Dakwah Versus Penyesatan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
09/01/2008

Dakwah Versus Penyesatan

Oleh Anis Masduki

Sikap MUI yang hendak memberantas pemikiran dan keyakinan yang tak sesuai selera mereka, dengan memakai negara, hanya akan menyisakan sejarah kelam yang mungkin berdarah-darah. Dakwah Islam jauh dari kenyataan itu. Penghakiman dan penghukuman tak jarang jutsru kedok dari kegagalan dakwah. Ia menjauhkan diri dari rasa rendah hati dan kesanggupan introspeksi.

09/01/2008 00:06 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

apakah MUI yang tersebut ingin menggantikan peranan Tuhan, karena hanya Dialah yang tunggal yang dapat menyetakan sesuatu itu benar atau salah.

#1. Dikirim oleh awan  pada  09/01   04:02 AM

Saudara Awan, saya sedikit kurang setuju dengan pendapat saudara karena menurut hemat saya, MUI tidak ingin menggantikan peranan Allah, tetapi MUI ingin melebihi Allah, karena Allah sendiri mengizinkan perbedaan, karena bila tidak adalah mudah bagi Allah untuk membuat manusia menjadi satu agama, cukup bagi Allah untuk berfirman maka segalanya akan terjadi (KUN FAYA KUN). Tetapi buktinya ada banyak agama di dalam dunia ini, Artinya Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih jalan yang benar. (tentu saja Allah memberikan modal bagi manusia berupa akal budi dan hati nurani untuk memilih jalan yang benar tersebut).  Akhir kata, Bukankan perbedaan itu bisa menjadi rahmat bila kita menyikapinya dengan benar?  Wassalam.

#2. Dikirim oleh Ahmad Subhandhi  pada  12/01   09:01 AM

Meskipun MUI sangat membeci JIL, namun seharusnya mereka tidak menutup mata atas apa yang ditulis oleh teman-teman yang tergabung dalam JIL ini. Sebagai Ulama, mereka seharusnya membuka wawasan dengan membaca sebanyak mungkin literatur dan menerima sebanyak mungkin masukan agar tidak salah dan keliru dalam melangkah apalagi dalam mengambil keputusan (mengeluarkan fatwa) Masa teman-teman JIL lebih memahami isi Qur’an dari MUI. Malu dong!

#3. Dikirim oleh Iwan Manda  pada  13/01   02:02 AM

sungguh artikel yang menyegarkan ... Mungkin MUI terlalu besar kepala sampai-sampai lupa diri, sehingga terkadang tingkahnya jadi aneh ... semoga MUI sadar akan kekhilafanNya .. karena proses menjadi manusia yg baik itu sesungguhnya butuh waktu ...

#4. Dikirim oleh Mr. Once  pada  14/01   07:02 PM

Menurut saya sih, sederhana saja. Untuk menentukan siapa pihak yang berada pada kesesatan dan siapa pihak yang berada dalam agama ataupun aliran yang aman dan benar.

Apakah Kelompok musaddeq benar? lihat saja tingkah nya dan tingkah pengikutnya. apakah mereka masih hidup normal ataukah sudah berada di luar jalur kebiasaan manusia normal.

Kenyataan memperlihatkan banyak sekali kawan-kawan muslim saya yang ikut aliran Musaddeq, mereka rela meninggalkan keluarga, mereka menganggap diluar kelompok adalah kafir, najis dan perlu dijauhi. bahkan banyak anak-anak perempuan muslim yang ikut aliran tsb rela tidak kembali ke pangkuan keluarga. awalnya mereka berubah dari sifat aslinya, hingga mereka rela dinikahi ‘guru’ atau ‘pemimpin’ tanpa izin orang tua.

Menurut akal sehat, kelompok ini termasuk sempalan dan tidak berjalan diatas kebiasan umum masyarakat yang menjaga hubungan baik dg keluarga dan menghargai orang tua.

Jadi kesimpulan saya, MUI melihat fenomena ini dan berusaha agar masyarakat berhati-hati dengan kelompok2 tertentu yang berada diluar kebiasaan tadi. Agar masyarakat bisa lebih hati-hati. Karena tanpa ada badan setingkat MUI, maka masyarakat dan struktur masyarakat akan rusak.

Jadi MUI itu sudah menjalankan peran pentingnya. Tidak seperti yang kita tuduhkan selama ini.

#5. Dikirim oleh Fauzi Muchson  pada  15/01   02:01 AM

Nampaknya esensi “khalaqa fasawwa” tak bisa ter-ejawantah di zaman ini. Lha wong manungso-manungso-nya banyak yang makin regresif dengan sikap parokialnya. Dan, esensi “berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan”, dengan sendirinya akan terubah dengan aksi-aksi represif sebagian umat yang non-empatik itu yang bakal menancap kuat dalam paradigma anak-anak (kita), untuk saling “berlomba-lomba dalam memburu [aliran sesat]”.

#6. Dikirim oleh Aris Susanto  pada  15/01   11:01 AM

Saya terkadang berpikir, dari mana MUI bisa mendapatkan otoritas untuk melebihi kuasa Tuhan? Apa Tuhan pernah berfirman lagi dan bilang bahwa aliran - aliran itu sesat?

Sebagian orang yang mengaku “penyelamat syariat” menggunakan argumen bahwa penghukuman kepada perilaku yang tampak adalah sah adanya, sedangkan hati tidak perlu diselidiki. Bila mereka menggunakan hukum negara, jelas - jelas kebebasan beragama dan beribadah telah dijamin. Lantas di mana masalahnya?

Mereka ngotot menggunakan hukum syariat, sedangkan negara kita adalah negara mayoritas muslim, bukan negara ISLAM. Hukum negara kita adalah pancasila dan kostitusi ‘45, bukan syariat Islam. Adalah tidak tepat penempelan label sesat atau kafir semudah pelabelan halal - haram. Manusia tidak sama dengan daging babi.
-----

#7. Dikirim oleh raguan hana  pada  23/01   07:01 PM

Coba klo MUI g ada....Bayangkan akan carut marutnya keagamaan di Indonesia, tatkala umat tidak ada panutan dlam kehidupan agama nya siapa yang akan membimbing umat??apakah JIL?? Bayangkan Bila ulama tidak ada di negeri tercinta ini....Yang ada cuma segelintir manusia sesat yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal...apakah JIL yang akan turun tangan??..Ingat Bung manusia itu harus ada pembimbing, karena akal yang ada pada manusia itu tidak terbatas dan tidak ada batasannya dan itulah yg menimbulkan kesesatan...Jazakumullahu khairan

#8. Dikirim oleh si bolang  pada  05/08   04:08 PM

saya sangat setuju kalo MUI di bubarkan saya...saya melihat MUI sebagai lembaga yang merasa sebagai pengganti Tuhan untuk menentukan kebenaran manusia. menurut saya, MUI sudah menjadi lembaga yang mementingkan golongannya saja demi kepentingan golongan yang sesuai dengan pandangan dan kepentingan mereka. lihat kasus ajinomoto yang tadinya di haramkan karena disinyalir mengandung bahanyang berasal dari babi, tetapi setelah ada uang pelicin lebel halalpun dikeluarkan. saya tau dari seorang teman yang kebenaranya dapat saya pegang, untuk mendapatkan lebel halalnya teman saya harus mengeluarkan sekurangnya 10-15 juta rupiah, apakah lembaga seperti itu masih harus dipertahankan yang yang mereka sendiri masih suka dengan sesuatu yang haram tapi mereka diperbolehkan memberikan stempel haram atau halal…

#9. Dikirim oleh deskam  pada  01/09   02:34 AM

massaalloh....kok jadi kita yg cekcok mengenai itu semua saudaraku. apapun nama organisasi itu.itu adalah saudara kita seiman <mui, muhamadyah dll >. yg harus kita perangi adalah yg sangat dan menyimpang dari sareat2 islam itu saja.  mari kita bersatu untuk meluruskan ajaran2 yg menyimpang itu.
wasalam

#10. Dikirim oleh kafhi  pada  08/09   02:07 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq