
Nama : CIPUTRA
Lahir : Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931
Agama : Protestan
Pendidikan : -SD, Parigi (1947)
-SMP, Gorontalo (1950)
-SMA, Manado (1953)
-Jurusan Arsitektur ITB (1960)
Karir : -Direktur PT Pembangunan Jaya (1961-1968)
-Direktur Utama PT Pembangunan Jaya (1968 -- sekarang)
-Bergerak dalam bidang Real Estate
-Kontraktor
-Perhotelan
-Baja
-Aluminium Tempat hiburan
-Perdagangan Kegiatan lain: Ketua Kehormatan REI (Real Estate Indonesia)
-Wakil Ketua FIABCI (1982 -- sekarang) Ketua Yayasan Tarumanegara
-Ketua Yayasan Jayaraya
-Ketua Jaya Ancol Golf Association
-Pimpinan Yayasan Prasetiya Mulya
Alamat Rumah : Jalan Bukit Golf Utama, Kapling III PA 1-2, Pondok Indah, Jakarta Selatan Telp: 540917
Alamat Kantor : Gedung Jaya, Jalan Thamrin 12, Jakarta Pusat Telp: 324944, 336527
|
|
CIPUTRA
Ketika mula didirikan, PT Pembangunan Jaya cuma dikelola oleh lima orang. Kantornya menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya. Kini, 20-an tahun kemudian, Pembangunan Jaya Group memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan. Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa sukses. "Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek," kata Dirut PT Pembangunan Jaya itu.
Ciputra memang hampir tidak pernah mandek. Untuk melengkapi 11 unit fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta -- proyek usaha Jaya Group yang cukup menguntungkan -- telah dibangun "Taman Impian Dunia". Di dalamnya termasuk "Dunia Fantasi", "Dunia Dongeng", "Dunia Sejarah", "Dunia Petualangan", dan "Dunia Harapan". Sekitar 137 ha areal TIJA yang tersedia, karenanya, dinilai tidak memadai lagi. Sehingga, melalui pengurukan laut (reklamasi) diharapkan dapat memperpanjang garis pantai Ancol dari 3,5 km menjadi 10,5 km.
Masa kanak Ciputra sendiri cukup sengsara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dari usia enam sampai delapan tahun, Ci diasuh oleh tante-tantenya yang "bengis". Ia selalu kebagian pekerjaan yang berat atau menjijikkan, misalnya membersihkan tempat ludah. Tetapi, tiba menikmati es gundul (hancuran es diberi sirop), tante-tantenyalah yang lebih dahulu mengecap rasa manisnya. Belakangan, ia menilainya sebagai hikmah tersembunyi. "Justru karena asuhan yang keras itu, jiwa dan pribadi saya seperti digembleng," kata Ciputra.
Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara. "Lambaian tangan Ayah masih terbayang di pelupuk mata, dan jerit Ibu tetap terngiang di telinga," tuturnya sendu. Sejak itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah -- dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya.
Atas jerih payah ibunya, Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan -- berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. "Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen," tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.
Kini, Ciputra dikenal sebagai pengusaha real estate terkemuka. Pendekatannya terhadap pembangunan rumah dan lingkungan cukup manusiawi. Sebuah rumah, katanya, harus menciptakan suasana yang baik bagi penghunian dan pembinaan keluarga. Ia juga menggagaskan pembangunan kota yang lengkap dengan pusat rekreasi, kegiatan sosial, sarana pendidikan, perdagangan, industri, dan tempat tinggal -- ala zaman Romawi. Di Indonesia, hanya Medan dan Bandung yang dirancang seperti itu, katanya.
Ciputra, yang mengaku meraih sukses karena kerja keras, kini menyediakan separuh waktunya untuk kegiatan di luar tugas rutinnya. Di samping menjabat ketua asosiasi real estate Indonesia, REI, ia pernah menjadi wakil ketua asosiasi real estate internasional FIABCI. Di samping itu, ia memimpin pula sekitar 10 yayasan, termasuk Yayasan Jayakarta yang bergerak di bidang pembinaan olah raga. Ketika ia menghadiri kongres real estate Asia Pasifik (APREF) VI di Manila, November 1982, Presiden Marcos, menganugerahinya President Service Award. Ia selaku ketua APREF 1980-1982, dinilai berhasil mengembangkan real estate di kawasan Asia Pasifik.
Ia gemar mengumpulkan kartu natal, malah membuatnya sendiri di samping lukisan. Di bidang olah raga, Ciputra melakukan olah raga golf
|