Diskusi Bulanan: “Kisah Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci” - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
19/10/2010

Diskusi Bulanan: “Kisah Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci”

Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL)
Tema: Kisah Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci
Narasumber: Ioanes Rakhmat & Hamid Basyaib
Moderator: Saidiman Ahmad
Jumat, 29 Oktober 2010. Pukul 19.00 WIB di Teater Utan Kayu, Jakarta.

19/10/2010 17:57 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

ass

maaf,,bagaimana cara untuk bergabung menjadi a nggota JIL yah…

Mahasiswa STIT AL_AMIN Pondok Aren

#1. Dikirim oleh irmawan  pada  19/10   08:58 PM

Kisah ibrohim dan sahabat kahfi (yang keduanya dicuplik dari Al quran <<selain alquran namanya bukan ibrohim ataupun kahfi>>)adalah kisah nyata yang tidak bisa dicerna/dilogika secara akal oleh daya pikir manusia. Karena memang mutlak kehendak Alloh SWT. Sebelum berpikir kearah tersebut, alangkah baiknya kalau fikirkan dulu apa yang ada pada diri kita yang juga tidak bisa dipikir akal juga. Contoh tentang Nyawa kita, materi apakah nyawa itu, kenapa ndak bisa diganti aja nyawa manusia yang sudah tiada diraga dengan nyawa hewan, atau metode apa yang dipakai untuk mentransfer nyawa itu?semisal seperti mengganti baterai pada mainan robot.

#2. Dikirim oleh Nur  pada  20/10   12:39 AM

Bahwa apa yang disampaikan di kitab-kitab merupakan gambaran kita sebagai manusia yang wajib memaknai apa yang telah ditulis dalam kitab. Ibaratnya, kita memasuki sebuah ruangan yang terkunci itu kita menganggap ruangan itu kosong belaka. Lain halnya jika kita memegang kunci ruangan itu, kita akan mengerti apa yang ada dalam ruangan itu.\

Inti dari pembicaraan ini, kita harus memiliki kunci ruangan itu. Kesimpulannya, kisah-kisah itu adalah “tidak nyata tetapi ada maknanya.”

#3. Dikirim oleh Orang Pintar Minum Tolak ANgin  pada  21/10   12:44 PM

Untuk no #3. apa itu artinya nyawa yang ada pada kita juga tidak nyata karena kita ndak pernah menyaksikan nyawa kita sendiri,atau mungkin anda bilang Alquran itu bohong??????cepat istighfar.

#4. Dikirim oleh Nur  pada  21/10   08:23 PM

ass bung......kalau bikin diskusi yang mutu dikit kenapa sih??? biar tidak ngabiskan umur kita? permasalahan ini anak SD gak kesulitan jawab, tergantung kamu sendiri., apakah kamu masih beriman kepada Allah dan Alqur’an atau tidak? kalau masih beriman pasti meyakini kebenarannya, kalau sudah tidak beriman ya gak bakal yakin. ذلك الكتاب لا ريب فيه

#5. Dikirim oleh taha  pada  22/10   01:51 AM

kisah dalam AlQur’an adalah Nyata (Non Fiktif) buktinya pada peninggalan sejarah berupa benda benda artefak seperti Ka’bah, hajar aswad, Piramid, makam Ibrohim dan lain lain. Cara memaknai Al Qur’an tidak boleh dengan ra’yu, karena resiko tersesat sangat besar kalau tak terjaga dari hawa nafsu. Mereduksi Al Qur’an menjadi hanya sekedar kisah fiktif sangat berbahaya, misalnya dapat mengakibatkan sikap peremehan terhadap berita berita sejarah, seperti perbedaan antara kwitansi fiktif dan kwitansi asli. Orang kafir sudah sejak mula sudah menganggap Alqur’an hanya dongeng masa lalu. Dapatkah Al Qur’an disejajarkan dengan kisah penyihir hary poter?Kisah ashabul kahfi jika ditafsirkan sesuai ilmu fisika kuantum, orang tidur 360 tahun adalah masuk akal, karena mereka bagaikan menembus dimensi waktu setelah melewati kecepatan cahaya karena kehendak Alloh SWT. Bagi Alloh yang jaiz tak ada yang sulit, tinggal berkata Kun maka Fayakun, jadi maka jadilah. Jadi jangan memasukkan Tuhan kedalam batasan logika manusia, dapat mengakibatkan tuhan tak memiliki sifat mukhalafatulilhawadist, tuhan hanya sebatas fikiran manusia.berhentilah (tawakuf) apabila akal kita tak mampu menjangkaunya. Mulailah bersifat tawadhu. Semoga Alloh masih memaafkan kita. Maha suci Alloh dari segala pensifatan manusia lemah.

#6. Dikirim oleh tasibtasib  pada  22/10   07:15 AM

Assm, maaf sebelumnya.. saya sedikit berpendapat bahwa materi-materi diskusi yang ditawarkan JIL sangat tidak bermutu karena jawabannya orang awam pun tahu bahwa semuanya itu hanya omong kosong liberal belaka dan membuang-buang waktu, dari orang-orang yang beriman dan berakhlak rendah meski yang berhak memutuskan kuatnya iman seseorang adalah ALLAh., tapi sebagai orang islam tidak lah pantas mempertanyakan hal-hal berkaitan dengan iman dan aqidah karena hanya menjerumuskan anggota-anggota yang mengaku sok liberal kedalam kemunafikan dan kemusryikan secara perlahan, naudzubillahimindzalik..wahai kawan sadarlah dan bertaubatlah! dan mudah2an saudara sesama islam yang lain tidak ikut hal semacam ini...karena islam adalah islam, tidak ada liberal apalagi islam liberal..  islam adalah satu.

#7. Dikirim oleh Sufi Arqom  pada  22/10   04:30 PM

Yakin atau tidak itu urusan pribadi setiap individu masing2 termasuk caranya dan memahaminya, jadi tidak perlu dikata2in atas dasar pemahaman keimanan pribadi.

Lho memang Nabimu, Tuhanmu dan Isi Kitabmu mengajarkan cara beriman seperti itu ? kalau tidak sependapat sampaikan dengan SEHAT tidak perlu mendikte pemahaman keimanan orang lain.

Lho memang pemahaman keimananmu sudah pasti benar dan bernilai sempurna di mata Tuhan ?
Jangan merasa jadi wakil Tuhan kalau sama2 tidak tau nilai keimanan di mata Tuhan. Jangankan orang lain diri sendiri saja TIDAK TAU.

“AL-QURAN ITU IMAM MATI, YANG MEMBUATNYA HIDUP ITU MANUSIA”

“AJARAN TUHAN (AGAMA) ITU UNTUK MANUSIA, BUKAN MANUSIA UNTUK AJARAN TUHAN (AGAMA)ITU SAMA SAJA MENUHANKAN AGAMA”

#8. Dikirim oleh Firman  pada  22/10   10:40 PM

Adalah sangat penting bagi orang yg mengaku beragama untuk menggunakan akal budi. Dengan akal budi kita bisa membedakan antara yang takhayul dengan yang nyata, yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Jika beriman secara buta akibatnya bisa sesat, keliatannya saja beragama tetapi ternyata bertakhayul.
Bisa saja cerita dalam kitab suci itu fiksi, tinggal bagaimana cara kita menangkap pesan moral dalam fiksi itu. Jadi, dari sebuah kesalahan (fiksi yang kita anggap non-fiksi)kita bisa mengambil hikmah yang berguna bagi kehidupan manusia, seberapapun kecil hikmahnya itu. Alat untuk mengambil hikmah dari sesuatu yang salah itulah gunanya akalbudi.
Jangan kita menjadi bodoh hanya karena kita dipaksa mengakui cerita fiksi adalah cerita nyata, hanya karena cerita ini ada dalam kitab suci. Ingat kitabsuci apapun adalah karya manusia, yang tidak pernah bebas dari kesalahan manusiawi.

#9. Dikirim oleh Toro  pada  23/10   09:54 AM

dzalikal kitabu LA RAIBA fihi .

#10. Dikirim oleh Jamhuri  pada  23/10   08:52 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq