Distopia Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
23/08/2004

Distopia Islam

Oleh Luthfi Assyaukanie

Osama bukanlah sebentuk potret kisah ekstrem tentang bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan nyata. Ia benar-benar sebuah ekspresi tentang bagaimana bentuk pemahaman teks-teks agama yang umumnya diajarkan di sekolah-sekolah Islam sampai saat ini. Taliban pun bukan sekelompok orang yang mengada-ada atau dalam bahasa agama disebut penggemar bid’ah: orang yang menjalankan sesuatu yang tidak punya pijakan dalam Islam.

Saya baru usai menonton Osama, film Afghanistanyang menyabet penghargaan emas dalam festival film di Perancis tahun lalu (2003). Film ini sangat menyentuh dan mengandung pesan amat kuat. Dengan setting Afghanistan pada masa pemerintahan Taliban yang singkat, Osama bercerita tentang sulitnya hidup yang dijalankan kaum perempuan di bawah tekanan rezim Taliban yang memerintah atas nama agama.

Osama adalah sebuah kisah nyata tentang seorang gadis mungil yang baru berangkat dewasa. Dengan penuh keterpaksaan, dia berusaha membanting tulang untuk menyambung hidup keluarganya yang semuanya perempuan (ibu dan neneknya). Dia lantas menyamar sebagai anak laki-laki bernama Osama. Di masa itu, kaum perempuan dilarang bekerja.

Osama berhasil mendapat pekerjaan di sebuah warung roti sangat sederhana. Dengan pekerjaan itu, ia pun dapat membawa pulang roti setiap sore untuk ibu dan neneknya yang “terpenjara” di rumah (karena tak punya muhrim untuk keluar rumah). Tapi, pekerjaan tersebut tak lama berlangsung, karena seorang agen Taliban tiba-tiba mengambilnya secara paksa untuk dikirim ke kamp pelatihan para mujahidin.

Di dalam kamp, Osama berusaha menyesuaikan diri menjadi seorang anak laki-laki. Ia berusaha berbaur dengan anak-anak lain, berlari-lari di lapangan, memanjat pohon, dan bersama teman-teman lakinya lain belajar praktek mandi junub; sebuah praktikum wajib yang diberikan langsung oleh seorang mullah di sebuah tempat pemandian umum.

Berawal dari tempat pemandian itulah, jati diri Osama mulai diselidiki. Ia dicurigai teman-teman lakinya sebagai perempuan. Dan benar saja, akhirnya jati diri Osama pun terungkap. Ia lalu dihukum; dikirim ke penjara untuk menunggu keputusan hukum apa yang akan dijatuhkan padanya.

Dalam prosesi pengadilan syariah di sebuah tanah lapang, bersama tertuduh lain yang kebanyakan perempuan, Osama menunggu nasib. Setiap nama yang dipanggil selalu mendapat vonis mati, baik dengan cara ditembak atau dirajam. Osama harap-harap cemas dan takut bukan main menghadapi prosesi itu. Ketika namanya dipanggil, ia pun pasrah.

Beruntung Osama! Hakim syariah yang berwenang memberi vonis hukum kepadanya, tidak mengirimnya ke regu tembak atau lubang rajam. Dengan pertimbangan usia dan statusnya yang yatim, ia dibebaskan. Tapi malang tak dapat ditolak, ia lantas dikawinkan paksa dengan seorang mullah: kakek tua berkepala tujuh yang pernah mengajarnya praktikum mandi junub.

Sebuah Distopia

Osama bukanlah sebentuk potret kisah ekstrem tentang bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan nyata. Ia benar-benar sebuah ekspresi tentang bagaimana bentuk pemahaman teks-teks agama yang umumnya diajarkan di sekolah-sekolah Islam sampai saat ini. Taliban pun bukan sekelompok orang yang mengada-ada atau dalam bahasa agama disebut penggemar bid’ah: orang yang menjalankan sesuatu yang tidak punya pijakan dalam Islam.

Semua yang dilakukan Taliban nyaris merupakan refleksi dari doktrin-doktrin Islam yang sangat gampang ditemukan rujukannya dalam kitab-kitab klasik manapun. Larangan bekerja atau keluar rumah bagi kaum perempuan, dominasi laki-laki yang kelewatan, larangan penyamaran, hukum rajam, otoritas mullah (ulama) yang mutlak, kursus mandi junub, semua dapat dicari pijakannya dalam buku-buku fikih.

Sebagian orang merasa bangga dengan itu semua. Sebab Islam dengan demikian dianggap memiliki aturan amat lengkap tentang setiap lini kehidupan manusia. Dalam ungkapan yang sangat terkenal, Islam selalu dipersepsi sebagai agama sekaligus dunia. Semua hal –baik kecil maupun besar-- telah diatur agama ini; sejak ihwal pengaturan negara, menjalankan hukum, menertibkan masyarakat, mengontrol keluarga, mengatur diri, hingga hal-hal kecil seperti berangkat tidur, bersetubuh dengan isteri, keluar masuk kamar mandi, dan tata cara mandi junub.

Saya kira, orang-orang Taliban telah berusaha amat keras untuk memahami dan mengamalkan apa yang mereka pelajari selama ini. Pada mulanya, mereka ingin membentuk sebuah tatanan masyarakat Islam yang tertib dan teratur; sebuah masyarakat ideal sebagaimana digambarkan buku-buku fikih.

Buku-buku fikih atau karya-karya klasik Islam itu memang memiliki gambaran yang khas tentang bagaimana mestinya sebuah masyarakat Islam dibangun. Tapi sayangnya, sebagian besar persoalan-persoalan fikih yang menyangkut tatanan politik dan kemasyarakatan tak lain pandangan-pandangan teoritis yang belum pernah dilaksanakan secara kongkret dalam sejarah Islam.

Para ulama atau penulis buku-buku fikih tersebut, kebanyakan berangkat dari pengandaian berdasarkan pemahaman mereka tentang kehidupan masyarakat yang ideal. Acuan utama atau bahkan satu-satunya acuan yang menjadi model yang mereka contek adalah model kehidupan Nabi di Madinah yang berlangsung amat singkat. Dapat dikatakan, model yang mereka rujuk tak lain sebuah kehidupan masa-masa awal Islam; sebuah peradaban yang sama sekali belum matang.

Dalam teori politik dijelaskan, gambaran atau angan-angan akan sebuah sistem masyarakat yang ideal disebut “utopia.” Orang-orang Taliban di masa Osama, berusaha menerapkan utopia itu ke dalam kehidupan nyata. Niatnya mungkin baik, tapi sumber-sumber yang mereka pilih tak lagi sesuai dengan sebuah model negara yang benar-benar ideal.

Akibatnya, model negara Islam yang diterapkan Taliban berubah menjadi distopia; yakni semacam tempat dan situasi yang senantiasa hendak dijauhi dan dihindari orang, karena amat buruknya. Distopia dengan demikian merupakan lawan dari utopia yang merupakan gambaran tentang sebuah negara ideal yang tak putus-putus diimpikan manusia.

Kaum Muslim kerap sekali mengandaikan negara Islam atau sistem pemerintahan Islam sebagai sebuah utopia; sebuah model negara yang ideal. Tapi sayang seribu sayang, pada negara-negara yang menerapkan konsep ini, seperti Arab Saudi, Iran, Sudan, dan Pakistan, model negara atau sistem pemerintahan Islam yang mereka klaim, rupanya lebih dekat pada distopia ketimbang utopia.

Luthfi Assyaukanie, Kontributor Jaringan Islam Liberal (JIL).

23/08/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Tema inti tentang negara Islam, sistem politik Islam, atau tatanan politik Islam, yang dicoba disinggung di akhir artikel oleh penulis adalah tema yang bukan “ringan”. Justru sayangnya persoalan “besar” tentang politik Islam ini, diangkat dengan dimulai perkara-perkara remeh dan sepele, sebuah film dan sebuah pengambilan sampel empirik dari sebuah fenomena Taliban. Alih-alih penulis mencoba menggali secara mendalam konsep dibalik kekuasaan politik Islam yang survive hingga belasan abad, mencakup wilayah sangat luas, dan persoalan-persoalan mendasar di balik argumen fikih dan politis tentang Sistem Negara/Pemerintahan Islam ini. Termasuk keberhasilannya dalam menyatukan beragam suku bangsa dalam satu ummat dan kekuasaan. Bila ingin berlaku adil, akan bijak bila penulis mengangkat pula serta membandingkan antara fakta, absurditas konseptual demokrasi beserta bermacam teori derivatnya, termasuk tentang kegagalan sistem politik tersebut dalam membangun kesejahteraan, kegagalan dalam mengatasi perilaku kejahatan-kriminalitas, tentang kebobrokan para elit politik dalam menjalankan pemerintahannya. Apakah hal-hal seperti ini tidak menarik dan perlu untuk penulis lakukan? Kecuali bila memang niat awalnya hanya untuk menyudutkan dan “merendahkan” Islam. Wallahu a’lam.
-----

Posted by Ridlo Riyono  on  05/31  at  07:06 AM

Saya tertatik dengan komentar saudara/i bee, yang menyatakan bahwa perlunya melaksanakan ajaran islam secara “keseluruhan” atau “kaffah”. Kalau tidak, ya akibatnya dicontohkan oleh kehidupan dan kebudayaan kaum taliban yang kita tahu sendiri seperti apa.

Tapi justru disini masalahnya, apa dan bagaimana yang dimaksud dengan “islam kaffah” tersebut? Saya kira salah satu wancana yang ingin di bangun oleh kawan2 di ISLIB ini adalah membicarakan, kadang seperti bertanya balik, bila anda setuju bahwa islam harus diterapkan secara “kaffah”, ya bagaimana sih yang dimaksud “kaffah” itu? sebetulnya kan ini inti yang terus didiskusikan oleh para intelektual islam berabad-abad, adalah bagimana umat islam menyelaraskan antara yang “normatif” dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Apakah Islam “kaffah” berarti “yang sesuai 100% dengan al-Quran dan Hadist”? Andaikan jawaban normatif seperti ini semudah “pengaplikasiannya” tentunya tidak perlu ada buku2 fikih, dan tidak perlu ada umat islam penganut mahzab “ini” dan “itu”. Bagimana mendifinisikan “sesuai”? Apakah SELURUH aspek kehidupan diterangkan secara terang benderang dan bisa dirujuk kepada al-quran dan hadist tanpa perlu adanya tafsir atau “hukum turunan” sama sekali? Siapa yang berhak menafsirkan al-quran? para ulama? bagaimana mendifinisikan ulama? siapa yang berhak menentukan bahwa definisi ulama adalah seperti “ini” atau “itu”? kalau ada dua orang ulama berbeda pandapat, yang mana yang harus diikuti? kenapa umat islam dalam saat2 tertentu harus mengikuti ulama? Kenapa umat islam tidak bisa secara langsung membuka, membaca dan merujuk “al-Quran dan hadist” bila ada hal2 dalam aspek detail kehidupanya yang perlu kejelasan?

Mungkin kita bisa bilang, yang penting ya semua hukum2 yang ada “mengacu” pada al-quran dan hadits. Lalu siapa yang menentukan bahwa hukum “anu” mangacu pada alquran dan hadist?

Saya ambil contoh hukum “potong tangan” bagi pencuri. Apakah kita bisa merujuk pada al-quran dan hadits apakah misalnya seorang anak mencuri mangga dipohon tetangga dihukum sama dengan pencuri uang dalam jumlah besar misalnya? Dalam komentar sebelumnya saudara/i bee memberi contoh bahwa ada pencuri yang di bebaskan karena sang hakim “menganggap” bahwa dia mencuri dalam keadaan terpaksa dan dikarenakan penguasa tidak bisa memberi keadilan bagi rakyatnya. Tentunya dari contoh kasus sederhana ini bisa dipertanyakan, bagaimana mendefisikan keadaan “terpaksa”? apa yang dimaksud dengan “penguasa yang tidak adil”? apakah untuk dua hal tersebut kita bisa merujuk pada alquran dan hadist secara “terang benderang”? atas dasar apa hakim memutuskan hal tersebut? Belum lagi siapa yang berhak menjadi hakim? ini baru untuk kasus yang simpel.

Saya mungkin bukan seorang ahli agama, tetapi kalau ada sesama umat islam yang ingin bahwa Islam diterapkan secara “kaffah”, ya saya balik bertanya, apa yang dimaksud dengan “kaffah” tersebut?

Posted by Adi  on  09/03  at  05:09 AM

kurang tepat jika anda menyatakan Saudi Arabia salah satu contoh sebagai negara Islam, karena sistem pemerintahannya yang berbentuk kerajaan itu sebenarnya juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW. jika melihat sejarah ‘penyebaran’ Islam jelas bahwa para gubernur di daerah2 di luar Arab ditunjuk oleh Nabi atau Khalifah sendiri, dan tidak ada yang bersifat turun temurun/ kerajaan/kesultanan.

contoh negara yang menerapkan syariat Islam (bukan negara Islam) cukup baik adalah tetangga kita sendiri, Malaysia. sayangnya penerapan Islam yang baik ini kurang diekspos di media massa, malahan yang jelek2-dikatakan negara islam-lebih sering muncul (jadinya hanya propaganda menjelekan nama Islam).

bagaiman dengan brunei darussalam atau bahkan Indonesia????

Posted by bee  on  08/23  at  03:08 PM

ma’af sebelumnya. namun anda kurang tepat bila mengasumsikan taliban itu mengamalkan Islam yang sebenarnya. apa menurut anda tindakan terorisme yang dilakukan taliban sekarang ini juga merupakan penerapan islam yang benar? kesalahan taliban seperti halnya kegiatan NII di indonesia adalah pengambilan ayat2 suci Al-Qur’an secara sepotong-potong (tidak keseluruhan/kaffah) bahkan tidak selalu merujuk pada Hadist. contoh: 1. ttg perang. ALLAH memperbolehkan kita berperang jika kita diserang duluan atau lawan melanggar kesepakatan damai. yang boleh diserang pun hanya mereka yang memerangi kita, tentara dan pemimpin musuh, namun tidak orang2 tua, anak2 atau perempuan (bahkan ada hadist yang melarang menebang pohon2 dalam peperangan-Islam=pecinta alam). jadi tindakan bom bunuh diri adalah tidak benar karena itu berarti membunuh orang sipil yang tidak terlibat perang langsung (kalo mau, mereka semestinya melakukan bom itu di pangkalan pasukan tentara lawan atau ditujukan langsung ke presiden/pimpinan lawan karena merekalah yang menyerang duluan) . jika kaum lain bilang dilarang membunuh, maka bukankah dalam injil diceritakan tentang Nabi Daud (David) yang ‘diperintah’ oleh ALLAH untuk membunuh Jalut (Goliath)??? jadi membunuh dibenarkan selama dalam aturan yang dibenarkan oleh ALLAH (tindakan terorisme yang membabi buta ini terjadi karena mereka cuma ‘memenggal2’ ayat Al-Qur’an, seperti yang dilakukan NII tentang kewajiban mendirikan negara Islam) 2. tidak pernah ada kewajiban untuk mendirikan negara Islam (NII dan mungkin organisasi lain berkesimpulan mesti negara Islam karena mereka hanya mengambil sebagian ayat dan tidak memahami Al-Qur’an keseluruhan bahkan tidak mengambil contoh dari Hadist). jadi yang tepat adalah kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW- atau the middle way buat sekarang ini adalah penerapan syariat Islam via hukum2 positif, sprti UU Zakat, Perkawinan, Waris, dll.bukankah Nabi SAW bahkan pernah memerintah staffnya untuk memungut uang zakat dari kaum Muslim, bahkan ada baitul mal yang darinya kaum papa seperti mungkin halnya keluarga Osama di Afganistan mestinya dibantu ‘negara’, bahkan ada ‘pengadilan’ juga sebelum ada putusan rajam/potong tangan/pancung dan pengadilan perdata (ingat kasus hutang Nabi SAW dengan seorang yahudi yang ternyata dimenangkan oleh si yahudi???)........Islam itu lengkap adanya secara garis besar. 3. siapa bilang hukum rajam/potong tangan mudah dilakukan???sekilas terlihat kejam, namun kita tahu pada pelaksanaannya tidak segampang yang diduga. bukankah ada syarat zina mesti disaksikan 4 orang dulu?jika cuma 3 orang tetap tidak berlaku hukum rajam (FYI, di injil perjanjian lama ada disebut juga hukum rajam, qisas-darah balas darah, babi itu haram dan wajib sunat bagi lelaki). bahkan di hadist disebutkan ada pencuri makanan tapi tidak dipotong tangannya karena hakim berkesimpulan penguasa daerah setempatlah yang salah karena kok ada rakyatnya yang kesusahan/kelaparan namun tidak diberi bantuan (keluarga Osama di Afganistan pun semestinya mirip kasus ini, wajib dibantu penguasa taliban dan Osama tidah sah dihukum menurut syariat Islam). menilik hukum cambuk pun apa bedanya dengan Singapura yang notabene bukan negara Islam tapi menerapkan hukum cambuk???atau hukuman mati di amerika dan cina??? (jadi, jangan dianggap hukum Islam itu tidak relevan dengan jaman sekarang, karena pada kenyataannya yang bukan Islam pun masih memakai hukuman yang serupa) 4.status perempuan: menrut sejarah pernah ada wanita yang ikut berperang membela Islam, meski terutama mereka bekerja di garis belakang mengurus logistik dan perawatan prajurit yang terluka. Khadijah, istri Nabi SAW sendiri adalah pengusaha ekspor-impor yang sukses. kenapa kita menganggap Islam merendahkan wanita dan terlalu mengangkat lelaki???(yang merendahakan itu budaya Arab yang jelas2 beda dengan Islam, karena Islam bukanlah Arab). kenapan berjilbab dianggap merendahkan wanita?bukankah Bunda Maria /Siti Maryam pun memakai jilbab, suster2/biarawati gereja juga memakai penutup kepala dan baju panjang? dalam hidup berumah tanggapun bukankah Nabi SAW pernah menjahit bajunya sendiri, memerah susu sendiri, bermain2 dan berolah raga dengan istrinya???beliau tidak pernah menghardik budaknya bahkan mengajak budaknya makan bersama (kita saja seringkali dengan pembantu malah makan berbeda waktu dan tempat; majikan di atas, pembantu makan di bawah plus belakang lagi). catatan: budak di jaman Nabi SAW benar2 berbeda dengan budak yang dimaksud oleh kaum jahiliyah sebelum Nabi SAW atau budak kulit hitam yang dimiliki kaum amerika dan dianggap warga kelas dua/rendahan/binatang. perlakuan Nabi SAW terhadap budaknya tak ubahnya seperti anggota keluarga sendiri, jadi tak ubahnya seperti pembantu rumah tangga seperti sekarang ini, bahkan boleh jadi lebih baik dari kita2. jikan kaum non-Islam bertanya kok budak tidak dihapus dalam hukum Islam, maka insya ALLAH jawabannya seperti ini: 1)tawanan perang di jaman Nabi SAW disamakan dengan budak, jadi tidak mungkin sewaktu perang membebaskan tawanan perang yang dapat membocorkan rahasia kita 2)cukup jelas dari Hadist bahwa perlakuan Islam terhdap budak tidak sama dengan asumsi budak yang dimiliki kaum jahiliyyah 3)di injil pun budak tidak pernah dihapus keberadaannya. sebagai bukti bukankah Nabi Ibrahim (Abraham) memepunyai 2 orang istri; satu yang merdeka dan satu dari budak, yakni Siti Hajar yang melahirkan Nabi Ismail sebagai anak pertama Nabi Ibrahim 5. nikah hingga 4 istri: boleh menikahi 4 istri dengan syarat mesti adil, bukan untuk bermain2 atau mencari harta istri, memiliki kemampuan untuk menghidupi mereka (bukan untuk berbuat aniaya kepada istri2nya) dan ini bukan kewajiban. bukankah Nabi Ibrahim as memiliki istri 2 orang dan Nabi Sulaiman (Solomon) 100 orang [silahkan ttg istri Nabi Sulaiman bisa dicek di injil perjanjian lama atau bisa nonton film King David yang di Indonesia biasanya diputar sewaktu Paskah]

kesimpulan: apa yang terjadi dengan Osama, Afganistan, taliban, Islam, Al-Qur’an, Hadist adalah contoh nyata di mana kita semestinya mempelajari, memahami, mengkaji (tidak hanya mengaji), dan menerapkan Islam secara keseluruhan/kaffah, tidak sepenggal2 yang pada akhirnya hanya mencoreng muka sendiri.  Insya ALLAH kolaborasi Al-Qur’an, hadist , ijma’ para ulama serta ijtihad kita (selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an) dalam upaya ‘membumikan’ pesan ALLAH SWT ini dapat kembali menunjukkan Islam yang sebenarnya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai panutan utama. semoga Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam bukan lagi menjadi utopia seperti yang kita sangka, namun benar2 terwujud kembali seperti yang pernah dipraktekan oleh Nabi junjungan kita, Muhammad SAW.

wassalam

Posted by bee  on  08/23  at  02:08 PM

alhamdulillah, telah beberapa naskah ringkas dari bang Luthfy saya tekuni. Beberada ide dasar mudah-mudahan sebagian telah saya fahami. Terima kasih bang...., saya juga pingin menimba lagi beberapa hal yang lebih detail....kapan bisa ketemu di jogya? karena saya belum mampu ke utankayu...atau ada sahabat yang bisa jadi nara sumber di jogya? terimakasih bantuannya.... salam semuanya. wassalammualaikum wr wb.

Posted by mashudi  on  08/23  at  05:08 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq