Ahmad Abdul Haq


KIPRAHKU DI LUAR NEGERI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 15 Nopember 2013 21:30 WIBKIPRAHKU DI LUAR NEGERI

KIPRAHKU DI LUAR NEGERI

Selama ini kita kerap mendengar banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Namun seringkali TKI dikonotasikan dengan pekerja kasar. Padahal sebenarnya banyak juga tenaga kerja profesional dari Indonesia yang tersebar di luar negeri dan mendapat pengakuan dari tokoh-tokoh dunia.

Diantaranya adalah Ichwan Syahroni, pria berusia 57 tahun ini pernah bekerja sebagai koordinator koki kerajaan Arab Saudi pada tahun 1982-1985. Ketika pertama kali bekerja, Syahroni mengaku sempat terkaget-kaget. Budaya makan keroyokan dalam sebuah wadah yang jadi ciri khas warga Arab Saudi membuatnya geleng-geleng kepala. “Tradisi dan budaya orang Arab itu sangat kuat. Makan-makan seperti pesta itu sering sekali dilakukan, seminggu bisa 3-4 kali. Raja sekalipun, kalau makan ya sama-sama. Pakai tangan dan dipiring besar namanya tasyah, kayak nampan begitu, diamaternya sekitar 1 meter. Onta yang dipotong bisa 5 ekor sekali pesta, kambingnya 10, padahal tamu yang diundang hanya 15-20 orang”, ujar Syahroni.

Sebagai juru masak kerajaan, Syahroni bisa dibilang istimewa. Setiap kali Raja Fahd melakukan kunjungan keluar negeri, ia dan beberapa stafnya selalu disertakan. Tapi bukan untuk jalan-jalan, tugasnya untuk melakukan koordinasi terkait makanan apa yang akan dimakan oleh raja. Tak heran ia dikenal para petinggi kerajaan. Tercatat, berbagai negara telah dikunjungi oleh Syahroni.

Seringnya mengunjungi berbagai negara, menjadikan Syahroni bisa menciptakan berbagai masakan negara lain. Salah satu yang ia kuasai dan menghasilkan inovasi-inovasi baru adalah nasi goreng. Tak tanggung-tanggung, Syahroni mengaku berhasil membuat 99 jenis nasi goreng. Warnanya juga bermacam-macam, mulai biru, kuning, cokelat, putih, pink, dll. “Nasi goreng manca negara, di negara tersebut mungkin tidak ada nasi goreng, tapi saya racik sendiri, nasi goreng dengan cita rasa negara tersebut. Ini saya kembangkan setelah dari Timur Tengah,” jelasnya.

Kepiawaian Eko Supriyanto dalam seni tari membawanya pada pengalaman tak terlupakan saat terpilih menjadi salah satu dari 10 penari dalam konser diva internasional, Madonna di Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 2001. Eko yang saat itu baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di University of California Los Angeles (UCLA) mendapat tawaran dari agen pencari bakat untuk mengikuti audisi saat sedang melakukan performance di Highways Performance Space, Los Angeles.

Menurut Eko, sebagai penyanyi yang telah lama malang-melintang di industri hiburan, Madonna tak merasa dirinya menjadi satu-satunya kunci sukses semua konser yang dilakukan. I have nothing without you guys, kalimat yang diucapkan oleh Madonna pada tim penarinya. “Madonna bilang, pertunjukan ini pertunjukan kita semua, bukan hanya saya," ucap Eko. Madonna juga kerap mengajak ngobrol para penarinya. “Kalau ngobrol sama saya, Madonna itu agak lain, mungkin karena saya dari UCLA. Madonna lebih banyak ngobrol dengan saya tentang Bali, tentang Yogya, Madonna juga pernah ke Indonesia. Ia cerita pernah latihan gamelan, ia kan sangat cinta dengan berbagai kultur di dunia”, ujar Eko.

Tahun 2002, Eko kembali ke Indonesia. Ia kini mengajar di almamaternya, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Meskipun kembali ke Indonesia, namun kiprah Eko tetap bisa dinikmati dunia internasional. Salah satunya, dalam Lion King Broadway production, Eko berperan sebagai konsultan tari dimana ia menciptakan tarian Lion King yang merupakan perpaduan dari seni bela diri silat, tarian jawa dan juga Bali. Tahun 2005, Eko juga terlibat dalam Festival ‘New Crowned Hope’, yang diadakan di Wina untuk memperingati 250 tahun meninggalnya Mozart. Beberapa waktu lalu, Eko juga terlibat dalam penyelenggaraan Kompetisi Miss World di Bali dimana ia mendapat kepercayaan untuk mementaskan tarian pembukaaan dan penutupan dalam acara tersebut.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok pemimpin Timur Tengah yang kontroversial, Moammar Khadafi. Gaya kepemimpinannya yang otoriter mendapat sorotan dunia. Namun siapa sangka ternyata ada orang Indonesia yang cukup mengenal sosok tersebut. Dia adalah Ganahadi Ratnuatmadja, pria kelahiran 10 Oktober 1954 ini menjadi pilot kepresidenan Libya selama lebih kurang 8 tahun. Sebelum bekerja di Libya, Ganahadi sudah terlebih dahulu malang melintang di berbagai maskapai penerbangan Timur Tengah. Ia bahkan pernah menjadi pilot khusus kerajaan Abu Dhabi. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat membuatnya tergabung dalam jajaran pilot VVIP.

Semasa menjadi pilot kepresidenan Ganahadi mengalami banyak kejadian tak terduga. Suatu hari, saat melakukan penerbangan, Ganahadi terlihat capek dan mengantuk. Para pengawal pun bertanya tentang kondisinya. “Waktu itu kan saya terbang, saya nyender di pesawat, biasanya saya ikut ngobrol ramai-ramai, ini saya milih istirahat. Kayak Paspampresnya gitu nanya ada apa. Saya cerita, tetangga saya orang-orang Filipina kalau weekend suka bikin party, saya bilang ke mereka kalau saya tidak bisa tidur, saya negur nggak pernah digubris,” kisahnya.

Ganahadi berpikir, apa yang ia ceritakan pada pengawal presiden mungkin hanya akan ditanggapi dengan teguran pada penghuni kamar tersebut. Tak diduga, mereka justru dideportasi dari Libya. Saya baru sadar kalau saya benar-benar dilindungi disini,” ujarnya bangga. Ganahadi mencatat sejarah tersendiri karena menjadi satu-satunya pilot asing dijajaran pilot kepresidenan di Libya. Terlebih Ganahadi diberi kepercayaan penuh dan mendapatkan penghargaan mahaputra serta pasport seumur hidup dari pemimpin Libya yang berkuasa saat itu, Moammar Khadafi.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy