Dua Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
07/06/2004

Dua Agama

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

dua agama terlalu susah untuk dibandingkan, meskipun perbandingan juga perlu dilakukan untuk mencari titik-titik pertemuan yang mungkin. Ketika kita membandingkan, kita harus tetap sadar bahwa usaha itu mempunyai batas. Ketika kita menganggap bahwa dua agama begitu berbeda, kita juga tetap harus waspada bahwa perbedaan tidak pernah total, tetap saja ada segi-segi dalam dua agama yang bisa disepadankan.

Sampai sekarang, saya belum menemukan jawaban yang memuaskan pada level mana kritik Qur’an terhadap Bibel dan doktrin Kristen harus ditempatkan. Apakah di level kritik doktrin, atau di level, yang saya sebut, “kritik politis”. Maksudnya, seperti kritik yang dikemukakan Islam dalam rangka persaingan antara agama baru yang sedang mencari umat dan agama lama yang sudah mapan.

Martin Sinaga, teolog Kristen, dalam “percakapan yang mencerahkan” di Utan Kayu mengatakan, bahwa kritik Islam terhadap Kristen itu adalah salah satu cara Islam meng-apresiasi Yesus. Itu adalah salah satu perspektif keimanan dalam melihat figur-figur kenabian yang diajukan oleh Islam.

Mendengar kata-kata Martin ketika itu, saya sedikit terpukau. Saya belum bisa berkomentar. Tetapi, setelah sedikit berjarak, saya mulai mempersoalkan, apakah apresiasi Islam seperti direkam dalam Qur’an itu memadai dalam konteks perjumpaan antaragama sekarang? Yang lebih membuat saya musykil adalah bahwa kritik itu dikemukakan dalam bahasa yang sangat keras, “Sungguh kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah Tuhan ketiga dari Tiga Tuhan,” (QS 5:73). Dalam ayat lain, dikatakan, “Sungguh kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu sama dengan Al- Masih anak Maryam (QS 5:17 dan 72). Saya tahu, bahwa kata “kafir” itu dipakai dalam pelbagai konteks dan penggunaan. Orang Islam pun disebut sebagai “kafir”, yaitu orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan.

Keterangan yang sedikit agak lebih memuaskan saya peroleh dari Ustadz Jamal Al Banna, adik kandung Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir. Saya pernah bertemu dengannya dan berdiskusi secara panjang lebar tentang doktrin jihad dalam Islam. Keterangan dia mengilhami saya untuk berpandangan seperti berikut ini. Kalau kita baca Qur’an secara keseluruhan, sama sekali tidak ada semangat “triumfalistik”, yaitu semangat mengalahkan agama-agama lain. Ini semangat yang mendasari “golongan kristologi”. Dalam Qur’an, tidak ada penegasan tentang Islam sebagai agama yang membatalkan agama-agama sebelumnya.

Kata Jamal Al Banna, yang ada dalam Qur’an adalah suatu pembelaan diri karena Islam sebagai agama baru saat itu mendapat serangan hebat dari suku-suku Arab di sekeliling Jazirah Arab. Karena serangan itu, Islam berusaha mempertahankan diri dengan melancarkan serangan balik.

Saya menduga, ajaran Islam yang membatalkan agama-agama sebelumnya ini datang belakangan, dan dirumuskan jauh setelah turunnya Qur’an. Dalam Qur’an, sama sekali tidak ada penegasan mengenai hal itu. Sebaliknya, Qur’an justru menunjukkan bahwa dirinya bukanlah “wahyu baru”, tetapi kelanjutan dari wahyu-wahyu sebelumnya. Qur’an sendiri menegaskan hal itu (QS 46:9): “Saya (Muhamad) bukanlah rasul yang baru sama sekali.”

Jadi, dua agama terlalu susah untuk dibandingkan, meskipun perbandingan juga perlu dilakukan untuk mencari titik-titik pertemuan yang mungkin. Ketika kita membandingkan, kita harus tetap sadar bahwa usaha itu mempunyai batas. Ketika kita menganggap bahwa dua agama begitu berbeda, kita juga tetap harus waspada bahwa perbedaan tidak pernah total, tetap saja ada segi-segi dalam dua agama (apalagi yang berasal dari tradisi besar yang sama) yang bisa disepadankan. [Ulil Abshar-Abdalla]

07/06/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Kritik agama bagus, asal tidak bertujuan untuk mendiskriditkan pihak lain. yang terjadi… kritik lebih berwujud pada penghinaan dan pelecehan saja! tanpa bobot dan memalukan. simak saja tulisan2 dari Irena handono, Ahmad Deedat, Mokoginta, dll dalam penjabaran kristologi mereka!!!!
Semakin hari, semakin banyak manusia yang berpikiran maju, maka tipe2 tulisan semacam kristologi itu akan lebih merugikan Islam sendiri dari pada Kristen.

Sebuah perumpamaan sederhana…
Seorang gadis, tidak akan pernah dikatakan CANTIK, hanya karena ia terlalu sering mengatakan bahwa gadis2 lain disekitarnya JELEK! Kalo seorang Gadis itu benar2 cantik, cukup diam saja maka semua orang akan tetap melihatnya sebagai seorang gadis yang cantik!!!
Kalo “gadis yang ingin diakui cantik “ tadi terus melakukan kebiasaan buruknya… lama kelamaan ia justru akan dianggap bodoh atau GILA!

Posted by Ajiebayu  on  03/07  at  07:47 PM

Berbicara tentang agama sepertinya tak pernah selesai. Bicara yang ini yang lain akan kecewa dan merasa terhina. Masing-masing berpedoman dan besikukuh dengan kitab sucinya masing-masing yang notabene adalah studi literatur. Padahal kehidupan beragama sebenarnya masuk dalam ranah tingkah laku dan iman. Banyak orang yang pengetahuan agamanya sangat luas, tetapi tingkah lakunya tidak lebih baik dari para koruptor. Saya dibesarkan dari keluarga muslim, tetapi secara formal saya beragama Katolik. Secara seremonial saya tidak menjalankan kedua agama tersebut. Hal ini berangkat dari satu keyakinan bahwa Allah (Tuhan Arab)hanya bisa didekati dengan jiwa, tingkah laku dan tubuh yang bersih (suci), tanpa itu tidaklah mungkin dapat didekati(prinsip kejawen) dan kenyataanya saya cukup bahagai. Mohammad mendapatkan wahyu tidak sedang berada di dalam masjid atau sedang menjalankan sholat. Jesus tidak menyuruh umatnya untuk membangun gereja beserta tata cara peribadatannnya.  Agama hanyalah legal formal yang terkadang tidak menyentuh akar kemanusiaan, tetapi justru menjadikan manusia saling menghina, mencaci-maki, menyesatkan, dll. Dunia ini amat luas dan sudah berumur ribuan abat. Telah banyak upaya pengaburan sejarah manusia menurut sudut pandang dari mana manusia berangkat. Dari sejarah Kristen, dari sejarah Islam, atau dari mana saja Cukuplah agama memasuki iman dan ruang batin saja yang tidak perlu dilihat perbedaan dan kesamaannya. Banyak orang disekitar kita yang lebih dahulu menemukan Tuhan dengan caranya sendiri.
-----

Posted by NT. Sunandono  on  06/23  at  11:07 PM

Sebagaimana kita ketahui bersama, di muka bumi ini terdapat kurang lebih 5 kepercayaan yang memiliki banyak pengikut. Kepercayaan yang selanjutnya disebut sebagai agama itu antara lain adalah ;Yudaisme, Kristen, Islam, Hindhu, Budda dan Kong Hu Cu. Dari agama-agama tersebut tiga diantaranya mengklaim diri sebagai agama samawi (langit) yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Ketiga agama ini mempunyai pengikut yang sangat besar dan terdistribusi ke berbagai negara di dunia terutama Islam dan Kristen dengan berbagai dominasi dan mazhabnya.

Ketiga agama ini dalam sejarahnya di dunia seringkali saling beriteraksi baik dalam konotasi negatif maupun positif. Ketiga agama ini yang dapat dikatakan mengharu birukan bumi dalam sejarah perjalanannya. Masing-masing dari agama ketiga agama ini mengajarkan tatanan hidup yang beradab serta mengatur hubungan manusia baik secara transendent (sesama) maupun vertikal (Tuhan).

Beberapa interaksi positif yang terjadi diantara agama samawi memang terbukti nyata membentuk suatu sinergi untuk membangun peradaban dunia. Namun tak kurang dari 3 contoh yang sangat terkenal interaksi negatif antara mereka justru menghancurkan peradaban dan sendi-sendi moral. Ambil contoh perang salib yang memakan banyak korban nyawa, dana dan trauma lalu konflik di Palestina serta di tanah air kasus Ambon, Poso dan beberapa di wilayah lain.

Dari sekian kejadian interaksi negatif tersebut setelah dirunut ternyata bukan murni membela akidah agama namun semata-mata membela kepentingan politik, kekuasaan dan egoisme yang bermuara pada kepentingan ekonomi.

Melihat kenyataan tersebut di atas hendaknya kita masing-masing lebih lagi mendalami dan mengkaji ajaran serta akidah agama serta mengaplikasikannya di dalam kehidupan sosial yang pluralistis. Hendaknya agama dijadikan sebagai alat setiap pribadi manusia kepada Tuhannya tanpa harus mengganggu kehidupan pribadi yang lain dan didasari pula oleh toleransi terhadap umat lain.

Meminjam istilah Ulil Abshar-Abdalla, perlu kiranya mencari akar persamaan agar dapat saling menguatkan untuk tujuan yang mulia dan sejauh mungkin meninggalkan berbagai perbedaan yang potensial memancing konflik. Demikianlah yang sebaiknya dilakukan oleh para pemeluk ketiga agama samawi. Hal ini tentu harus dimulai dari para elite agama ketiga agama tersebut, namun khusus di Indonesia barangkali lebih khusus kepada ulama Kristen dan Islam karena saya rasa Yudaisme di Indonesia belum berkembang kalau pun toh ada paling hanya sangat kecil dan keberadaannya juga tidak terlalu signifikan dalam menyumbang konflik massa.

Penanaman “Theologi Bersama” yang dapat diartikan sebagai satu kesatuan sebagai agama samawi perlu dilakukan dan dimulai ormas keagamaan yang terbesar semisal NU dan Muhamadiyah dari pihak Islam dan PGI serta MAWI dari pihak Kristen yang nantinya bisa dilanjutkan juga kepada berbagai golongan yang lebih kecil. Kedua Ormas baik NU, Muhamadiyah, PGI dan MAWI merupakan kunci sukses kerukunan kehidupan beragama tanpa bermaksud memperkecil peran bagi ormas yang lain. Hal ini karena ormas yang tersebut di atas merupakan bagian terbesar dari umat yang mewakili dari 2 agama samawi yang ada di negeri ini.

Adalah perlu setiap ormas baik Islam maupun Kristen untuk menanamkan kepada generasi penerusnya arti penting dari sebuah “Theologi Bersama” yang dipahami sebagai kesamaan sebagai agama samawi untuk keperluan hubungan antar umat beragama tanpa harus meninggalkan ciri dan akidah masing-masing.

Para pengajar agama baik ustadz, da’i, muballigh, misionaris, penginjil, guru agama ataupun yang lain perlu mengutamakan kerukunan di antara agama tersebut dan menghindarkan diri dari suatu pengajaran yang bersifat fanatisme sempit. Dari para pengajar agama inilah nantinya akan muncul generasi damai dan toleran yang akan mampu mensinergikan sumber daya manusia untuk membangun Indonesia yang lebih baru.

Kelak Indonesia akan menjadi negara yang super demokratis di tataran dunia dan banyak negara yang saat ini dianggap kampiun demokrasi harus bertekuk lutut dengan melakukan study bading ke Indonesia, dimana negara dengan multi agama, multi etnik, multi bahasa, multi budaya namun dapat hidup rukun dan damai.

Sejarah pahit Ambon, Poso, Sampit dan beberapa daerah kelak akan menjadi sejarah pahit bagi generasi baru Indonesia. Generasi baru tersebut akan mengernyitkan dahi sambil bergumam “Ah, betapa bodoh dan tololnya nenek moyang kita ... demi kepentingan politik sesaat dan diperbudak kekuasaan manusia rela saling bantai dengan dalih membela agama. 

Insya Allah Indonesia Baru Sejati akan timbul sebentar lagi ..kita tunggu… Amien

Posted by Nugroho Purwanto  on  06/30  at  11:06 AM

<div align="center">***</div> Gereja Roma didirikan dengan rapat di tahun tigaratus sekian yang disponsori oleh Kaisar Konstantin yang semula beragama pemujaan Mithras, dewa matahari. Konstantin masuk Kristen saat diambang ajalnya, jadi waktu mimpin konsili, dia masih beragama Mithras.  <div align="center">***</div>

saya tahu yg anda maksud adalah konsili nichea 325 M diprakarsai oleh Konstantin. Tapi nampaknya anda telah mengambil sumber yg salah mengenai konsili ini. Konsili ini diadakan justru untuk menegaskan KeTuhanan Yesus krn adanya pengaruh Arius seorang uskup yg men distorsikan ajaran Yesus dengan kepercayaan romawi. Inilah awal lahirnya Konsili Nichea.

Soal paulus, adalah tdk mungkin Paulus yg bertemu langsung dengan vahaya (Yesus) mendistorsi ajaran dengan keromawian mengingat Paulus adalah seorang cendikiawan Yahudi masa itu dan pemahamannya terhadap HK taurat dan Septuaginta (prototype PL masa kini) begitu mendalam lalu dengan sengaja merubah ajaran tanpa dasar2 yg jelas. 

Dari ulasan ini tampaknya saudara bramantyo belum pernah beklajar mengneai posisi HK Taurat dalam PB.

Posted by Irwan sk  on  06/14  at  12:07 PM

Saya berempati (karena saya pernah mengalaminya juga) pada Ulil yang menemui kesulitan ketika membandingkan dua agama yang “diturunkan” di kawasan Timur Tengah ribuan tahun yang lalu.

Kesulitan itu terjadi, sebab pada saat itu, belum ada rekaman adio-video, sehingga kita yang hidup di tahun 2004 Masehi ini sangat bergantung pada tafsir, arkeologi dan catatan sejarah (orang lain).

Bahasa yang digunakan dalam tafsir dan catatan sejarahpun telah mengalami banyak perubahan (tafsir atas tafsir) dalam rentang masa ribuan tahun.

Tergantung pada kita sendiri, apakah mau membedakan atau menyepadankan.

Saya ilustrasikan begini: Layaknya dua manusia etnis kulit putih dan kulit hitam. Banyak yang berbeda dan banyak yang sepadan. Tergantung kita melihatnya.

Repotnya, kalau yang menilai sudah “memihak” bahwa dirinya kulit putih yang “berbeda” dengan kulit hitam. Makin tampaklah baginya berbedaan. Makin dikotomi.

Andaikata yang menilai si kulit kuning, mungkin ia akan melihat banyak kesepadanan antara kulit hitam dan kulit putih, daripada perbedaannya. Si kulit kuning akan menilai bahwa baik kulit hitam maupun kulit putih sama-sama memiliki emosi senang-susah, suka-benci, memberi-menerima, walaupun warna kulitnya berbeda hitam-putih !

Yang lebih repotnya lagi, kita mencoba menilai alam “ruh” yang dalam Surat Al Israa (17:85) dikatakan: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, “Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit”. Dan dalam Yohanes 3:12 (Percakapan Yesus dengan Nikodemus): “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?”

Jadi saya setuju dengan Ulil, kita mesti waspada, baik ketika melihat perbedaan maupun ketika melihat kesepadanan, apakah kita -sengaja atau tak sengaja- telah memposisikan diri pada salah satu agama.

Posted by Toni Sutono  on  06/10  at  07:07 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq