Deprivatisasi dan Debirokratisasi Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
16/04/2004

Deprivatisasi dan Debirokratisasi Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

PADA mulanya, agama selalu datang dengan wujud perhatian mahatinggi atas segala penderitaan yang mendera umat manusia. Ia senantiasa hadir sebagai respons terutama terhadap segala kesengsaraan hidup. Agama adalah anak kandung paling sah dari penderitaan. Kiranya tidak ada agama yang datang sebagai ekspresi kesenangan dan kenikmatan yang tumpah ruah. Bahkan, agama--terutama agama-agama besar--merupakan gerakan kritik paling telanjang atas upaya penistaan manusia.

Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia, 16 April 2004

PADA mulanya, agama selalu datang dengan wujud perhatian mahatinggi atas segala penderitaan yang mendera umat manusia. Ia senantiasa hadir sebagai respons terutama terhadap segala kesengsaraan hidup. Agama adalah anak kandung paling sah dari penderitaan. Kiranya tidak ada agama yang datang sebagai ekspresi kesenangan dan kenikmatan yang tumpah ruah. Bahkan, agama--terutama agama-agama besar--merupakan gerakan kritik paling telanjang atas upaya penistaan manusia.

Tercatatlah dalam sejarah sejumlah pendiri agama yang justru datang dari kalangan masyarakat yang lama terperas dan tertindas. Orang-orang seperti Musa, Isa, dan Muhammad telah dikenal begitu luas sebagai tonggak utama dari gerakan pembelaan terhadap kelas-kelas masyarakat yang tertindas, suku-suku yang terhina, dan kelompok-kelompok yang semakin terdesak ke pinggir. Mereka bukan hanya mengorbankan harta benda, lebih dari itu nyaris kehilangan nyawa.

Dalam konteks penderitaan umat manusia, agama kemudian menyuguhkan ajaran cinta-kasih sebagai fondasi untuk melawan kegetiran dan penderitaan hidup dimaksud. Di dalam Kristen, cinta kasih telah menjadi daging dalam diri Kristus. Ajaran dan dogma cinta kasih yang menyebar di setiap agama merupakan simpati untuk membebaskan mereka yang tertindas.

Pembebasan adalah tanah air dari seluruh agama. Agama menjadi identik dengan kerja advokasi untuk lapis manusia yang berada di level paling bawah. Oleh karena itu, tepatlah ketika suatu hadits kudsi (yang intinya) menyatakan bahwa jangan kejar Tuhan ke atas langit, tapi kejarlah Ia di kolong bumi; Tuhan selalu bersama mereka yang kelaparan. Hadits ini secara terang benderang hendak menegaskan bahwa agama bukanlah sebuah nebula di langit yang terpisah dari kehidupan bumi, melainkan air yang menjadi roh kehidupan bumi. Agama bukan hanya memuat resep keselamatan akhirati, melainkan juga keselamatan duniawi. Bahkan, perhatian utama agama sesungguhnya lebih pada tegaknya keadilan dan kesejahteraan dunia baru kemudian disusul dengan keadilan dan kesejahteraan akhirati.

Itulah penjelasan yang mudah ditemukan ketika kita membaca buku-buku sejarah agama. Akan tetapi, belakangan kita menyaksikan sebuah fenomena ketercerabutan agama dari akar sejarah dan khitah awal kehadirannya. Pertama, agama cenderung menjadi milik pribadi para elite agama. Agama semakin mengelite dan tidak merakyat. Kitab suci yang ada di dalam setiap agama tidak lagi menjadi bacaan hati nurani rakyat, melainkan menjadi bacaan akademis para agamawan. Warga awam tidak memiliki akses langsung terhadap kitab suci. Aturan-aturan teknis gramatikal yang begitu ketat di dalam membaca kitab suci menyebabkan kitab suci itu semakin jauh dari umat awam, tapi sebaliknya semakin lengket dengan agamawan.

Peluang awam untuk membaca kitab suci telah tertutup dengan adanya ketentuan-ketentuan kebahasaan hasil kreasi kaum agamawan itu. Agama plus kitab sucinya, tak pelak lagi, telah sempurna menjadi milik para elite agama. Padahal, Kristen pada era Yesus, Islam pada era Muhammad adalah agama yang sangat merakyat, dan jauh dari kesan elitis dan necis. Agama mengalami deprivatisasi justru pada era awal formatifnya. Muhammad dan Yesus tidak pernah bersabda bahwa agama Islam dan Kristen adalah properti pribadi mereka, melainkan milik seluruh warga agama.

Kedua, fenomena birokratisasi agama terasa semakin mengganggu setiap umat beragama untuk berkreasi dan berinovasi. Agama terlampau birokratis dan menjadi sangat njelimet. Padahal, Islam pada masa yang awal adalah agama yang sangat praktis.

***

Ketiga, ritus peribadatan, upacara-upacara keagamaan spektakuler telah mengaburkan konsep ajaran paling konkret dalam agama, membantu mereka yang papa. Kita dapat menyaksikan fenomena Idul Fitri, Natal, Paskah, dan perayaan-perayaan lain yang kian spektakuler tapi kerontang makna. Di sini keselamatan telah dibelokkan hanya kepada keselamatan akhirati. Sehingga penderitaan hidup di dunia tidaklah mengapa karena sudah digantikan dengan keselamatan akhirat yang abstrak bahkan terlampau semu itu. Coba perhatikan para pendakwah agama yang kebanyakan hanya fasih berbicara tentang janji-janji kesenangan eskatologis, tapi tidak mencoba untuk memberikan solusi bagi kesenangan duniawi. Puak yang termiskinkan hanya diminta untuk bersabar karena Tuhan akan memberikan kebahagiaan di akhirat sebagai balasan atas penderitaannya di dunia.

Keempat, agama selalu diidentikkan dengan kitab suci yang harus dipedomani dalam keseharian pemeluknya. Di luar teks suci tidak ada sentrum. Tidak diandaikan ada ajaran di luar teks agama. Agama lalu terbelenggu dalam teks, dan belum bisa keluar dari jeruji itu. Agama diposisikan sebagai cetak biru yang kukuh dalam bangunan teks yang menjulang, sehingga tidak dibenarkan seorang pun bekerja di luar bingkai itu.

Padahal, sebagai contoh kasus, Islam pada zaman Nabi Muhammad sama sekali bukanlah agama yang senantiasa sibuk memperbincangkan tentang teks. Karena yang penting dalam Islam bukanlah teks, tapi perhatian dan keseriusan dalam membela mereka yang tertindas dan telantar. Lihatlah bahwa betapa persoalan teks tidak menjadi diskursus yang dominan dalam perbincangan Muhammad bersama para sahabatnya.

Kelima, tendensi ke arah hukum yang legal-formalistik tampak makin menguat di lingkungan umat Islam. Islam menjadi rangkaian aturan hukum yang dikawal oleh sejumlah ortodoksi yang formalistik. Kecenderungan sebagian umat Islam yang sangat bernafsu melakukan formalisasi syariat Islam adalah salah satu indikatornya. Syariat Islam yang ditampilkannya pun berupa syariat-syariat yang privat.

Islam seakan hanya memuat ajaran-ajaran hukum yang kaku. Islam kerap ditampilkan oleh para penganutnya sebagai diktator yang keji, yang memerintah untuk menghancurkan orang lain. Seakan tidak ada kerangka etika-moral yang menjadi payung utama dari seluruh gerak perjuangan Islam. Perhatian Islam terhadap penegakan keadilan, lingkungan hidup, dan lain-lain hapus dalam buku-buku panduan syariat Islam.

Dengan beberapa pertimbangan di atas, maka [1] selayaknyalah setiap umat bahu-membahu mengembalikan agama pada semangat awalnya sebagai agama yang memiliki concern utama pada ajaran penebaran kasih pada seluruh umat manusia. [2] Agama tidak boleh hanya disederhanakan menjadi perkara teks semata, sebab teks dalam agama sesungguhnya sekunder yang berfungsi sebagai pelengkap atas kerja-kerja kemanusiaan yang diusungnya. [3] Begitu juga, agama kini harus segera diselamatkan dari formalisme dan birokratisme yang telah lama mengungkungnya. Agama mengandung dogma dan ajaran keselamatan yang sama sekali jauh dari kesan birokratis. [4] Agama tidak boleh tersandera di tangan para padri. Agama tidak bisa dibiarkan terjatuh hanya menjadi milik pribadi para agamawan. Oleh karena itu, maka lakukanlah deprivatisasi dan birokratisasi agama.***

Abd Moqsith Ghazali, Mahasiswa Program S-3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16/04/2004 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq