Bukan Semata-mata Tuntutan Perempuan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
04/07/2006

Diskusi di UNIBA Solo Bukan Semata-mata Tuntutan Perempuan

Oleh Sakdiyah Makruf

Teks suci (baca: Al Qur’an) tidak perlu diragukan kebenarannya. Namun ketika teks tersebut hidup di masyarakat, terjadi banyak distorsi. Distorsi tersebut terutama disebabkan pola pikir patriarkhis yang telah mengakar kuat di dalam masyarakat.

Pembahasan mengenai kesetaraan gender dan bagaimana Islam memiliki semangat kesetaraan gender di dalam nilai-nilainya, bukanlah suatu hal yang baru. Namun setiap kali pembahasan ini muncul, banyak pula pihak yang bertanya-tanya, apakah sebenarnya yang diinginkan perempuan? Padahal masalah gender ini bukanlah semata-mata masalah perempuan, tetapi masalah kesalahan pola pikir yang berakibat pada pandangan yang salah terhadap teks. Perdebatan ini menjadi bagian menarik dari diskusi “Semangat Kesetaraan Gender dalam Islam” yang diselenggarakan oleh Solo Society dan LPM Gerak Uniba bekerja sama dengan Yayasan TIFA dan Jaringan Islam Liberal pada hari Kamis, 11 Mei 2006 lalu.

Konsep tentang perempuan sering digambarkan terlalu romantis oleh sebagian buku-buku Islam. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang lemah lembut sehingga perlu mendapat perlindungan dari ayah atau suaminya. Mengapa gambaran seperti ini terlalu romantis?
Karena “perlindungan” yang didapat perempuan di lapangan tidak lebih dari domestikasi dan dominasi. Lemah lembut juga lebih jauh diartikan sebagai lemah akal pikirannya (baca: bodoh dan tidak mampu mengambil keputusan) serta lemah imannya (baca: lebih dekat dengan perbuatan dosa dan mempengaruhi orang lain untuk berbuat dosa). Pada akhirnya, persoalan perempuan berakar pada mitos-mitos patriarkhis yang terus dilestarikan. Parahnya, mitos-mitos tersebut dilegitimasi oleh agama.

Tri Hastuti Nur, M.Si, pengajar di Fisipol UMY berpendapat bahwa kelompok-kelompok pengajian tradisional sering memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan kekerasan terhadap perempuan. Hal-hal yang sering diekspos dalam pengajian-pengajian tersebut misalnya perempuan yang akan dilaknat malaikat ketika menolak berhubungan seks dengan suaminya, perempuan yang harus selalu meminta ijin pada suaminya bahkan ketika ingin puasa sunnah, atau hal-hal lain seputar kewajiban perempuan untuk taat yang terkesan berlebihan.

Mitos-mitos yang berkembang secara tradisional ini makin dikukuhkan dengan munculnya perda-perda syariah Islam di banyak daerah di seluruh Indonesia. Perda-perda tersebut mencakup beberapa aturan yang kebanyakan mengatur tubuh perempuan.

Dr. Musdah Mulia melihat ini sebagai akibat dari kesalahan pola pikir. Menurutnya teks suci (baca: Al Qur’an) tidak perlu diragukan kebenarannya. Namun ketika teks tersebut hidup di masyarakat, terjadi banyak distorsi. Distorsi tersebut terutama disebabkan pola pikir patriarkhis yang telah mengakar kuat di dalam masyarakat. Pola pikir yang salah ini ternyata berakar jauh pada campur aduknya pemahaman terhadap kisah penciptaan dan kejatuhan Adam dan Hawa. Bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam dan Hawa yang menyebabkan kedua manusia ini terjatuh dan terusir dari surga, sama sekali tidak ada dalam teks Islam. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi muslim laki-laki maupun perempuan lebih rendah, lebih bodoh dan suka menggoda, seharusnya bisa dikikis oleh kelompok Islam.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perbincangan tentang kesetraan gender masih banyak menimbulkan polemik. Hal ini membuat Zein Fikri pengajar dari Uniba mengusulkan adanya citra baru tentang gender. Image perjuangan untuk kesetaraan gender harus digeser supaya masyarakat tidak phobia. Perjuangan yang harus dikedepankan adalah kompetisi untuk prestasi bukan pada kesetaraan.
Pendapat ini diluruskan oleh Dr. Musdah Mulia dengan mengatakan bahwa kemampuan berprestasi harus didahului oleh kesamaan akses untuk memperoleh pendidikan dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan. Akses inilah yang tidak didapatkan mayoritas perempuan.

Dr. Musdah kemudian menambahkan bahwa masyarakat sering phobia dengan istilah kesetaraan gender karena; pertama, konsep gender berasal dari barat sehingga serta merta dianggap bertentangan dengan Islam. Kedua, wacana kesetaraan gender bicara tentang hal-hal yang privat dalam kehidupan manusia. Dan ketiga, wacana kesetaraan gender menggugat hal-hal yang mapan yang sudah lama memberikan privilise pada kelompok masyarakat tertentu. Alasan-alasan ini menunjukkan bahwa agama akhirnya hanya digunakan untuk melegitimasi budaya dan kemapanan, sehingga penerapannya tidak holistik.

Al Qur’an—jika tidak dicomot dan ditafsir secara sepotong-potong—memberikan tuntunan yang kuat untuk terwujudnya kesetaraan gender. Oleh karena itu, kesetaraan bukan semata-mata persoalan keinginan dan tuntutan perempuan tetapi persoalan seluruh muslim untuk berani mengubah pola pikir dan mendobrak kemapanan, demi menegakkan keadilan seperti tuntunan agamanya.[]

04/07/2006 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq