Dari Teras Masjid hingga Tiang Salib: Tentang Perjalanan Spiritual al-Hallaj - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
08/09/2010

Dari Teras Masjid hingga Tiang Salib: Tentang Perjalanan Spiritual al-Hallaj

Oleh Malja Abrar

Imam Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu pembela Ibn ‘Arabi yang gigih, mengatakan: “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun min al-safalah (tiap orang besar dalam sejarahnya selalu punya musuh orang-orang bodoh). Kita tahu, al-Hallaj disalahpahami dan karena itu dimusuhi oleh dua otoritas bodoh sekaligus: aliansi tak suci agama dan politik.

Melanjutkan dua seri tadarus Ramadlan sebelumnya, yaitu tentang Abu Yazid al-Busthami pada seri pertama dan Suhrawardi al-Maqtul pada seri kedua, Selasa (24/08/2010) Jaringan Islam Liberal (JIL) melangsungkan seri ketiga sekaligus seri penutup tadarus Ramadlan 1431 H, yang bertajuk “Mengaji pada Sufi Liberal”. Bertempat di Gedung Teater Utan Kayu (TUK), Jalan Utan Kayu 68 H Jakarta, seri ketiga kali ini mengangkat seorang sufi besar pertengahan abad ke-3 Hijriyah, yaitu Husain ibn Manshur al-Hallaj atau yang lebih dikenal dengan nama al-Hallaj. Tadarus kali ini menghadirkan dua narasumber: Kiai Husain Muhammad dan Moh. Guntur Romli.

Kang Husain, demikian Kiai feminis pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat ini biasa disapa, malam itu menguraikan al-Hallaj dengan cara bertutur dan bercerita.

Alkisah, demikian Kang Husain yang juga komisioner Komnas Perempuan itu mengawali ceritanya, telah lama kedua orang tua di kampung Thur, Persia, itu menanti kelahiran seorang anak yang kelak bernama al-Hallaj (244 H/858 M-309 H/922 M).  Maka ketika anak itu telah lahir dan tumbuh besar, dengan niat memberikan pendidikan yang terbaik, kedua orang tuanya menitipkan al-Hallaj pada guru sufi di masa itu, yakni Sahl al-Tustari (w. 283 H). Sebelum al-Hallaj dititipkan pada sufi Sahl al-Tustari, ia sudah menyelesaikan pelajaran-pelajaran dasar dalam Islam di kampungnya sendiri: tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an, tafsir, hadis, fiqh, teologi, sejarah.

Konon, cerita Kang Husain, satu hari di masjid tempat al-Hallaj belajar kepada sufi Sahl al-Tustari, saat al-Hallaj menyapu di mihrab masjid, ia menemukan secarik kertas kewalian gurunya itu, yang sekali lagi konon, turun dari langit. Sebagai santri yunior yang masih percaya dengan karamah dan berkah, ia telan secarik kertas kewalian dari langit itu. Dan benar saja, setelah menelan secarik kertas kewalian gurunya itu, al-Hallaj merasa seolah mendapat inspirasi spiritual dari atas yang melimpah-limpah –dan memang inilah yang ia inginkan selama ini setelah beberapa lama belajar Islam, ia masih merasa kering dan tidak mendapatkan ruh hakiki dari Islam. Ia merasakan ada dorongan besar untuk memasuki dunia tasawuf. Seolah ia baru saja menelan material gaib ke dalam tubuhnya.  Inilah awal karir al-Hallaj dalam dunia tasawuf. Dari teras masjid salah seorang guru sufinya, Sahl al-Tustari, karir kesufian al-Hallaj bermula.

Sejak itu, al-Hallaj makin gandrung dengan dunia tasawuf. Dan jenis tasawuf yang ia gandrungi bukan jenis tasawuf yang konvensional saat itu. Ia lebih condong pada jenis tasawuf yang tidak lazim, jenis tasawuf yang membawanya kepada pengalaman ekstasis (syathahat: ucapan para sufi yang dikenal aneh, seolah bertentangan dengan syari’at secara lahiriyah dan akal fikiran).  Jenis tasawuf yang konvensional dan mainstream adalah jenis tasawuf yang bercorak sunni, yang kalaupun mengakui adanya pengalaman fana’ (lebur atau sirna) dengan/dalam Tuhan, masih menyisakan batas antara manusia dan Tuhan. Antara manusia dan Tuhan masih ada semacam ceiling glass, plafon kaca yang karena jenisnya dari kaca seolah tidak ada materi pemisah, tapi begitu si manusia itu hendak berdiri, ia sundul menyentuh sekat di atas kepala.

Dan benar saja, lanjut Kang Husein dengan ceritanya, ketika al-Hallaj pergi haji untuk yang pertama kali, “ketidaklaziman” al-Hallaj mulai nampak.  Ia naik ke puncak Jabal Rahmah di ‘Arafah, lalu memanjatkan sebaris kalimat berikut:

ya dalilal ha’irin, zidni tahayyuran # wa idza kuntu kafiran fa zidni kufran
Oh, Tuhanku, Pembimbing orang-orang bingung, berilah tambah atas
kebingunganku. Jika aku kafir, berilah tambah atas kekafiranku.

Doa al-Hallaj di ‘Arafah itu seolah disambut oleh Tuhan. Sekembalinya dari haji pertamanya itu, al-Hallaj semakin masuk dalam pusaran pengalaman spiritual yang memabukkan, tapi juga sekaligus tampak membingungkan bagi kalangan awam. Ia makin tidak puas dengan gagasan-gagasan standar yang ada. Yang ia inginkan adalah “bertemu” Tuhan seperti dulu Musa pernah menginginkan di bukit Sina, seperti Muhammad pernah mencecap di pelataran sidratul muntaha, di dekat Pohon Lotus arah kanan singgasana (‘arsy) Tuhan. 

Al-Hallaj pulang ke kampung halaman sambil terus mencari. Lalu ia merasa menemukan-Nya, tentu bukan di bukit Sina, juga tidak di dekat Pohon Lotus. Ia menjumpai-Nya di dalam rumah hatinya sendiri.

Baju kesufiannya ia rasakan sebagai hijab, penghalang pertemuannya dengan Tuhan. Maka ia tanggalkan “baju” itu. Ia kenakan pakaian orang gelandangan. Masa-masa ini al-Hallaj pergi haji untuk yang kedua kali. Tapi ia masih penasaran.  Ia terus mengembara, terus mencari. Ia pergi hingga India dan Cina. Dalam kelana yang hampir lima tahun itu ia mampir lagi ke Makah, ia tunaikan haji untuk yang ketiga kali.

Semenjak itu, lanjut Kang Husain, al-Hallaj makin matang pengalaman spiritualnya. Suatu waktu, ia merasakan pengalaman seolah Tuhan menitis ke dalam dirinya. Lalu ia lontarkan baris syair berikut:

ana man ahwa wa man ahwa ana # nahnu ruhani halalna badana
fa idza abshartani abhsartahu # wa idza abshartahu abshartana

Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta adalah Aku. Kami dua
ruh yang melebur dalam satu tubuh. Bila kau memandangku, kau
memandang-Nya. Bila kau memandang-Nya, Kau memandang Kami. 
[Diwan, 57]

Dari kata halalna (kami melebur) dalam syair al-Hallaj di atas, orang lalu menyimpulkan al-Hallaj menganut paham hulul, Tuhan menitis ke dalam diri al-Hallaj. Proses merasuk dari atas ke bawah, para sufi menyebutnya sebagai “insiden” hulul.

Dalam keadaan hulul-nya, al-Hallaj seolah didatangi Sang Kekasih.Tapi di saat yang lain, ketika al-Hallaj “siuman” dari peristiwa hulul itu, ia merasa kehilangan seorang kekasih. Kini ia rindu, dan ia ingin mendatangi, menjemput Sang Kekasih. Al-Hallaj berhasil, ia bertemu dengan Sang Kekasih, lalu ia mabuk spiritual dan sontak ia lontarkan kalimat: ana al-haqq (akulah kebenaran).  Saat al-Hallaj melontarkan kalimat ana al-haqq, adalah saat ia menyatu (ittihad) dengan Tuhan. Lalu orang menyimpulkan al-Hallaj menganut paham ittihad, proses merasuk dan menubuh dari bawah ke atas.
Pengalaman al-Hallaj tentang hulul dan ittihad membawanya pada refleksi tentang kesatuan agama-agama (wahdatul adyan). Bagi al-Hallaj, kesatuan agama-agama adalah keniscayaan dari ziarah spiritualnya berupa hulul dan ittihad. Setelah menjalani rihlah ruhaniyyah hingga level yang begitu tinggi itu, ia sampai pada refleksi tentang kesatuan agama-agama seperti yang ia lontarkan dalam beberapa baris bait berikut:
Tafakkartu fi al-adyani jidda tahaqquqi # fa alfaituha ashlan lahu syu’abun jamma
Fala tathluban li al-mar’i dinan fa innahu # yashuddu ‘an al-ashli al-watsiqi wa innama
Yuthalibuhu ashlun yu’abbiru ‘indahu # jami’al ma’ali wal ma’ani fa yafhamaha

Sungguh telah aku merenung panjang tentang agama-agama. Aku temukan satu akar dengan
Begitu banyak cabang. Usahlah kau paksa orang memeluk satu saja. Demikian itu
Hanya akan memalingkannya dari akar yang menghunjam. Seyogyanyalah ia mencari
Akar itu sendiri. Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan selaksa makna.
Lalu ia akan mafhum sendiri.

“Insiden” di teras masjid itu memang benar-benar telah membawa al-Hallaj ke titik penziarahan dan rihlah ruhaniyyah yang begitu jauh yang ia tak akan pernah kembali dan surut ke belakang. Pada momen ia berada pada titik terjauhnya itulah lontaran gagasan-gagasan “aneh” al-Hallaj keluar. Unfortunately, di luar sana ada yang merasa terganggu dan terancam oleh lontaran-lontaran “subversive” al-Hallaj, yaitu para pemegang otoritas, baik politik maupun agama. Sebab ia bukan hanya “subversif” dalam gagasan, al-Hallaj juga “subversif” dalam pergerakan. Ia gabung dengan gerakan Qaramithah yang berafiliasi pada Syiah Isma’iliyah, oposan Dinasti Abbasiyah saat itu. Khalifah Abbasiyah saat itu, al-Muqtadir Billah, menjatuhkan vonis hukum mati di tiang salib pada al-Hallaj. Al-Hallaj kembali menyadari bahwa “insiden” di teras masjid itu bukan hanya membawanya pada penziarahan spiritual tertinggi, tapi juga sekaligus penziarahan yang paling tragis dalam sejarah sufisme Islam. Dari teras masjid, kini penziarahan itu berujung di tiang salib.

Tapi sosok al-Hallaj juga bisa dibaca secara “terbalik”. Guntur Romli, pembicara kedua malam itu, ingin membaca al-Hallaj secara “terbalik”, sejak kematiannya di tiang salib lalu mundur ke belakang. Guntur, aktivis kebebasan beragama yang juga pegiat di Komunitas Salihara Jakarta itu, berpandangan bahwa sosok al-Hallaj akan terang benderang dengan cara pembacaan seperti itu.  Cerita tragis al-Hallaj di tiang salib justru menjadi fragmen menarik untuk mengurai kehidupan al-Hallaj. Guntur ingin mengangkat fragmen akhir dari cerita al-Hallaj di tiang salib itu sebagai entry point untuk memetakan sepak terjang kehidupan al-Hallaj. Guntur mengutip salah satu syair al-Hallaj yang di dalamnya ia meramalkan sendiri akhir episode kehidupannya, sebagai berikut:

Bukankah telah kusampaikan pada pecintaku # aku mengarungi samudera dengan kapal yang pecah
Dalam agama salib akan berakhir kematianku # bukan tanah lapang atau sebuah kota jadi tujuanku

Dua bait syair ini cukup penting untuk membaca sosok al-Hallaj. Al-Hallaj telah meramalkan sendiri episode akhir kehidupannya: pada tiang salib. Itu artinya nasib tragis al-Hallaj di tiang salib merupakan fragmen penting untuk membaca sosoknya sebagai mistikus besar, jika bukan terbesar, pertengahan abad ke-3 hijriyah.

Menurut Guntur, penulis buku Feminis Muslim yang baru dilaunching beberapa bulan lalu itu, ada beberapa pembacaan yang bisa diderivasikan dari dua bait di atas. Bait pertama syair al-Hallaj di atas mengingatkan kita pada cerita Nabi Khidlir bersama Musa. Dalam salah satu fragmen cerita Musa bersama Nabi Khidlir itu, mereka berdua menaiki perahu dan Khidlir sengaja melobangi perahu itu. Musa tidak habis pikir kenapa perahu yang dalam kondisi baik dengan sengaja dilobangi oleh Khidlir. Seluruh fragmen cerita Musa bersama Khidlir menggambarkan dua blok: Musa yang eksoteris dan Khidlir yang esoteris. Musa yang hanya melihat aspek lahir setiap peristiwa yang ia saksikan bersama Khidlir, dan Khidlir yang selalu melampaui yang lahir.

Al-Hallaj ketika mengatakan dalam syairnya di atas bahwa “aku mengarungi samudera dengan kapal pecah”, ingin memposisikan diri pada “blok epistemis” Khidlir, yaitu blok esoteris. Dan itu berarti ia, al-Hallaj, dengan sadar mengambil posisi diametral terhadap front eksoteris: ulama fikih, kaum sufi konvensional dan seluruh front literalis secara umum. Manifestasinya bisa dilacak dalam seluruh gagasan konsep al-Hallaj. Misalnya al-Hallaj berpandangan bahwa seluruh ritual keagamaan yang tercantum dalam rukun Islam: salat, puasa, zakat, haji, tidak penting dan bisa disubstitusi dengan ritual khas al-Hallaj yang hanya perlu dilakukan sekali untuk seumur hidup. Dalam hal ini al-Hallaj bertabrakan dengan otoritas fikih, juga kaum sufi konvensional yang masih mensyaratkan syari’ah lahir sebagai fondasi pijakan untuk laku hakikat dalam tasawuf.

Dengan kalangan sufi konvensional, al-Hallaj juga jelas berseberangan. Manifestasinya jelas sekali, misalnya pandangan al-Hallaj tentang ittihad, wahdatul wujud, lebih spesifik adalah pengalaman spiritual yang menjadi trademark dia, yaitu hulul. Bagi sufi konvensional, finalitas relasi Tuhan manusia adalah dualisme. Dalam bahasa kaum teolog: tanzih, memposisikan Tuhan dalam ke-lahut-annya, dan sekaligus menempatkan manusia pada posisi ke-nasut-annya. Sejenis laku spiritual yang tahu diri bahwa antara Tuhan dan manusia ada semacam sekat plafon kaca yang tidak bisa disangkal. Dengan demikian bait pertama syair al-Hallaj di atas menjelaskan posisi religio-spiritual al-Hallaj, jenis relasi vertikal dia dengan Yang di Atas.

Dalam bait kedua, lanjut Guntur, al-Hallaj ingin menegaskan posisi religio-sosial-politik yang ia pilih. Selama ini orang berdebat tentang paham apa sebenarnya yang dianut oleh al-Hallaj. Apakah ia menganut paham ittihad (seperti al-Busthami), wahdatul wujud (sebagaimana Ibn ‘Arabi), ataukah hulul seperti ia sering dikonotasikan dengan paham terakhir itu. Dalam bait kedua syair di atas, seolah al-Hallaj menegaskan bahwa paham-paham yang telah lalu itu tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan pilihan dia pada fragmen akhir kehidupannya: yaitu agama salib.

Tapi orang salah paham, orang mengira al-Hallaj murtad karena telah memproklamirkan diri sebagai penganut agama salib. Lagi-lagi orang tidak memahami posisi yang telah al-Hallaj pilih seperti terlukiskan dalam bait pertama syair di atas, yaitu posisi esoteris. Orang gagal membaca setiap lontaran al-Hallaj. Ketika al-Hallaj mengatakan “kematianku berakhir pada agama salib”, orang membacanya secara eksoteris, secara lahiriah. Sudah barang tentu, sebagaimana posisi yang dipilih sendiri oleh al-Hallaj, lontaran ucapan al-Hallaj tentang agama salib ini mestilah dimaknai secara esoteris. Bukannya secara serampangan menganggap bahwa al-Hallaj telah murtad karena secara formal menyatakan menyeberang ke agama lain.

Dengan ucapannya “dalam agama salib kematianku berakhir” dalam bait kedua syair di atas, al-Hallaj sebenarnya sedang menegaskan pilihan sikap religio-sosial-politik dia. Oleh karena itu ucapan al-Hallaj ini harus dimaknai secara esoteris, bukan eksoteris-lahiriyah. Dari aspek religius, bisa dimaknai bahwa al-Hallaj sangat menaruh simpati dengan agama Kristen –dan hal ini sesuai belaka dengan gagasan dia tentang kesatuan agama-agama. Simpati dan respek al-Hallaj terhadap agama Kristen tampak misalnya dari kosakata kasih yang sering ia ucapkan, kosakata yang menjadi trademark ajaran Yesus. Misalnya dalam kalimat al-Hallaj, saat algojo Abul Harits al-Sayyaf hendak memotong tangan dan kaki al-Hallaj, berikut ini:

Oh Tuhanku, aku telah masuk rumah penuh idaman (fi manzilati ar-ragha’ib).
Aku menyaksikan keajaiban. Tuhanku, Engkau yang mengasihi pada orang yang
menyakitimu, bagaimana Engkau tidak mau mengasihi orang yang disakiti karena-Mu?

Ucapan al-Hallaj tentang agama salib juga bisa dibaca dari aspek sosial-politik. Hal itu tampak dari pembelaannya pada kaum tertindas. Suatu hari ia menerima sekantong uang dinar, uang itu tidak ia sisihkan sebagian untuk membayar upeti atau pajak kepada khalifah Abbasiyah saat itu, tapi langsung ia serahkan semuanya kepada kaum fakir miskin yang berada di masjid terdekat. Ia juga ikut dalam pergerakan oposisi kaum Qaramithah, yang mengamalkan hidup kebersamaan, kesetaraan dan berkeadilan.

Tapi al-Hallaj terlanjur disalahpahami. Ia dituduh dengan dua kesalahan sekaligus: segi agama ia murtad, sisi politik ia dituduh sebagai bughat (pengacau stabilitas sosial-politik). Maka seorang wazir Hamid ibn al-Abbas menggelar sidang. Sidang yang mendapat dukungan ulama dari Mazhab Maliki (Abu Umar ibn al-Hamadi), dan ulama dari Mazhab Hanafi (Ibn Bahlul), juga pendiri Mazhab Dhahiri (Abu Daud al-Dhahiri) itu akhirnya memutuskan vonis hukuman terkejam yang belum pernah ada preseden sebelumnya, kombinasi dari potong tangan dan kaki, salib, pancung, dan dibumihanguskan dari muka bumi. Itu karena al-Hallaj dianggap melakukan kesalahan berat: murtad sekaligus bughat. Itu berarti ia melawan Allah dan Rasul-Nya. Maka vonis hukuman brutal yang ditimpakan kepada al-Hallaj justru –sekaligus sebuah ironi- didasarkan pada surat al-Maidah ayat 33 sebagai berikut:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan
membuat kerusakan di muka bumi, tidak lain mereka itu dibunuh, atau disalib, atau
dipotong tangan dan kaki mereka bersilangan, atau dibuang dari muka bumi. Yang
demikian itu adalah sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia.
Dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang berat”

Imam Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu pembela Ibn ‘Arabi yang gigih, mengatakan: “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun min al-safalah (tiap orang besar dalam sejarahnya selalu punya musuh orang-orang bodoh). Kita tahu, al-Hallaj disalahpahami dan karena itu dimusuhi oleh dua otoritas bodoh sekaligus: aliansi tak suci agama dan politik. Tapi itu berarti pertanda bahwa al-Hallaj adalah mistikus besar, jika bukan terbesar, abad ketiga hijriyah –ia sufi sekaligus aktivis sosial. Dan kita pun tahu, ternyata sejarah berulang, kini dan juga nanti.

08/09/2010 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pengalaman spiritual Al Hallaj adalah pengalaman khusus, keinginannya telah ditempatkan kepada tempatnya, bukan kepada benda-benda duniawi, berbeda dengan penganggumnya yang hanya lebih banyak membaca,menganggumi dan meriwatkan riwayat-riwayat ulama-ulama besar. Disinilah perbedaannya, bahwa Al Hallaj tidak butuh buku bacaan untuk perjalanan spiritualnya, tidak butuh benda-benda, bahkan lapar adalah temannya, belum terkontaminasi dengan kebendaan duniawi, bersih tauhidnya, bahkan menjauh dari benda-benda yang hancur lebur binasa. Sedangkankita telah tercemar dengan sifat kebendaan duniawi, maka Kata Isa Al masih : Pantaskah seseorang yang ingin menujuh alkhairat melulu melalui jalan duniawi?”. Seringkali kita tak tahu diri dari rasa ingin dan kenyataan. Disinilah bentrok antara ingin dan kenyataan. Berbeda dengan Al Hallaj, fokusnya hanya satu tujuan, sedangkan kita cari makan aja susah, belum biaya anak sekolah, kontrakan dan lain-lain. Jika hal-hal ini tercemar dalam mencari Tuhan maka dapat dikatakan bahwa kita tidak fokus, tidak bersungguh-sungguh, tak tahu diri, berat meniggalkan segala keduniawiaan. Ujung ujungnya kita stress, kemudian terhantui dengan apa yg kita cintai pada perkataan dan perbuatan. Orang yg tidak sependapat dengan kita di lawan dengan segala cara. Padahal orang yg kita kagumi tidak mengajarkan begitu. Bagaimana mungkin kalian ingin mengenal Tuhan sedangkan diri kalian tidak kalian kenal. Ini adalah pertanyaan sekaligus jawaban.Maka jika kalian tau bahwa kalian tidak sanggup mengalami apa yg seperti orang yg kalian cintai, maka mulailah dari diri kalian, bersihkan fikiran hati dan perasaan, bersihkan kata-kata kalian, perbuatan dan tindakan kalian sekaligus bersihkan sifat-sifat keduniawian, kebendaan yg hanya membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Ini masih lebih baik dari posisi melawan, memaksakan pendapat, berdebat, menghujat dll yg kesemuanya itu tidak dicontohkan oleh orang yg kalian kagumi. Mulailah dari yg putih, terserah tergambar apa dalam perjalanan spiritual nanti, maka itulah anda. Dan janganlah lupa bahwa Sesungguhnya orang-orang besar adalah pilihan Tuhan. Jangan sedih kita bukan mereka yg kita kagumi, karena itu adalah ulah kita sendiri.

Posted by Matt  on  10/09  at  09:13 PM

Assalamualaikum
Dapatkah saya melakukan silogisme dalam kondisi yang dialami al Hallaj maupun manusia lain pada saat ini.
Al Hallaj dapat pengalaman bathiniah setelah memahami bagaimana nabi melakukan perjalanan spiritualnya. Itupun pernah dialami juga oleh para ulama tertentu pada saat ini. Pastilah yang sempurna itu yang dialami oleh nabi, kalau para ulama hanya sebatas ketemu nabi saja.
Yang menjadi permasalahannya adalah nabi belajar dan memahami dari mana, ooh pastilah beliau bergaul dan berdiskusi dengan para rabi maupun dengan monotheis lainnya yang ada pada saat itu. Dan hasilnya pengalaman spiritualnya adalah apa yang telah disampaikan nabi merupakan pengulangan/koreksian al Kitab sebelumnya. Intinya samalah tidak berubah, yang berubah adalah riwayat katanyakatanya yang ditulis 100 - 200 tahun kemudian. Di forum ini, banyak cendikiawan muslim yang cerdas, tentunya akan ada diskusi lebih menarik, mengenai peninggalan arkeologi yang penting di mesjid sana’a. Saya bukan ahli, tapi ingin mencari kebenaran laahhh
Wassalam
H. Bebey

Posted by H. Bebey  on  09/26  at  06:20 AM

Ilmu Ma’rifat (hakikat)
yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala MENYALAHI ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir al-Jailani mengatakan, “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”

Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, al-Bazzar dan Abu Nu’aim, hadits hasan). (Abu Hamzah As-Sanuwi).

Posted by tendy  on  09/22  at  11:59 AM

Siapapun, tak terbatas ruang waktu, seperti apapun pemahamannya tentang Tuhan. Yang jelas Tuhan masih memberi mereka kesempatan hidup. Bukan tugas saya untuk menilai pemahaman seseorang, Tuhan yang lebih tahu mana hambaNya yang lebih dekat denganNya mana yang tidak.... Semoga kita selalu dalam kasihNya. Ameen....

Posted by Fachri Aljupri  on  09/18  at  03:43 PM

jangan hiraukan mereka...ana al haq

Posted by rinan ar rumi  on  09/16  at  12:26 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq