Bulan Konsumerisme Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
24/11/2003

Bulan Konsumerisme Agama Renungan di penghujung Bulan Ramadan

Oleh Muhammadun As

Fenomena Ramadan yang penuh dengan sakralitas seolah pupus karena sudah bersifat marerialistik-komsumtif. Tradisi massif yang membudaya dimana-mana, dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah, telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasanya. Di sisi lain, para pedagang menawarkan barang-barang yang menawan hanya pada bulan ini merupakan manifestasi dari konsumerisme agama.

Bulan Ramadan hampir usai. Seluruh umat Islam melakoninya dengan begitu istimewa dan antusias. Semua elemen masyarakat, baik pejabat, artis, dan para kaum hartawan mengadakan acara-acara yang begitu glamor dan meriah sekali.

Puasa yang tadinya untuk memantapkan ketaqwaan berubah menjadi sebuah “teater” (meminjam istilah Ulil), pertunjukan ibadah, dan bahkan makin menyuburkan sikap konsumtif masyarakat. Puasa hanya menahan hawa nafsu makan dan minum tetapi nafsu mengumbar konsumerisme malah makin subur dan semarak.

Perilaku masayarakat yang demikian justru telah mendistorsi ajaran agama itu sendiri. Karena di saat ramadan seperti ini, rakyat miskin yang terlantar juga ingin mendapatkan nikmat dan bahagianya bulan ramadan. Tetapi anehnya, para pejabat dan bangsawan ketika melakukan acara berbuka bersama, yang hadir juga ‘sebangsa’ dan selevel dengan mereka. Tak satu pun kaum miskin menikmatinya, paling hanya melihat di layar TV sehingga yang terjadi adalah semakin parahnya kesenjangan sosial dalam masayarakat. Karena dalam perasaan kaum miskin tidak ada bedanya antara Ramadan dan selain Ramadan.

Fenomena Ramadan yang penuh dengan sakralitas seolah pupus karena sudah bersifat marerialistik-komsumtif. Tradisi massif yang membudaya dimana-mana, dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah, telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasa.

Di sisi lain, para pedagang menawarkan barang-barang yang menawan hanya pada bulan ini merupakan manifestasi dari konsumerisme agama. Para pedagang memoles barangnya dengan label-label agama, sementara masyarakat merasa demi menghormati dan merayakan bulan yang suci ini menghamburkan anggarannya. Padahal masih banyak rakyat kelaparan, anak-anak terlantar tidak pernah merasakan kebahagiaan.

Dari sini, puasa Ramadan masih menjadi simbol ibadah yang belum memberikan nilai transformatif kepada masyarakat, karena puasa Ramadan hanya sekedar rutinitas dan trend unjuk gigi beragama. Hal ini tak hanya menjadikan agama teralienasi dari pesan moral dan ajaran agama yang formal, tetapi lebih dari itu, teralienasi dari hakikat makan dan fungsi agama di tengah mobilisasi simbol keagamaan.

Akibatnya, dampak puasa belum ditumbuhkan dalam kehidupan konkrit. Berbagai bentuk kezaliman terus merajalela, kejahatan terus mengalami eskalasi yang luar biasa, kekerasan tetap marak dimana-mana, proses dehumanisasi terus berlangsung dalam kehidupan. Atau dengan kata lain, ibadah puasa umat Islam masih bersifat individu-vertikal belum sampai ketingkat sosial-horisontal.

Fenomena ini setidaknya dilatarbelakangi dua hal. Pertama, Islam masih dipahami secara fiqh oriented. Paradigma fiqh oriented memandang ibadah hanya secara hitam-putih, halal-haram. “Jebakan-jebakan” fiqh yang parsial telah mendarah daging dan menjadi tradisi yang massif dikalangan umat beragama.

Fiqh belum mampu membangkitkan spiritual umat dalam menghadapi kondisi riil masyarakat yang tengah dilanda demoralisasi individual dan sosial ini. Maka tidak salah kalau puasa hanya dilihat sekedar memenuhi perintah syariat belaka.

Puasa yang berdasarkan pemahaman agama yang fiqh oriented seakan belum menyentuh dimensi kemanusiaan. Padahal dalam al-Quran dindikasikan bahwa puasa agar memantapkan ketaqwaan. Ketaqwaan merupakan something spiritual yang akan membentuk pribadi manusia yang total dan integral. Karena dalam diri orang yang taqwa tidak akan muncul krisis percaya diri, krisis moral dan tidak pula timbul image yang memancing krisis percaya diri dan moral.

Krisis yang timbul di kalangan elite dan masyarakat kita sekarang ini karena mereka melepas baju ketaqwaan yang manusiawi. Bahkan di zaman modern sekarang, manusia sudah kehilangan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Maka tidak salah kalau banyak manusia yang kelaparan di saat kita semua menjalanakan ibadah puasa, karena puasa hanya sekedar kewajiban.

Kedua, Ramadan telah dijadikan komoditas yang kapitalistik. Berbagai industri, media massa, dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadan untuk menayangkan program-program dakwah. Semua artis manggung di TV dengan pakaian yang islami, namun secara tidak sadar kita disuguhi iklan-iklan yang menyuntik ke dalam mindset kita.

Mereka memanfaatkan momentum Ramadan, padahal produk mereka sama sekali tidak terkait dengan ibadah puasa. Di saat ini ramadan nampaknya malah menjadi bulan para produsen dan para artis, bukan milik kita lagi. Di sisi lain, masyarakat juga adu gengsi dengan berbagai kegiatan di hotel yang mewah dan mengagumkan.

Menghadapi maraknya konsumerisme agama di saat Ramadan sekarang ini, maka perlu kiranya kita bangkitkan kembali nilai-nilai substansi agama. Atau dengan kata lain, respiritualisasi agama merupakan jawaban atas krisis keberagamaan kita dewasa ini.

Artinya, pelaksanan Ramadan dengan berbagai advertensi dan aktivitas tetaplah berlangsung sepanjang hal itu merupakan refleksi dari kesadaran keberagaman yang positif. Atau didasarkan pada ketulusan niat untuk meningkatkan iman dan taqwa sesuai dengan pesan moral yang dibawa oleh puasa Ramadan.

Semua simbol yang ditampilkan apapun bentuknya harus diberengi dengan kesadaran kolektif untuk bersama-sama menghadirkan semangat dan pesan Ramadan dalam meningktakan kebersamaan, toleransi, kesetiakawanan [dengan memperbanyak shodaqoh, infak, dan zakat fitrah untuk kaum miskin, dhu’afa, dan mustadh’afin], dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya. 

Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam sinyalemen Rasulullah, “bahwa berapa banyak amal yang berwujud amal akhirat tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek, dan berapa banyak amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat yang baik”. Demikian juga puasa yang merupakan ibadah mahdhoh yang diwajibkan Allah, kalau kita gunakan dengan mengumbar konsumerisme, juga akan menjadi sia-sia.

Dalam ketulusan niat, Rasulullah mensinyalir dalam Hadits Qudsi bahwa Allah mengemukakan kepada para malaikat dedikasi orang yang puasa, “Wahai malaikat-Ku, lihatlah hambaku yang meninggalkan hawa nafsunya, keinginanya, makanannya, serta minimannya demi Aku.”.

Hadits tersebut mengindikasikan bahwa Ramadan harus diniatkan dan dilakukan dengan ibadah, ketimbang melakoninya dengan berbagai kegiatan yang gegap gempita namun tidak ada kaitan secara langsung bahkan tidak ada kaitan sama sekali dengan puasa Ramadan itu sendiri.

Wallahu a’lam Bissawab. []

24/11/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Mas, yang anda istilahkan dengan kata “Konsumerisme” itu berdasarkan ilmu ekonomi yang saya pelajari di bangku kuliah adalah gerakan membela hak - hak konsumen.

yang anda maksud barangkali sifat Konsumptif.

Ada Paradoks yang saya dapati dalam tulisan Muhammadun, di lain sisi kelompok anda mengagungkan kebebasan berekspresi, goyang ngebor dan lain - lain yang anda semua anggap sebagai kebebasan seni dan budaya manusia, sementara kok, budaya belanja baju baru, membahagiakan anak - anak kita, menjamu saudara - saudara kita dengan makanan yang terbaik anda anggap sebagai perilaku konsumptif dan bertentangan dengan ajaran agama?

tidakkah penting bagi kita untuk menjalin silaturrahim melalui pola - pola budaya jamuan seperti itu?

apa yang anda lihat sebagai fenomena pembelanjaan lebih di akhir ramadhan - sesuai dengan konteks kebebasan berfikir dan berekspresi - tidak lain adalah salah satu cara dan usaha masyarakat kita memberi arti silaturrahim di hari raya, bentuk ekspresi yang patut kita hargai sebagai usaha untuk merekatkan jalinan silaturrahim dalam kemasan yang indah dan jamuan yang lezat.

selain itu, “ghirah” berbelanja dan menyebarkan dana tersebut, jangan dilihat dari satu sisi saja, coba anda lihat betapa rezeki para pedagang yang tertolong dengan adanya momentum ekonomi seperti ini.

dalam artian, one act leads to another action, dana yang tersalur dalam momen lebaran seperti ini dapat menjadi power bagi muslim lainnya yang menikmati saat - saat seperti ini.

jadi barangkali kita jangan terlalu apriori dengan perilaku belanja umat kita pada saat lebaran, they deserve to enjoy what they’ve earned all this time…

selama hal tersebut tidak berujung ke hal yang bersifat mubazir, saya fikir tidak menjadi masalah, barangkali yang perlu anda cermati adalah, bagaimana pemerintah dapat berupaya agar kegiatan ini dapat diarahkan demi kemaslahatan ummat.

Wallahu A’lam bis Shawaab. Terima Kasih.

Fikri F. Rumi
-----

Posted by Fikri Rumi  on  12/05  at  12:13 PM

Setuju sekali. Selesai puasa bukan berkurang berat badannya malah makin gemuk. Anggaran belanja rumah tangga makin meningkat dapat dilihat dari naiknya harga bahan pokok. Banyak terlihat orang yang murung dan selalu cemberut dalam melakukan pekerjaannya karena bingung cari tambahan uang tidak bisa. Artinya belum menyentuh inti dari puasa sebenarnya masih berkisar tidak makan dan minum, memakai busana muslim kesana kemari, memperdengarkan musik2 Isalam dimana2. Selesai puasa bukannya menjadi manusia baru yang lebih baik tetapi semua kembali seperti sediakala

Posted by asarjito  on  11/30  at  02:11 PM

Saya ingin memberikan tanggapan dari sudut pandang yang berbeda.

Penulis melihat konsumerisme sebagai hal yang kurang baik dan sepatutnya dicegah.  Tapi sebenarnya, kalau kita mau menelaah dari proses ekonomi yang terjadi, justru saat Lebaran inilah proses ekonomi melalui transaksi perdagangan menjadi tinggi.  Dengan meningkatnya proses ekonomi, maka mesin produksi pun tetap bisa berjalan.  Dengan berjalannya proses produksi, maka ini akan memberikan banyak pekerjaan bagi para pekerjanya.  Sehingga para pekerjanya tetap mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. 

Kegiatan belanja yang meningkat menjelang lebaran, menyebabkan banyak tersedianya kesempatan bekerja bagi orang lain yang akhirnya juga akan memberikan kebahagian bagi para pekerjanya.  Para pekerjanya mendapatkan cukup uang untuk pulang kampung mengunjungi saudara, membelikan baju baru, dan sebagainya.  Orang-orang kaya yang biasanya hanya menyimpan uangnya di Bank (atau dibawah bantal), melalui konsumerisme lebaran akan mengalirkan uang tersebut kepada orang lain (tentu melalui proses pembelian berbagai barang atau jasa).  Bahkan pada saat hari lebaran pun, banyak juga yang membagi-bagi hadiah lebaran pada orang miskin.  Ini adalah proses yang harus disyukuri.

Seperti kita ketahui proses ekonomi itu sangat tergantung dari aktifitas kegiatan transaksi perdagangan yang terjadi.  Adanya kebutuhan (demand-side) akan memicu ketersediaan pasokan (supply-side).  Ini akhirnya akan memicu ketersediaan lapangan kerja.  Tanpa adanya kebutuhan, akan menurunkan pasokan, kegiatan ekonomi melesu, dan pengangguran meningkat.

Kerja alam semesta ini memang unik.  Disatu pihak ada yang melakukan “pemborosan”, dilain pihak ada yang mendapatkan “berkah”.  Manusia hidup tidak sendiri, tapi saling berinteraksi satu sama lain dengan manusia yang lain.  Kebutuhan bagi manusia yang satu merupakan kelebihan bagi manusia yang lain.  Dengan demikian dinamika kehidupan ini akan berjalan terus silih berganti.  Alam mempunyai mekanismenya sendiri dalam melakukan keseimbangannya.

Jadi konsumerisme itu tidak selamanya buruk.  Yang mungkin perlu dicegah adalah kemubaziran atau penghamburan sumber daya tanpa memberikan manfaat bagi siapa pun.

salam,

-ai-

Posted by Adiok  on  11/28  at  03:11 PM

Saya sangat setuju dengan tulisan, Mas Muhammadun AS, logikanya, umat islam indonesia yang lebih dari 80%, dan melakukan puasa, harusnya yang terjadi adalah penghematan sumber daya alam ( baik makanan, air, BBM, hutan, tambang,dll) yang cukup besar. Tetapi kenyataannya yang terjadi malah sebaliknya, keperluan beras,daging,telur,BBM,dll kebutuhan perut malah meningkat. Harusnya kita bercermin pada puasa yang dilakukan ulat, dia membungkus diri dengan kepompong, tidak makan dan minum sama sekali,dan kelak setelah puasanya selesai, akan menjadi kupu-kupu yang indah, yang pekerjaannya yaitu membantu penyerbukan tanaman dimuka bumi, sehingga bumi ini menjadi hijau, sedangkan manusia, apa yang terjadi setelah puasa?, jika saat puasanya sendiri makan dan minum dan hawa nafsu konsumerisme malah meningkat? masa sih manusia kalah sama ulat? malu dong ah 

Posted by joko santoso  on  11/26  at  01:11 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq