Agar Biola Kita Tidak Sumbang - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
23/09/2010

Agar Biola Kita Tidak Sumbang

Oleh Luthfi Assyaukanie

Pembaruan agama adalah sebuah keniscayaan. Wahyu sudah berhenti sejak 14 abad silam, tapi akal pikiran manusia terus berkembang. Perubahan di sekeliling kita terus terjadi tapi halaman halaman dalam kitab suci tidak bertambah. Banyak persoalan baru yang dihadapi manusia, yang tidak semuanya bisa dijawab oleh kitab suci dan doktrin agama. 

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian Seputar Indonesia, Rabu 22 September 2010

“Apa itu agama?” tanya salah seorang murid KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kiai pembaru itu tidak menjawab dengan kata-kata, tapi malah mengambil biola yang tergolek di sampingnya.

Dia memainkannya dengan piawai, mendayu, syahdu. Murid-murid khusyuk mendengarkannya, merasa tenteram, damai. Mereka tak ingin sang kiai berhenti memainkannya. ”Itulah agama,” kata Dahlan usai memainkan alat musik yang diperolehnya dari seseorang di kapal dalam perjalanan pulangnya dari Mekkah. Kini dia ganti meminta salah seorang muridnya memainkan biola itu.

Sang murid ragu-ragu karena tak pernah menyentuh benda itu, apalagi memainkannya. Tapi karena Dahlan mendesaknya, dia berusaha memainkannya juga. Tak ayal, bukan suara merdu yang keluar, tapi gesekan tak teratur,sumbang, dan memekakkan telinga. ”Itu juga agama,”kata Kiai Dahlan setelah sang murid menghentikan aksinya karena tak tahan ditertawakan teman-temannya.

Analogi agama dengan biola yang dibuat KH Ahmad Dahlan seperti dilukiskan dengan bagus dalam film terbaru Hanung Bramantyo, Sang Pencerah, merupakan perumpamaan yang tepat. Agama memang seperti biola, alat musik yang tampak sederhana tapi bisa mengeluarkan suara yang bermacam- macam. Seperti biola, agama adalah sebuah alat yang sederhana, yang dapat membuat manusia merasa nyaman dan tenteram, tapi juga bisa membuat manusia cemas dan gundah.

Tergantung siapa yang memainkannya. Jika agama ”dimainkan” oleh seorang yang piawai dan mengerti inti dan tujuan agama, ia akan mengeluarkan dampak yang luar biasa bagi orang di sekelilingnya. Agama menjadi mata air yang sejuk dan menentramkan,di mana orang akan mengitarinya, mereguknya, dan tak ingin jauh darinya. Agama yang dipraktikkan secara benar akan membuat dunia ini aman-damai.

Sebaliknya, agama yang ”dimainkan” oleh orang yang tak mengerti inti dan tujuan agama, ia akan menjadi bencana yang tak ada habis-habisnya. Ia bukan hanya membuat hidup pelakunya tidak tenteram, tapi juga mengganggu orang-orang di sekelilingnya. Agama menjadi sumber malapetaka bagi orang lain. Agama yang dipraktikkan secara keliru akan membuat dunia porak-poranda, dipenuhi kebencian dan kekerasan yang tak berujung.

Hari-hari ini kita menyaksikan agama yang dimainkan secara sumbang oleh cukup banyak orang di sekeliling kita. Tingkat kesumbangannya bermacam-macam,dari yang memekakkan telinga, mengganggu pandangan,menodai akal sehat, hingga membuat kita ingin lari meninggalkannya karena tak tahan lagi menyaksikan kebusukan-kebusukannya. Sesekali kita menyaksikan agama yang dimainkan secara syahdu, damai, dan menenteramkan.

Tapi, itu jarang sekali.Tidak tampak di ruang-ruang publik. Kita harus mencarinya di taman-taman spiritual, di kelompok-kelompok sufi, dan di ruang-ruang diskusi keagamaan yang mencerahkan. Kita memang sedang mengalami krisis tokoh agama yang mampu memberi pencerahan seperti yang dilakukan KH Ahmad Dahlan satu abad silam.Tokoh-tokoh agama yang kita saksikan belakangan ini, justru lebih banyak yang memainkan peran antagonis yang memusuhi pembaruan KH Ahmad Dahlan.

Tokoh tokoh agama yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah tokoh tokoh yang dihadapi KH Ahmad Dahlan satu abad silam, yakni tokoh tokoh yang antibiola, anti-Barat, antiasing, dan anti pemikiran pemikiran baru yang mencerahkan. Hanya sedikit dari mereka yang memerankan Kiai Dahlan dan berusaha meneruskan semangat perjuangan kiai pembaru itu.

Pembaruan agama adalah sebuah keniscayaan. Wahyu sudah berhenti sejak 14 abad silam, tapi akal pikiran manusia terus berkembang. Perubahan di sekeliling kita terus terjadi tapi halaman halaman dalam kitab suci tidak bertambah. Banyak persoalan baru yang dihadapi manusia, yang tidak semuanya bisa dijawab oleh kitab suci dan doktrin agama. Para pembaru Muslim, sejak Imam Syafi’i hingga Syafii Maarif (penerus cita-cita KH Ahmad Dahlan yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah), menyadari betul bahwa dunia berubah terus dan ada keterbatasan dari kitab suci.

Di sinilah diperlukan ijtihad, keberanian berpikir, untuk mengatasi kebuntuan yang tidak ditemukan jawabannya dalam kitab suci. Sejak dulu para pembaru muslim menyadari betul bahwa pembaruan agama memang bukan persoalan mudah. Selalu ada tantangan dari masyarakat yang sudah merasa nyaman dengan pikiran-pikiran lama, yang sesungguhnya tidak lagi cocok dengan situasi zaman yang baru.

Sebagian pikiran pikiran lama itu membuat kita gelisah karena dapat mengancam tatanan kehidupan yang semakin beragam. Pembaruan adalah sebuah keniscayaan dalam agama. Islam sendiri mengakui bahwa setiap seratus tahun akan muncul pembaru agama (mujaddid) yang akan memperbaharui ajaran-ajaran yang tidak lagi cocok dengan semangat zaman. KH Dahlan dan beberapa tokoh agama di awal abad silam telah memainkan perannya sebagai pembaru di negeri ini.

Kini kita memerlukan pembaru abad ini yang akan meneruskan cita-cita dan semangat KH Ahmad Dahlan. Kita memerlukan para pembaru dan tokoh-tokoh agama yang bisa memainkan ”biola” secara merdu, syahdu, dan menenteramkan. Sudah terlalu banyak pemain ”biola” yang membuat kita sakit telinga karena atraksinya yang buruk dan mengecewakan. Kita harus membuka diri,memberikan ruang buat pembaruan agama, agar ”biola” kita tak lagi terdengar sumbang.(*)

23/09/2010 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (34)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Astaghfirullah.... otak anda berkembang spt apapun gak akan terbuka rahasia2 ayat2 Allah SWT tanpa hidayah dari Nya… Al Qur’an itu di ibaratkn sebuah pohon, ilmu pengetahuan dunia (PAN 12) itu cuma salah satu buah dari pohon itu. Bayangkan sedemikian banyaknya ilmu2 dalam Al Qur’an.
Semoga Allah membukakan pintu hidayah untuk anda…
Pemikiran2 mrk persis spt Abu lAhab dan Abu Jahal, mrk intelektual dan konglomerat, hadanya krn dengkinya mereka tidak beriman. Tolong perhatikan jalan nabi Ibrahim mencari Tuhan.

Posted by adindadoey  on  11/17  at  10:26 PM

@tommy
tidak ada niatan sedikitpun saya menyindir-nyindir islam. saya ingin agar umat islam menghargai al quran secara proporsional. tidak memberhalakan al quran. perlu diingat juga, keberhasilan ilmuwan islam bukan datang “ujug-ujug” tapi berkat pengaruh peradaban yunani. kala itu terjadilah penerjemahan besar-besaran buku-buku yunani kedalam bahasa arab. jadi jangan besar kepala dulu. logikanya, seorang ilmuwan setelah menyatakan diri masuk islam tentu akan melahirkan penemuan-penemuan baru yang lebih spektakuler berkat mengenal al quran. bisakah anda menunjukan hal itu?

Posted by roni  on  10/26  at  05:21 AM

CIRI-CIRI ORANG YANG MENGANGGAP DIRINYA PALING BENAR DAN PALING SUCI DI MATA ALLAH, ADALAH MEREKA YANG SUKA MENGANGGAP ORANG LAIN KAFIR, HINA, DILAKNAT OLEH ALLAH, SAMBIL MEMAKI-MAKI BIN MENGHUJAT ORANG LAIN TSB SUDAH PASTI MASUK NERAKA,.....SEAKAN-AKAN DENGAN MEMAKI-MAKI ITU DIA TAHU ISI PIKIRAN ALLAH, MENYAMPAIKAN KEHENDAK ALLAH....DAN DIANYA SENDIRI MENYOMBONGKAN DIRI SBG “WALI SORGA”......

ORANG YANG SEPERTI ITU PADA DASARNYA TAK LEBIH DARI ORANG KERDIL YANG KEGEDEAN RUMANGSA. SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG.

Posted by Anton Isdarianto  on  10/15  at  09:15 AM

SESUNGGUHNYA ALLAH TELAH MENYEMPURNAKAN AGAMA ISLAM! RASULULLAH MENINGGALKAN 2 PERKARA YG APABILA KITA BERPEGAN PDANYA AKAN SELAMAT DUNIA AKHIRAT.
BUKAN AGAMA YG TIDAK MMPU, TAPI PIKIRAN ORANG2 SEPERTI ANDA YG TIDAK MAMPU MEMAHAMI AL-QUR`AN DAN HADIST. PIKIRAN MANUSIA TERUS BERKEMBANG TAPI IMANNYA YG SEMAKIN SURUT YG MENYEBABKAN IA RUSAK. KALAU MAU BIKIN KEPERCAYAAN SENDIRI JANGAN PAKE NAMA ISLAM MAS. PAKE AJA SANA NAMA2 ALIRAN PAGAN ATW FREEMASON!!!

Posted by putih  on  10/13  at  12:26 PM

SESUNGGUHNYA PINDAH AGAMA DARI ISLAM KE AGAMA LAIN ADALAH MURTAD (KAFIR 100%) NERAKA ABADILAH BAGINYA. TIDAK ADA SATUPUN DALIL YANG MENG-HALALKANNYA!!!
HATI2 DENGAN PEMURTADAN BERKEDOK DAKWAH!!!!! ALLAHUAKBAR!!!

Posted by putih  on  10/13  at  12:09 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq