Demonisasi - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
19/06/2005

Demonisasi

Oleh Luthfi Assyaukanie

Demonisasi berasal dari kata “demon” yang berarti “setan” atau “iblis.” Kata ini digunakan untuk menunjukkan perilaku seseorang yang kerap menganggap orang lain seperti “setan” atau “iblis.” Menurut para psikolog, orang seperti ini cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.

Demonisasi berasal dari kata “demon” yang berarti “setan” atau “iblis.” Kata ini digunakan untuk menunjukkan perilaku seseorang yang kerap menganggap orang lain seperti “setan” atau “iblis.” Menurut para psikolog, orang seperti ini cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.

Para psikolog menemukan kemiripan antara orang yang suka melakukan demonisasi dengan perilaku intoleran, tertutup, dan antisemit (Perry and Schweitzer, Anti-Semitism, 2003). Dalam konteks pemikiran keagamaan, orang-orang seperti ini tak mempercayai pluralisme, dan cenderung berkeyakinan bahwa agama yang dipeluknya adalah yang paling benar, dan pemahamannya adalah yang paling sah, sementara agama dan pemahaman orang lain sesat dan salah.

Sikap demonisasi kerap menghinggapi orang-orang yang merasa tidak nyaman (insecure), akibat keterkejutannya berinteraksi dengan dunia di sekelilingnya. Perilaku ini tak mengenal latar belakang sosiologi dan pendidikan. Siapa saja bisa terkena gejala nurosis ini. Para penganut agama di antara yang paling sering ditemukan mengidap perilaku demonisasi, khususnya jika mereka mengalami benturan keyakinan yang hebat.

Dalam Islam, perilaku demonisasi kerap dijumpai pada tokoh atau pemimpin yang merasa memiliki missi suci untuk menyelamatkan dunia dari kebejatan dan kebobrokan moral. Sayyid Qutb, salah satu tokoh penting pergerakan Islam, dalam tulisan-tulisan dan ceramahnya, kerap melakukan demonisasi terhadap siapa saja yang menurutnya bertentangan dengan ideologi dan keyakinan yang dianutnya.

Qutb dikenal sebagai orang yang anti terhadap peradaban Barat dan anti terhadap modernnitas secara umum. Barat, baginya adalah perwakilan iblis dan setan di muka bumi. Seluruh sistem kehidupan yang dibentuk oleh orang-orang Barat modern adalah sistem yang jahili (bodoh dan sesat).

Dalam tulisan-tulisannya, seperti Ma’alim fi al-Tariq, Qutb tak hanya mencaci-maki Barat dan modernitas, tapi siapa saja yang dianggap sesuai dengan Barat disetankan dan diibliskan, termasuk orang-orang Muslim sendiri. Dia misalnya menyamakan presiden Gamal Abd al-Naser, penguasa Mesir saat itu, sebagai Fir’aun, tokoh antagonis yang dalam tradisi Islam kerap dilukiskan sebagai perwakilan setan di dunia.

Penyakit “mensetankan orang” juga menghinggapi sebagian kaum terpelajar Muslim di Indonesia, yang merasa terkejut dan tak aman karena berhadapan dengan dunia di sekelilingnya yang dianggap mengancam. Dalam sebuah artikel pendek, saya menemukan seorang pelajar Muslim (yang sebetulnya tidak bodoh, karena terbukti telah menggondol gelar PhD), yang membuat tulisan sangat provokatif, berjudul “Diabolisme Intelektual” (Intelektual Pemuja Iblis).

Dalam tulisan itu, ia mengerahkan seluruh energi amarahnya untuk mensetankan siapa saja yang dianggapnya sesat. Dengan memilih potongan-potongan ayat Al-Qur’an (yang pasti diseleksi dengan tidak jujur), dia menganggap para tokoh pembaru Islam seperti Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Tak sampai di sini, dia juga mensetankan beberapa ulama besar Islam seperti Suhrawardi dan Hamzah Fansuri, karena dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam.

Saya pernah bertanya kepada seorang ahli psikologi tentang mengapa penyakit demonisasi menghinggapi sebagian pelajar Islam. Sang psikolog menjawab bahwa sebagian besar kasus-kasus demonisasi diakibatkan oleh ketidaknyamanan (insecure) seseorang karena benturan yang begitu dahsyat dalam iman dan keyakinannya.

Ide-ide baru yang datang dari luar Islam (terutama Barat) kerap mengganggu iman seorang Muslim. Hal ini kemudian berakibat pada ketidakmampuannya dalam menerima pandangan-pandangan berbeda, padahal pandangan-pandangan itu belum tentu bertentangan dengan ajaran dasar Islam.

Orang cenderung melakukan “penyetanan” bukan demi kebenaran, tapi karena ia berusaha membedakan dirinya dari yang lain: “saya” dan “mereka.” Saya adalah kebenaran sedangkan mereka adalah setan yang sesat. Dengan melakukan perbedaan yang ekstrim itu, dia berusaha menghibur dirinya bahwa kebenaran selalu bersamanya sementara kesesatan ada pada orang lain.

Dalam banyak kasus, para pengidap demonisasi kerap tak sembuh, tapi bagi mereka yang cukup punya matahati, terbuka, dan terus mau belajar, gejala nurosis itu sebetulnya bisa dihilangkan. (Luthfi Assyaukanie).

19/06/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Penyakit demonisasi antara lain berakar dari keyakinan banyak orang selama ini, bahwa Tuhan akan menghukum seseorang hanya karena orang tersebut “salah dogma” atau tidak seagama dengannya. Keyakinan ini berlanjut pada klaim kebenaran dan keselamatan sepihak yang hanya dimiliki oleh agamanya. Nah, dari keyakinan-keyakinan macam inilah lahir kata-kata seperti “kafir” dan berbagai kesombongan rohani lainnya yang ditujukan kepada masyarakat yang non-umat, karena merasa dirinya sebagai penganut dogma yang benar, walaupun dilain sisi mereka sama-sama sepakat dalam hal kebaikan praktis. Umat dari agama yang sarat dogma-dogma macam ini rawan terserang penyakit demonisasi. Apa-apa sedikit “iblis”, apa-apa sedikit “kafir”, yang tidak ikut meng-ibliskan atau mengkafirkan, seringkali dianggap iblis juga, repot deh.

Ciri khas agama semitik memang terletak pada dogma-dogmanya itu, nggak di Islam nggak di Kristen. Nah, dogma-dogma tersebut biasanya sensitif, sebab terletak semacam “wibawa agama” disana. Sensitifnya dogma dapat dilihat ketika umat agama semitik terkesan kebakaran jenggot menghadapi pemikiran dan argumen atheis serta teori evolusi Darwin. Padahal, itukan cuma wacana saja sama seperti apakah mungkin ada kehidupan di planit Mars atau tidak. Apasih yang mesti ditakuti? Dogma terbukti seringkali membuat penganutnya tidak nyaman dan selalu merasa terancam dengan pembaharuan dan perbedaan.

Menurut pendapat saya, dalam konteks zaman modern, istilah “agama yang benar” harus dimaknai sebagai agama yang ajarannya membawa kontribusi positif bagi peradaban manusia, bukan sekedar klaim kebenaran sepihak yang sangat dogmatis nan absurd itu. Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran, suatu pemahaman baru, paradigma baru dalam menyikapi ajaran agama yang disesuaikan dengan konteks zaman modern. Beragama di zaman modern adalah beragama yang lebih menekankan pada rasionalitas, kegunaan/manfaat kongkret bagi peradaban, berpandangan inklusif, moderat, dengan mengabaikan secara mutlak dogma-dogma teologi, klaim kebenaran sepihak apalagi mitos-mitos seperti surga-neraka, pahala-dosa, dan sebagainya. Tujuan agama di zaman modern adalah untuk mengatur dan memecahkan segala permasalahan manusia, dengan memanfaatkan potensi AKAL SEHAT sebagai modalnya, yang akhirnya dapat memajukan peradaban manusia. Beragama bukan masalah “tabungan” amal baik untuk hari akhir. Tidak ada gunanya lagi worship atau berdoa meratap-ratap di depan altar, untuk apa? Itu tidak menyelesaikan masalah. Bukan untuk itu agama hadir di zaman modern. Mungkin disini dilema pemikiran JIL ini, mencoba berpikir secara tidak dogmatis, tapi menganut agama yang pada dasarnya dogmatis. Ya hasilnya “peng-iblisan” itu. Mungkin umat agama semitik harus lebih banyak belajar dari agama-agama non-wahyu (seperti Buddha dan Hindu). Saya lihat dalam beberapa segi, konsep agama mereka lebih maju daripada agama wahyu yang sarat dogma.

Bagi saya, kata-kata sesat, iblis, dan sebagainya boleh saja santer dikumandangkan. Tetapi lebih tepat ditujukan kepada orang yang jelas-jelas mengacaukan tatanan peradaban manusia seperti teroris, koruptor, dan sebagainya. Bukan untuk orang yang berpikir progresif, dan bukan untuk orang yang bahkan tidak percaya keberadaan Tuhan.
-----

Posted by Ancketill Brewer  on  07/08  at  08:08 PM

Artikel yang sangat menarik, mewakili banyak masalah yang timbul karena Demonisasi. Salah satunya masalah perbedaan Agama dan cara pandangnya. Masalah yang tidak pernah habis di bahas dan di bicarakan karena masing - masing menganggap pendapatnya benar. Jangan menghujat Agama atau pandangan orang lain. Tetapi hujatlah orang yang menggunakan Agama untuk kejahatan dan mengorbankan orang lain untuk mensucikan dirinya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa orang lain Iblis atau Penganut Agama lain selain Agama saya tidak akan selamat di Akhirat nanti, dan saya tidak menentang apa yang sudah di tulis di Al Quran. Saya hanya berpikir bagaimana kalau ternyata Allah berpendapat lain? karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi saat meninggalkan Dunia ini. Tanpa mengurangi keimanan saya sebagai seorang Muslim, Saya lebih tenang dengan meyakini bahwa hanya orang - orang yang baik yang akan selamat di Dunia dan di Akhirat nantinya. Apapun Agamanya.Amin.

Posted by Seruni  on  07/04  at  07:08 PM

Salam!

Saya percaya bahwa Islam yang dibawa Rasul sudah menjdai yang moderat. Dan wujud itu eksis baik dalam ibadah dan muamalah. saya juga setuju dengan konsep TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA !!! dan bukan TOLERANSI AGAMA !!!!!!! Wacana yang dikembangkan JIL bukanlah wacana baru. selalu ada orang yang membongkar “Kotak Pandora” pemikiran dan melabelkannya dengan Liberalisme. Banyak manusia yang tidak puas dengan Qur’an, padahal sedikit sekali yang dilarang oleh nya, namun kemudian berusaha mengakal-akali perintah ALlah.

Posted by Heru Prihatmoko  on  07/04  at  05:08 PM

Entah saya yang kurang banyak membaca atau penulis kurang teliti. Namun, membaca tulisan Sdr. Luthfi ini saya jadi bertanya-tanya. Kenapa? Karena saya tidak menemukan tulisan “Diabolisma Intelektual"-nya Dr. Syamsuddin Arief mendiskreditkan tokoh-tokoh yang disebutkan oleh sdr. Lutfhi, apalagi menyamakan mereka dengan Iblis.

Saya menilai bahwa tulisan Dr. Syamsuddin Arief adalah tulisan yang bersifat nasehat-menasehati agar umat Muslim tidak terjerumus ke dalam perangkap musuh Islam sejati, yaitu syaithan / iblis. Beliau hanya menggambarkan secara umum karakteristik yang patut dihindari tersebut.

Untuk itu, saya berharap agar Sdr. Lutfhi lebih teliti sebelum menganggap bahwa Dr. Syamsuddin Arief menyamakan Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Juga Suhrawardi dan Hamzah Fansuri.

Posted by Kinanti K.  on  07/03  at  01:08 PM

Masalah demonisasi, pada saat-saat sekarang, terlihat sebagai sesuatu yang menjadi trend. Banyak perbedaan-perbedaan yang muncul yang kurang diantisipasi sehingga karena kurang mendapat respon menimbulkan perasaan tersendiri bagi yang merasa berbeda. Hal yang wajar, setiap orang memiliki perbedaan. Dan itu terjadi di semua elemen, lapisan orang, tidak terfocus pada salah satu agama saja. Demonisasi muncul lebih banyak karena kurang wacana yang lebih terbuka, memahami suatu permasalahn secara terkotak-kotak,dll seperti diutarakan dari beberapa tanggapan sebelumnya. Apabila ada seseorang mampu menerima suatu perbedaan, suatu pandangan baru, dan terbuka terhadap pandangan-pandangan baru dan mengangap hal aneh diluar dirinya sebagai suatu tantangan yang harus dijalani, insa Alloh permasalahan demonisasi bisa kita selesaikan.

Posted by Fharydha  on  06/30  at  06:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq