Diskursus Islam 2003: Titik Balik Wacana Fundamentalisme - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
12/01/2003

Diskursus Islam 2003: Titik Balik Wacana Fundamentalisme

Oleh Kurniawan Abdullah

Sejak krisis ekonomi hingga pertengahan 2002, wacana fundamentalisme begitu menggigit dan merasuk ke berbagai bidang kehidupan di negeri ini. Islam kembali dimaknai sebagai “cara hidup”, karena itu praktek kehidupan umat yang sebenarnya adalah agenda perbincangan klasik pun kembali mengalami revitalisasi.

Sejak krisis ekonomi hingga pertengahan 2002, wacana fundamentalisme begitu menggigit dan merasuk ke berbagai bidang kehidupan di negeri ini. Islam kembali dimaknai sebagai “cara hidup”, karena itu praktek kehidupan umat yang sebenarnya adalah agenda perbincangan klasik pun kembali mengalami revitalisasi. Sesuatu yang tak terhidarkan dalam proses ini tentu saja adalah menguatnya ortodoksi Islam sebagai produk instan dari rekonstruksi praktek ajaran, ortodoksi adalah satu-satunya solusi yang diagnostik terhadap krisis. Krisis dalam konteks ini dimaknai sebagai peringatan Tuhan atas kelalaian umat dalam menyelenggarakan kehidupan. Terlalu banyak penyimpangan yang telah kita lakukan sehingga kita harus menebusnya dengan krisis multi-dimensional, atau bahkan kehancuran bila kita tidak segera menyadari situasi ini. Inilah esensi pergeseran diskursus Islam pasca krisis, yaitu menguatnya wacana fundamentalisme dalam proses pemaknaan Islam yang dipertukarkan dalam media-media publik.

Penguatan wacana fundamentalisme Islam pasca krisis banyak didukung oleh serentetan peristiwa sosial-politik dan blow up media-media strategis. Pertama, suasana frustrasi massa dan kekecewaan publik terhadap kondisi buruk yang terjadi akibat krisis ekonomi telah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok fundamentalis yang dipandang menjanjikan masa depan baru. Kedua, Momen-momen politik seperti Pemilu 1999, SU MPR dan Amademen UUD 45 semakin meperkuat basis institusionalisasi dan artikulasi diri kelompok-kelompok fundamentalis, baik melalui jalur intra maupun ekstra parlementer. Ketiga, Dalam proses pelembagaan dan peneguhan eksistensi diri ini, kaum fundamentalis banyak diuntungkan oleh ambisi pasar media massa yang memberikan ruang cukup besar bagi sosialisasi aktifitas dan visi mereka, baik melalui pemberitaan maupun acara-acara dialog-dialog yang digelar di berbagai stasiun televisi. Keempat, Jika kita telisik perkembangan wacana keislaman pasca krisis di dunia penerbitan, kita akan temukan begitu banyak edisi terbitan yang berkaitan dengan fundamentalisme Islam. Buku-buku itu tidak hanya berisi penjelasan tentang sosok dan fenomena fundamentalisme, tetapi juga banyak berisi sosialisasi wacana dari kaum fundamentalis sendiri. Kelima, hingga pertengahan tahun 2002, tidak ada political will pemerintah yang secara signifikan benar-benar bertubrukan dengan gerakan kaum fundamentalis.

Penguatan wacana fundamentalisme tentu saja mendatangkan perubahan paras dunia sosial ummat Islam, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Kita bisa melihat bagaimana identitas keislaman yang semula hanya ada pada lapis dalam mobilitas ummat, secara perlahan mulai naik ke permukaan. Kepentingan Islam yang sekian lama terpinggirkan telah dijadikan sebagai simbol utama perjuangan. Islam --yang tidak lagi berada di bawah bayang-bayang ideologi Pancasila-- telah menjadi asas bagi sebagian ormas dan parpol, sehingga ia kembali menjadi wacana kehidupan sosial-politik masyarakat. Satu hal lagi, beberapa organisasi dan kelompok eksklusif yang semula merupakan gerakan bawah tanah di negeri ini, telah dengan leluasa mengekspresikan paham, mengembangkan diri dan berinteraksi dengan elemen-elemen bangsa lainnya.

Perubahan ini mencerminkan perubahan sikap dan kesadaran keagamaan yang semula menekankan aspek ritual (yang cenderung privat) menjadi orientasi keagamaan yang bersifat sosial dan politik (publik). Walhasil, persoalan keagamaan tidak lagi didefinisikan dalam kerangka personal troubles yang bertalian dengan masalah moralitas dan etika masyarakat, tetapi lebih dalam kerangka public issues dari sebuah tatanan yang berpemerintahan (polity). Persoalannya kemudian, cara pandang baru ini dibawa oleh kelompok-kelompok yang pada dasarnya mengusung visi politik dan ideologi yang ‘anti-demokrasi’.

Titik Balik Wacana Fundamentalisme

Grafik perkembangan wacana fundamentalisme yang terus dipompa oleh sentimen positif hingga pertengahan 2002 tidak berarti bebas dari fluktuasi. Derivasi wacana fundamentalisme menjadi kelompok dan gerakan sosial dalam kenyataannya telah membuat banyak pihak menjadi gerah. Kita bisa melihat bagaimana sepak terjang Laskar Jihad dalam merespon fenomena sosial di Maluku atau arogansi FPI dalam memberantas tempat-tempat maksiat, keduanya berakhir dengan pembubaran dan pembekuan organisasi. Terlebih, diskursus terorisme yang dibawa oleh tragedi bom Bali 12 oktober 2002 lalu, telah mendatangkan sentimen negatif bahkan proses pembuktian hukum atas keterlibatan kelompok-kelompok fundamentalis. Dalam pandangan penulis, dua gejala yang muncul setelah paruh kedua tahun 2002 ini tidak hanya menjadi titik fluktuatif, lebih dari itu, keduanya menandakan titik balik grafik perkembangan positif wacana fundamentalisme Islam di tanah air. 

Proses pembuktian keterlibatan kaum fundamentalis dalam tragedi bom Bali tidak hanya mendatangkan stigma negatif bagi kelangsungan pelembagaan fundamentalisme Islam yang sudah kian membaik sejak masa krisis. Sudah pasti proses ini juga dibarengi dengan penyingkapan-penyingkapan atas sifat dasar fundamentalisme yang intoleran, ortodoks dan anti-demokrasi. Walhasil, fundamentalisme semakin terwacanakan sebagai ekspresi keberagamaan yang patologis. Simpati dan dukungan publik dengan demikian akan terus melorot, di samping akibat menurunnya empati karena buruknya citra, simpati dan dukungan terhadap mereka sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh situasi frustasi massa ketimbang hasil mobilisasi dukungan yang sesungguhnya.

Proses penurunan kaum fundamentalis dari pentas publik --untuk dikembalikan ke bentuk asalnya sebagai gerakan ‘bawah tanah’-- tidak hanya terkait dengan hilangnya simpati publik, political will pemerintah yang semakin mempersempit ruang gerak mereka, atau pencampakkan oleh media karena dianggap tidak lagi memiliki isu-isu positif yang bisa dijual. Proses ini juga terkait erat dengan produksi pengetahuan di kalangan kaum fundamentalis sendiri yang repetitif terhadap ortodoksi Islam, tanpa kreasi dan inovasi yang substansial. Kenyataan ini semakin dirasakan oleh publik Islam tatkala berinteraksi dengan mereka; bahwa “kaum fundamentalis lebih mengedepankan ideology ketimbang discourse ketika berdialog”. 

Dengan merujuk kepada Tim Dant (1991), diskursus bisa kita sebut sebagai proses produksi pengetahuan yang melibatkan persetujuan, ketidaksepakatan, debat dan negosiasi antar kelompok tentang sesuatu yang dianggap sebagai ‘kebenaran’ (truth). Pertukaran pertimbangan dan negosiasi klaim tentang kebenaran ini tidak lagi hanya berkutat pada praktek sosial normatif dari pengetahuan tentang sesuatu, ia lebih relativis, tidak banyak mengandung reduksi dan tidak suka menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi. Diskursus tidak hanya sekedar mempertukarkan makna, tetapi juga subyektifitas masing-masing pihak tentang sesuatu (yang diperbincangkan) berdasarkan konteks yang melingkupi kehidupan mereka.

Dalam konteks penjelasan di atas, maka diskursus Islam bisa kita lihat sebagai proses bagaimana kelompok-kelompok Islam saling berdialog, menulis, berargumentasi dan mengkomunikasikan klaim mereka tentang pemaknaan Islam yang benar. Diskursus Islam 2003 tampaknya akan kehilangan salah satu subyek penting yang selama lima tahun terakhir ini telah menjadi sparing partner bagi tutur Islam liberalis, substansialis, dan tutur-tutur (wacana) Islam lainnya. []

12/01/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq