Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
30/06/2003

Artikel 1 dari 5 Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman

Oleh Redaksi

Artikel Ulil Abshar-Abdalla (UAA), Koordinator Jaringan Islam Liberal, di harian Kompas 18 November 2002 berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, ternyata berbuntut panjang. Pada awalnya artikel kontroversial tersebut memantik diskusi yang hangat. Akan tetapi, proses diskusi publik yang sehat itu tiba-tiba “dimatikan” oleh adanya fatwa mati yang diputuskan Forum Ulama Umat Islam (Bandung) terhadap Ulil Abshar-Abdalla. Berikut ini salah satu intisari perdebatan yang positif sejak publikasi artikel Ulil Abshar-Abdalla. Perdebatan tersebut melibatkan penulis dengan H.M. Nur Abdurrahman (HMNA), Wakil Ketua Majelis Syura Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam (KPPSI) Sulsel.

30/06/2003 04:37 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Memang saya kalau membaca tulisan tulisan saudara Ulil, saya selalu meletakkan fikiran saya dengan dada yang lapang dan sebolehnya saya ingin menyelami fikirannya. Tapi selalu saya dapati apa yang ia ingin sampaikan terlalu abstrak dari sasarannya. Hingga pembaca boleh terkeliru dengan pendapatnya.

Dalam hal ini saya setuju yang Pak Nur mengatakan bahawa wahyu itu adalah wahyu sementara culture adalah culture. Culture senantiasa berubah dan berkembang mengikut peredaran zaman sementara wahyu tidak. Ia akan tetap begitu hingga ke akhir zaman.

Wassalam Sa’at b Mohamed Singapura

#1. Dikirim oleh Sa'at bin Mohamed  pada  24/07   05:07 AM

Ulil dalam berbagai komentarnya hanya memberikan asumsi yang tidak berbasis pada metodologi yang jelas, terkesan provokatif, dan hanya mengeluarkan sebuah asumsi yang tidak berlandaskan pada episteme yang jelas. Ulil sekadar mengeong, ibarat kucing birahi, bukan mengaum layaknya singa. Ulil! bikin buku dong!

#2. Dikirim oleh m. nasiruddin abbas  pada  14/08   03:08 PM

Bismillahirohmanirohim

Kepada Saudaraku Nasiruddin dan Ulil yang kukasihi

Assalamualaikum wr wb

Waktu saya menulis tanggapan saya yang pertama di artikel ini memang saya mempunyai niat untuk mencabar Bang Ulil supaya mengarang sebuah kitab yang menyeluruh kalau beliau mempunyai niat yang iklas dan mau betul-betul menjadi jagoan Islam liberal yang semata-mata ingin mencari keredaan ALLAH Swt.

Tetapi niat saya itu saya batalkan kerana takut ia keterlaluan. Dan boleh meyenggung perasaan Bang Ulil. Dan lagi saya fikirkan JIL website ini hanyalah ruangan bertukar pendapat sahaja.

Selepas membaca tanggapan Bang Nasiruddin, saya rasa ada kebenarannya yang Bang Ulil sudah sampai masanya memandang dengan serius untuk mengeluarkan sebuah kitab yang menyeluruh yang menyentuh hukum hakam Islam.

Baik dari soal taharah hingga ke siasah. Muamalat hingga ke ibadat dan dari buaian hingga ke liang lahat. Kesemua masalah yang di utarakan siap dengan dalilnya. Bang Ulil boleh sertakan hujahnya dari AlQuran, Al Hadith, Athar atau dari hukum akal.

Supaya hujah itu kelak boleh diperdebatkan dengan lebih ilmiah dan umat Islam boleh menjadikan kitab yang ditulis oleh Bang Ulil itu sebagai forum perdebatan yang dipertanggungjawabkan dan mungkin boleh dijadikan rujukan pada hari hari terkemudian. Sekian terima kaseh

Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore

#3. Dikirim oleh Sa'at bin Mohamed  pada  17/08   09:08 PM

Sebenarnya apa yang dituangkan Ulil tidaklah sesuatu yang baru, karena sebelumnya sudah seabreg pendapat-pendapat yang sama dengan pendapat Ulil. Akan tetapi metode penyampaian, dalam hal ini adalah situasi di mana berbarenagn dengan semaraknya aliran yang muncul di Indonesia yang membuat artikel-artikel Ulil nampaknya mendapat tanggapan yang cukup.

Saya sependapat dengan Ulil, karena saya juga sudah lama menaruh hati dengan kajian-kajian islam yang lebih kondusif, terutama saya diskusikan dengan mahasiswa saya. Cuma mereka kurang kooperatif. Maju terus Ulil! Saya sokong demi kebenaran dan kebebasan berfikir.

#4. Dikirim oleh Mustahdi  pada  15/01   12:01 PM

Nampak sekali kalau pemikiran-pemikiran yang dilontarkan Ulil dan orang-orangnya JIL (saya lebih cendrung menyebutnya Jaringan Iblis Liberal) hanya sekedar perpanjangan dari pemikiran2 para orientalis yang berusaha menghancurkan Islam. Ulil dan kawan-kawannya - sadar atau tidak sadar - telah menjadi penerus perjuangan para orientalis. Dan ini sungguh suatu yang sangat memperihatinkan. Ajaran Islam yang sudah mapan diaduk-aduk, diputar-balikkan, sebagian diambil dan sebagian dibuang, sehingga yang muncul bukan lagi ajaran Islam yang sebenarnya, namun ajarannya Ulil, si pembeo orientalis. Ada apa dengan kamu Ulil. Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu sehingga dengan kesombonganmu berani mengatakan suatu yang telah jelas hukumnya wajib kamu katakan tidak wajib? Apakah dengan cara seperti ini kamu merasa berbuat kebajikan untuk Islam dan umatnya? Sadar dan bertaubatlah wahai Ulil dan kawan2.

Dari yang perihatin, Andi

#5. Dikirim oleh Andi Malarangeng  pada  19/05   02:05 PM

Salam, Terus terang selama ini saya kagum pada Ulil. Saya sendiri berasal dari turunan muslim, dan berada di negeri—yang katanya—amat muslim. Usia saya kini 40 tahun. sejak saya masih muslim saya telah vegetarian, hal yang amat aneh bagi umt muslim yang suka daging bukan?

Dinamika lingkungan—Muslim—sejak beberapa tahun belakangan telah membuat saya mengaku—pada kalangan keluarga dan yang tidak akan membunuhsaya tentu—saya ini bukan lagi muslim dan “tidak beragama”. Mereka lalu menganggap saya kristen, budha dan sebagainya. Padahal telah saya tegaskan saya tidak beragama!

Dalam pencarian Tuhan—entaha apapun namanya—saya terkesan dengan Ulil dan ingin terlibat diskusi dalam milis Islam liberal Saya ingin mendengar—membaca?—dan komentar—kalau orang tidak beragama diperkenankan memberi komentar…

Lama saya mencari alamat Ulil, baru malam ini—kamis 24 Juni 2004 saya menemukan alamat email Ulil. Sayang ketika saya centrang email Ulil, tidak terbuka…

Salam sajalah dahulu, semoga saya bisa bersua dan memberi arti bagi keseimbangan hidup—bumi, isinya dan alam semesta—

#6. Dikirim oleh Yansyah  pada  24/06   07:06 PM

Suatu diskusi yang sangat menarik dan berbobot, bisa menambah wawasan dan kekayaan pemikiran. namun sekali lagi saya mempertanyakan argumen Mas Ulil tentang Sorga (jannah) yang berarti ‘kebun’ suatu hal yang sangat indah dan diharapkan oleh orang Arab yang terbiasa tinggal di gurun tandus.

Saya mendapatkan gambaran tentang Sorga dalam Al-Qur’an ternyata bukan cuma itu :

1. Surat Ar Ra’d (13) Ayat 35 : ..(seperti taman) mengalir sungai-sungai didalamnya, buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula).. Hal yang sama juga ada dalam surat An Nahl (16) Ayat 31, surat Al Hajj (22) Ayat 23 dengan penambahan selain ‘mengalir sungai-sungai’ dengan ..diberi perhiasan dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka dari sutera..

2. Surat Yaasin (36) Ayat 55 s/d 58 : ..bersenang-senang dalam kesibukan (mereka), mereka beserta istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan diatas dipan-dipan, ..memperoleh buah-buahan dan MEMPEROLEH APA YANG MEREKA MINTA’

3. Surat Ash Shaaffaat (37) Ayat 40 s/d 49 : ..mereka memperoleh rejeki yang tertentu, yaitu buah-buahan.., diatas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan, diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir, disisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya..

4. Surat Az Zukhruf (43) Ayat 71 : Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan didalam Sorga itu terdapat SEGALA APA YANG DIINGINI OLEH HATI DAN SEDAP (DIPANDANG MATA.. Ayat 73 : di dalam Sorga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu dan sebahagiannya kamu makan..

5 Surat An Naba’ (78) Ayat 32 s/d 35 : (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman), didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta

6. Surat Al Ghaasyiyah (88) Ayat 11 s/d 16 : tidak kamu dengar didalamnya perkataan yang tidak berguna, ada mata air yang mengalir, tahta-tahta yang ditinggikan, gelas-gelas yang terletak, bantal-bantal yang tersusun, permadani-permadani yang terhampar..

Ternyata gambaran Sorga dalam Al-Qur’an bukan cuma kebun-kebun yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dalam beberapa ayat diatas sengaja saya tulis dengan huruf kapital ‘memperoleh apa yang mereka minta’ dan ‘segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang mata).

Saran buat Mas Ulil, kalau hendak mengutip ayat Al Qur’an sebagai dasar argumennya, kiranya jangan hanya mengambil satu atau dua ayat saja, tampilkanlah seluruh ayat yang terkait, agar kesimpulannya tidak jadi bias dan salah,

Dari sejumlah ayat diatas jelas bahwa gambaran Sorga yang disesuaikan dengan konteks budaya Arab menjadi tidak tepat, bukankah Al Qur’an menyatakan : memperoleh apapun yang diminta, apapun yang diinginkan ???

NB : Saya sudah mengirim tanggapan di website ini terhadap beberapa topik, namun sampai sekarang tidak ada satupun yang dimuat..

Wassalam

#7. Dikirim oleh Arda Chandra  pada  02/10   07:10 AM

sebetulnya saya tidak bermaksud untuk membela ulil atau untuk mengkritiknya.hanya saja ungkapan saudara andi malarangeng bahwa pemikiran ulil adalah iblis,saya pikir terlalu bombastis dan sarkastis.sebagai intelektual yang sangat saya kagumi pemikirannya,seharusnya bung andi tak berkata seperti itu.kita bisa melihat ulil dari sisi yang lebih luas.anggap saja ulil itu sedang dalam proses mencari kebenaran.dan dalam proses itu kalau ada yang salah jangan langsung divonis negatif tapi lihat dulu apa motivasi di balik pemikiran ulil.wajar dalam proses mencari kebenaran , kita tak langsung mendapatkannya dengan mudah dan mulus.tetapi ada saja rintangan dan hambatan.terperosok,jatuh,tercebur,kotor,saya pikir itu wajar dalam proses mencari kebenaran.saya percaya pada suatu saat nantinya bung ulil abshar abdalla menemukan apa yang di carinya.banyak jalan menuju kebenaran sebanyak jumlah hembusan nafas manusia.saya percaya itu.untuk bung ulil,tetap jaga kesantunan anda.saya suka dengan apologi anda terhadap orang yang mengkritik anda.kalau anda yakin dengan kebenaran yang anda pegang ,pertahankan!kalau tidak,tinggalkan.gunakan hati nurani dan intuisi anda sebagai makhluk intelektual yang ‘liberal’.semoga Allah memberkati anda dimana saja anda berada,amin....

#8. Dikirim oleh nurjanah laila  pada  14/05   12:05 AM

Salam Damai, Bang Ulil, sah saja pemikiran anda, bilamana anda dapat menjustifikasi kebenaranya dan anda jangan terlalu obsesi perlu ada “selective social” artinya masyarakat ikut terlibat adanya suatu yang “baru” dan bila pemkiran bisa di terima maka perlu ada wadah dijalur pendidikan, meskipun sekarang banyak universitas mengelaborasi pemikir Islam di belahan dunia menjadi suatu yang baru, segar dan tidak kaku tapi tanpa kehilangan substansi keislamannya,dan tulisn anda harus bernada damai tidak provokatif, rangkain penulisan anda tidak usah “wah” tapi bernada rendah juga tidak menimbulkan persepi tehadap para kaum yang berfikir koservatif sehingga supaya tidak ada stigma terhadap gerakan pembaruan di Indonesia khususnya, terus berjuang agar indonesia menjadi “role model” bagi negara-negara Islam di belahan di dunia.. Salam Damai atas nama Yang Kuasa.

#9. Dikirim oleh ishak angrah  pada  11/06   09:06 AM

acai........acai.........cplesssssssssss
-----

#10. Dikirim oleh Tolol su Tolol  pada  31/05   10:06 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq