Ahmad Abdul Haq


MEMBACA FOTO MELIHAT FAKTA

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 10 Agustus 2012 21:30 WIBMEMBACA FOTO MELIHAT FAKTA

MEMBACA FOTO MELIHAT FAKTA Sebuah karya foto ternyata mampu membuka mata kita tentang apa yang terjadi dibalik foto tersebut. Karya foto jurnalistik tak hanya memiliki bahasa visual, tetapi juga dihasilkan dari menekan tombol rana dengan penuh perhitungan. Ada pesan yang ingin disampaikan, ada batasan etika yang tak boleh dilanggar, dan ada momentum yang tak mungkin bisa diulang. Semua itu tak lepas dari siapa manusia dibelakang jendela bidiknya. Mereka orang-orang yang harus selalu berada di garis depan. sigap menangkap setiap momentum dan kemudian memindahkannya ke dalam bingkai yang berbeda dari apa yang dilihat awam. Tak hanya penguasaan teknik dan pengalaman menguasai medan, yang utama adalah diperlukan sebuah kejujuran untuk merekam dengan obyektif sebuah fakta yang ada. Meski terkadang akibatnya mereka berada dalam situasi yang dapat membahayakan jiwanya.

Solihudin, pria kelahiran Bojonegoro ini dikenal sebagai Direktur media cetak lokal di Kota Kediri, Jawa Timur. Berkat mendapatkan momen istimewa, ketika sebuah truk TNI AD yang mengangkut rombongan bonek terguling, foto karyanya menjadi pemenang World Press kategori Spot News Single, di Belanda tahun 1996. Untuk foto yang sama, Solihuddin juga mendapatkan penghargaan Piala Prapanca PWI Jatim sebagai karya foto terbaik. Hingga foto itu pun menjadi sangat terkenal dan terpampang di media-media massa internasional.

Kemal Jufri merintis karirnya sebagai fotografer kontrak untuk kantor berita Prancis AFP biro Jakarta pada tahun 1996. Dua tahun kemudian, Kemal meninggalkan AFP dan bekerja sebagai fotografer kontributor majalah Asiaweek hingga majalah tersebut gulung tikar pada tahun 2001. Sejak itu, sebagai fotografer freelance, Kemal bekerja dalam penugasan secara rutin meliput di kawasan Asia untuk beberapa publikasi ternama di dunia seperti majalah TIME, Newsweek, The New York Times, STERN, Der Spiegel, Business Week International dan masih banyak lagi. Banyak pihak yang memuji komitmen Kemal yang dikenal cukup berani mengambil risiko. Dia berani mendekati objek foto meski kondisinya berbahaya. Mulai dari bencana, kerusuhan dan konflik, hingga tragedi kemanusiaan. Pada 2011 lalu, Kemal berhasil meraih berbagai penghargaan untuk foto-fotonya yang diambil saat letusan Gunung Merapi pada Oktober 2010 lalu. Kumpulan foto tersebut bertajuk “Wrath of the Fire Mountain”. Salah satu penghargaan yang diterima di antaranya adalah penghargaan World Press Photo 2011.

Susanto, meski sempat putus asa akibat dua kali gagal masuk sebagai fotografer di Harian Media Indonesia, ia tak lantas menyerah. Semangatnya untuk maju terus ia perjuangkan, hingga pada kali ke tiga, akhirnya Susanto berhasil bergabung sebagai jurnalis foto di harian tersebut. Karya foto Susanto pun kian di kenal, hingga pada tanggal 9 Februari 2011 lalu, Anugerah Adinegoro dengan bangga diraihnya. Penghargaan bergengsi bagi insan foto di Indonesia ini diberikan atas karya Susanto yang berjudul “Evakuasi Merapi”. Dengan Kick Andy ia berbagi kisah dibalik karyanya itu.

Ketertarikan Yuyung Abdi terhadap dunia fotografi membuatnya bergabung menjadi wartawan foto di Koran Jawa Pos sejak tahun 1995. Prihatin  terhadap maraknya dunia prostitusi, membawanya menelusuri 27 kota di Indonesia, merisetnya secara langsung di lapangan dan mengabadikannya menjadi sebuah foto. Bahkan ia pun mengungkap bisnis prostitusi di luar negeri seperti Singapore dan Las Vegas Amerika Serikat. Ini semua terangkum dalam buku fotografi-nya yang berjudul “Sex for sale”. Mendapatkan gambar di lingkungan lokalisasi tidaklah mudah. Untuk itu Yuyung menggunakan berbagai cara dan pendekatan guna mendapatkan objek sasaran, bahkan hidden camera yang ia rancang sendiri.

Jurnasyanto Sukarno, ketertarikan-nya pada dunia fotografi dimulai saat ia masih duduk kuliah di Fakultas Management Telekomunikasi dan Informasi, Bandung. Hasratnya pada fotografi telah memberinya energi untuk belajar secara otodidak. Ketelatenan mendokumentasikan setiap momen penting akhirnya membuat karya jurnalis foto “The jakarta Globe” ini mencuat ke kepermukaan. Karya fotonya yang diberi judul “Mirip Gayus” mampu mencoreng dan mengoreksi wajah hukum di Indonesia. Siapa yang sangka ia mengenali orang “berwajah mirip Gayus” tersebut karena ia adalah teman sekolah Gayus?

Ketelatenan menghadapi situasi medan yang menjemukan justru mendatangkan berkah. Muhammad Irfan, sebagai pewarta foto ia memiliki tugas khusus mendokumentasikan semua kegiatan yang berkaitan dengan politik nasional. Situasi membosankan yang ia temui pada saat sidang paripurna DPR di Senayan pada bulan April tahun 2011 lalu, Irfan justru mendapat momen penting dengan objek  seorang anggota dewan yang tertangkap basah membuka video porno dari sabak elektronik. Bahkan untuk karya fotonya tersebut, Irfan berhasil mendapatkan penghargaan pada Hari Pers Nasional 2012.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy