Agama, Akal, dan Kebebasan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
11/05/2003

Agama, Akal, dan Kebebasan Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.

Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga.

Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian yang sangat kaya dan meninggalkan ribuan literatur yang canggih, yaitu bidang fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya adalah fikih. Ketika muncul diskusi yang ramai soal penerapan hukum Islam, maka fikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan.

Dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali bahwa tekanan diberikan kepada “kewajiban”, yaitu kewajiban seorang Muslim terhadap Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah kita masuki sebuah tema dasar yang menjadi debat dalam pemikiran Islam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ’ibad).

Otonom atau tidak?

Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: apakah manusia bisa, dengan akal, intuisi dan fitrahnya, mencapai pemahaman yang mendalam mengenai kebaikan dan kejahatan? Apakah untuk mengetahui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu dari “langit”? Apakah gunanya agama, jika toh manusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada entitas di luar dirinya?

Dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang.

Saya lebih cenderung pada pandangan kaum Mu’tazilah. Tetapi, harap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu wahyu yang telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri.

Salah satu hadis Nabi mengatakan, ”al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu, dan kamu tak suka orang lain melihatmu melakukannya. Hadis ini memberikan tekanan yang tegas kepada kemampuan manusia, berdasarkan intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan ”innamal a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi tindakan yang ”genuine” tanpa niat dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertanggungjawab. Dalam hadis lain dikatakan, ”niyyatul mu’min khairun min ‘amalihi”, niat dan dorongan emotif yang sifatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat ada dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ciri kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif manusia.

Saya tidak melihat suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebagai dunia hobbesian yang kotor, brutal, sementara, dan licik, dan karena itu wahyu turun sebagai suatu “leviathan” yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi yang penuh martabat, sebagai “khalifah” yang memenuhi tugas ketuhanan untuk memperbaiki kehidupan di bumi. Pandangan-pandangan keislaman populer kerapkali menggambarkan wahyu sebagai “leviathan” semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai “barang” yang sama sekali kosong dari suatu motif yang bebas. Inilah proses vulgarisasi Islam sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled Abou El Fadl.

Dalam situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah martabat manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut berjilid-jilid kitab”, matsalulladzina hummilut Taurata kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedalaman dan kesempurnaan wahyu kepad keledai. Jika manusia telah dikosongkan dari motif, dan otonominya sebagai subyek moral telah disangkal, apakah yang tersisa dari manusia semacam itu selain “jasad” yang pasif. Nabi pernah bersaba, ”ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal.

Oleh karena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu, mereka telah melindungi wahyu. Ini jelas pandangan yang salah. Sebab, begitu kebebasan manusia dibatasi, maka dimensi-dimensi terdalam yang subtil dari wahyu akan sulit diungkapkan oleh manusia. Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan akal manusia yang matang. Sebuah hadis qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, “Aku (Allah) adalah ’kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting bahwa manusia diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang tersembunyi dalam wahyu dan kebenaran Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang bebas dan otonom.

Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuska manusia ke jurang kesesatan, dari menit pertama mereka itu sudah mengingkari nilai kemanusiaan. Keledai selalu takut pada kebebasan, dan terus-menerus mencari majikan yang dapat menuntunnya. Sesungguhnya Islam tidak membutuhkan orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam dari wahyu.

Ibadah sebagai “I-Thou

Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat ”wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak ada pemahaman yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecuali pemahaman seperti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam adalah Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu citraan manusia yang tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang setuju dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau ”worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yang negatif dalam sejumlah hal.

Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan ”I-it”, “aku-dan-dia”. Allah, dalam kerangka penyembahan semacam itu, telah “dibendakan”. Allah yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka ”I-Thou”, aku-Engkau. Agama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan ”I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif.

Penyembahan pada Tuhan tidak mempunyai makna apa-apa jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, ”qad tabayyanar rushdu minal ghayy”, telah jelas jalan kebaikan dan kesesatan. ”Fa man sya’a fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur’an dan Hadis. Tetapi, proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan.

Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggunya saya hendak menegaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam “Islam liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimensi kebebasan manusia, dan menempatkan manusia pada fokus penghayatan keagamaan, maka kita telah memulihkan kembali integritas wahyu dan Islam itu sendiri.

Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.[]

11/05/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sejak awal Allah sudah memberikan kebebasan manusia, beriman atau kafir.Manusia yang senantiasa menuntut kebebasan berarti ia tidak mengerti seperti keledai bahwa ia bebas. Cara berfikir bebas haruslah berbasis kebebasan itu sendiri bukan berangkat dari menyalahkan orang lain yang juga berfikir bebas sesuai pemahamannya. Namun demikian orang-orang yang dijamin ke surga memang harus membebaskan dirinya dari paradigma syetan yang suka membungkus kejahatan dengan kebaikan. Rasulullah tidak berbicara kecuali mengikutu petunjuk wahyu. Wahyu adalah laksana tongkat bagi orang buta. Buta adalah lambang keterbatansan. Manusia dibatasai oleh pengalaman dan metodologi berfikir. Namun akan ditertawakan banyak orang jika orang buta merasa sanggup berjalan dengan baik dan benar tanpa tongkat ditangannya. JIL yang mencerdaskan dan membebaskan ibarat lampu listrik yang 5 watt sinarnya tidak akan sangup melawan matahari.
-----

Posted by bakhrudin  on  09/01  at  10:09 AM

1. Setelah saya baca tulisan saudara ulil dan para pendukungnya, saya simpulkan bahwa saudara ulil dan para pendukungnya melupakan satu hal yang paling mendasar yaitu siapa yang menciptakan akal itu sendiri??, Saudara ulil dan pendukung terlalu memuja akal manusia sebagai pemecah masalah dan melupakan hati nurani anda sekalian, coba anda semua berpikir dengan hati nurani yang bersih siapakan anda sewaktu anda masih berada dalam kandungan!, siapakah anda ketika dilahirkan, berkembang menjadi sekarang ini. Apakah anda sudah bisa menggunakan akal anda ketika masih bayi ? Siapa kah yang memerintahkan anda menangis ketika haus, lapar atau merasa tidak nyaman? Anda mulai menggunakan akal anda ketika anda sudah mengerti sesuatu yang menguntungan dan merugikan diri pribadi anda bukan yang baik dan yang kurang baik. yang menentukan baik atau kurang baik itu adanya hanya di hati nurani manusia. bukan diakal pikiran, akal pikiran itu sebagai pelaksana niat anda.

2. Pendapat saya mengenai tanggapan saudara jaka angkasa terhadap adi :

Pada zaman nabi memang belum ada yang nama alat transportasi, komunikasi dan transaksi yang canggih, namun bila kita lihat secara fungsi dan manfaatnya, apakah ada bedanya onta dengan pesawat fungsinya sama-sama untuk mencapai tempat tujuan. Nabi tidak melihat sarana pendukungnya tetapi melihat langsung anatomi tubuh manusianya, apakah ada bedanya duduk diatas onta dengan duduk dipesawat, bedanya zaman nabi dengan zaman sekarang adalah sarana penunjang hidup manusia sedangkan anatomi tubuh manusia itu sama INGAT LAH ITU dari zaman nabi Adam sampai hari kiamat nanti.

3. Agama Islam tidak pernah memaksa manusia untuk melaksanakan kewajibannya, hanya manusia yang malas dan dan ingin mempermudah sesuatu yang sudah mudah dan demi keuntungan pribadi mereka sendiri yang mengatakan agama islam sebagai memaksa kehendak manusia. Mereka ingin masuk surga tetapi tidak ingin melaksanakan kewajiban yang sudah ditentukan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an. Ketika anda mau bekerja saja anda harus melaksanakan kewajiban yang ada diperusahaan tempat anda bekerja.

4. Islam bukan sama dengan arab, islam itu untuk semua manusia yang mempercayainya dan dengan ke relaan hati melaksanakan kewajiban yang sudah ditentukan.

5. Kenapa harus ada proses edit, anda berani membuat website berarti anda harus berani di kritik dan nilai semua orang, kalau ada proses edit disini nanti anda malah bisa mengedit sesuka hati anda dan pesan moral yang sampai disalah gunakan berarti anda pengecut. Menurut akal seperti itu, tapi menurut hati nurani saya, saya percaya bahwa anda akan mengedit yang salah ketik tetapi tidak merubah makna sesungguhnya demi kemajuan satu islam.

Posted by Diki Z  on  08/11  at  09:08 AM

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Setelah membaca tulisannya Bung Ulil berjudul Agama, Akal dan Kebebasan, saya teringat Imam Syafi’i yang pernah menyatakan :

“Tidaklah kudapatkan orang yang pada pagi hari mempelajari ilmu kalam/filsafat, melainkan pada sore harinya ia akan menjadi orang yang paling dungu.”

Ternyata ucapan Imam Syafi’i itu terbukti kebenarannya setelah saya membaca artikel-artikel yang ditulis oleh orang-orang semacam Bung Ulil, yang telah menjadikan akal sebagai tuhannya di samping tuhan berupa donatur yang membiayai proyek mereka.

Selamat berdunguria dan jangan ajak orang lain menjadi seperti anda

Posted by djajusman  on  07/09  at  11:07 AM

Assalamualaikum, Saya tdk sependapat dg pendapat anda, bhw kita harus menjalankan Islam yg diwahyukan melalui Rasul Muhammad saya setuju. Tetapi mengikuti semua contoh Rasul nanti dulu (misalnya muamalah, lihat konteksnya dulu), karena apa yg diajarkan rasul saat itu tentunya disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat itu baik sosial, budaya, tehnologi dan lingkungan dimana rasul berada. Sekedar contoh kecil, nggak mungkin saat itu rasul mengajarkan sistem perdagangan antar benua yg pembayarannya pakai instrument yg rumit, sementara saat itu yg ada hanya barter. Nggak mungkin rasul mengajarkan cara sholat diatas pesawat udara, sementara saat itu yg ada hanya onta. Jadi memang diperlukan suatu pemikiran kembali (reaktualisasi) Al-Quran sesuai dengan jamannya. Al-Quran tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, yang terbatas adalah akal manusia. Saat ini saya dan anda tdk pernah membayangkan kalau jarak dari Indonesia ke Mekah dapat ditempuh sekian detik, karena akal kita memang belum menjangkau kesana. Seperti halnya kakek moyang kita dului tidak pernah mengira bahwa kita yg ada di Indonesia dapat berkomunikasi dg org lain di Amerika, krn tehnologi terus berkembang dan ini merupakan hidayah dari Allah juga. Maka dari itu saya amat setuju dg pemikiran Bung Ulil, yang penting adalah Islami bukan Arabisasi (tdk semuanya buruk, namun juga tdk semua cocok bagi kita). Wassalam.

Posted by jaka angkasa  on  10/30  at  04:10 AM

Supaya anda tidak dibilang goblok tolong pahami teori dasar antara akal dan wahyu.

BB

Posted by battarbakrie  on  09/06  at  06:09 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq