Bicara Prospek Kehidupan Islam di Prancis - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
12/04/2004

Soheib Bencheikh, Mufti dari Marseille Bicara Prospek Kehidupan Islam di Prancis

Oleh Redaksi

Sekularisme tidak mesti berarti laknat bagi agama-agama. Dalam hal-hal tertentu, sekularisme justru menjadi penyelamat bagi agama yang dianut golongan minoritas. Di Perancis contohnya, berkat sekularisme, Islam dan umat Islam justru mendapat oksigen untuk bernafas lega dan berkembang secara lebih sehat. Karena prinsip sekularisme yang menjunjung tinggi netralitas dalam pengelolaan sosial-politik kenegaraan, agama dan umat dari agama manapun diperkenankan mengekspresikan keberagamaan mereka secara wajar. Dengan begitu, identitas keberagamaan justru mendapatkan tempat yang cukup layak dan mereka tidak merasa terancam.

Sekularisme tidak mesti berarti laknat bagi agama-agama. Dalam hal-hal tertentu, sekularisme justru menjadi penyelamat bagi agama yang dianut golongan minoritas. Di Perancis contohnya, berkat sekularisme, Islam dan umat Islam justru mendapat oksigen untuk bernafas lega dan berkembang secara lebih sehat. Karena prinsip sekularisme yang menjunjung tinggi netralitas dalam pengelolaan sosial-politik kenegaraan, agama dan umat dari agama manapun diperkenankan mengekspresikan keberagamaan mereka secara wajar. Dengan begitu, identitas keberagamaan justru mendapatkan tempat yang cukup layak dan mereka tidak merasa terancam.

Untuk mengetahui bagaimana komunitas Islam beradaptasi di negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai sekularisme seperti di Perancis, Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) mewawancarai
Soheib Bencheikh, Mufti Agung Marseille Perancis, yang pada pertengahan Maret lalu berkunjung ke Jakarta untuk berbicara tentang “Sumbangan Islam dalam Pembentukan Dunia Plural” dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan Masyarakat Penutur Bahasa Perancis (Francophonie), Kedutaan Besar Swiss dan International Centre for Islam and Pluralism (ICIP). Pria yang lahir di Jeddah (Arab Saudi) dan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir juga menulis buku Marianne et le Prophete: I’Islam dans la laicite (Marianne dan Nabi: Islam di dalam Laicite). Wawancara berlangsung di ruang lobi Hotel Nikko, pada hari Kamis (18/3). Berikut petikannya:

JIL: Soal pertama, apakah orang Islam di Perancis, khususnya di Marseille membutuhkan keberadaan seorang mufti?

SHOHEIB BENCHEIKH (SB): Pertama-tama saya tegaskan bahwa Islam tidak mengenal sistem klerikal. Adapun para imam dan mufti, keberadaan mereka bukanlah layaknya seorang pendeta, tapi lebih di posisi pengasuh dan pendidik yang mencoba memberi pelita bagi orang-orang mukmin, tanpa memaksa ataupun menghakimi mereka. Nah, Perancis mencoba memperhatikan dan mengatur umat Islam, karena Islam merupakan agama kedua di negeri ini. Maka dalam konteks itulah, pada tahun 1995 saya dinobatkan sebagai seorang mufti di Marseille setelah menyelesaikan studi di Universitas Sorborne.

JIL: Mufti, kita tahu Perancis adalah negara sekuler yang sangat teguh berpegang pada undang-undang laicité. Pertanyaannya, apakah umat Islam tidak merasa kesulitan untuk hidup di negara yang mengagungkan nilai-nilai sekularisme itu?

SB: Di luar Perancis, khususnya di negara-negara muslim, sekularisme banyak dipahami sebagai kekafiran dan ateisme. Dengan anggapan itu, mereka menganggap Islam tidak punya masa depan di Perancis. Padahal, kalau bukan oleh sekularisme yang pada hakikatnya merupakan netralitas administratif (hiyâdatul idârah) dalam mengelola negara, kita justru akan kewalahan. Sekularisme bukan antiagama, tapi juga tidak bersama agama.

JIL: Anda mendefenisikan sekularisme sebagai netralitas administratif?

SB: Ini merupakan tafsiran konstitusional bagi laicité di Perancis. Saya perlu menekankan, bahwa berkat sekularisme, agama Islam bisa berdiri sama tinggi dengan agama Katolik, disetarakan dalam hak-hak dan kewajiban. Tapi di samping itu, kami juga tidak punya cara lain untuk mengatur kehidupan bernegara, kecuali dengan menjunjung tinggi demokrasi yang berarti kekuasaan mayoritas.

Dilema kami, saat ini Islam tidak tampil dengan wajah yang tampan. Kini orang takut akan Islam karena tingkah laku segelintir orang yang mengatasnakan Islam dalam melakukan tindak-tindak teror. Untunglah, berkat sekularisme negara dan prinsip-prinsip HAM, umat Islam dapat bernafas lebih lega.

JIL: Tapi kebanyakan umat Islam punya citra negatif akan sekularisme. Pertanyaan saya, apa Anda membayangkan akan terjadi harmonisasi sejarah antara Islam dengan sekularisme kelak?

SB: Bila sekularisme ditafsirkan sebagai netralitas negara dalam mengelola penyelenggaraan negara, tentu tidak akan menjadi problem apa-apa bagi umat Islam. Bahkan sebaliknya, pemisahan agama dari politik justru menjernihkan Islam sebagai doktrin spiritual langit, bukan instumen yang (dapat) diselewengkan demi mengejar kekuasaan semata. Dan berkat pemisahan antara agama dan politik, Islam juga dapat mengembalikan farmulanya yang awal. Maksud saya, dia akan kembali menjadi ajaran-ajaran yang dipromosikan saja (yu’radl) bukan sebagai ajaran yang dipaksakan (yufradl). Ini persis seperti apa yang dikatakan Al-Qur’an, “barang siapa yang hendak beriman, berimanlah, dan barang siapa yang hendak kufur, kufurlah!

JIL: Anda mengatakan sekularisme dapat mengembalikan formula awal Islam dalam soal pengelolaah kekuasaan politik. Apakah punya alasan bahwa formula awal Islam itu lebih dekat ke watak sekuler?

SB: Kita mesti sadar bahwa kebanyakan mazhab-mazhab Islam, baik dalam bidang fikih, tafsir ataupun kalam, berkembang menjauh dari kekuasaan politik. Orang Islam –sebagaimana kita baca dari sejarah-- adalah merdeka untuk menentukan mazhab apapun yang mereka kehendaki pada awalnya. Pembauran antara agama dan politik dalam Islam merupakan fenomena baru yang –menurut saya-- justru membahayakan Islam sendiri, utamanya ketika dia digunakan sebagai instrumen untuk merebut kursi kekuasaan oleh partai-partai, atapupun ketika digunakan untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaan sebuah rezim.

JIL: Anda mengatakan pembauran Islam dan politik atau ideologisasi Islam sebagai fenomena baru. Sejak kapan pastinya?

SB: Dimulai sejak paruh pertama abad ke dua puluh, ketika partai-partai politik berbasis agama didirikan untuk mengikuti kontestasi politik guna merebut kekuasaan. Dalam konteks ini kita bisa menyebut munculnya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai contoh.

JIL: Apakah juga karena kontribusi para ideolog Islam seperti pandangan-pandangan tokoh Ikhwanul Muslimin, khususnya Sayyid Qutb?

SB: Sayyid Qutb pergi terlalu terlalu jauh ketika mengemukakan gagasan-gagasan radikalnya dalam bukunya Ma’âlim fit Tarîq, khusushnya tentang istilah jahiliyah abad kedua puluh, hakimiyah Tuhan, dan tentang kekafiran para penguasa. Ini merangsang sebagian kaum muslim untuk berpikir ekstrem dan lebih membabi buta lagi dalam pelbagai tidak mereka dalam mengekspresikan keislaman.

JIL: Apakah orang Islam di Perancis tidak merasa bahwa pembauran dengan budaya Perancis dapat mengancam identitas keislaman --dalam pemaknaan yang ideologis—mereka?

SB: Ketika kita membaca sejarah, kita akan dapati bahwa Islam selalu berinteraksi dengan banyak kebudayaan. Dan sekularisme sebagaimana yang diterapkan di Perancis adalah bentuk netralitas; netralitas yang tidak berpihak ataupun menentang sesuatu. Itulah yang namanya netralitas. Kita bisa berinteraski dengan budaya Perancis yang punya latar belakang Katolisisme, sembari tetap berpegang pada spiritualitas dan nilai-nilai keislaman yang kita punya.

JIL: Apakah nilai-nilai tersebut tidak malah terancam oleh sekularisme Perancis?

SB: Sama-sekali tidak. Mungkin ini justru tantangan yang harus kita jawab; apakah Islam bisa tetap eksis tanpa kekuasaan politik yang membelanya sebagaimana di negeri-negeri muslim atau tidak. Kalau Islam dianggap agama yang memuaskan, cahya yang bersinar, maka dia tak pernah butuh pada kekuasaan yang memaksakannya atas rakyat. Kalau dia unggul, dia akan bisa eksis sebagai nilai-nilai, norma-norma dan ideal-ideal kehidupan, dan tidak perlu dipaksakan kepada orang lain.

JIL: Tapi demonstrasi menentang undang-undang pelarangan simbol-simbol agama di sekolah menengah negeri di Perancis kemarin, seakan-akan mengonfirmasi bahwa ada masalah antara identitas keislaman yang diperjuangkan sebagian muslim Perancis dengan prinsip laicité yang dianut Perancis!

SB: Justru sebaliknya. Demonstrasi yang kita saksikan setelah munculnya undang-undang pelarangan simbol-simbol afiliasi agama itu, justru menunjukkan bahwa masyarakat Perancis adalah masyarakat yang otonom dan bebas. Di sana dibolehkan pelbagai ideologi dan falsafah hidup untuk mengekspresikan diri mereka kapan mereka mau.

Untuk kalian ketahui, yang mengikuti demonstrasi itu adalah minoritas umat Islam di Perancis. Kebanyakan muslim di Perancis setuju dengan undang-undang itu, karena mereka mencermati bahwa ekstremitas dalam pelbagai ajakan beberapa pihak muslim di Perancis, merupakan ancamam bagi masa depan mereka di Perancis. Undang-undang itu sendiri, berusaha menyembunyikan setiap simbol-simbol afiliasi agama di sekolah-sekolah menengah negeri. Sebetulnya, orang-orang Katolik yang mayoritas di sana lebih berhak untuk berdemonstrasi dibandingkan orang Islam, karena mereka juga terkena dampak undang-undang tersebut. Tapi mereka justru tidak melakukannya.

JIL: Anda telah menulis buku berjudul Marianne dan Nabi: Islam di dalam Laicité. Bisa diceritakan sidikit isinya?

SB: Buku ini merupakan studi hukum dan filsafat agar Islam menemukan tempatnya di dalam iklim baru ini, dan agar mampu mendapat jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya dalam khazanah klasik kita.

JIL: Apa contohnya?

SB: Umat Islam menemukan dirinya minoritas di dalam sebuah negeri yang netral dan punya kebudayaan yang tidak juga Kriten karena negaranya sekuler bahkan tidak beragama. Dengan status sebagai minoritas, kita tidak mungkin berpegang pada fikih mayoritas sebagaimana yang kita miliki sejak lama, atau fikih ketika kita menjadi penguasa di tengah-tengah kelompok minoritas. Dengan begitu, kita harus menemukan fikih atau gagasan-gagasan baru tentang fikih yang sesuai dengan kondisi kita sebagai kelompok minoritas di tengah-tengah negara yang netral dan berpegang teguh pada undang-undang. Ini semuanya hal-hal baru dalam khazanah Islam. Itulah sebagian yang saya usahakan dalam buku itu.[]

12/04/2004 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang mampu menyesatkan. Dan jika Allah menghendaki menyesatkan seseorang (karena jalan yang dipilihnya sendiri), maka tidak ada yang mampu mengenbalikannya.  Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah SAW, sumber kebaikan yang tidak akan pernah kering. Dialah Utusan ALlah untuk seluruh manusia (muslim/ nonmuslim) agar manusia selamat dalam hidup di dunia dan kepada Allah kita semua akan kembali. Semoga kita siap untuk menghadapi pertanggung jawaban yang sungguh berat kelak di yaumul hisab.

Saudaraku,… Dan siapapun yang memiliki semangat keislaman yang tinggi. Sungguh perlu saya sampaikan bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan ini bukanlah hasil dari penyimpulan para pemeluknya setelah merasakan kehangatan dan keanggunan Islam, namun klaim ini muncul dari pencipta Islam itu sendiri, Allah.

Dan sungguh, sampai saat ini saya bangga beragama Islam karena klaim kesempurnaan Islam itu berasal dari Pencipta Manusia, kehidupan, dan seluruh alam semesta ini, bukan semata-mata karena banyak pemeluknya yang mengklaim Islam sebagai Agama yang paripurna dan sempurna.

Oleh karena itu saya tidak peduli betapa banyak pendapat orang (muslim/ nonmuslim) yang menghujat islam atau mengelu-elukan Islam. Karena saya sadar bahwa pendapat mereka itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pernyataan Allah mengenai Islam.

Kalau Allah mengajarkan pada kita mengenai keselamatan dan rahmat yang dapat kita peroleh dengan melaksanakan seperangkat peraturan, hal itu lebih saya sukai daripada menuruti pendapat banyak orang bahwa formalisasi peraturan atau apalah banyak orang menyebutnya sebagai pengekangan dan karenanya hidup kita lebih sempit.

Karena yang saya pahami, bukan mereka yang mempersempit kehidupan dan bukan mereka pula yang melapangkan kehidupan kita dan saudara kita di Perancis. Tapi karena Allah lah yang mempersempit dan melapangkan kehidupan kita. Dan saya lebih menyukai kehidupan sempit di dunia daripada kesempitan di Akhirat kelak.

So, Sekularisme di Perancis atau di manapun diberlakukan serta kesempitan dan kelapangan yang dirasakan ketika meninggalkan atau mengadopsinya dalam kerangka berfikir seperti di atas bukanlah tolok ukur dalam berbuat atau bersikap yang bijak. Mungkin hanya ini komentar saya terhadap tulisan di atas. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang diberi kekuatan untuk mengambil kebenaran dan meninggalkan kebathilan. Sungguh kebenaran dan kebathilan itu sangat jauh berbeda.

Saudaraku,… Sungguh Islam yang Agung ini tidak akan pernah mampu diemban orang yang biasa-biasa saja. Oleh karena itulah Allah memilih kita untuk mendapatkan kesempatan ini. Tetap semangat memperjuangkan Islam. Insya Allah, kita akan dimenangkan di atas ummat yang lain karena Allah telah menjanjikannya. Dan sebaik-baik penolong dan yang berjanji adalah Allah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
-----

Posted by Haris  on  05/17  at  07:05 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq