Bahasa Hanya Budaya, Bukan Bagian Inti Dari Ibadah - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
15/05/2005

Dr. Djohan Effendi: Bahasa Hanya Budaya, Bukan Bagian Inti Dari Ibadah

Oleh Redaksi

Kasus salat dwibahasa yang diprakarsai dan dipraktekkan Ustaz Mochammad Yusman Roy dan para pengikutnya di Malang, rupanya berbuntut panjang. Tidak puas sekadar memvonis sesat, beberapa ulama rupanya juga tak kuasa untuk tidak mengkriminalisasi diri dan ajaran Ustaz Roy. Tapi bagaimana sesungguhnya sudut padang fikih dalam melihat kasus Ustadz Roy, dan bagaimana pula harus menyikapi perbedaan penafsiran dan aplikasi ajaran agama dalam sebuah negara yang demokratis?

15/05/2005 22:25 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Selalu ada orang-orang yang bertindak sebagai penyidik, pengadil, sekaligus pemutus bagi perkara-perkara agama dan kemanusiaan. Ini bukan punya Islam saja, semua agama mengalami fenomena yang serupa: Katolik, Yahudi, Hindu, dsb. Empirik menmbuktikan bahwa sikap atau nafsu menguasai itu selalu mendatangkan kerusakan yang bukan alang kepalang bagi dunia dan kemanusiaan. Betapa tidak? Bukankah itu sama saja dengan menjadi “lebih dari Tuhan”. Pak Johan sangat jernih menjelaskan perkara ini. Pertanyaan saya buat Pak Johan, jika laku ibadah formal masih bisa ditawar atau ditafsirkan, apakah pada khirnya nanti tidak akan ada lagi laku ibadah yang baku. Artinya lakuibadah menjadi urusan individual semata? Wassalam, B. Gunawan

#1. Dikirim oleh B. Gunawan  pada  16/05   08:05 AM

Seyogianya diingat kembali bahwa semua bahasa, yang secara lahir memang ciptaan manusia sendiri, secara hakekat adalah milik-Nya. Termasuk pula bahasanya binatang, bahasanya benda mati semacam bumi matahari planet, maupun bahasanya jin setan malaikat dan bahasanya semua makhluk lainnya adalah milik-Nya pula. Demikian pula penggunaannya, jangankan disampaikan secara lesan, masih di dalam batin pun, Sang Pemiliknya (Tuhan) mengetahuinya. Oleh karenanya, bahasa apapun yang digunakan si hamba (makhluk) dalam melakukan komunikasi dengan-Nya, pada saat sholat misalnya, Tuhan akan mengetahuinya.

Logikanya, sangat tidak pas kiranya bila sesama makhluk saling mengklaim salah dalam menggunakan bahasanya masing-masing ketika melakukan ibadah kepada-Nya. Apalagi sampai memvonis aliran sesat, menyesatkan, meresahkan masyarakat agama yang telah mapan, dan lain sebagainya. Sebab, hanya Dia sendiri yang tahu secara pasti apakah ibadah yang dilakukan masing-masing hamba itu benar disisi-Nya. Sebaliknya, bukan jaminan pula bila berbahasa arabnya sangat bagus lantas otomatis diterima disisi-Nya. Sebagai makhluk sama sekali tidak akan dapat menjangkau kebenaran yang digenggam sendiri oleh-Nya.

Oleh karenanya, yang paling vital dilakukan hamba dalam setiap aktifitasnya, kaitannya dalam berkomunikasi dengan-Nya—apalagi dalam beribadah kepada-Nya—adalah menemukan substansi utama dibalik ibadah yang dilakukannya. Bukan sekedar ritual tanpa makna. Bukan pula karena warisan nenek moyang yang selayaknya dibakukan. Sebagai misal perintah Nabi : “Salatlah kamu sebagaimana engkau lihat aku salat!”. Perintah tersebut mesti memuat dua dimensi sekaligus. Dimensi lahir dan dimensi batin. Dimensi lahir meliputi gerakan, arah, syarat rukunnya, bacaan-bacaannya dan sebagainya. Kesemuanya memang dapat diwariskan melalui buku-buku, fatwa-fatwa, manuskrip, teknologi multimedia dan lain sebagainya.

Sedang dimensi batin, yaa harus tahu bagaimana keadaan batin Nabi saat melakukan sholat. Yang diingat-ingat dalam batinnya apa, bagaimana mengkondisikan batinnya pada saat sholat. Keadaan yang demikian tidak dapat diwariskan sebagaimana keadaan yang lahiriah. Melainkan harus ditanyakan langsung kepada ahlinya—yang memang dibuat dan dijadikan demikian oleh Tuhan.

Yang jelas, sholat adalah manifestasi berdzikir kepada-Nya. Ashsholatu lidzikkrii, sholat adalah sarana dzikir (mengingat-ingat) kepada-Ku. Yang didzikiri (yang diingat-ingat) itu apanya? Kebanyakan orang tidak mau menjalankan perintah tersebut secara pasti. Hanya duga-duga, katanya-katanya, atau bahkan merumuskan sendiri bagaimana dzikir tersebut dilakukan. Semisal mengingat bacaan sholat, mengingat-ingat ka’bah, atau membayangkan Tuhan dilangit sana. Jelas suatu penyimpangan dari kehendak-Nya.

Sementara perintahnya dengan tegas menyatakan : fas-alu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuuna. Bertanyalah kepada ahli dzikir bila kamu tidak mengetahui bagaimana caranya berdzikir. Bertanyanya kepada ahli dzikir, bukan kepada ulama, bukan kepada ahli kitab-kitab, dan bukan pula kepada orang sakti-berkharisma-tokoh terkenal-ilmuwan dan sejenisnya.

Naifnya, watak manusia itu benar-benar melebihi batas. Zaluuman jahuula. Merasa serba cukup atas pengetahuan yang dimiliki. Tidak tahu bagaimana berdzikir yang benar menurut-Nya, sudah merasa benar terhadap pemikirannya sendiri. Bukan ahli dzikir, berani memposisikan diri sebagai ahli dzikir. Terus mau apalagi? Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agama/keyakinan/mahdzab/pemikiran-mu dan bagiku agama/keyakinan/mahdzab/pemikiran-ku. Masing-masing diri-lah yang akan mempertanggungjawabkan sendiri dihadapan-Nya. Bukan orang lain, bukan ulama dan bukan pula imam yang kita ikuti fatwanya. Sekali lagi, diri sendirilah yang akan bertanggung jawab secara penuh.

#2. Dikirim oleh Roni Djamaloeddin  pada  16/05   06:05 PM

Saya tahu kasus Ustadz Roy tersebut dari media, lewat kasus tersebut saya merasa bahwa Tuhan sedang memberi petunjuk bagi orang-orang yang senantiasa terus belajar beribadah kepadaNya. Untuk memahami kasus tersebut saya mencoba melakukan solat seperti yang Ustadz Roy lakukan. Awalnya agak kagok juga selain itu solat menjadi memakan waktu lebih lama. Tetapi semakin sering melakukannya semakin nyaman rasanya solat yang saya lakukan. Kok kayanya saya bisa lebih leluasa untuk berdialog dengan Tuhan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang saya fahami. Agak sulit untuk menjelaskan secara detail tentang apa yang saya alami dan saya rasakan waktu menjalankan salat dengan cara seperti itu. Memang untuk bisa memahaminya kita harus melaksanakan untuk bisa merasakan. Belum cukup rasanya kalau kita menilai kasus tersebut hanya dengan memperdebatkan kata-kata dengan mengunakan dalil-dalil dan argumen-argumen tertentu saja. Kalau sudah mencobanya nanti kita akan punya penilaian sendiri kalau cocok ya terusin kalau nggak ya tinggalin, masalah hukumnya kita kembalikan kepadaNya.

Wasallam

#3. Dikirim oleh A. M. Ichsan  pada  17/05   12:06 AM

Masalah shalat dua bahasa pernah ditayangkan oleh Metro TV beberapa waktu lalu. Acara yang cukup menarik tersebut diakhiri dengan digiringnya Ustad Roy ke tahanan polisi. Sungguh menyedihkan.  Sebagai orang awam sungguh saya tidak memahami mengapa orang saleh itu harus dikriminalkan hanya karena dalam shalat setelah membaca bacaan shalat dalam bahasa Arab kemudian diikuti terjemahan dalam bahasa Indonesia. Ustad Roy melakukan shalat, tidak mengubah tata caranya, tetapi beliau hanya menambah dengan terjemahan, dengan maksud untuk bisa dimengerti. Dengan mengerti bacaan shalat maka akan lebih khusuk jadinya. Para ulama dan juga mereka yang tidak setuju dengan Ustad Roy mestinya tidak mengirim beliau ke penjara. Biarkan Tuhan yang menentukan apakah cara beliau melakukan shalat diterima atau tidak. Bukankah Tuhan mengerti semua bahasa. Tuhan Allah Yang Maha Besar tidak hanya menciptakan bahasa Arab. Bahasa Indonesia juga ciptaanNya. Jadi, saya setuju banget dengan pendapat Bapak Djohan Effendi.  Terima kasih.

#4. Dikirim oleh Sukarman Ardi  pada  17/05   06:05 AM

quote: “...Dulu, soal bahasa apa yang absah digunakan dalam liturgi juga menjadi persoalan Gereja Katolik. Dulunya, bahasa ibadah mereka dibatasi pada bahasa Latin yang tidak banyak dipahami orang. Tapi kemudian, itu direformasi....”

>>>> yup saya setuju jika ini dianalogikan dengan persoalan gereja katolik.... dan mestinya kita semua tau bahwa pada akhirnya dengan segala macam bahasa di Injil mengakibatkan semakin banyaknya pula perbedaan penafsiran orang terhadap kitab ini… karena bahasa adalah bagian dari budaya manusi… berdasarkan sejarang Nabi Muhammad SAW pun, tidak pernah disebutkan bahwa beliau pernah mengajarkan Al Quran dalam bahasa daerah masing2… apakah pendapat seorang Abu Hanifah bisa mengalahkan pendapat sebagian besar ulama? bahkan Nabi Muhammada sekalipun?  ... ato sebenernya anda sendiri yg salah “menafsirkan” pendapat Abu Hanifah??

-----------------------------------------------------

quote: “....Itu karena Nabi memang diutus di tanah Arab. Andaikata dia diutus di tanah Jawa, sudah pasti dia akan salat dengan bahasa Jawa....”

>>>> setujuu… jika beliau diutus di tanah jawa… pastilah kita akan sholat dalam bahasa jawa… dan jika kita orang arab.. maka sholat kita pun hanya dalam bahsa jawa… bukan dengan bahasa arab.... ada banyak jawaban dari pertanyaan “mengapa Allah mengutus Muhammad saw di jazirah Arab?” ... dan selama kita tidak bisa meyakini apa alasan dari Allah tersebut maka kewajiban kita hanyalah meng"iman"ninya......

----------------------------------------------------------

quote: “.... tapi menambahnya dengan terjemahan Indonesia agar orang mengerti apa yang sesungguhnya dia komunikasikan dengan Tuhan dalam salat....”

>>>>>> setuju lagi.... dalam sholat kita semestinya memang harus tau apa yg kita komunikasikan dengan Tuhan.. tapi bukan berarti dengan cara kita menambahkan bacaan dalam sholat… cara yg paling tepat adalah dengan belajar bahasa arab… dan cara yg paling mudah adalah dengan mengartikan bacaan2 sholat tersebut.. untuk kemudian dipahami pelan2..... dan akhirnya pada saat sholat kita akan mengerti apa yg kita baca… tanpa harus menyebutkannya dalam sholat…

----------------------------------------------------------

quote:  “ ......Konon, Nabi Musa yang sangat ketat .....”

>>>> anda mengawali kutipan anda dengan kata “konon” ??… terus terang saya blom pernah mendengar kutipan ini… tapi jikapun ini benar… masa sih… ucapan Allah kepada nabi Musa.. tidak disebutkan di dalam Al Quran??

------------------------------------------------------

quote: “..... kembalikan saja peradilannya pada Allah dan rasul-Nya. Dialah yang kelak akan menentukannya......”

>>>> tentu para kaum fikih menafsirkan ayat itu sebagai ajakan kepada Al Quran dan Sunnah… karena hanya inilah yg bisa tersisa sampai akhir jaman… tidak akan ada lagi Rasul yg diturunkan ke bumi ... dan otomatis tidak akan ada lagi jawabab2 langsung dari Allah atas perkara2 dunia .... akan semakin kacau dunia kalo kita menyerahkan penghakiman kepada Allah… karena Allah hanya akan menghakimi kita di akhir jaman.

----------------------------------------------------------

cukup dulu segitu, soalnya belum tentu juga dimuat kan???

akhir kata saya cuman meng"analogi"kan semakin banyaknya ajaran2 islam yg dianggap nyeleneh akhir2 ini dengan kasus syeh siti jenar yg dijatuhi oleh hukuman mati oleh wali songo..  penjatuhan hukuman mati ini diyakini bukan karena syeh jenar jadi kafir, murtad atau bahkan syirik… akan tetapi karena ajarannya dianggap berbeda dengan ajaran wali2 lainya… meski syeh tetap meyakini Tuhan bahkan saking yakinnya syeh mengatakan bahwa Tuhan telah menyatu dengan dirinya… tak seorang pun yakin apa yg ada di dalam benak syeh… apakah dia murtad atau karena saking dalamnya cinta syeh kepada Allah.... untuk hal ini hanya Allah dan syeh sendiri yg tau… tapi yg jelas para wali menjatuhi hukuman mati tersebut karena “akibat” dari apa yg telah diajarkan oleh syeh dianggap memungkinkan akan menyesatkan para pengikut2nya nanti....  itulah “alasan utama” nya… bahwa yg dikhawatirkan adalah “DAMPAK” dari apa yg menjadi ajaran syeh siti jenar di masa depan… dengan alasan ini… boleh kah saya menganalogikan: ustadz roy/atau ustadz2 laenya dengan fatwa MUI, analog dengan syeh siti jenar dengan wali songo ???

tks

#5. Dikirim oleh gendheng pamungkas  pada  18/05   11:05 PM

Bagi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan para pendukungnya, masalah shalat dwibahasa belum selesai.  Di mata mereka, ‘Ustadz’ Roy adalah korban yang telah dizalimi oleh berbagai kalangan yang merasa memiliki otoritas dengan mengatasnamakan Islam.  Dengan demikian, membela sang korban tentu akan membuat mereka terlihat seperti pahlawan. 

Saya pribadi setuju bahwa tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang boleh mengaku memiliki otoritas dengan mengatasnamakan Islam.  Tidak boleh ada manusia yang kemudian mengambil posisi bagaikan seorang Paus di dalam dunia Katolik.  Islam adalah ajaran yang sesuai dengan kehendak Allah, bukan fatwa manusia.  Dengan demikian, fatwa manusialah yang harus disesuaikan dengan kehendak Allah, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, dalam memutuskan segala sesuatunya, saya tidak ingin kita terikat oleh suatu tokoh.  Bagi saya, seorang ulama pun bisa berbuat kesalahan, dan seorang tukang becak pun bisa mengatakan hal yang benar.  Karena itu, marilah kita kembali pada argumen (hujjah) yang benar, tanpa diganggu oleh ego pribadi.  Singkirkanlah ego pribadi kita, karena agama Islam berdiri di atas ketentuan Allah, bukan selera manusia.

Dalam menyikapi masalah ini, saya pun hanya memperhatikan segala hujjah yang dipaparkan.  Janganlah kita mengatakan, “MUI berkata begini”, “Muhammadiyah bilang begitu”, atau “PKS berpendapat demikian”, karena Islam tidak tergantung pada organisasi-organisasi tersebut.  Justru organisasi-organisasi itulah yang harus menyesuaikan diri dengan ajaran Islam.  Kita tidak bisa menarik sebuah kesimpulan hanya berdasarkan kata-kata orang lain, meskipun ia adalah seorang ulama besar sekelas Yusuf Qardhawi, misalnya.  Saya pribadi sangat menghormati beliau, namun kita harus tetap memperhatikan hujjah yang digunakannya dalam membuat fatwa.

Karena itu, marilah kita bersikap adil!  Marilah kita cermati wawancara yang dilakukan oleh JIL melalui salah seorang reporternya yang bernama Novriantoni dengan salah seorang pakar yang sering dijadikan rujukan oleh kalangan JIL, yaitu Dr. Djohan Effendi.  Wawancara ini dilaporkan dalam sebuah artikel berjudul “Bahasa Hanya Budaya, Bukan Inti Ibadah” yang dimuat di dalam homepage JIL.  Sekali lagi, ijinkanlah saya untuk mengingatkan agar kita senantiasa bersikap adil.  Singkirkanlah dahulu segala prasangka dan cermatilah secara obyektif setiap hujjah yang diberikannya!

Ketika ditanya mengenai masalah shalat dwibahasa yang sempat mengundang kericuhan di Malang, Djohan Effendi berpendapat bahwa masalah ini sebenarnya adalah masalah yang sudah muncul sejak lama.  Karena itu, maraknya pemberitaan soal kasus di Malang ini terlihat agak berlebihan, karena perdebatan mengenai hal ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.

“Sebetulnya ini bukan soal baru, dan polemiknya sudah ada sejak zaman klasik.  Paling tidak, yang sudah tercatat adalah pendapat Abu Hanifah (wafat tahun 150 H) yang membolehkan salat dengan bahasa non-Arab.  Pendapat seperti itu tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik.”

Sudah banyak yang mengatakan bahwa Abu Hanifah memang berpendapat bahwa shalat dwibahasa itu dibolehkan.  Akan tetapi, tidak ada yang menjelaskan pada kesempatan apa Abu Hanifah berpendapat demikian.  Apakah beliau menuliskannya di salah satu bukunya?  Apakah beliau mengatakannya dalam sebuah forum diskusi?  Tidak ada yang tahu, karena memang tidak ada yang mau mencantumkan referensinya secara jelas.  Ini adalah sebuah kecacatan dalam hujjah.  Saya tidak ingin menuduh yang bukan-bukan, hanya saja, tidak ada manusia yang mau dipersalahkan atas kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya sendiri.  Jika memang benar Abu Hanifah berpendapat demikian, maka referensinya harus jelas, agar kita tidak terhindar dari dosa memfitnah orang lain.

Masalah kedua dalam pernyataan ini adalah : Djohan Effendi hanya menyebutkan bahwa polemik masalah ini terjadi sejak dulu, tanpa menjelaskan bagaimana perkembangan polemik itu sendiri.  Sekarang rakyat Indonesia gemar sekali berbicara mengenai masalah korupsi.  Bagaimana kalau ada yang datang kepada Anda dan mengatakan, “Ah, masalah korupsi sudah ada sejak dulu!” Kata-kata ini tidak bermanfaat sama sekali, karena hanya menyatakan fakta bahwa “masalah ini sudah ada sejak dulu” tanpa menawarkan solusi sama sekali.  Dalam kaitannya dengan polemik shalat dwibahasa, Djohan Effendi sama sekali tidak menjelaskan hujjah apa yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan shalat dwibahasa itu dan yang melarangnya.  Mungkin benar bahwa polemik ini sudah terjadi sejak dulu, tapi itu adalah fakta sejarah.  Hanya dengan berbekal fakta itu saja kita, kita belum bisa menarik sebuah kesimpulan.  Dan masalah ini tidak akan kunjung selesai jika hujjah dari masing-masing kelompok tidak dijelaskan dengan baik.

Kemudian, Djohan Effendi berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab hingga kini dalam shalatnya umat Islam lebih karena suatu pengaruh arabisasi yang amat kuat :

“Tapi saya kira, karena kuatnya pengaruh arabisasi, maka keislaman dan kearaban itu selalu dianggap menyatu.”

Saya adalah seorang warga negara Indonesia yang lahir dengan darah Minang tulen.  Kalau boleh, saya juga ingin melaksanakan shalat dengan bahasa Minang yang terkenal dengan nilai sastranya yang tinggi.  Tapi saya tetap pada pendirian saya bahwa shalat itu memang wajib menggunakan bahasa Arab.  Bukan karena arabisasi, karena toh saya tidak pernah berpikiran bahwa orang-orang Arab itu lebih mulia daripada saya.  Tidak ada hubungannya dengan kebangsaan Arab.  Masalahnya terletak pada bahasanya.

Jika kita membaca karya-karya Quraish Shihab – yang mana saja – maka akan jelas bagi kita bahwa Allah memilih bahasa Arab bukannya tanpa rencana.  Bahasa Arab adalah bahasa yang paling rumit yang ada di muka bumi dengan kosa kata yang paling kaya dan spesifik.  Dengan demikian, harus diakui, bahasa Arab adalah bahasa yang paling tepat untuk menampung begitu banyak hikmah dalam sebuah kalimat.  Karena itulah Al-Qur’an diturunkan ke dalam bahasa Arab, bukan bahasa Inggris, India, Indonesia, dan juga bukan bahasa Minang.  Seberapa pun cintanya kita pada bahasa ibu kita, namun kita harus menerima kenyataan bahwa memang bahasa Arablah yang paling tepat untuk digunakan dalam Al-Qur’an.  Jika memang ada bahasa lain yang bisa menggantikannya, maka ajukanlah sebuah hujjah!  Saya sudah memaparkan secara mendalam mengenai betapa tidak tergantikannya bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dalam artikel saya yang lain berjudul “Mengapa Harus Bahasa Arab?”

Djohan Effendi pun menyatakan bahwa polemik semacam ini tidak hanya terjadi di dunia Islam.  Beliau mengambil contoh apa yang terjadi pada umat Katolik di masa lalu, ketika bahasa ibadah mereka dibatasi hanya pada bahasa Latin yang tidak dipahami oleh kebanyakan umat Katolik sendiri.

“Tapi sesungguhnya polemik ini bukan khas Islam. Dulu, soal bahasa apa yang absah digunakan dalam liturgi juga menjadi persoalan Gereja Katolik. Dulunya, bahasa ibadah mereka dibatasi pada bahasa Latin yang tidak banyak dipahami orang. Tapi kemudian, itu direformasi.”

Istilah ‘direformasi’ pada akhir kutipan di atas membuat pembaca tersugesti dengan pemikiran bahwa apa yang dilakukan oleh Gereja Katolik (yaitu membolehkan penggunaan bahasa lain dalam ibadah) adalah suatu hal yang baik.  Pertanyaannya sederhana saja : Mengapa Gereja Katolik melakukan hal tersebut?  Dan apakah umat Islam perlu menirunya?

Saya sudah mengajukan hujjah mengenai tidak tergantikannya bahasa Arab dalam Al-Qur’an dan shalat.  Maka apakah alasannya Gereja Katolik membolehkan penggunaan banyak bahasa?  Jika itu memang kehendak mereka, dan jika mereka memang memiliki alasan yang bagus untuk melakukannya, maka hal tersebut tidak ada urusannya dengan umat Islam.  Bagi saya, sampai detik ini, tidak ada alasan untuk mengganti bahasa Arab dalam shalat dengan bahasa Indonesia.  Dan yang jelas, belum ada seorang pun yang bisa memberikan alasan yang bagus untuk melakukan hal semacam itu.  Karenanya, kutipan ini pun tidak bisa dianggap sebagai sebuah hujjah yang lengkap.

Lebih lanjut, Djohan Effendi tetap berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab disebabkan karena Rasulullah saw. memang diturunkan di tanah Arab.  Jika beliau diutus di Polandia, maka beliau akan shalat dalam bahasa Polandia.  Demikian juga bila beliau diutus di tanah Jawa, Sunda, Papua, atau Nigeria, maka beliau akan shalat dalam bahasa lokal.  Djohan Effendi berkesimpulan bahwa sebenarnya shalat adalah masalah hati.

“Itu karena Nabi memang diutus di tanah Arab. Andaikata dia diutus di tanah Jawa, sudah pasti dia akan salat dengan bahasa Jawa. Jadi faktor bahasa hanyalah faktor budaya dan bukan bagian inti dari ibadah. Inti salat adalah bagaimana orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan secara mesra. Dan itu biasanya diungkapkan dalam bentuk bahasa yang merupakan ungkapan hati. Inti dari ibadah sebetulnya hati.”

Sebenarnya komentar ini hanyalah spekulasi.  Kenyataannya, Rasulullah saw. memang dilahirkan di tanah Arab, dan bahasa Al-Qur’an dan shalat menggunakan bahasa Arab.  Kesimpulan bahwa “jika Rasulullah saw. turun di tanah Jawa maka beliau akan shalat dengan bahasa Jawa” adalah sebuah kesimpulan tidak berdasar.  Tidak ada bukti bahwa bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab dalam hal kompleksitasnya.  Jika memang benar bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab, maka buatlah semisal satu ayat dalam Al-Qur’an dengan bahasa Jawa, lalu kita perbandingkan secara terbuka.

Menurut saya, Allah akan menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa yang paling lengkap dan mencukupi.  Seluruh hikmah dirangkum dalam sebuah kitab yang amat ringkas.  Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah bahasa yang memiliki kemampuan untuk merangkum seluruh hikmah tersebut secara singkat pula.  Jika memang Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Jawa, maka pastilah Allah telah menjadikan bahasa Jawa tersebut sebagai bahasa yang lengkap!  Jika bahasa Perancis lebih berkualitas, maka Al-Qur’an pun pasti diturunkan dalam bahasa Perancis dan Rasulullah saw. pastilah seorang bangsa Galia!

Di sisi lain, klaim bahwa “shalat dalam bahasa Arab karena kebetulan saja Rasulullah saw. dilahirkan di tanah Arab” adalah sebuah penghinaan terhadap Allah.  Bagaimana mungkin sebuah perbuatan Allah dinyatakan sebagai sebuah kebetulan yang tidak memiliki tujuan yang pasti?  Apakah Allah secara tidak sengaja memilih tanah Arab?  Apakah Allah memilih bahasa Arab tanpa alasan yang jelas? 

Kita harus berterima kasih kepada Harun Yahya dan para ilmuwan Muslim lainnya karena telah membuktikan bahwa tidak ada secuil pun ciptaan Allah yang tidak ada tujuannya.  Warna-warni daun dijadikan-Nya lembut di mata kita untuk menenangkan syaraf manusia.  Kalau saja warna-warni tetumbuhan terlihat mencolok, maka mata kita akan segera lelah dan syaraf pun menjadi tegang.  Bahkan segala hal yang diciptakan-Nya di langit dan di bumi ini senantiasa sesuai dengan kebutuhan manusia.  Keberadaan segala ciptaan-Nya adalah fungsi dari keseimbangan kehidupan.  Bahkan kecoak pun memiliki arti penting dalam sebuah ekosistem.  Pantaskah bila kita menuduh bahwa Allah telah memilih bahasa Arab hanya karena kebetulan?  Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun…

Selanjutnya, Djohan Effendi berpendapat bahwa sebenarnya setiap Muslim tidak boleh bersifat alpa dalam shalatnya.  Artinya, kita semua harus mengerti apa yang kita baca dalam shalat.  Shalat dwibahasa, pada hakikatnya, adalah sebuah ajaran yang ditujukan untuk menghindari kealpaan dalam shalat tsb. 

“Kita ‘kan tidak hanya disuruh membaca Alquran, tapi juga berusaha memahaminya. Kalau kita tidak memahaminya seperti di dalam salat, kita akan terkena ayat “Wailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhûn” (celakalah orang-orang yang mengerjakan salat tapi mereka alpa di dalam salatnya!). Jadi, kata sâhûn itu bisa juga diartikan tidak mampu memahami apa yang dia baca di dalam salat. Karena itu, logis juga kalau Abu Hanifah membolehkan salat tidak dengan bahasa Arab, biar kita tidak sâhûn. Nah, Ustadz Roy ini saya kira tidak ingin masuk ke dalam kelompok yang sâhûn tadi.”

Tanpa mendiskusikan masalah penafsiran sebuah ayat dari surah Al-Maa’uun di atas, saya harus mengatakan bahwa saya pribadi setuju bahwa kita harus memahami apa yang kita baca dalam shalat.  Kita sudah menemukan banyak sekali ulama yang telah bekerja keras menafsirkan Al-Qur’an dan telah menuliskan begitu banyak karya yang dapat kita baca.  Menurut saya, jika kita ingin memahami apa yang kita baca, maka kita harus mencari kitab tafsir, bukan sekedar terjemahannya!

Mengucapkan terjemahan dari bacaan-bacaan shalat dalam bahasa Indonesia jelas-jelas telah menyempitkan artinya.  Misalnya ucapan Basmalah diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.  Apakah ini bukan sebuah penyempitan makna?  Apa yang Anda pahami dari membaca terjemahan tersebut?  Apakah memang ucapan “bismi” memang sekedar bermakna “dengan nama”?  Apakah “Ar-Rahmaan” dan “Ar-Rahiim” memang hanya bermakna “Yang Maha Pengasih” dan “Yang Maha Penyayang”?

Apakah “wal ‘ashr” hanya bermakna “demi masa”?  Logiskah jika Allah bersumpah demi masa bahwa setiap manusia pasti merugi, kecuali mereka yang memenuhi empat kriteria dalam surah Al-‘Ashr?  Saya telah mengulas khusus masalah surah Al-‘Ashr ini dalam artikel “Penyesalan di Waktu ‘Ashr”.  Jika kita membaca kitab-kitab tafsir Al-Qur’an, maka kita akan paham bahwa pemahaman harus berhubungan dengan penafsiran, bukan penerjemahan.  Jika memang para pelaku shalat dwibahasa ingin memahami shalat mereka – dan ini memang keinginan yang baik – maka seharusnya ia banyak membaca tafsir Qur’an dan berdiskusi dengan para ahli, bukan malah menyempitkan pemahamannya dengan sekedar penerjemahan Al-Qur’an saja!

Inti permasalahannya – menurut saya – adalah karena Djohan Effendi, JIL, dan para pendukungnya, tidak merasa nyaman hidup dalam sebuah aturan.  Mereka tidak ingin dipaksa-paksa, tapi toh mereka selalu memaksakan pendapat mereka, bahkan kepada Tuhan sekalipun!

“Misalnya, saya berpendapat bahwa minum obat ketika puasa tidak akan membatalkan puasa saya, dan itu saya negosiasikan langsung kepada Allah. Sebab, saya menanggap yang membatalkan puasa adalah makan yang mengenyangkan. Karena itu, hukumnya langsung saja saya serahkan kepada Tuhan.”

Pendapat bahwa “meminum obat tidak membatalkan puasa” adalah pendapatnya pribadi.  Hal ini sama sekali tidak bersumber dari wahyu Allah.  Padahal Allah tidak pernah menyuruh orang sakit untuk berpuasa.  Mengapa ia harus memaksakan puasa sambil minum obat? 

Djohan Effendi pun terlihat memaksakan pendapatnya kepada Tuhan.  Allah tidak pernah mengatakan bahwa shaum itu artinya tidak boleh makan makanan yang mengenyangkan.  Dalam shaum, semua yang masuk lewat kerongkongan (selain udara) dilarang.  Namun Djohan Effendi hanya mengajukan satu hujjah : Itulah pendapat saya!  Hukumnya terserah Tuhan.  Seolah-olah ia hendak berkata, “Inilah keinginan saya!  Terserah Tuhan maunya apa!” Apakah ini bukan sebuah bentuk kesombongan di hadapan Allah?  Na’uudzubillaah…

Menurut pendapat saya pribadi, Djohan Effendi jelas-jelas berpendapat bahwa otoritas manusia bisa melampaui Tuhan (sekali lagi, na’uudzubillaah...).  Hal ini terlihat jelas dalam komentarnya yang memperbandingkan antara agama dan politik :

“Karena itu para ulama menetapkan bahwa fatwa agama itu bersifat tidak mengikat. Kalau mau yang mengikat, lebih baik mengambil otoritas politik!”

Sungguh sulit bagi saya untuk membuat kesimpulan, karena justru Djohan Effendi (yang mewakili para pendukung shalat dwibahasa) tidak mengajukan satu hujjah pun yang memiliki nilai ilmiah.  Secara ilmiah, teori-teori yang telah dipaparkannya tidak lebih dari sekedar prasangka, spekulasi, dan keinginan pribadi saja.  Dan kelihatannya beliau pun harus lebih berhati-hati di masa depan agar tidak terjerumus dalam sikap menuduh yang bukan-bukan kepada Allah (misalnya menuduh bahwa Allah telah berbuat sesuatu secara kebetulan atau tanpa tujuan yang pasti) dan menantang Allah (dengan mengutamakan pendapat pribadi daripada kehendak Allah).

Hujjah sudah dipaparkan, keadilan sudah ditegakkan.  Tinggallah akal yang perlu mencernanya lebih dalam.
-----

#6. Dikirim oleh Pengamat JIL  pada  30/04   08:04 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq