sang ibu berjualan nasi. Nasi-nasi sisa yang tidak terjual akhirnya ia “bersihkan”. Setiap hari, dia harus menjalani rutinitas yang padat. Menarik becak pagi hari, berlatih di siang hari dan berjualan nasi di malam hari. Kerja keras dan ketekunan berlatih menjadikan Muslimin berhasil meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Kaltim tahun 2008. Sekarang ini selain masih aktif menjadi atlet, ia juga membangun sebuah  pusat pelatihan bagi calon-calon atlet angkat besi, terutama dari wilayah sekitar rumahnya. Terutama diperuntukkan anak-anak dari keluarga tidak mampu, tanpa memungut biaya apapun. Hal ini dilakukannya, mengingat dulu di awal karirnya Muslimin juga mendapatkan pelatih yang baik dan ikhlas melatih dirinya tanpa di gaji. Untuk itu ia ingin membalas budi dengan mendidik generasi penerus atlet junior angkat besi di rumahnya.

Sin Kim Lai, mantan atlet basket dari keluarga tidak mampu yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk membuat gedung olahraga (GOR), memiliki klub basket, serta memberi beasiswa bagi atlet yang kurang mampu. Selepas pensiun sebagai pemain tahun 1983, dia memutuskan menjadi pelatih. Lewat tangan dinginnya, dia membawa Jawa Timur merebut medali emas PON XIV (1996), juga perunggu bagi Indonesia pada SEA Games XIX di Jakarta (1997). Kim Lai bermimpi memiliki klub dan gedung olahraga sendiri untuk mencetak atlet dari kampung halamannya, Blitar. Tiga belas tahun kemudian – mimpinya terwujud, GOR Pelangi berkapasitas 1.000 penonton itu telah berdiri sejak tahun 1997 berkat donasi dan tabungan pribadi ayah empat anak ini. GOR tersebut juga dilengkapi kantin dan mes untuk anak kurang mampu yang berprestasi untuk menjadi atlet binaannya (saat ini berjumlah sekitar 18 anak usia SMP-SMA). Tak hanya itu Kim Lai pun memberi tunjangan hidup penuh untuk mereka. “Saya ingin atlet miskin berani berprestasi,” itulah semangatnya.

Ricky Achmad Subagja- adalah salah satu pebulu tangkis ganda putra legendaris dunia, asal Indonesia di era 90-an. Berpasangan dengan Rexy Mainaki, keduanya berhasil menjuarai hampir seluruh turnamen bergengsi. Olimpiade (1996), Asian games (1994 dan 1998), dan juara All England (1995, 1996). Siapa yang mengira jika semasa kecil Ricky lebih menyukai sepakbola ketimbang bulutangkis. Ibunya lebih setuju jika Ricky kecil berlatih bulutangkis ketimbang kotor-kotoran ketika bermain sepak bola. Kala itu, masuk pelatnas bagi Ricky sesungguhnya adalah masa-masa menjemukan, karena ia harus melewati hari-harinya hanya dengan berlatih bulutangkis. Namun tekad membaja yang tertanam sejak kecil serta dukungan penuh dari Christian Hadinata sang pelatih, mampu membuat pria kelahiran bandung ini bisa melewatinya tanpa kebosanan. Bagi Ricky, Christian Hadinata merupakan tokoh idola dan seorang pelatih yang paling memotivasinya untuk meraih prestasi. “Janganlah kamu dikuasai keadaan tapi kamulah yang menguasai keadaan”, itulah salah satu nasihat pelatihnya yang tidak terlupakan.

Rio Haryanto, pembalap termuda yang tekun dan bekerja keras mewujudkan cita-citanya untuk bisa berlaga di sirkuit Formula-1. Tetapi ia pun memiliki mimpi lain yaitu mendirikan yayasan bagi anak dan pendidikan. Prestasi rio di arena nasional maupun internasional sangatlah membanggakan. Rio merupakan orang asia pertama yang menempati pole position kategori junior di Grand finals Rotax Max Challenge di La Conca, Italy tahun 2008. Saat pertama kali terjun ajang mobil Formula Asia 2.0, Rio langsung menjadi juara umum kelas Asia. Rio pun melanjutkan karier balapnya dengan menjuarai Formula BMW Pacific sebanyak sepuluh kali berturut-turut, dan menjuarai ajang balap GP3 serta sekaligus menjadi pembalap termuda yang menjajal mobil Formula-1. Kemampuan Rio dalam mengendalikan mesin jet darat itu semakin lihai. Bulan Juli lalu, lagu Indonesia Raya telah berhasil dua kali berkumandang di daratan Eropa saat ia berhasil menduduki podium pertama seri GP3, German. Meski panitia penyelenggara sempat meragukan kemampuannya, bahkan tidak menyiapkan bendera dan lagu kebangsaan Indonesia. Tak hanya itu, disepelekan lawan bahkan media internasional sering ia dapatkan. Tetapi Rio tetap menguatkan tekad, displin berlatih, dan fokus pada cita-cita. Tingginya prestasi yang ia raih tidak membuat Rio lantas tinggi hati, sejak kecil anak bungsu pasangan Indah dan Sinyo Haryanto ini tak jarang memberikan santunan dari hasil tabungannya bagi anak-anak yatim dan panti-panti asuhan. Hal itu menurutnya adalah kegiatan untuk menjaga agar ia bisa tetap berlaku rendah hati.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy