Ahmad Abdul Haq


PRIA MENDOBRAK MITOS

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 04 Mei 2012 21:30 WIBPRIA MENDOBRAK MITOS

PRIA MENDOBRAK MITOS Mungkin banyak diantara kita yang masih ingat saat di sekolah kita pernah di ajarkan kalimat sebagai berikut, “ibu pergi ke pasar dan ayah pergi ke kantor”. Yang secara tidak langsung membentuk pola berpikir kita bahwa tugas seorang ibu adalah mengatur rumah tangga dan ayah mencari nafkah untuk keluarga. Hal ini kemudian berkembang menjadi mitos di masyarakat bahwa seorang ayah tidak bisa mengurus anak dan rumah tangga serta mempunyai “tugas” sebagai tulang punggung keluarga.

Kick Andy kali ini menampilkan beberapa pria yang mendobrak mitos-mitos yang melekat tentang sosok pria terutama ayah. Salah satunya adalah Jeffrey Ong yang merupakan pria “single parent”. Setelah istrinya meninggal 15 tahun yang lalu akibat kanker paru-paru. Jeffrey memutuskan untuk tidak menikah dan fokus membesarkan anak semata wayangnya, Deffrey Adipratama. Deffrey sejak kecil di diagnosa menderita down syndrome untuk itu Jeffrey berusaha memberikan perhatian ekstra kepadanya. Ia khawatir jika menikah lagi maka perhatiannya untuk putra tercinta terbagi.

Dalam membesarkan Deffrey, ia berusaha menjadi orang tua sekaligus sahabat baginya. Setiap hari, Jeffrey mempersiapkan sendiri makanan bagi anaknya sebelum berangkat ke kantor. Untuk mengembangkan potensi anaknya ia mengikut sertakan Deffrey dalam berbagai kegiatan.Terkadang jika tidak sedang sibuk di kantor, ia akan menemani Deffrey melakukan aktifitasnya. Berkat kasih sayang dan perhatian yang diberikan Jeffrey, Deffrey yang sekarang berusia 22 tahun tumbuh menjadi anak yang sehat dan aktif serta piawai bermain musik.

Selama ini mungkin kita hanya mengenal sebutan ibu rumah tangga karena profesi ini tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tapi bagaimana dengan seorang pria yang memilih untuk tinggal di rumah dan  menjaga serta membesarkan anak-anak  sedangkan istrinya berkarir di luar rumah. Bapak Rumah Tangga adalah sebutan yang tepat bagi mereka.

Keputusan untuk menjadi bapak rumah tangga atau  “stay home dad” adalah keputusan yang diambil atas pertimbangan rasional suami-istri.  Dan hal ini dilakukan oleh pasangan Arie Eryawan dan Woro Hapsari. Sebelum memutuskan menjadi bapak rumah tangga pada tahun 2007, Arie dan Woro sama-sama bekerja dan  mereka nyaris tidak mempunyai waktu untuk anak-anaknya sehingga menimbulkan persoalan tersendiri pada anak-anak mereka. Arie dan Woro pun khawatir dengan pertumbuhan kedua buah hati mereka.

Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, Arie dan Woro terlebih dahulu berunding. Secara prinsip baik Arie maupun Woro tidak ada yang keberatan untuk berhenti bekerja, namun  mengingat karir istrinya sedang menanjak maka Arie memutuskan untuk berhenti bekerja karena memang ia sudah lebih siap.

Arie tidak merasa kaget dengan rutinitas barunya sebagai bapak rumah tangga karena ia memang sudah terbiasa mengurus rumah, sekalipun ada seorang pembantu rumah tangga. Menjadi bapak rumah tangga, Arie harus menyiapkan segala sesuatu keperluan rumah tangga dan mengurus kedua anaknya, mulai dari membeli sayur di tempat penjualan sayur langganannya sampai memasak untuk sarapan istri dan kedua anaknya.

Arie pun tidak  setengah-setengah menjalani profesinya sebagai bapak rumah tangga karena semenjak ia menetap di rumah. Arie dan istrinya sepakat tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga lagi. Saat ini, Arie merasa sudah lebih ringan mengurus rumah dan kedua anaknya, sebab anak-anaknya sudah belajar untuk mandiri.

Mitos lainnya tentang pria adalah jika suami ditinggal istri, mereka akan lebih cepat menikah dan mencari pendamping hidup untuk membantu mengurus rumah tangga. Namun hal ini tidak berlaku bagi Lucky Syarief. Setelah  istrinya meninggal dunia mendadak akibat stroke pada tahun 2007. Lucky langsung mengumpulkan keluarga besarnya dan mengatakan bahwa ia tidak akan menikah lagi dan akan membesarkan kedua putrinya yang saat itu baru beranjak remaja seorang diri.

Ia tidak hanya menjalani peran sebagai ayah, tetapi juga mengambil alih fungsi dan peran ibu bagi kedua anaknya. Lucky mengaku awalnya tidak mudah menjalani peran ganda ini dan sempat membuatnya hampir “gila”. Bagaimana tidak, sebelumnya segala urusan rumah tangga diurus oleh istrinya. Sepeninggal istrinya, ia harus belajar menjadi orang tua tunggal. Lucky harus belajar merawat anak-anaknya, menyiapkan sarapan bagi mereka, berbagi kegiatan dalam rumah bersama kedua anaknya, mengantar mereka ke sekolah, berbelanja untuk keperluan rumah tangga dan tidak lupa mencari nafkah bagi mereka.

Kenangan sosok almarhumah istrinya begitu melekat di dalam dirinya. “Saya sangat menyayangi dan mencintai istri saya. Saya merasa sangat kehilangan, karena buat saya dia tidak hanya memiliki peran sebagai pendamping hidup, tetapi juga teman seperjuangan dalam menghadapi kondisi apapun. Saya merasa sangat beruntung memiliki istri seperti dia,” ujar Lucky.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy