Banyak Jalan Menuju Keselamatan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
29/12/2002

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno: Banyak Jalan Menuju Keselamatan

Oleh Redaksi

Ya, dalam kenyataan memang begitu. Saya yakin betul adanya banyak jalan menuju keselamatan. Dan itu juga ajaran Katolik. Dalam Konsili Vatikan ditegaskan bahwa “orang dari semua jalan, asal mau hidup dengan baik, akan bisa menerima keselamatan Allah”

Perayaan Natal telah berlalu. Banyak yang cemas dan khawatir kalau Natal tahun ini akan dihujani bom lagi seperti tahun 2000. Tapi kecemasan itu tak terbukti. Ini berkat kerjasama aparat keamanan dan seluruh masyarakat menjaga kedamaian dan kesakralan perayaan hari raya umat Kristiani ini.

Natal menurut Prof Dr. Franz Magnis-Suseno, merupakan doktrin keselamatan bagi seluruh umat manusia. “Doktrin keselamatan itu tidaklah monopoli umat Kristiani,“ tegas rohaniawan Katolik yang akrab dipanggil Romo Magnis ini. Menurut mantan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakarya Jakarta, klaim-klaim kebenaran dan keselamatan (claims of truth and salvation) biasanya muncul pada setiap agama, tapi tidak seharusnya memantik sikap ekslusif. Mengutip pernyataan Cak Nur : “Banyak jalan menuju pintu Tuhan.”

Masih dalam rangka suasana Natal, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai Romo Magnis pada 26 Desember 2002:

Romo, pertama-tama saya mengucapkan selamat Natal kepada Anda dan umat Kristiani di Indonesia. Bagaimana perasaaan Anda dalam merayakan Natal tahun ini?

Terus terang saja, sesudah ikut dalam perayaan di gereja-gereja pada malam Natal, saya merasa sedikit lega. Karena seperti halnya banyak umat Kristiani, ada sedikit rasa was-was kalau akan terjadi apa-apa pada perayaan Natal ini. Tapi ternyata tidak ada apa-apa. Kondisi ini, bagi umat, menambah kegembiraan.

Apakah hal itu sebentuk percaya diri setelah muncul rasa was-was akan adanya gangguan keamanan?

Mungkin bukan percaya diri. Sebelumnya ada dua pihak yang menenangkan kami, orang Kristen, agar tidak perlu takut. Pertama, polisi yang memang mengadakan penjagaan yang cukup ketat, meskipun hanya di gereja-gereja yang cukup penting, tidak di gereja-gereja yang kecil-kecil. Kedua, ketika tragedi 12 Oktober di Bali, para pimpinan umat Islam dengan sangat terbuka merentangkan tangan kepada minoritas Kristen untuk sama-sama menciptakan perdamaian, dan menegaskan bahwa tokoh-tokoh Islam sudah menerima Indonesia sebagai realitas plural. Jadi mereka mengatakan, “Kalian tidak perlu takut!”

Di lain sisi, ada juga ekspresi kongkrit dari umat Islam. Di berbagai gereja, ada penjagaan dari anak-anak muda muslim (Banser NU dan Forum Keluarga Anak Betawi [Forkabi]). Katakan saja apa yang dinyatakan tokoh-tokoh umat Islam adalah suatu janji, dan janjinya itu terpenuhi di Natal kali ini. Kami kira, ini merupakan suatu pembenaran adanya perasaan aman di pangkuan negara ini.

Perayaan Natal tahun ini juga damai dan tidak terdengar berita tentang aksi teror bom dan lain-lain.

Tidak ada memang. Saya juga mendengar bahwa di Maluku, Ambon, Poso dan daerah rawan konflik lainnya juga tenang dan tidak ada apa-apa. Jadi Natal kali ini betul-betul tanpa kekerasan, menggembirakan sekaligus menentramkan dalam arti yang sebenarnya.

Mudah-mudahan situasi aman dan kondusif ini terus permanen. Bukankah begitu, Romo?

Saya kira begini. Tidak ada yang bisa mencegah kalau ada orang yang betul-betul mau melakukan teror. Teror masih bisa terjadi lagi. Tapi bukan itu masalahnya. Bagi kami, yang penting adalah reaksi positif masyarakat, umat Islam dan negara. Respon positif ini yang memberikan perasaan yang lebih mantap kepada kami. Dengan demikian. reaksi atau kehendak melakukan teror, dengan sendirinya, sulit terjadi.

Kalau kita perhatikan ormas-ormas Islam besar, mereka sudah cukup tegas melakukan delegitimasi atas orang-orang yang menggunakan agama atau dali-dalil agama untuk melakukan tindak kekerasan. Bagaimana kesan Anda?

Ya. Saya merasa justru penting sekali hal-hal seperti itu dikatakan. Jadi, kalau misalnya, dikatakan di Indonesia tidak ada terorisme dan tidak ada apa-apa (padahal realitas sui generis jelas-jelas ada), orang justru akan mendapat kesan bahwa sebagian pihak tertentu malah melihat terorisme bukan menjadi soal apa-apa. Sikap mengingkari fakta (sense of denial) ini ‘kan sangat berbahaya dan membuat takut. Sebaliknya, kalau ada suara yang jelas bahwa ada terorisme dan kita harus tangani, maka sikap seperti ini justru positif. Sebab tidak bisa dihindari juga, dalam setiap kelompok-kelompok agama yang kecil, ada yang menyalahgunakan agama dan kesalahpahaman terhadap pokok-pokok agama itu bisa saja terjadi di kalangan penganut semua agama, tidak hanya Islam. Meskipun biasanya kelompok tersebut kecil jumlahnya.

Tampaknya, saat ini ada usaha dari kelompok yang lebih moderat dan toleran untuk melakukan delegitimasi atas paham kelompok tertentu. Barangkali hal itu demi menghindari stigmatisasi. Menurut Anda?

Betul. Saya juga melihatnya dalam kerangka yang sering disebut sebagai stigmatisasi. Stigmatisasi itu mengesankan seakan-akan ada suatu agama yang begitu dekat dengan terorisme. Itu sering dikeluhkan oleh saudara-saudara Islam saya. Nah, dengan mengambil jarak tegas atas terorisme --entah dijalankan atas nama agama ataupun tidak-- stigmatisasi itu akan hilang. Orang akan tahu, bukan agama itu, dan bukan umat agama itu, yang bertanggungjawab. Tapi oknum-oknum, unsur-unsur yang selalu ada dan tidak bisa dihindari. Agama sendiri jelas tidak membenarkan perilaku teror semacam itu. Jadi delegitimasi itu semacam usaha membongkar stigmatiasi. Stigmatisasi selalu ada, karena orang suka generalisasi. Generalisasi ini juga tidak baik dikembangkan.

Ironisnya, identitas kelompok makin mengental sehingga orang tidak nyaman bila bermurah hati pada orang yang berbeda. Misalnya soal saling mengucapkan selamat pada hari besar agama tertentu. Bagaimana tanggapan Anda?

Kalau mengucapkan selamat Natal, itu memang masih bermasalah, karena ada fatwa dari MUI (Prof. Dr. Azyumardi Azra sudah menjelaskan fatwa MUI yang sebenarnya. Lihat Jawa Pos, Minggu, 15 Desember 2002, Red). Ada orang yang mungkin menganggap ucapan Natal itu tidak apa-apa, lalu ragu apakah boleh atau tidak. Itu membikin hubungan sosial lebih sulit. Padahal, boleh jadi fatwa MUI dulu ada konteks politiknya juga.

Saya melihat, memang ada kemungkinan sekelompok orang ingin memperkuat identitas mereka, dengan cara mengambil jarak, bahkan memusuhi kelompok lain. Itu adalah cara yang sangat biasa —meski kurang sehat— dalam psikologi sosial, yaitu dengan menciptakan musuh, menciptakan the image of enemy. Dalam kerangka ini, orang mencari enemy kepada pihak-pihak tertentu, misalnya Amerika, yang sering juga dituduh tanpa alasan. Yang penting adalah ada musuh. Dulu, musuh yang diciptakan Amerika adalah komunisme. Sekarang mereka mungkin mencari musuh yang lain. Hal ini adalah cara yang negatif. Yang positif adalah bisa berkomunikasi antarsesama. Komunikasi bukan berarti bahwa perbedaan harus dihilangkan. Akan tetapi, meskipun ada perbedaan, kita tetap bisa bergaul dan malah bisa saling memperkaya. Itu cara yang positif.

Romo, kita masuk ke inti masalah. Apa makna Natal itu sendiri bagi umat Kristiani?

Tentu, secara langsung Natal adalah perayaan kelahiran Yesus. Dalam perspektif umat Kristiani, Yesus dihormati sebagai sang penebus dosa-dosa; yang memungkinkan kembalinya kita diterima dengan baik oleh Allah. Dengan demikian, Tuhan sendiri mendekat, mau menerima manusia, mau bertegur sapa dengan-Nya sehingga manusia bisa berharap, bisa membuka hati.

Kami orang Kristen juga melihat pentingnya kondisi kelahiran Yesus. Di dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Dia lahir di dalam kandang, karena tidak ada tempat di dalam penginapan. Orang tua Beliau, Maria dan Yusuf, rupa-rupanya memang orang yang tidak berpunya dan sangat sederhana. Nah, suasana ini justeru penting. Andaikata Yesus lahir sebagai anak orang kaya dan orang yang berkuasa, ya gampang saja. Tapi sebagai tanda solidaritas dengan orang yang miskin dan lemah; yang tidak punya dan menjadi korban, sekaligus kami, umat Kristiani, merasa diajak untuk mengambil sikap bersahaja itu sendiri. Jadi ada semacam spirit untuk mau berbaik, tidak berkeras hati, dan selalu berpihak pada orang kecil dan lemah, serta tidak memberi ruang pada kebencian dan rasa balas dendam. Itu yang saya rasa sangat penting.

Figur Yesus yang lahir dalam suasana sengsara itu selayaknya melahirkan rasa setia kawan bagi mereka yang lemah. Bukankah begitu, Romo?

Ya, dan memberikan juga semacam semangat kalau Yesus lahir dalam kondisi papa. Kita adalah manusia yang sering diliputi kebencian, kecurigaan, marah-marah dan takut, mestinya boleh juga percaya pada orang lain, boleh membuang prasangka-prasangka yang mudah menerpa kita. Jadi, seharusnya kami membuka diri pada hari Natal untuk semua orang agar kehadiran kami menjadi sesuatu yang positif bagi orang lain.

Romo, di mana letak keistimewaan Natal jika dibandingkan dengan hari Paskah misalnya?

Sejarah hidup Yesus terentang antara Natal dan Paskah. Dengan demikian, Paskah bisa dikatakan sebagai puncak. Akan tetapi, Natal adalah permulaan dari puncak itu sendiri. Dalam kenyataannya, Natal adalah perayaan kedua. Tapi dalam penghayatan, Natal adalah nomor satu.

Sebagai peristiwa sosial, mengapa Natal tampak lebih menonjol ketimbang Paskah?

Mungkin orang merasa akrab dengan suasana anak kecil dalam suasana gua, dengan Maria dan Yosef. Orang membayangkan juga adanya sapi dan lain-lain. Dengan demikian, rasanya kok lebih akrab. Orang bisa merasa tentram.

Natal ternyata juga sebuah peristiwa budaya, yang banyak diwarnai oleh kehadiran ikon-ikon budaya. Misalnya, tokoh Santa Klaus (Sinterklas) yang sangat populer. Bagaimana tanggapan Anda?

Saya memang sering ditanya masalah Santa Klaus. Di Jerman, Santa Klaus tidak memainkan peranan dalam hari Natal. Jadi itu khas daerah Anglo-Saxon. Kalau di Jerman, perayaan Santa Klaus dilakukan pada tanggal 5 atau 6 Desember. Figur laki-laki musim dingin itu sebenarnya sesuatu yang punya latar belakang “kekafiran.” Karena tanggal 24 Desember adalah permulaan musim dingin, maka masuklah kemudian semacam sintesa kultural. Saya tidak menghubungkan Santa Klaus dengan Natal. Saya menghubungkan Natal dengan gua dan pohon Natal yang tentu juga sesuatu dari budaya. Tidak ada pohon Natal dalam kitab suci.

Dalam Natal ini juga ada unsur perkawinan antara ikon budaya lokal dengan peristiwa keagamaan yang normal-normal saja dalam semua agama. Apa begitu?

Yang jelas dalam kekristenan banyak hal seperti itu (perkawinan budaya) yang terjadi. Lantas kemudian, perkawinan budaya itu menyatu menjadi suatu penghayatan.

Seperti peristiwa lebaran dalam tradisi Islam yang menjadi semacam festival budaya yang bisa dinikmati banyak orang?

Ya. Kalau umat Islam gembira, ‘kan seluruh masyarakat ikut gembira juga. Itu ‘kan biasa sebagaimana kita tidak harus menutup diri kalau tetangga pada gembira.

Artinya tersirat adanya aspek festival sosial dalam hari-hari besar agama, di samping aspek ritual yang bersifat spesifik?

Dalam penghayatan saya, perayaan agama tidak pernah hanya vertikal. Artinya, dari manusia ke Tuhan dan kembali lagi. Tapi selalu horisontal: dari manusia untuk manusia dan saling berbagi kegembiraan dengan teman-teman, sahabat-sahabat, tetangga-tetangga dan lain-lain. Jadi, memang ada peristiwa sosial juga. Menurut saya, itu hal biasa dan dalam kenyataannya di mana-mana juga begitu.

Orang yang berbagi kegembiraan pada hakikatnya berada pada level horisontal itu. Artinya, ikut saling memberi selamat bukan berarti ikut meyakini apa yang diyakini orang yang diberikan selamat. Tanggapan Anda?

Saya kira, itu memang tidak tersimplikasi. Bisa dimengerti bahwa agama selalu menghindari suatu sikap yang seakan-akan ikut mempercayai sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan agama sendiri. Tapi mengucapkan selamat ‘kan hanya berarti “Saya ikut gembira karena Anda gembira”. Jadi, kalau saya mengucapkan “selamat Idul Fitri”, dengan demikian tidak membuat saya jadi seperti orang Islam.

Tadi Anda menjelaskan makna Natal sebagai kelahiran seorang Mesiah bagi umat manusia. Bisa dijelaskan lebih dalam?

Pada Natal, umat Kristen merayakan kelahiran Yesus, yang bagi umat Kristeni juga berarti Allah beserta kita: beserta manusia pada umumnya. Allah seakan-akan mau ikut di dalam perjalanan manusia. Nah, bagi umat Kristen, hal itu semacam permulaan pemenuhan janji-janji yang kami lihat di suara kanon nabi-nabi dalam Israel dulu bahwa Allah tidak akan meninggalkan manusia, tapi menebus manusia dari dosa-dosanya. Dan bahwa meskipun segala hal-hal yang buruk terjadi di dunia, kata terakhirnya, adalah kata selamat yang diberikan oleh Allah. Oleh karena itu, Natal begitu penting, dengan mulai terasanya kedatangan keselamatan Ilahi bagi manusia. Jadi Natal dihayati sebagai pesta terpenting oleh orang Kristen.

Romo, pernyataan Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati, dan orang Kristen terakhir telah mati di tiang penyaliban.” Bisa Anda jelaskan maksud Nietzsche itu?

Saya kira, Nietzsche itu orang yang mau memprovokasi. Yaitu, memprovokasi orang berbudaya Barat yang, menurutnya, hanya omong kosong dan sudah kehilangan nilai-nilainya. Dia mau mengatakan bahwa yang hanya Yesus itu sendiri yang benar, dan kalian sesungguhnya kosong! Saya sendiri menolak analisis itu. Tapi saya menganggapnya sebagai gugatan supaya kita berefleksi apakah kita hanya mengikuti ritus-ritus, tapi sikap hati kita sebetulnya sudah mati. Itu tujuan Nietzsche. Saya kira, dia terlalu berlebihan juga.

Kita ingin bicara masalah keselamatan. Nah, apa makna keselamatan dalam pengertian Kristiani?

Yang selamat itu semacam ungkapan bahwa seakan-akan surga dibuka lagi. Tapi lebih dari itu, selamat sebetulnya juga berarti bahwa dunia ini, juga sejarah masyarakat, dijadikan selamat. Doktrin itu memuat suatu tuntutan agar kita mau hidup sedemikian rupa sehingga semua bisa selamat. Jadi membuka ruang bagi kebaikan ketimbang kebencian; percaya bahwa kebenaran, kejujuran, bukan kebohongan yang menang.

Jadi Natal sekaligus juga berarti keselamatan umat manusia. Suatu optimisme, tapi juga suatu desakan kuat agar kita, manusia, mau berubah dari sikap negatif menjadi positif.

Berbicara masalah keselamatan, kita melihat di semua agama ada kecenderungan mengklaim keselamatan hanya ada padanya (claim of salvation). Bagaimana melihat pandangan bahwa semua agama mengklaim “agama kita adalah jalan keselamatan?”

Menurut saya, perbedaan yang ada di antara agama-agama tidak boleh dibedakan menjadi seakan-akan keselamatan itu eksklusif. Jadi keselamatan dalam pandangan orang Kristen yang dibawa Yesus itu keselamatan buat semua, bukan hanya untuk orang Kristen. Intinya semua orang bisa selamat. Untuk semua orang yang berusaha untuk memberikan suatu kebaikan dalam hati mereka dan tidak berusaha untuk menutup diri. Jadi keselamatan tidak boleh eksklusif, dibatasi hanya bagi orang Kristen. Bagi saya, sikap ekslusif itu salah sekali.

Bagaimana membedakan jalan keselamatan yang ditawarkan satu agama dengan agama lainnya?

Orang yang beriman, --misalnya saya beriman sebagai orang Kristiani-- tentu saja merasa yakin bahwa iman saya benar. Kalau tidak, tentu saja, saya tidak bisa disebut beriman. Ini mengandaikan bahwa orang beriman pada agama manapun kebanyakan begitu. Hal itu tidak berarti bahwa saya mengatakan bahwa semua agama lain itu salah. Agama lain itu adalah jalan-jalan lain yang sebenarnya juga membimbing pemeluknya menuju Tuhan. Jadi, saya tidak akan memberikan suatu penilaian tentang agama lain hanya karena saya happy di dalam agama saya sendiri.

Kesimpulannya, banyak jalan menuju keselamatan. Atau banyak jalan menuju Tuhan. Apa begitu?

Ya, dalam kenyataan memang begitu. Saya yakin betul adanya banyak jalan menuju keselamatan. Dan itu juga ajaran Katolik. Dalam Konsili Vatikan ditegaskan bahwa “orang dari semua jalan, asal mau hidup dengan baik, akan bisa menerima keselamatan Allah” []

29/12/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

orang entah apapun agamanya atau aheis sekalipun terlebih lagi orang islam harus menimba ilmu sebanyak-banyaknya agar tahu apa dan bagaimana segala sesuatu sehingga mengerti apa yang harus dilakukan, dengan begitu semuanya akan menjadi jelas dan itulah yang dinamakan islam, suatu semangat untuk terus mengerti kehidupan, tidak berhenti pada suatu kesimpulan, karenaislam itu adalah semangat bukan suatu agama.sekali lagi bila orang sudah semangat untuk terua menimba ilmu maka akan tahu apa yang harus dilakukannya dan itu tak perlu di beri nama agama apapun atau istilah apapun.islam sama seperti protestan suatu nama agar melakukan evaluasi, jadi kalau ingin selamat itu ya harus selamat.islam itu semangat dan semangat itu islam.orang yang semangat ya itulah orang islam,walaupun orangnya islam tapi tidak bersemangat ya tidak akan selamat.orang yang atheis bila semangat menimba ilmu pasti akan percaya pada tuhan,orang yang tidak islam bila semangat menimba ilmu pasti akan percaya islam, sekali lagi islam sama dengan protestan yaitu semangat memperbaiki diri.
-----

Posted by agus  on  12/17  at  11:13 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq