Di Louvre Saya Terpana - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
19/06/2005

Di Louvre Saya Terpana

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Berada di sana, saya seperti tepat dalam babak sejarah yang sambung-menyambung sejak zaman Babilon (di Louvre juga dipajang patung Hammurabi dengan Codex Hammurabi-nya), hingga zaman modern. Di dalam musium itu, waktu persis seperti digambarkan lagu “Bengawan Solo”: air mengalir sampai jauh. Sejarah menjadi aliran waktu yang menjangkau kawasan-kawasan terjauh. Kita yang duduk di abad XXI, satu dengan kesadaran historis masa lalu yang panjang.

Minggu kemarin (12/6), saya tiba di Paris: kota tumpah darah pencerahan yang membuat Rifaah Tahtawi takjub dan menginspirasi Muhammad Abduh untuk melontarkan kalimat terkenal itu, “Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam; Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Saya menginap tidak jauh dari salah satu ”square” masyhur di Paris, Place de la Concorde, melalui jalan besar Avenue des Champs Elysee, bersambung ke gerbang yang menjadi salah satu “landmark” kota “asmara” itu, Arc de Triomphe Etoile.

Saya langsung jalan kaki ke taman kota. Pagi itu mungkin terindah sepanjang musim semi: cerah, matahari berkilau-kilau, tapi temperatur tak tinggi, juga tak terlalu rendah (saya jadi ingat hadis Nabi, “sebaik-baik perkara ada di tengah-tengah"). Ribuan turis bertebaran di situ dari pelbagai suku bangsa. Di pusat Place de la Concorde itulah berdiri tegak obelis atau tugu batu yang menjadi pusat berkumpul para turis.

Saya tak tahu bahwa taman itu berdekatan dengan musium terbesar di dunia, Louvre atau Musee du Louvre. Momen ketika saya sadar kawasan itu dekat Louvre, persis seperti pengalaman sufi tentang ”kasfy” atau penyingkapan. Saya langsung jalan kaki menuju musium dengan semangat menyala-nyala. Luas kawasan musium mungkin sama dengan lima desa Jawa “diikat” jadi satu “ombyokan”. Arsitektur gedungnya antik, dengan gaya Gotik yang melambangkan “grandeur” yang menjadi ciri khas kekaisaran Perancis selama berabad-abad.

Louvre sungguh menakjubkan, karena koleksinya kaya-raya. Mungkin butuh waktu sebulan untuk mengeksplorasi seluruh isinya. Inilah musium terbesar di dunia dengan koleksi yang melimpah. Begitu masuk, kita akan bertemu piramid kaca, “Piramid Pei”. Di ruang lobby yang luas, saya bingung harus masuk bagian mana. Terlalu banyak pilihan menarik untuk ditonton.

Sejak lama, saya memang ingin melihat lukisan-lukisan dari masa klasik dan romantik. Saya ingin melihat langsung karya-karya seniman besar seperti Michaelangelo, Leonardo da Vinci, Jacques-Luis David, Francois Gerard, Eugene Delacroix, Theodore Gericault, dan Jean-Auguste-Dominique Ingre yang salah satu lukisannya “The Turkish Bath” pernah diulas Fatima Mernissi dalam bukunya, Shecherazade Goes West.

Selama tiga jam, saya berkeliling di bagian yang memajang lukisan-lukisan klasik. Saya takjub terkagum-kagum di hadapan lukisan besar Jacques-Luis David yang berukuran raksasa, 6.21 x 9.79 m, dan berjudul panjang: The Consecration of Emperor Napoleon and the Coronation of Empress Josephine in the Cathedral of Notre Dame, Paris, 2nd December 1804.

David hidup di zaman sebelum kamera modern yang bisa menangkap suatu obyek dengan detil ditemukan. Tapi pelukis-pelukis besar zaman klasik mencoba memotret dunia secara detil, dengan anatomi serta permainan warna yang mengagumkan. Saya kira, lukisan berbeda dengan fotografi karena ia memotret dunia dengan interpretasi. Jika fotografi hanyalah fotokopi, lukisan adalah “penciptaan kembali” dunia dengan tafsiran yang kreatif. David butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan lukisan itu.

Sejak membaca Mernissi yang saya sebut di atas, saya selalu bermimpi dapat melihat langsung lukisan-lukisan Jean-Auguste-Domonique Ingres (1780-1867). Seniman besar Perancis ini terkenal dengan lukisan-lukisan tentang perempuan-perempuan mandi, “The Bathers”. Mernissi pernah mengulas salah satu lukisan Ingres, yaitu “Mandi Turki” atau “Turkis Bath”. Puluhan harem telanjang berbadan montok dan eksotis, ia lukis untuk menggambarkan kehidupan harem di istana raja-raja Turki. Lukisan Ingres itulah salah satu bentuk ketakjuban Barat atas Timur yang “eksotis”, sebagaimana pernah diulas Edward Said dalam Orientalism.

Kritik Mernissi atas Ingres adalah: seluruh perempuan di lukisannya, ia gambarkan sebagai obyek yang pasif dan menyerah, sementara lukisan-lukisan Persia atau literatur Timur justru menggambarkan mereka begitu “powerful” dan karena itu ditakuti raja-raja. Mernissi melihat sejenis “domestifikasi” atau penaklukan “timur” oleh “pandangan barat”.

Saat berkeliling di ruang yang memajang lukisan-lukisan Italia zaman pencerahan, saya tiba-tiba melihat puluhan orang berkerumun di sebuah lukisan. Ternyata, di sanalah terdapat lukisan paling masyhur Leonardo Da Vinci, “Senyum Monalisa” atau “Potret Lisa Gherardini”. Lukisan itu sengaja diletak di tempat terpisah, terlindungi kaca tebal disertai sabuk pembatas seperti yang digunakan bank untuk mengatur antri nasabah. Para pengunjung berkerumun di hadapan lukisan itu seperti menghadap sebuah obyek yang suci.

Setelah tiga jam berkeliling, saya tak punya daya lagi, walau masih ingin melihat bagian-bagian lain. Melihat “barang cantik” dalam jumlah banyak dan berkelebihan, kadang dapat menghilangkan pesona barang-barang itu. Kecantikan, kadang perlu dinikmati secara “cicilan”, a drop by drop. Barangkali, karena itulah wahyu “diturunkan” ke Nabi Muhammad secara dicicil. Wahyu yang datang “menggelontor” secara “grosiran”, sudah pasti akan membuatnya kehilangan daya tarik dan daya pikat.

Saya masih menyimpan tenaga untuk jalan-jalan ke musium lain yang memajang karya-karya modern, yaitu Pompidou Center. Konon, di sanalah karya-karya Matisse, Picasso, Kandinsky, Mondrian, Salvador Dali, Magritte, Chagall, dll. dipajang.

Saya kira, Louvre dan Pompidou Center telah memperlihatkan bahwa peradaban Barat memang raksasa. Bagi orang-orang Islam fundamentalis, karya-karya itu mungkin hanya “barang najis” yang diharamkan, sehingga tak layak dikoleksi. Tapi bagi saya, lukisan itu mencerminkan tahap-tahap kehidupan rohaniah yang terus berkembang di Barat. Berdiri di hadapan lukisan Louis David, Anda tak bisa lain kecuali mengagumi suatu “jenius” yang dahsyat.

Berada di sana, saya seperti tepat dalam babak sejarah yang sambung-menyambung sejak zaman Babilon (di Louvre juga dipajang patung Hammurabi dengan Codex Hammurabi-nya), hingga zaman modern. Di dalam musium itu, waktu persis seperti digambarkan lagu “Bengawan Solo”: air mengalir sampai jauh. Sejarah menjadi aliran waktu yang menjangkau kawasan-kawasan terjauh. Kita yang duduk di abad XXI, satu dengan kesadaran historis masa lalu yang panjang.

Soal historisitas inilah yang hilang dari kesadaran kaum muslim modern. Dalam kesadaran muslim modern, waktu ibarat mal-mal Jakarta yang diciptakan kemarin sore: gemerlap, penuh kontras, tapi miskin kedalaman. Mal-mal bisa memberi ilustrasi yang baik tentang struktur kesadaran orang-orang Islam fundamentalis abad XXI. Dalam kesadaran itu, “jenius-jenius” besar seperti Ibn Khaldun, Ibn Rushd, Ibn Bajjah, Ibn Thufail dan Abu Bakr al-Razi, begitu saja dilupa dan dihancurkan, persis seperti bangunan-bangunan kuno yang diroboh untuk mengalah pada mall-mall modern.

Kaum fundamentalis memang berambisi untuk menjangkau masa antik di zaman Nabi lewat jargon “kembali kepada Alquran dan Sunnah”. Tapi yang sebetulnya terjadi adalah penghancuran kesadaran historis itu sendiri. Karena itu, umat Islam perlu membangun “colosseum” dan “Louvre"-nya sendiri, demi mengingat kembali sejarah intelektual Islam yang raksasa sepanjang 14 abad. []

Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal

19/06/2005 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

kenapa harus peninggalan barat? kenapa tidak dilihat peninggalan islam sendiri? mereka selalu membandingkan hal-hal tersebut. tapi tidak pernah mengerti perkataan mereka sendiri. sering kali orang “islam indonesia” memberi pernyataan seperti ini, mereka orang barat mengambil dari islam. ok kalau itu memang benar terus kenapa? kenapa orang-orang seperti ini tidak pernah berkaca? orang barat mengambil inti sarinya terus bisa mengembangkannya. sedangkan orang “islam indonesia” hanya bisa menjerit-jerit, mencatatnya, tapi tidak bisa mengembangkannya. kenapa tidak kita mengagumi keindahan barat, apa karena barat itu kafir? berkacalah sebelum berkomentar banyak membacalah sebelum menganggap diri itu hebat. wassalam

Posted by Indonesia  on  06/30  at  09:30 AM

assalamualaikum Saya adalah pengagum ide ide dari jaman pencerahan eropa dan peradaban budayanya . Saya sangat mengagumi karya karya lukisan J.L. DAVID yang sangat artistik serta sangat orisinil dengan ide-ide penciptaan yang terinspirasi dari pergolakan sosial politik semasa revolusi prancis dan era kekaisaran napoleon. Pelukis idealis yang wafat di pembuangannya di Belgia akibat sikap politiknya yg. menentang restorasi dinasti bourbon 1814, sangat perlu ditiru sikap batinnya yg tetap teguh menentang feodalisme dan monarkisme yg menghisap bangsa Prancis. Saya sangat berterimakasih kepada JIL bila bersedia membagi buku ttg. J.L. DAVID dan karya2- nya, karena tidak ada toko buku yg menjual buku tsb dan LIP jogja tidak menyediakan buku lengkap ttg JL. David. Wassalamualaikum.
-----

Posted by andi cahyadi yunianto  on  05/12  at  02:05 AM

Assalamualaikum

Orang bijak karena belajar dari sejarah sejarah kemanusiaan di muka bumi.

Banyak orang Islam telah melihat bermacam meseum sejarah mereka segan mengemukakan pendapatnya, kecuali Ulil memperluas cakrawala kehidupan obyektif pada kita semua membawa oleh-oleh bagi kita yang masih hidup di bawah batok.

Seharusnya Indonesia banyak orang berpikiran seperti Ulil sehingga kita bisa hidup berdampingan, dengan demikian energi kita gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan ujung-ujungnya tentunya membantu pemerintahan SBY-Kalla.

kami sudah bosan perang kami bosan demonstrasi kami bosan melihat manusia Indonesia terhempit kemiskinan kami bosan berteriak kemiskinan akibat tidak ber"KB"

Kami perlukan banyak Ulil-Ulil.

Posted by H. Bebey  on  07/03  at  10:07 PM

Aslm!

Bang ulil,napa hrs louvre sih?kn msh bnyk peninggalan islam yg impressive (taj mahal,alhambra,masjid kairouan,bahkan masjidil haram) kan plg ga bang ulil ga usah banding2kan kebudayaan islam vs barat,cukup beri komentar atas peninggalan islam tsb

oya menyangkut nama2 besar (ibn khaldun,ibn rushd,dll) mereka tidak dilupakan lho!memang ironisnya justru mereka lbh dikenal di dunia barat semisal al farabi n al kindi, para kritikus musik barat amat menghargai mereka (krn mereka-lah qta mengenal muwashah n zajal,bentuk format musik yg skrg menjadi musik spanyol-->flamenco,fandango,dll)itu hanya sekadar contoh sj

so kpn qta(umat muslim) lbh mengenal n menghargai hasil kebudayaan islam?

Posted by Devroz  on  06/30  at  06:06 AM

Saya setuju dengan pak Andreas, pak Ulil memang beda, banyak yang “mengharapkan” beliau mengaitkan perjalan ke Paris dengan sebuah Novel karya Dan Brown. Saya senang pak Ulil sama sekali tidak menyinggung masalah Novel tersebut yang menurut saya tidak ada gunanya untuk di bahas. Biarlah kita menjadi manusia yang bijak, tidak menghujat Agama lain hanya berdasarkan sebuah Novel. Agama Islam begitu Indah begitu banyak yang masih harus dipelajari daripada membuka forum diskusi yang tidak sehat.Ada yang berpendapat mengapa harus Paris? kalau pendapat saya mengapa tidak? Islam ada di mana-mana dan kaya akan sejarah.Paris atau Petung why not?

Posted by Seruni  on  06/30  at  12:06 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq