Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
30/06/2002

Artikel 4 dari 5 (selesai) Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman

Oleh Redaksi

Berikut adalah lanjutan dialog Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman.

30/06/2002 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamualaikum wr.wb

Ulil, jika memang Al Quran dipengaruhi oleh kultur masyarakat Arab, mengapa Khamr diharamkan oleh Allah dalam Al Quran, padahal masyarakat Arab pada saat itu sangat menyukainya? Mengapa saat ini masyarakat Arab (dan seluruh umat islam di dunia) menaatinya dengan mengatakan kalau khamr itu haram? coba tanyakan ke setiap umat islam hukumnya meminum khamr, pasti jawaban mereka sama, yaitu haram. jadi menurut saya Al Quran lah yang mempengaruhi kultur masyarakat Arab, bahkan seluruh umat islam di dunia.

Wassalam.
-----

Posted by Romi Zamroni  on  10/05  at  04:10 PM

Ass.wr.wb

Bagitu menarik pembahasan tentang Islam, suatu pembuktian waloupun jin an manusia bersekutu untuk menuliskan ilmu dengan hutan jadi pena dan lautan jadi tintanya,maka hal tsb tidak akan tuntas.

Manusia bekewajiban mengabdi kepada Allah dengan contoh Rosulullah sebagai “uswatun hasanah”, halts bisa disederhanakan maupun dipersulit, tergantung sejauh mana ilmu dan pemahaman yang dimiliki.

Yang jelas manusia harus memahami batas-batas haq Tuhan dan makhluqNya, mana haq Tuhan & mana Haq- kewajiban manusia.

Amar ma’ruf nahi munkar bila di aplikasikan dengan cara yang ma’ruf maka akan menjadikan rahmat, bila di aplikasikan dengan cara yang kurang berkenan baik dg kata-kata, prilaku, yang tidak sopan, hal tsb jelas tidak mencirikan “Islam"(selamat).

Yang banyak terjadi atas kalangan umat Islam dalam pemahamannya yaitu, memasuki ruang lingkup haq Tuhan yang bukan semestinya, mengambil alih kekuasaan Tuhan atas berbagai keputusan hukum yang bukan menjadi tugasnya(budak/hamba/pengabdi).

Sehingga makhluq manusia terlihat, kejam, angkuh, kaku, diktator, seolah aturan & hukum adalah miliknya sendiri, sehingga hilanglah sikap bijak, sedangkan sifat bijak adalah tanda kearifan(mengenal), mengenal diri sendiri, mengenal Tuhannya, mengenal seluruh makhluq ciptaannya, mengenal seluruh alam kehidupan Tuhan dengan segala sifatnya, yang mensifati kehidupan termasuk diri kita sendiri.

Pemahaman yang kaku hanya akan membuat Islam kehilangan esensi yang sesunggunnya, yang kelihatan hanyalah kulit kasar yang dan tajam bagai durian.  Sedangkan keagungan,keindahan,kebesaran Tuhan sirna, karena mengadopsi hukum Tuhan bukan dengan intelektual kemulaiaan manusia, tetapi mirip dengan intelktual ‘Iblis”, yang penindas, murka, tirani, sombong,angkuh, dan akhirnya terputus dari rahmat Allah(IBLAS).

Semoga perbedaan pemahaman akan menggiring kepada pemahaman yang maslahat, meskipun sampai akhir jaman manusia tidak mendapatkan hasilnya, tetapi penghargaan tertinggi hanya akan diberikan Allah bagi yang selalu menngunakan akal fikiran(tafakur) dengan sungguh-sungguh untuk taqorub kepada Allah.

Sebab hanya Allah sendirilah yang akan memutuskan segala perbedan & perselisihan atas ilmunya yang meliputi tujuh lapis langit & bumi, kelak di pengadilan di yaumil akhir. 

Sedang manusia yang bodoh, hina & rendah, tidak layak(pantas) membuat keputusan hukum, diluar batas kemampuan & pengetahuannya, yang menjadi haq mutlaq dari pada Allah.

Sampaikanlah waloupun satu ayat, dengan niyat yang ikhlas ,prilaku yang luhur, dan tutur kata yang sopan, itulah ciri Islam(selamat) Rahmatilil’alamin.

Ikhlas menerima segala perbedaan, jembar(luas)ilmu dalam pemahaman, adalah ciri orang yang ber iman & taqwa( tawadhu, qona’ah, wara, ikhlas).

Posted by Mulad Hadi Negoro  on  08/03  at  10:08 PM

Pusing adalah pertanda kita punya otak. Eh, benar kan? Ngomong-ngomong, Islam itu apa sih? Bersandar ke Islam itu gimana? Nanti ada definisi-defenisi yang dilontarkan; yang ujung-ujungnya tafsiran baru juga. Nah, bingung lagi, deh saya. Tapi alhamdulillah, saya bingung berarti saya berpikir.

Posted by daru hs  on  01/27  at  08:01 AM

Assalamualaikum.

Pada dasarnya diskusi di atas hanya menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh, dan bukan menjadikan Islam sebagai sandaran untuk berfikir (penentu apakah sesuatu itu baik atau buruk). Saya sarankan kepada Ulil untuk tidak melanjutkan pendapat-pendapatnya, karena pendapat-pendapat tersebut malah membahayakan ummat. Umat jadi makin pusing. Jadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai landasan berfikir.

Wassalam.

Posted by zaenal  on  01/12  at  04:01 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq