Agama, untuk Manusia atawa Tuhan? - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
06/11/2005

Diskusi “Revitalisasi Agama untuk Kemanusiaan” Agama, untuk Manusia atawa Tuhan?

Oleh Umdah El-Baroroh

Kita tidak bisa membuat agama menjadi berpihak pada manusia tanpa memahaminya bahwa agama itu untuk manusia (antroposentris), bukan untuk Tuhan (teosentris).

06/11/2005 14:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Islam tidak hanya mengatur hubungan antara umat dengan tuhannya (ibadah), namun juga antar sesama manusia (muamallah). Di dalam konsep muamalah tercakup aturan bernegara, bermasyarakat, tata krama, diri pribadi, dll. Jadi bukan mempolitisasi agama, justru agama Islam memberikan pedoman yang terbaik bagi umat manusia. Hal tersebut tidak Anda temukan di Alkitab agama lain.

Anda memahami konsep politik Islam dan pemerintahan Islam secara separuh-separuh, sehingga timbul kerancuan dalam alur berpikir saudara. Tolong diperbaiki lagi ilmunya.

#1. Dikirim oleh afiliesta  pada  10/01   11:01 PM

Apa yang disebut agama memiliki pendekatan dari atas ke bawah. Sedangkan apa yang dituliskan lebih memilih pendekatan dari bawah ke atas. Di dalam pemahaman saya pendekatan yang lebih rasional adalah pendekatan dari bawah ke atas, - (antroposentris)dengan dua alasan, 1) kita adalah manusia bukan tuhan dan tidak dipertuhankan karena satu atau dua hal yang dilakukan, 2) Tidak ada pemahaman absolut yang berasal dari bawah sehingga ketidaktahuan bukan kelemahan melainkan gambaran kebijaksanaan manusia dan niat untuk mencari jalan kebenaran di dalam kehidupannya.

Jadi di dalam, pendekatan arus bawah ini, sosok manusia yang menyatakan bahwa dia lebih tahu, adalah sebuah kebodohan, karena ketahuannya itu seolah-olah menempatkan Tuhan yang tidak terbatas di dalam tempurung kepala yang terbatas dan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik atau pengelola hak monopoli kebenaran yang dari atas. 

Saya setuju dengan gagasan penulis! Dan saya saya rasa penulis JIL memang tak cerdas 

Seperti yang tertera dalam sebuah kitab suci :” bahwa apa yang dipandang kebodohan bagi dunia ini suatu saat akan mempermalukan mereka yang merasa paling tahu dan [aling benar!”

#2. Dikirim oleh tatag triyahyo adi  pada  01/02   08:02 AM

masyarakat islam yang jil itu sangat berveda sekali dengan yang di harapakan oleh nabi Muhammmad SAW karena telah melanggarnya yaitu bahwa agama islam adalah agama yang SATU-SATUNYA yang benar, dan kita tidak boleh memikirkan apa dan bagai,mana tuhan! sebab kita hanya memikirkan ciptaanya kita sudah tidak berdaya, itu adalah kekuasaan ALLAH.

#3. Dikirim oleh angga  pada  28/04   10:04 PM

Agama adalah salah satu hasil evolusi budaya manusia, menurut saya, menurut saya lho ini… agama itu dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia…
-----

#4. Dikirim oleh ragil lanang wtp  pada  08/09   09:09 PM

Tuhan tidak butuh agama, manusialah yang membutuhkan agama. Tuhan tidak butuh manusia, manusialah yang membutuhkan tuhan....

#5. Dikirim oleh kurniawan  pada  08/01   04:00 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq