Berkah Sekularisme - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
10/04/2005

Berkah Sekularisme

Oleh Luthfi Assyaukanie

Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak. Sekularisme sesungguhnya adalah berkah bagi agama-agama.

10/04/2005 20:41 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Dibawah ini tulisan Sdr. Lutfi Assyaukanie, mudah2 an konsisten, sbb :

“Alangkah tidak fair jika kita mengecam sekularisme semata-mata karena kita merujuk pada praktik sekularisme yang salah. Kita tentu saja tak menginginkan model sekularisme Turki, atau Mesir, atau Perancis. Lagi pula, mengapa kita terobsesi dengan negara-negara yang gagal ini? Mengapa tak berkaca pada pengalaman yang jelas-jelas terbukti sukses? (Luthfi Assyaukanie)”

Nah, apakah hal seperti diatas akan diterapkan juga dalam menyikapi Sistem Khilafah ?,

Sejarah mencatat kurang lebih 13 abad sistem khilafah eksis dan pernah menjadi superpower didunia ini.

Berapa tahun sistem komunis eksis ? Berapa tahun sistem sosialis eksis ? Berapa tahun sistem kapitalis akan bertahan ?

Sebaiknya janganlah “keterlaluan” dalam menilai sistem khilafah, begitu juga dengan klaim2 sepihak seolah olah hanya ada satu sistem saja yang dipilih masyarakat bahkan berani mengatakan sekuler adalah yang paling tepat dan benar. Sejarah pun mencatat negara2 baratlah yang berada dibelakang kudeta terhadap kemenaangan FIS dalam pemilu demokratis di Aljazair.Padahal katanya mereka telah menerapkan demokrasi sekuler secara benar. Bahkan AS pun memiliki hak veto di PBB yang sangat bertentangan dengan sistem demokrasi.

Sistem apapun bisa dipilih, tidak ada yang berhak mengatakan bahwa hanya ada sistem yang benar dan terbaik.

#1. Dikirim oleh ferni  pada  10/04   09:05 PM

Tulisan yang sangat bagus sekali dari seorang Luthfie, beliau menungkap tentang Sekularisme, sepintas seperti mengunggulkannya padahal secara tidak sadar mengungkapkan kegagalan sekularisme bahkan memperlihatkan fakta bahwa yang menerapkan sekularisme itu hancur. Karena dia sendiri tidak berani dengan secara terbuka menyampaikan negara-negara yang menerapkan sekularisme yang dianggap berhasil, hal ini karena dia sendiri terjebak dengan ungkapannya sendiri bahwa sekularisme itu equal dengan demokrasi, maka jika luthfie komitmen, sebenarnya sekularisme itu sudah gagal karena tak ada satupun negara di dunia yang berhasil dengan demokrasi, Amerika yang diagungkan tetap bersikap diskriminatif terhadap kulit hitam dan muslim, Amerika tikda pernah memiliki presiden wanita, Amerika membuat kebijakan diskriminatif terhadap muslim sebagai warga kelas dua yang harus selalu dicurigai terutama pasca 11 September, Perancis menolak jilbab dan simbol2 agama jelas-sikap anti demokrasi, warga kulit hitam keturunan Al Jazair tetap warga kelas dua yang diperlakukan berbeda dengan warga perancis, begitupun inggris.

Semoga luthfie sadar bahwa Sekularisme itu telah gagal, walaupun dia berapologi bahwa kegagalan itu karena tidak menerapkan sekularisme dengan baik dan benar? Apologi yang tanpa argumen, jika sekularisme lebih unggul buktikan negara mana yang sudah berhasil? Dengan jujur, faktual dan elegan.

#2. Dikirim oleh dadang a. fahmi  pada  12/04   02:04 AM

Berkah Sekularisme

Assalamualaikum. Saya menyaksikan pemilihan umum pertama, ikut menghadiri kampanye Bung Karno, walaupun belum berumur untuk mempunyai hak pilih (masih SR). Pemilihan umum yang kemarin sudah mempunyai hak pilih, tapi saya tidak menusuk partai yang berbau agama. Aneh, yah saya punyak hak untuk itu karena merasa kecewa terhadap tindak-tunduk mereka yang mengaku agama Islam, selalu mengataskan Tuhan demi memenangkan kemauan politiknya. Ini mau sampai kapan, kenapa dari pengalaman pemilihan umum tidak ambil manfaatnya bahwa seharusnya secara kasar negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi agama, bukankah pengalaman negara lain dapat diambil pelajarannya sehingga kita bangga berbangsa Indonesia, karena agama Islam dianut oleh sebagai besar masyarakat yang mempunyai pendidikan tinggi dan pendapatan perkapita tinggi dan tentunya masyarakat yang berdisiplin tinggi, dan yang terakhir pertumbuhan pendudukan rendah sehingga sangat sukar menemukan orang miskin di Indonesia, sehingga cerita tiap hari di koran seperti di bawah ini menjadi jarang: 1.Bayi-bayi yang lahir dari rahim TKW (15-20 manusia) hasil pemerkosaan majikan arab. (Katanya kebudayaan arab nomer satu di dunia). 2.Mahasiswa Jogyakarta demo antiperjudian. (Biarlah negara yang mengatur, kalau perlu dilokalisir, engga mukin dibrantas). 3.  2.932 siswa dari keluarga miskin kota bandung menanti bantuan dana kompensasi. (Suatu contoh pengabaian “keluarga berencana”). 4.  597 keluarga ciamis hanya makan sekali sehari dan 135.000 orang miskin tak terlayani asuransi kesehatan. (Pesantren tidak mampu menjamin, lebih baik berkoar bahwa ini tanggung jawab pemerintah). 5.Ham (72) guru ngaji sodomi balita. (Waw sudah tidak takut sama TUHAN).

Luthfi Assyaukanie telah menyampaikan tulisan yang berisi ajakan bijak, yang perlu dipikirkan dan segera dilaksanakan. Ini seharusnya terjadi dimulai pada saat Gus Dur atau Hamzah Has menjadi RI satu dan RI dua, mulai memaklumatkan bahwa negara harus dipisahkan dari agama, karena beliau-beliau ada dipuncak pimpinan maka secara otomatis umatnya akan mengikuti (bergaung keras) “tanpa pertumpahan darah” tapi sayang itu tidak terjadi karena masih dibayang-bayangi jungjungan kita. Saat itu nabi “memang seharusnya” dapat memegang tampuk pimpinan apakah itu negara ataupun agama dalam satu tangan, dan semua berjalan dengan baik. Ini kejadian keberhasilan pada abad ke 6. Apakah kita tetap bermimpi tidak mau melihat realita, apakah mungkin, dapat terwujud negara dan agama disatukan saat sekarang, sudah jelas tidak mungkin sebab tidak ada nabi lagi setelah nabi Muhamad, sekarang 2005 dengan jumlah penduduk 230 juta, tuntutan HAM yang ingin ditegakkan, demikian juga “demokrasi ala Indonesia” terwujud. Sedangkan dilain pihak kita mengetahui dengan jelas mengenai pengalaman negara-negara Islam, seperti Turki, Mesir, dan Irak pada masa Saddam Husein, adalah contoh negara yang berusaha mengadopsi sekularisme tapi menerapkannya secara salah. Sekularisme di Turki, misalnya, diidentikkan dengan serial pelarangan terhadap atribut dan praktek-praktek keagamaan. Sekularisme berarti pelarangan jilbab, penutupan institusi pengajaran al-Qur’an, dan penangkapan terhadap aktivis Islam. Di Mesir, sekularisme identik dengan diktatorisme sekularisme di Perancis dipahami sebagai kewaspadaan terhadap “ancaman” agama. Memakai jilbab, karenanya, dianggap sebagai ancaman bagi sekularisme. Nah kalau kita telah mengatahui pengalaman buruk tersebut kenapa kita (MPR) tidak mau segera membuat “demokrasi ala Indonesia” kemudian kita mengikuti jiwa yang disampaikan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906), seorang sarjana Inggris, sebagai sebuah gagasan alternatif untuk mengatasi ketegangan panjang antara otoritas agama dan otoritas negara di “Indonesia”. Dengan sekularisme, masing-masing agama dan negara memiliki otoritasnya sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan masing-masing agama mengurusi mejid, gereja, kelenteng, candi Borobudur. Ini harus disadari secepatnya dari pada bertikai melulu sesama bangsa (kita terpuruk dan dihina dengan masalah Ambalat karena tidak melihat realita), demikian pula mahasiswa dilibatkan yang artinya tanpa dipengaruhi kepentingan politik untuk memikirkan hal tersebut, (jangan berdemontrasi saja) misalnya mahasiswa jurusan politik maupun mahasiswa IAIN berdiskusi, sehingga kita bangga mempunyai mahasiswa berkualitas, walaupun semuanya karena dibimbing oleh para dosennya. Kita harus sadar bahwa semua mahasiswa merupakan cikal bakal pemimpin bangsa yang berkualitas setaraf SBY yang dilahirkan tanpa harus “berkeluarga berencana” suatu kelahiran tanpa batas bagi pimpinan bangsa yang berkualitas.

Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak.

Apakah kita tidak berkeinginan seperti negara yang relatif sukses dalam menerapkan demokrasi yaitu negara-negara yang secara baik menempatkan hubungan agama dan negara; mereka adalah negara-negara yang mampu menjalankan prinsip sekularisme dengan benar. Di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara demokratis lainnya, sekularisme tidak dipahami sebagai musuh agama, tapi justru dijadikan sebagai pelindung agama.

Mimpi ni ye(?) kalau seandaikan demokrasi ala Indonesia, perlindungan sekularisme terhadap agama disimbolisasikan dengan menjadikan presiden Indonesia sebagai Kepala Agama tentunya Islam-lah. Meskipun sekilas tampak bertentangan dengan prinsip sekularisme --yakni pemisahan agama dan negara-- tapi presiden sendiri secara de facto sesungguhnya tak punya kekuatan apa-apa alias sudah terpisah dengan sendirinya dalam urusan agama.

Sekularisme sesungguhnya adalah berkah bagi agama-agama. Di Turki, para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Kebajikan yang berorientasi Islam, menuntut negara agar menerapkan sekularisme secara fair. Merve Kavacki, anggota parlemen Turki berjilbab yang pernah membuat heboh pada tahun 2000 dengan tegas mengatakan bahwa dia dan partainya tak pernah ada masalah dengan sekularisme. “Yang kita inginkan adalah penerapan sekularisme secara adil dan benar, seperti negara-negara Barat melaksanakannya.”

Semoga kita dengar gaung dari “center of points” Islam (pesantren beken. Amien.

Wassalam.

#3. Dikirim oleh H. Bebey  pada  12/04   05:05 PM

Sekularisme muncul untuk melawan dogma agama yang ada di eropa waktu itu, yang memang dogma tersebut dan otorita agama tidak dapat dikritik. Hal ini tentunya tidak dapat dibenturkan dengan ajaran islam , dimanna Alqur’an adalah petunjuk hidup disegala aspek kehidupan penganutnya(mahkluk Alloh) dan tidak dogmatis (ada peluang penafsiran). Sehingga islam juga merupakan salah satu isme yang dapat dianut dan diterapkan oleh manusia. Dan saya yakin prinsip-prinsip universal islam dapat mengatasi kesemrawutan dunia saat ini.

#4. Dikirim oleh guspri  pada  13/04   09:05 PM

Sdr Lutfie Assyaukanie berpendapat, bahwa Penerapan Sekulerisme yg benar pasti akan berjalan lancar plus sebagai pelindung agama2.sekalian juga Lutfie memberi contoh negara yg sukses menerapkan sekulerisme seperti USA, Tanpa memberikan detail perlindungan model bagaimana yg telah dilaksanakan,untuk jelasnya mungkin sdr Lutfie perlu membaca tulisannya Gore Vidal tentang negara dimana dia lahir dan dibesarkan,perlu juga saya tanyakan tolak ukur yg bagaimana sdr Lutfie gunakan bahwa banyak negara yg “sukses"dalam penerapannya,apa berarti tidak pernah ada suatu pemerintahan yg berlandaskan agama (Islam)yg sukses,apakah pemerintahan zaman Nabi Muhammad SAW bukan suatu contoh pemerintahan berlandaskan agama yg Sukses ?. Penganut non Sekulerisme umumnya tidak heran dengan pandangan seperti sdr Lutfie,Islam selalu menjadi sosok yg menakutkan bagi penganut Sekulerisme,Karena setiap keputusan2 yg diterapkan,Islam akan merujuk kepada panutannya yg telah terekam dengan lengkap bukan hasil pemikiran manusia yg mempunyai batasan2 kemampuan berfikir dan penuh dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Sdr Lutfie tidak usah khawatir dengan membantu ECHOING gaung dari penganut sekulerisme yg was was setiap kali ada usulan penerapan hukum agama dalam suatu negara.

#5. Dikirim oleh Hakim Jufri  pada  16/04   09:04 PM

Assalammualaikum wr.wb Maaf setiap orang boleh menulis dan mengatakan apa yg dia suka dan punya. Sebagai orang muslim, saya merasa saudara dengan mas luthfi, saya hanya mau mengingatkan mas balik lagi deh itu alqur,an dan hadits. Sebab apa saja yg datangnya dari kaum yahudi dan nashrani tentu ada sesuatu dibaliknya. Yg jelas mereka tidak akan senang sebelum kita mengikuti mereka (baik itu ide mereka dllnya). Makanya mendingan dari pada terlalu menghabiskan masa untuk mengutak-atik hal itu mas kembali deh pada alqu’an. Dan disana akan jelas kita dapatkan bahwa alqur’an telah memberikan konsep yg jelas buat kita untuk menata apa aja, termasuk bagaimana caranya kita mau kembali kepada kehidupan agama seperti dialami masa para sahabat. Trim,s.

#6. Dikirim oleh Taufik Mahfud  pada  17/04   09:04 PM

Uraian ini dapat dianjungi jempol, tapi disayangkan pemaparannya sangat tidak obyektif dan tidak analitis.  Disebutkan bahwa nilai-nilai demokrasi yang dikembangkan oleh negara-negara Barat seperti Australia, Amerika dll sebagaimana yang diungkap penulis merupakan penjelmaan dari sekularisme yang sejati.  Padahal, pada tataran aplikasinya tidak sepenuhnya benar.  Di Australia misalnya, orang-orang berwarna dan indegenious people tidak memiliki hak yang sama dan perlakuan hukum yang setara dengan orang kulit putih (lihat sejarah suku aborigin) dan banyak lagi contoh yang dapat diambil dari sikap dan agresi militer yang dilakukan oleh Amerika. 

Saya yakin, orang sebijak Luthfie dapat menilai dan menanggapi secara obyektif dan kritis atas tindakan-tindakan anti-demokrasi dan melanggar Hak Azasi Manusia yang disebut Lutfie sebagai pengusung sekularisme yang fair.  Bagi saya, sekularisme adalah konsep yang tidak netral apabila kita memahami sisi kompleksitas historitasnya. 

Walau demikian, saya sepakat dengan penulis yang berpendapat bahwa penerapan sekularisme yang sejati dapat melahirkan demokrasi yang berpihak kepada kepentingan orang banyak tanpa melihat kasta, warna kulit, status sosio-ekonomi dan agama. 

Sebagai catatan, saya lebih menghargai jika artikel/tulisan yang dimuat di islamlib.com bukan hanya tulisan lepas yang tidak memenuhi dan tidak dilandasi oleh fakta-fakta akurat dan obyekif.

Trima Kasih

#7. Dikirim oleh Agusman Armansyah  pada  17/04   09:05 PM

Memang sulit untuk mengakui kegagalan. Sekularisme banyak mengalami kegagalan, itupun kalau kita tidak mau mengatakan sudah gagal semua. Jika orang melihat AS, Inggris, Autralia, dan negara-negara Barat lainnya yang dianggap berhasil menjalankan prinsip sekularisme, bisa dilihat dari diskriminasi ras dan agama yang mereka lakukan. Cap bahwa Islam adalah teroris menunjukkan salah satu kegagalan itu. Tingginya tingkat kriminalitas di AS misalnya, adalah salah satu hasil dari sekularisme. Angka perceraian tinggi, pemakaian obat bius tinggi, pemerkosaan tinggi, semua itu adalah wujud dari kegagalan. Apakah para pemimpin barat memegang erat prisnsip demokrasi? Tentu tidak. Karena mereka memaksa bangsa-bangsa lain untuk menerima keinginan mereka agar menerpakan demokrasi versi mereka. Jadi di mana keunggulan sekularisme. Fakta yang pasti, ketika Islam diterpkan secara kaffah pada jaman Rasulullah, yang ada adalah keadilan bagi semua anggota masyarakat, tanpa memandang agama dan warna kulit. Allahu’alam bishawab.

#8. Dikirim oleh Zulkarnain Lubis  pada  18/04   08:05 PM

Setiap orang Islam,tentulah yakin dengan kebenaran dalam agamanya.Agama yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW.Apa yang terjadi dalam kehidupan Nabi, adalah contoh bagi kita dalam menapaki kehidupan kita di dunia yang semakin tidak karuan ini. Dunia yang bagai nenek tua keriput yang berdandan sangat menor. Baginda Nabi telah memberi contoh bahwa beliau mampu menyatukan kehidupan keagamaan dengan kehidupan kenegaraan.Ini terbukti dengan harmonisasi di Madinah,padahal Madinah tidak hanya dihuni orang Islam saja, ada Yahudi dan Nasara. Hukum yang diterapkan adalah sangat jelas, Hukum Islam. Tidak ada pemisahan sama sekali antara agama dan negara. keduanya saling mengisi, diatur dengan sangat indah,dibawah kepemimpinan baginda NAbi. Lalu mengapa kita meragukan apa yang telah diajarkan Nabi? Kenapa mesti takjub pada pemikiran orang barat yang tidak jelas juntrungannya?Baik-buruk sifatnya?Tahukah anda kenapa dia sampai berpikiran bahwa negara mesti sekuler? Jaman dulu,jaman renaissance, dimana kekuasaan agama sangat absolut(kristen), kekuasaan gereja tiada tanding tiada banding. Tentu saja banyak pemimpin gereja yang menyalah gunakannya untuk kepentingan pribadi. Ambil contoh sederhana cerita yang sangat terkenal tentang digantungnya Galileo Galilei hanya karena berbeda pendapat dengan gereja bahwa bumi ini bulat,bukan datar.Akhirnya pihak gereja yang salah,malulah mereka...Sedemikian kacaunya kehidupan di Eropa karena kekuasaan agama kristen,bukan Islam,Sehingga orang2 pintar sampai mengatakan bahwa agama adalah racun, sehingga mereka memisahkan agama dengan negara, agama dengan pengetahuan, dan hasilnya mereka berhasil, maju dengan sangat pesat seperti saat sekarang ini. Tapi ingat! Itu adalah pemisahan agama KRISTEN dengan negara. Dunia Islam saat ini jatuh karena mereka meninggalkan ajaran agamanya.Buktinya ketika agama dipegang sangat erat, Kerajaan Islam menguasai hampir 2/3 bagian bumi, dan mereka berhasil dengan gemilang dalam segala hal. Sadarlah saudara...yakinilah agamamu...banggalah bahwa engkau Islam...Cobalah amalkan dengan sekuat tenaga...mohonlah petunjuk ALLAAH...Sebab kalau tidak, Buat apa anda beragama Islam,INGAT...! ISLAM telah sempurna dalam segala hal ketika RAsulullah berhaji untuk terakhir kalinya dengan turunnya ayat pd surat Al-Maidah. Lakum dinukum waliyadin…

#9. Dikirim oleh eko budi  pada  22/04   09:05 AM

Mengenai sekulerisme, kalo dari yang saya tahu, sekulerisme itu merupakan ekses dari “hegemoni agama” yang kala itu demikian hebatnya dan benar-benar mengekang “potensialisme kritisisme” setiap hamba. Dan melalui proses historis yang panjang, akhirnya sekulerisme malah balik menghegemoni dan memandegkan “potensi-potensi religius” seorang hamba. Relijiusitas dikebiri hingga hanya dalam tatarn tataran individu. Dengan demikian yang terjadi menurut saya adalah sebuah proses pembalikan, dimana masing-masing “entitas”, agama dan sekulerisme, berusaha memaksakan ekstrimisitasnya. Ketika dalam sebuah raelita sosial seorang itu merasa memiliki beban moril untuk memancarkan relijiusitasnya, bukankah seharusnya dia juga mendapat perlindungan atas haknya itu?. Dan sebaliknya ketika sesorang dalam realita memilih untuk merasakan relijiusitasnya dalam tataran “privat” idealnya harus juga dilindungi haknya untuk itu?.  Disinilah titik eqiulibrium nantinya akan terbentuk dalam suatu prose dialektika. Karena sebuah proses yang mengusung sebuah ekstrimitas, maka ia akan terseleksi oleh proses historis. Jadi, kalaupun kita berpandangan sekuler maka biarkan mereka yang berpandanagan “agamaisme” dan begitu bagi para “agamais-agamais” terhadap para sekuleris. Dan akhirnya, diperlukan sebuah kebijakan untuk terhindar dan terjebak dalam kutub ekstrimitas.

#10. Dikirim oleh harry bawono  pada  23/04   02:05 AM

Saya dapat memahami jalan pemikiran Sdr.Luthfi Assyaukanie yang sangat mengagumi sekulerisme. Cukup menarik Sdr.Luthfi mengambil contoh ‘kesuksesan’ sekulerisme di negara-negara Barat, seperti pada kutipan, “Di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara demokratis lainnya, sekularisme tidak dipahami sebagai musuh agama, tapi justru dijadikan sebagai pelindung agama.” Padahal sangat jelas dan terang, bahwa sekulerisme berhadapan ‘face to face’dengan Agama dalam banyak isu kemanusiaan seperti agresi militer ke negara-negara Islam, aborsi, pernikahan sejenis, prostitusi, pornografi, liberalisasi perdagangan dan sebagainya.  Sekulerisme negara yang hanya mementingkan perut dan syahwat masyarakatnya, telah menjerembabkan Agama ke pojok-pojok tempat ibadah dan tidak berdaya mewarnai jiwa masyarakat yang sudah tercemar. Mengambil contoh kemenangan Partai Keadilan dan Persatuan di Turki sebagai contoh harapan yang besar terhadap sekulerisme yang fair, sunggug naif. Sesungguhnya yang terjadi di Turki adalah kebangkitan kaum Islam Revivalis pada masyarakat Turki dengan jalan moderat dan damai (tanpa pertumpahan darah). Masyarakat Turki tidak bisa tergesa-gesa menerapkan konsep Islam, karena dominasi militer sangat kuat sebagai penjaga gawang terakhir Sekulerisme Turki. Oleh karena itu, tahapan yang pertama yang harus dilalui mereka agar tidak diusik oleh Militer Turki adalah sementara tetap menerima Sekulerisme dengan perbaikan pada sisi humanism dan civilization. Jadi, tuntutan terhadap penerapan sekularisme secara adil dan benar di Turki seperti negara-negara Barat melaksanakannya, SEMATA-MATA bagian dari strategi perjuangan mengembalikan kejayaan Turki dari keterpurukannya akibat kejatuhan kekhalifahan Turki Ustmani. Saya belum membaca argumentasi yang kuat dari artikel Sdr.Luthfi tentang berkah sekulerisme, kecuali makin banyak bukti bahwa Sekulerisme menyebabkan banyak petaka bagi Agama dan kemanusiaan

#11. Dikirim oleh A. Faishal Fahmy  pada  25/04   01:05 AM

Terus terang sebenarnya saya kagum dengan beberapa pemikiran Sdr.Luthfi Assyaukanie yang terlihat sangat objektif dalam keberpihakannya terdahap ide-ide sekulerisme. Namun contoh-contoh yang dikemukakan terkesan mengagungkan Barat dan memarginalkan islam. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, atau Belanda barangkali yang jelas-jelas sumber dari kehancuran umat islam dalam sejarahnya melalui penjajahan baik secara fisik maupun non fisik. Sungguh objektif ya sekali lagi objektif penjajahan ide.

Diakui atau tidak dibalik misi sekulerisme terdapat ideologi kafir kapitalisme dan ideologi komunisme yang sangat menyesatkan. Dan dalam sejarahnya keruhtuhan Turki Usmani sebagaimana terjadi di indonesia juga tak terlepas dari rangkaian misi yang teratur. Yahudi dan Barat dengan kekuatan objektif rasional yakni melalui pendekatan filosofis maka sangat indah ide sekuleriseme itu.

Padahal, sekulerisme yang dibawa oleh cara berpikir filsafat yang diikuti misi kapitalisme, komunisme dan globalisme adalah penting disimak dengan nurani bukan semata-mata akal seperti yang saudara lakukan.ide ini menyebabkan beberapa kalangan masyarakat mengalami kebimbangan baik secara individu maupun kolektif. Negara maju sebagaimana yang saudara sebutkan justru penyebab negara-negara muslim menjadi tidak bermoral. Jawabnya di ekonomi. Jadi saat ini kebanggaan terhadap Barat harus dicermati. Dan sangat disayangkan bahwa ide sekulerisme telah mendokrak kebebasan yang kebablasan. Memang sangat halus, idenya sangat mendasar tapi kebablasan. Semoga ada kesadaran bahwa berkembangnya ponografi, aborsi, pemerkosaan, kejahatan dan sebagainya tak lepas dari rangkaian kebebasan yang dibawah sekulerisme.

Karenanya, tak akan rugi kiranya sedikit lebih elegan untuk mentafakuri islam dengan kelembutan hati dan benar-benar memasukkan islam dalam konteks cahaya kebenaran. Dan saya sangat sepakat bahwa pada dasarnya secara ideologis filosofis sekulerisme dengan beberapa ide dibaliknya berhadapan dengan agama. Sebab pertama, akhir zaman di akhir zaman ini upaya mencari kebenaran semakin marak karena modernisme telah menganugerahkan pragmatisme dan ateisme. Kedua, perang ideologi ya karena perdebatan kitab-kitab agama Al Quran, injil dan Taurat, yang masing-masing memiliki landasan yang diyakini secara fanatisme oleh masing-masing penganut agama, tapi hanya cahaya kebenaran yang dapat mencerahkannya. Semoga kita diberkahi berpikir yang berpihak ke islam, kalau memang kita ingin menjadi muslim sejati. Semoga kita dapat merenunginya dalam ketenangan bukan dalam lautan filsafat yang dibawa Barat menjadi racun, walau diakui kita perlu berpikir.

#12. Dikirim oleh Afriantoni Al imrani  pada  26/04   04:05 AM

Saudara luthfi yang terhormat. Sekulerisme… Agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Tuhan, tidak boleh dibawa ke wilayah publik, tidak boleh dicampur adukan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara; maka budaya yang berkembang adalah budaya hedonistik, komsumerisme, narkotikis dan permisif.

Buktinya: Kepada negara2 yang anda bilang cukup berhasil dalam menerapkan sekularisme, sperti Amerika, Australia, Inggris, dll… kenyataan yang terjadi akibat dari sekularisme adalah;

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 60% peredaran narkoba di dunia ada di Amerika. Dari sekian banyak kegiatan bisnis AS : Senjata, elektronik, pesawat udara, dsb, maka bisnis prostitusi menempati rangking keempat. Surat kabar Al-Ahram Mesir edisi No. 39713 menginformasikan bahwa di AS tindak kekerasan terjadi tiap 17 detik, pencurian kendaraan tiap 18 detik pembunuhan terjadi. Tiap 21 menit, perampokan bersenjata tiap 4 jam. Dari satu juta ABG (!2-13 tahun) pertahun menjadi korban perkosaan.

Di bidang ekonomi., ekonomi kapitalistik. Sistem ekonomi yang syarat dnegan hal-hal yang diharamkan Islam, seperti riba, gharar dan maisir (gambling). Sisitem yang telah melahirkan konglomerat, monopoli dan oligopoli, yang telah memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Kekayaan negara hnaya beredar pada segelintir pengusaha dan penguasa, sebuah kondisi yang kontras secara diametral dengan yang dikehendaki Allah SWT seperti termaktub dalam QS. Al Hasyr : 7.

Dibidang budaya. Budaya hedonistik dan permisif. Kita menyaksikan bagaimana pornografi dan porno aksi yang semakin menggila. Tampilan-tampilan erotis pamer aurat, yang bukan hanya di TV, majalah dan tabloid tapi juga di tengah-tengah kehidupan masyarakat. (bahkan berhubungan sex di jalanan)

Jadi ini dambaan sekularisme anda? Ck..ck..ck… what a poor person you are. God Bless you.

Kita semua memang tak mampu dalam mennanggulangi perpecahan dalam tubuh islam sendiri. karena memang Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa di akhir zaman nanti islam terpecah2 menjadi banyak golongan, semua golongan akan masuk neraka, dan hanya satu yang akan masuk surga, yaitu golongan orang2 yang berpegang pada Al-Qurán dan Hadist Nabi Muhammmad SAW.

Sekarang kita instrospeksi diri, apakah kita termasuk orang2 yang berpegang terguh terhadap Al-Qurán dan Hadist? ataukah kita orang2 heretic(ahli pembuat bidáh{pembuat sesuatu2 yang baru dalam islam})

Cuma Allah dan diri kita sendiri yang tahu. Amin

#13. Dikirim oleh sanada yukimura  pada  30/01   09:02 PM

Konsepnya yang jelas dulu Pak Lutfie; berkah yang bagaimana dan untuk agama mana. Kalau untuk agama Nasrani mungkin ya (lih:sejarah lahirnya paham sekulerisme dan masa dark era, renaissance dan aufklarung). Tapi bukan berarti baik juga bagi agama Islam, Budha, Hindu dan Konghuchu.
-----

#14. Dikirim oleh Hamonangan A  pada  19/02   11:03 PM

Mendukung Yang Mulia Prof. DR. Luthfi Assyaukanie, MA.

1. Berkah Sekularisme, sesuai Yunus (10) ayat 100.

2. Berkah Liberalisme, sesuai Al Kahfi (18) ayat 29.
3. Berkah Pluralisme, sesuai Al Baqarah (2) ayat 148.
4. Berkah Moderatisme, sesuai An Nisaa (4) ayat 1 dan Al Hujurat (49) ayat 13.
5. Berkah isme-isme lainnya, dapat dicari sesuai dari 6666 ayat lainnya.
6. Akibatnya semuannya itu Pasti Allah menurunkan penggenapan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB yang wajib ditunggu-tunggu dan tidak boleh dilupakan sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 dan ROH KEBENARAN sesuai Yohanes 16:12,13,14,15, di Indonesia pada awal millennium ke-3 masehi (sesuai Fushshilat (41) ayat 44).
7. Wujudnya Allah menyempurnakan dari agama disisi Allah adalah Islam menuju kepada AGAMA ALLAH memenuhi An Nashr (110) ayat 1,2,3, Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, pada awal millennium ke-3 masehi di Indonesia.

8. Alat percepatan menuju AGAMA ALLAH kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Dengan BONUS: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63x60 cm.

9. Buku tersebut tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal:
P.T. BUKU KITA
Telp. 021.78881850
Telp. 021.78881860

Toko buku lingkungan sendiri KALAM (JIL)
Jl. Utan Kayu 68H, Jakarta 13120
Telp. 021. 8573388

#15. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  08/11   06:20 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq