Buruan Cium Gue dan Soal Moral
Halaman Muka
Up

 

Editorial
23/08/2004

Buruan Cium Gue dan Soal Moral

Oleh Novriantoni

Namun masih tersisa beberapa pertanyaan mendasar. Umpamanya: tidakkah di balik “misi mulia” itu tersirat pengandaian bahwa masyarakat mengidap sindrom ketidakdewasaan yang abadi, sehingga selalu memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk?

Selalu ada promosi cuma-cuma atas sebuah produk sebagai akibat tak terduga dari kontroversi hebat seputar produk tersebut. Rumusnya: yang dilarang justru yang diidam-idamkan (al-mamnû’ al-marghûb). Itulah yang kini terjadi pada film remaja, Buruan Cium Gue (BCG) yang menuai kritik dan protes Majlis Ulama Indonesia (MUI), dai kondang Aa’ Gym, dan beberapa eleman masyarakat. Sejak dari judul, Buruan Cium Gue dianggap sudah mengundang kritik. Makanya, dengan tafsiran yang agak jauh, Aa’ Gym memelesetkan judulnya menjadi --maaf-- Buruan Zinahi Gue! Menurut Aa’, dialog dan adegan berciuman --tentu saja dilakukan di luar nikah, karena para pemainnya masih belia dan belum mencicipi mahligai rumah tangga-- yang ditampilkan film BCG sudah setapak langkah menuju perzinahan. Sementara Alquran menganjurkan jauh-jauh dari perzinahan, BCG seolah memanggil untuk menghampiri perbuatan asusila tersebut. Begitu kira-kira logika yang ada di benak mereka yang mengritik film ini.

Tidak hanya dari judul, film produksi Multivision Plus (MVP) ini bisa dikritik. Siapapun yang sempat menyaksikannya mungkin berkesimpulan bahwa, dari segala aspek penilaian mutu perfilman, BCG dapat dikategorikan “kurang bermutu”. Akting para pemainnya nyaris tanpa penghayatan, dialognya tidak cerdas, skenarionya cetek, suaranya sayup-sayup, penuh iklan di mana-mana, dan sangat kentara kesan penggarapan tanpa standar mutu yang ketat. Dibandingkan sebagian film nasional lain yang pernah digarap beberapa sutradara muda berbakat Indonesia, seperti AADC, Arisan dan terakhir, Mengejar Matahari, jelaslah BCG akan terperosok ke tangga terendah dari segi mutu.

Tapi lepas dari itu, sudah barang tentu banyak biaya dan tenaga yang dikerahkan mereka yang terlibat dalam produksi BCG. Film ini juga sudah lolos sensor --meskipun dinilai sebagian pihak terlalu longgar-- dari Lembaga Sensor Film (LSF). Mestinya, tinggal mekanisme pasar yang bekerja. Bila BCG dianggap bermutu, pasar tentu akan bereaksi positif: menerima, mengapresiasi, dan dengan sendirinya memberi banyak keuntungan. Tapi nampaknya itu tidak terjadi, sampai muncul kontroversi yang sialnya menjadi promosi gratis untuk produk yang bermutu rendah. Kontroversi yang disulut MUI dan Aa’ Gym, rupanya menjelma jadi “berkah” bagi film yang tidak lebih baik dari film-film Warkop tahun 1970 dan 1980-an ini.

Rupanya di era globalisasi dan pasar bebas ini, mekanisme pasar tidak bisa diandalkan --dan memang bukan kewajibannya-- untuk menyeleksi produk-produk yang bermutu rendah. Makanya, sebagian pihak merasa terpanggil untuk melakukan proses seleksi atas komoditas yang dikuatirkan berekses negatif pada norma susila masyarakat. Dalam konteks itulah, BCG didaulat potensial menggoncang sendi-sendi “moral” masyarakat, khususnya kawula muda. Masuk akal!

Namun masih tersisa beberapa pertanyaan mendasar. Umpamanya: tidakkah di balik “misi mulia” itu tersirat pengandaian bahwa masyarakat mengidap sindrom ketidakdewasaan yang abadi, sehingga selalu memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk? Tentang moral kita bertanya: mengapa kepedulian dan reaksi kalangan agamawan terhadap kategori soal pornografi dan pornoaksi selalu lebih gesit dan lantang dibandingkan reaksi atas isu-isu moral kemanusiaan seperti penggusuran, diskriminasi, manipulasi, korupsi, dan lain sebagainya? Apa kita tidak sedang mengalami reduksi yang paling menakutkan atas makna moral itu sendiri? Pada akhirnya saya berharap, reaksi dan “keprihatinan nasional” atas kasus ini bukan bagian dari tontonan yang paling memprihatinkan tentang lakon reduksi massal atas makna moral. [Novriantoni]

23/08/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Jangan sekali-kali berkhianat thdp amanah yang teleh dibebeankan kpdmu wahai manusia. Sesungguhnya kamu sangat lemah dan tak berdaya. Ilmu Allah melebihi di atas segalanya dan Dialah yang maha berilmu. Kalau berucap, pikirkan akibat yang akan kamu terima di dunia dan di akhirat
-----

Posted by Imam almarghoni  on  03/30  at  02:03 AM

kata Nietzche, Tuhan itu hanya dugaan. tidak ada Baik dan buruk. yang ada hanya baik dan buruk. tidak ada Kebenaran, yang ada hanya kebenaran. dunia ini kacau, chaos. dunia ini hanya kehendak untuk kuasa. ah, moral itu hasil ciptaan seorang ‘pencipta’ satndar baik dan buruk.

Posted by basuki rahmat  on  10/31  at  02:11 PM

Saya pikir ada masalah yg lebih mendalam dari sekedar apakah “ciuman” itu dilarang atau tidak, yang menjadi permasalahan kristis disini sebenarnya adalah “siapakah yang berhak menentukan standar Moralitas masyarakat” apalagi di suatu negara yang Pluralis seperti di Indonesia dewasa ini…

Posted by Adiwidya Imam Rahayu  on  09/15  at  06:09 AM

Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang tahu aturan dan tidak melanggar aturan. Masyarakat Indonesia yang dewasa adalah masyarakat yang tahu bahwa salah satu unsur dari dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga tahu aturan Tuhan dan tidak melanggar aturan Tuhan. Jadi kalau masih banyak yang suka membuat dan menonton film porno, melanggar lalulintas, melanggar HAM, melakukan KKN, manipulasi, teror, maka hal itu menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa sehingga jelas masih banyak memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk. Tidak perlu berkecil hati untuk mengakui kenyataan itu.

Apakah saya sebagai anggota masyarakat termasuk sudah dewasa atau masih kanak-kanak? Jawabannya mudah. Kalau saya memberikan dukungan saat ada orang yang lebih dewasa menerangkan soal baik-buruk kepada orang yang belum dewasa, maka saya termasuk dewasa. Tetapi kalau saya protes dan mempertanyakan keabsahan orang yang lebih dewasa menerangkan soal baik-buruk kepada orang yang belum dewasa, maka pasti saya termasuk belum dewasa.

Kalau kita mau kehidupan keagamaan dan mengikuti banyak ceramah dan aktifitas kalangan agamawan secara rutin pasti kita tahu bahwa kalangan agamawan tidak hanya peduli dan bereaksi terhadap soal pornografi dan pornoaksi saja melainkan juga atas isu-isu moral kemanusiaan lainnya seperti penggusuran, diskriminasi, manipulasi, korupsi, dan lain sebagainya. Kalau ada kesan bahwa kalangan agamawan lebih gesit dan lantang terhadap soal pornografi dan pornoaksi saja dibandingkan reaksi atas isu-isu moral kemanusiaan lainnya, maka itu hanya persepsi orang per orang saja. Dalam isu-isu lainnya mungkin kalah gaungnya dibanding dengan reaksi kalangan LSM, Komnas HAM, ICW, polisi, kejaksaan dan lain-lain. Sedang dalam isu pornografi dan pornoaksi belum banyak LSM yang bergerak sehingga yang tampak bereaksi hanya kalangan agamawan saja.

Posted by Hari Danarbroto  on  09/15  at  06:09 AM

segala sesuatu yang berhubungan dengan karya seni selalu dikaitkan dengan kritikan, caci maki dan tentunya ada pemberangusan apabila karya tersebut telah melecehkan bahkan merusak martabat seseorang. Tetapi itu semua dapat ditepis dengan adanya penjelasan ke berbagai media masa bahwa film seperti ini belum selayaknya dipertontonkan untuk anak yang belum matang bahkan untuk orang yang belum berkeluarga sekalipun, karena hal ini menyangkut kesiapan mental spiritual dari si anak untuk bisa menangkap pesan moral yang terkandung di dalamnya. Yang menjadi titik penekanan pada kasus seperti ini tentunya lembaga film yang mengeluarkan ijin sehingga film seperti ini dapat beredar luas di bioskop-bioskop indonesia. Tentunya dengan penjagaan alur peredaran film di Indonesia dibuat lebih ketat dan melibatkan berbagai macam pihak sehingga tidak terjadi sesuatu yang basi. Dikritik setelah beredar. Perlu menjadi perhatian, bagi para penikmat seni semakin dikritik maka semakin banyak dicari orang. Nah siapa yang akan disalahkan?. Utamanya adalah anggota keluarga kita, jangan sampai kita membiarkan sesuatu terjadi pada mereka tanpa adanya penjelasan lebih lanjut. Kita tidak untuk mengijinkannya, tetapi pengertian yang diberikan kepada mereka sedini mungkin akan mengembangkan nalar masing-masing untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk dengan menjelaskan resiko masing-masing. Film masih sekedar film, tetapi apabila film dikategorikan sebagai penggugah rasa itu benar, karena di dalamnya ada sebuah peran yang menonjolkan karakter emosional. Film juga dapat menggugah khayalan seseorang untuk berbuat diluar norma-norma kemanusiaan, karena itu perlu diperbaiki pula perangkat-perangkat hukum yang lebih bisa mengontrol peredaran film-film yang sarat akan nilai asusila.

Posted by koko suhendro  on  09/14  at  11:10 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq