Di Seputar Generik JIL - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
02/10/2005

Di Seputar Generik JIL

Oleh Hamid Basyaib

Tujuan kami hanyalah menawarkan pelbagai kemungkinan lain bagi aneka masalah keagamaan yang oleh banyak orang dianggap telah baku, tuntas, dan karenanya tidak mungkin – selain tak ada manfaatnya – dipersoalkan atau ditinjau ulang. Pada hemat kami, banyak di antara ihwal keagamaan tersebut terbuka untuk direnungkan dan didiskusikan kembali.

Hanya beberapa beberapa bulan sejak berdiri, Maret 2001, Jaringan Islam Liberal (JIL) dikenal sebagai kelompok yang turut menghangatkan perbincangan di seputar masalah-masalah keagamaan di Tanah Air. Tujuan kami mengumumkan pemikiran-pemikiran itu kepada publik – terutama umat Islam, tapi juga khalayak non-muslim, termasuk di mancanegara—bukanlah untuk membuat mereka menganut “paham JIL” atau untuk “men-JIL-kan” seluruh masyarakat muslim. Ambisi semacam ini tentu tak pada tempatnya, selain tak realistis.

Tujuan kami hanyalah menawarkan pelbagai kemungkinan lain bagi aneka masalah keagamaan yang oleh banyak orang dianggap telah baku, tuntas, dan karenanya tidak mungkin – selain tak ada manfaatnya – dipersoalkan atau ditinjau ulang. Pada hemat kami, banyak di antara ihwal keagamaan tersebut terbuka untuk direnungkan dan didiskusikan kembali.

Kami menganggap banyak di antara doktrin-doktrin keagamaan tersebut yang perlu dilihat secara lebih jernih dan tajam; digeledah fakta-fakta sejarahnya, dilacak asal-usul dan argumen-argumen pembentukan/pembakuannya, dicermati maksud-maksud pokoknya yang dapat berbeda dari bunyi teksnya di permukaan, ditimbang relevansinya dengan situasi kekinian.

Ringkasnya: supaya agama, sebagai sumber nilai, berjalan seiring dengan kemanusiaan universal atau bahkan menjadi pedoman yang wajar dalam mengilhami perilaku hidup manusia di banyak bidang, sebagai individu dan anggota masyarakat. Semua itu berlaku untuk aspek-aspek sosial/publik (mu’amalah) agama ini, bukan segi-segi peribadatan dan tata caranya, yang merupakan urusan pribadi masing-masing dan memang bukan pusat perhatian JIL.

Bahwa kemudian ide-ide JIL memunculkan kontroversi, itu kami pandang sebagai risiko inheren, meski kontroversi pastilah bukan tujuan kami. Sangat kami sayangkan bahwa kontroversi itu berkembang menjadi kekerasan atau fitnah.

Kini JIL menjadi sasaran empuk bagi aneka fitnah. Segala ide yang dianggap “nyeleneh” dinisbatkan pada JIL, padahal mungkin JIL sendiri bukan hanya tak pernah berpendapat demikian tapi bahkan tidak setuju dengan ide-ide itu. JIL telah dijadikan nama generik untuk segala ide yang dipandang buruk tentang agama.

Isu terbaru adalah menyangkut sebuah buku berjudul Indahnya Perkawinan Sejenis. Buku ini digosipkan sebagai produk JIL, atau setidak-tidaknya pihak penulis/penerbitnya punya hubungan dengan JIL. Isu ini tidak benar. Meski kami menghormati hak orang lain untuk mengutarakan pendapat mereka tentang hal itu, kami tidak setuju pada isinya yang dicerminkan dari judul sensasional itu.

Kami selalu siap mempertanggungjawabkan ide-ide JIL, dengan keyakinan mendalam bahwa ide-ide itu belum tentu benar. Sikap bertanggung jawab kami pandang sebagai bagian dari martabat dan kehormatan. Kami sendiri tidak akan, dan tak akan pernah, melakukan fitnah terhadap siapapun. Sebab hal itu kami pandang menciderai kehormatan diri, hal yang sangat dipentingkan dalam Islam.

Kami berharap para pelontar fitnah pun kembali ke kejernihan pikiran. Mari kita kembali bertukar pikiran secara wajar dan sehat, sebagai cara kita menyatakan bahwa kita termasuk orang-orang yang rendah hati berhadapan dengan kebenaran mutlak yang merupakan milik Tuhan. Dan perbedaan pendapat tidak harus diakhiri dengan kata sepakat. Semua pihak sah untuk tetap memegang pendapat masing-masing, bahkan setelah semua argumen yang relevan dipaparkan.

Yang penting: semuanya dilakukan dengan wajar, sesuai martabat kita sebagai manusia, dan dilakukan dengan kejujuran maksimum. Semuanya demi mendekati kebenaran yang merupakan hak mutlak Tuhan itu. [Hamid Basyaib]

02/10/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (18)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Menanggapi tulisan sdr. hamid, mengenai hal tersebut saya melihatnya sebagai suatu ilmu/pengetahuan yang juga memiliki hikmah dari semuanya. Saya menaruh hormat pada pemerkarsa dan penggagas JIL yang begitu berani dan konsis membentuk jaringan ini, dimana saya melihatnya sebagai sebuah pembaharuan relegius yang lebih bersifat universal, karena juga didalamnya memenuhi berbagai aspek kehidupan yang kita tidak melihat pada organisasi-organisasi islam lain atau jaringan lain(kalau ada). Telaah pemikiran dan keilmiiahan dalam keilmuan islam yang ada pada segala lini kehidupan memang pembahasannya harus general dan universal, karena disamping harus mengakomodasi akal, juga hati/qalb. selamat untuk JIL bergerak terus dengan gagasan dan ide yang jauh kedepan, agar orang bisa melihat bahwa islam tidak sempit, yang selama ini saya lihat dan hadapi diseputar kita, orang-orang ortodok yang memakai pangkat islam. Kembali pada seputar generik JIL, jadikan fitnah, lontaran hina, atau fitnah setan lainnya sebagai perisai yang, InsyaAllah nantinya menjadi bagian atau barisan kekuatan terhadap gagasan/ide yang dilontarkan JIL dan untuk itulah kasus buku “indahnya perkawinan sejenis” tidak perlu kita mencari asal apinya, tetapi yang kita cari hikmahnya yang nantinya akan dijadikan perisai tersebut. Demikian sedikit tanggapan dari saya, jadikan tanggapan ini sebagai keisengan tangan saya untuk menulis, trims. andi suandi
-----

Posted by andisuandi  on  10/23  at  10:10 PM

Beberapa hari yg alu saya dapat postingan yg isinya ttg informasi bahwa JIL mengeluarkan buku yg saudara sebutkan di atas, alhamdulillah saat ini saya mendapat kejelasan ttg posisi buku itu sebenarnya. hanya tidak mungkin ada asap tanpa ada api maka yg jadi pertanyaan saya sekarang adalah siapakah pengarang buku itu? profilnya? seandainya dia bukan anggota JIL apa latar belakang dia? sehingga dia begitu berani mengklaim ini bagian dari gerakan kawan JIL. keapa JIL tidak langsung mengklarifikasi ini di media dengan mengkonfrontir langsung dg sang pengarang buku itu?seharusnya hal semacam ini bisa jadi santapan empuk media bukan? oya sikap JIL sendiri tentang homoseksual sebetulnya seperti apa? adakah solusi bagi mereka yg berkecenderungan homoseks sehingga memungkinkan orientasi seksual mereka dapat diterima oleh umat? saya yakin kawan JIL punya sikap tentang hal ini karena ini adalah bagian dari hal kontemporer, yg dari sisi fiqh dan pemahaman umat Islam pada umumnya adalah satu harga mati, HARAM, dan pelakunya dihukumi sebagai pelaku maksiat, dan mungkin sampai halal darahnya.tolong pencerahannya…

Posted by rachmat purnama  on  10/14  at  12:11 AM

banyak orang yang terlalu rigit berfikir mengenai islam liberal, tetapi menurut saya pemikiran baru mengenai islam itu penting. jangan kita selalu buta terhadap islam yang katanya kita menganut islam dari kecil tetapi kita tidak menyadari bahwasanya islam kita hanya islam warisan saja. diskusi keislaman sangan perlu dikaji lebih dalam lagi.

Posted by dedi iswanto  on  10/12  at  08:10 AM

Yang perlu segera dihapus dari JIL adalah kesan bahwa JIL memutlakkan pendapatnya, seakan2 hanya JIL yang benar dan FPI itu salah mutlak. Bukankah esensi dari JIL adalah relativitas dari penafsiran agama. Satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, hendaknya JIL juga dapat memberikan inspirasi kepada saudara2 kita yang Kristiani. Ajaran2 Bible juga kiranya memerlukan liberalisasi. Contohnya, akidah bahwa semua orang harus di kristenkan itu kiranya perlu diberikan interpretasi yang lain. Dalam masyarakat yang majemuk ini, menyiarkan agama kepada pemeluk agama lain bukan saja tidak santun, tapi justru dapat menimbulkan konflik di masyarakat.Kami berpendapat bahwa mendakwahkan nilai2 Kristiani dalam masyarakat itu lebih utama daripada membujuk penganut agama lain untuk memeluk Kristen. Kristiani pun kiranya perlu meninggalkan simbol2 dan kembali ke substansi. Alangkah indahnya apabila semua penganut agama dapat membuka diri untuk menerima penafsiran kembali firman Allah yang koheren dengan nilai2 kemanusiaan yang universal. Dapat dijamin tak ada lagi yang keberatan dibukanya tempat ibadah di Indonesia.

Posted by Chandra Halim  on  10/10  at  10:10 PM

Salut atas dukungan yang besar terhadap JIL dari kalangan generasi muda yang mulai membuka cakrawala berfikir melintasi dogma, batasan umum menuju penemuan dan keyakinan beragama. Sangatlah tidak bijak kalo kekaguman dan dukungan yang besar terhadap suatu komunitas termasuk JIL tidak ditanggapi dan disikapi secara serius dan sistimatis sehingga tidak menimbulkan ekses negatif terbentuknya kelompok/sekte baru, atau mungkin sekarang perlu juga dibuat organ risk manajemen di organisasi Islam yang mengendalikan pengkultusan dan pengsektean kelompok yang menimbulkan terpecahnya umat islam, program apa untuk menjawab hal tersebut. Idealnya pencerahan berfikir dan bersikap diikuti dengan pencerahan hati atau niatbaik serta diwujudkan dengan program nyata untuk memberikan solusi terhadap permasalahan khususnya dunia islam, jadi tidak hanya dilatih untuk bersikap kritis tapi harus terlatih bersikap tuntas. semoga jil bisa menjadi pionir dalam hal tersebut. Asep K

Posted by asep k  on  10/10  at  08:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq