Biarkan Nurani Menerjemahkan Teks - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
29/12/2003

Gadis Arivia Effendi: Biarkan Nurani Menerjemahkan Teks

Oleh Redaksi

Mencari sisi kebenaran agama dengan merujuk kepada teks-teks normatif adalah biasa. Tapi menelusuri sisi kebenaran penghayatan keagamaan dengan menggunakan hati nurani merupakan pengalaman spiritual yang mengesankan. Apalagi pengalaman ini dialami oleh Gadis Arivia Effendi yang lama bergelut di dunia filsafat yang lazim mengunggulkan rasio.

Mencari sisi kebenaran agama dengan merujuk kepada teks-teks normatif adalah biasa. Tapi menelusuri sisi kebenaran penghayatan keagamaan dengan menggunakan hati nurani merupakan pengalaman spiritual yang mengesankan. Apalagi pengalaman ini dialami oleh Gadis Arivia Effendi yang lama bergelut di dunia filsafat yang lazim mengunggulkan rasio. Ia menulis buku berjudul Filsafat perspektif Feminis, yang oleh Franz Magnis Suseno, Rektor Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, wajib dibaca penyuka filsafat. Menurut Gadis yang juga pemimpin redaksi Jurnal Perempuan dan dosen filsafat Universitas Indonesia, sikap waswas perlu diambil ketika menemukan teks-teks agama yang mendikte hati nurani. Berikut petikan wawancaranya dengan Nong Darol Mahmada dari Kajian Islam Utan Kayu, Kamis (20/11/03) :

NONG DAROL MAHMADA (NONG): Mbak Gadis, Anda dikenal sebagai seorang perempuan dengan background filsafat yang kental. Adakah pengaruh latar belakang ini dalam menggeluti sikap dan pemahaman keagamaan Anda?

GADIS ARIVIA EFFENDI (GADIS): Pertama-tama, bagi saya agama merupakan unsur yang sangat pribadi sekali dalam hidup. Sangat privat. Dengan begitu, bagi saya agama tidak datang dari teks-teks agama yang tersedia saja, tapi datang dari penghayatan hati nurani yang paling terdalam. Kebetulan saya dilahirkan sebagai orang Islam. Saya tidak pernah memilih untuk masuk Islam, tapi sampai saat ini saya merasa masih cocok dengan Islam. Saya menikmati segala pengalaman religius saya dari hati nurani yang pribadi. Ukurannya adalah apakah penghayatan keagamaan ini cocok dan damai di hati saya atau tidak.

NONG: Biasanya, agama ditegaskan bersumber dari teks-teks mulia yang diyakini bersumber dari Tuhan langsung, tapi Anda memberikan penekanan pada hati nurani. Bisa Anda jelaskan?

GADIS: Begitulah pandangan saya. Bagi saya, menyelami agama dimulai dari bagimana upaya saya menghadirkan agama itu ke dalam diri saya. Upaya itu dapat ditempuh melalui cara yang bermacam-macam; bisa lewat perasaan, hati atau rasio. Saya dalam hal ini tidak memilih jalur rasio. Sebab, ketika menerjemahkan agama melalui pendekatan rasio, akan banyak sekali muncul persoalan. Banyak persoalan penghayatan keagamaan yang kalau hendak didekati secara rasio sulit ditemukan jawabnya. Karena itu, kalau saya bergumul dengan agama, saya lebih memilih pendekatan hati. Inilah yang saya kira menuntun saya dalam hal hidup. Selama ini bila saya terjemahkan penghayatan agama itu dengan hati, sepertinya saya merasa bertanggung jawab terhadap diri dan hati saya sendiri. Dengan begitu, tentu saya ingin sekali menjaga kebeningan hati, sebab dengan hati yang bening saya menjaga agama.

Memang, dalam memandang agama, modal utama saya adalah hati. Orang mungkin mengatakan, pertama-tama agama mesti dihayati lewat jalur teks, lantas barulah kita membuka hati untuk menafsirkan teks tersebut. Persoalannya, apakah teks yang mendikte hati, atau hati kita yang justru mendikte teks? Saya selalu merasa waswas kalau menemukan teks-teks agama yang mendikte hati saya, atau ada sekelompok orang yang merasa berotoritas untuk mendikte hati saya dalam penghayatan keagamaan. Karena, kalau saya membiarkan itu terjadi, saya akan kehilangan hati nurani saya, dan saya akan tersesat. Tapi kalau saya loyal kepada hati nurani saya, dan dialah yang menafsirkan teks tersebut, saya justru merasa aman dan lebih confident akan terjemahan agama tersebut.

NONG: Persoalannya, bagaimana menjaga hati supaya tetap bening, leading dan memberikan guiding dalam kehidupan?

GADIS: Menjaga hati itu memang sangat susah. Begitu kita mengekang hati, kita lepas dari kontrol hati. Tapi begitu kita tidak memberi pilihan pada hati kita, kita juga bisa terlepas dari keluwesan hati. Nah, ketika kita lost dari kontrol hati, kala itulah kita bisa menjadi manusia yang tersesat. Maka dari itu, cara saya menjaga hati adalah dengan selalu memberinya kebebasan untuk memilih, juga kebebasan berpikir untuk melakukan penentuan-penentuan yang cocok dengan hati nurani saya.

Tentu akan ada yang mengatakan bahwa tata cara itu tidak sesuai dengan teks Islam. Itu tak mengapa. Saya berpikir perhitungan tentang benar atau kelirunya cara semacam itu akan saya deal belakangan hari dengan Tuhan saya sendiri. Makanya, untuk sementara saya akan selalu mengikuti apa yang hati kecil saya katakan.

NONG: Sebelum meyakini bahwa kunci keberagamaan ada di lubuk hati, apakah Anda punya referensi tertentu atau pengalaman sehingga sampai pada pemaknaan keberagamaan yang demikian?

GADIS: Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa untuk memberi kebebasan dan pilihan pada hati nurani, kita terlebih dulu harus menjadi orang yang terbuka. Itulah langkah yang pertama. Dengan keterbukaan, kita dapat menerima banyak wawasan agama, baik wawasan yang menguatkan maupun menolak aspek-aspek tertentu dari agama itu. Wawasan-wawasan tersebut perlu sama-sama kita berikan peluang untuk masuk tahap seleksi dan interpretasi pada hati nurani kita. Dengan begitu hati nurani kita lantas memilih yang menurutnya benar.

Saya kira, proses keterbukaan itu merupakan langkah yang pertama sekaligus yang paling susah. Tapi, bagi saya, penghayatan keberagamaan tidak pernah statis, tapi dia selalu dinamis. Saya memahami agama selalu dengan cara yang berbeda-beda. Sejak kecil sampai sekarang dan ke depan akan selalu melalui proses yang berkembang. Selain itu, agama bagi saya sangat luas sekali maknanya. Tapi, maknanya mungkin lebih banyak mengarah ke makna spiritual.

NONG: Apakah ada kaitan antara etos filsafat yang senantiasa berupaya mencari kebenaran yang terbuka, khususnya filsafat berperspektif perempuan seperti yang Anda gagas, dengan sisi kebenaran agama?

GADIS: Ya. Saya melihat bahwa konsep kebenaran yang terbuka itu sangat membantu. Pencarian kebenaran dalam setiap agama mungkin bagi sebagian orang menjadi penting. Tapi lebih penting dari itu, bagaimana agama kita bisa berdialog dengan dirinya sendiri, sekaligus inklusif terhadap agama-agama dan pemikiran lain.

NONG: Apakah Islam yang Anda idealkan seperti itu?

GADIS: Kalau kita melihat sebuah makna bukan sebagai pencarian kebenaran belaka, tapi justru percakapan, akan terasa berbeda hasilnya. Misalnya, mainstream pemikiran filsafat etika mengatakan bahwa “kewajiban adalah etika utama” sebagaimana yang diutarakan Immanuel Kant. Agama yang sangat ekstrem pun mengatakan “kewajiban agama merupakan etika utama”. Tapi filsuf perempuan justru mengatakan bahwa bukan etika kewajiban yang lebih penting; etika kepedulian jauh lebih penting. Kalau kita melihat dan memahami konsep itu, kita tentu akan lebih terbuka. Etika kepedulian ini berarti kepedulian terhadap segala makna yang ada di sekeliling kita. Apapun dan dari manapun makna itu berasal, tak peduli. Kepedulian ini berarti kita bersedia untuk involve atau terlibat dengan orang lain. Kewajiban itu artinya sesuatu mengekang, sangat tertutup, kuat dan berotoritas. Kepedulian di sini mengandung sisi fleksibilitas.

NONG: Bagaimana Anda melihat konsep kepedulian yang digagas dengan kuat oleh filosof perempuan ini dalam Islam?

GADIS: Saya melihat bahwa teks-teks tertentu dalam agama ini mengandung bias gender. Orang mungkin berargumentasi bahwa itu bukan persoalan teks agamanya, tapi lebih pada masalah interpertasinya saja. Hanya saja, bagaimana kita bisa melakukan intrepertasi baru supaya tidak lagi terjebak pada interpertasi lama yang usang. Bagi saya, kita harus melakukan banyak interpertasi alternatif. Inilah yang mungkin dilakukan oleh para filsuf perempuan kontemporer.

Para filsuf perempuan kontemporer suka sekali menggunakan metode dekonstruksi dalam penafsiran keagamaan. Menurut mereka, metode itu bisa membantu teman-teman perempuan dalam aktivitas keagamaan mereka. Mereka punya alat-alat bantu yang memadai untuk mendekonstruksi teks-teks agama yang tidak lagi sesuai dengan semangat zaman kini, atau tidak lagi cocok dengan semangat keseteraan dan demokrasi. Saya kira, itu merupakan satu poin penting mengapa filsafat berperspketif perempuan menjadi sangat menarik. Dengan metode dekonstruksi kita bisa menghasilkan interpertasi yang baru yang lebih bergairah dan bersifat progresif untuk kaum perempuan. ***

29/12/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang sama. Sama di sini yang dimaksud adalah sama bersihnya. Karena hati nurani manusia pada awalnya suci. Karena berbagai pengalaman hidup akhirnya hati nurani ini tertutup dan kotor. Kalau setiap manusia bisa membersihkan hatinya, dengan sendirinya akan bisa melihat dan merasakan kebenaran.

Silakan membaca buku Hati Nurani yang ditulis Irmansyah Effendi Msc. penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Dalam buku ini, hati nurani dibahas tuntas dengan bahasa yang sederhana dan gamblang.
-----

Posted by Heri Darmanto  on  01/16  at  12:01 PM

Wawancara dengan Gadis Arivia seharusnya dinilai “gagal” mengangkat figur pemikir perempuan. Dari semua uraian nampak dangkal dan tidak punya landasan teoritik. Sayang, sebagai pengkaji filsafat ternyata tidak bisa mengapresiasi agama secara cerdas. Jangan-jangan Gadis hanya pengumpul teori dan “memamahnya” secara mentah-mentah.

Biasanya “teori hati” dipakai oleh orang ketika akal mengalami kebuntuan. Dalam agama hal ini sangat terjadi. Tasawuf misalnya, sangat disukai oleh orang-orang beragama yang memang sudah tidak punya kemampuan baik untuk berpikir. Atau mungkin juga karena malas.

Seharusnya Gadis bicara lebih teoritik dengan kerangka filsafatnya. Apalagi pewancara (Nong) sudah membuka lebar-lebar apresiasi pribadi agama Gadis. Tapi ya sudahlah, memang kemampuannya segitu. Bicara yang lain aja mungkin lebih baik. Kalau agama hanya dibicarakan dalam perspektif personal psikologis secara dangkal begitu, saya mending dengar ceramah A’a Gym. Lebih asyik ketimbang, baca uraian “filosof” yang malas berpikir kritis.

Faiz manshur

Posted by faiz manshur  on  01/07  at  06:01 PM

Dalam beberapa hal saya setuju dan respek terhadap apa yang dikatakan mbak Gadis, namun dalam beberapa hal perlu dicermati dan dikaji lebih dalam.

Bukankah ‘hati’ tidak selalu bersih, sebagaimana tubuh dan pikiran kita? Siapakah yang berani menjamin bahwa ‘hati’ merupakan kacamata terbaik dalam melihat sesuatu fenomena? Tidak perlukah mikroskop bila memang benda itu kecil? Tidak perlukah kita gunakan teleskop bila benda itu berada jauh dari kita? Hati siapa yang mampu ‘membaca’ sebaik itu? Hati siapa yang paling ‘dekat’ dengan Tuhannya?

Saya jadi teringat pada sebuah cerita tentang perjalanan seorang guru sufi beserta sang murid. Perjalanan mereka konon sampai di sebuah sungai. Mereka harus menyeberang tapi tak ada perahu/sampan di sana. Sepi sekali. Tak ada seorangpun yang dapat dimintai tolong. Kemudian sang guru berkata: “Peganglah tanganku dan ucapkanlah kata (doa) yang kuucapkan. Tirukanlah.” Kemudian sang sufi membaca doanya dan mulailah sang murid menirukannya.

Sang guru kemudian berjalan menuju sungai, dan aneh mereka berdua tidak tenggelam, kaki mereka menapak seperti berjalan di atas tanah.

Sang guru terus mengucapkan doanya, doa yang sama dan diulang ulang. Sampai di tengah sungai, sang murid merasa telah hafal dengan doanya, dan berkeinginan mengucapkan doanya sendiri tanpa berimam kepada sang guru. Dan saat itu tiba-tiba kaki sang murid terperosok ke dalam sungai, nyaris tenggelam bila tak cepat ditarik sang guru. Sang guru kemudian berkata kepada sang murid: “Kau kira apa yang keluar dari hati dan mulutmu akan sama dengan apa yang keluar dari hati dan mulutku?  Sungguh kamu tak tahu hati siapa yang paling dikehendaki oleh Tuhannya?”

Kemudian sang murid berimam kembali sang guru dan akhirnya mereka sampai di seberang dengan selamat.

Begitulah, cerita di atas. Mudah-mudahan menjadi renungan kecil yang bermanfaat.

Posted by Happy S  on  01/07  at  07:01 AM

Secara pribadi saya sangat apresiatif dengan pemaparan mbak Gadis tentang pengalaman dan pengamalan beragamanya. Pada entry point, Anda menjadikan agama sebagai suatu spirit dan titik pijak untuk seluruh lini kehidupan beragama. Senada dengan ide dan pengalaman tersebut bagi saya, agama adalah sebuah interpretasi kita dalam pencarian terhadap Tuhan (secara vertikal) dan interaksi dengan makhluk (secara horizontal) sebagaimana Cak Nur pernah mencetuskan sekularisasinya sebagai sebuah langkah untuk menemukan entitas spirit kehidupan yang sebenarnya, yaitu keberpijakan pada nilai-nilai tauhid.

Menurut saya, di sinilah manusia harus menemukan jati diri keberagamaannya. Di sinilah sebenarnya proses pencarian terhadap Tuhan, dan agama berproses. Dan yang pasti, langkah manusia untuk menemukannya akan berbeda-beda. Seperti mba Gadis yang lebih mengutamakan kepedulian, maka sebenarnya yang harus digarisbawahi adalah keterbukaan dan kedewasaan manusia untuk menerima perbedaaan proses tersebut. Keluasan berfikir dan keterbukaan untuk menerima perbedaan itu akan menafikkan kita dari truth claim yang selama ini selalu membelenggu proses keberagamaan manusia.

Satu hal lagi yang perlu diantisipasi adalah keterpanggilan manusia untuk membentuk tradisi. Budaya ini juga masuk pada wilayah agama, di mana tauhid akan menurunkan nilai-nilai, dan di sinilah manusia menuntut dirinya untuk mempertahankan nilai-nilai yang selanjutnya menjadi sebuah tradisi.

Dalam beragama manusia sering terjebak pada kesalahan memegang tradisi, karena mereka hanya mengmbil simbol sebagai tradisi dan bukanlah spirit yang diambil sebagai tradisi.

Posted by kusuma subakir  on  01/03  at  12:01 PM

Bagaimana anda melihat konsep daulah islamiyah/khilafiyah? Karena bila khilafiyah dipandang sebagai fardhu ain untuk (mengusahakan) penegakannya, maka tentu saja agama bukanlah lagi area pribadi individu2.  Sebenernya bagaimana sekularisme dalam islam, sih? Please tell me more.

Posted by dodi  on  01/03  at  12:01 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq