Empati dengan Berat Hati kepada Kaum Radikal - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
10/02/2002

Masdar F. Mas’udi dan Dr. Rizal Sukma: Empati dengan Berat Hati kepada Kaum Radikal

Oleh Redaksi

Perang melawan terorisme pasca tragedi 11 September akhir-akhir ini kembali menyedot perhatian setelah tertangkapnya Agus Budiman di Amerika, Faturrahman al-Ghazi Di Filipina, puluhan mahasiswa Indonesia di Yaman dan pemeriksaan KH Abu Bakar Basyir. “Banyak pihak terjebak generalisasi berlebihan dengan menyebut Islam identik dengan kekerasan, “ kata Masdar Farid Mas’udi dari Pokja PBNU.

Perang melawan terorisme pasca tragedi 11 September akhir-akhir ini kembali menyedot perhatian setelah tertangkapnya Agus Budiman di Amerika, Faturrahman al-Ghazi Di Filipina, puluhan mahasiswa Indonesia di Yaman dan pemeriksaan KH Abu Bakar Basyir. “Banyak pihak terjebak generalisasi berlebihan dengan menyebut Islam identik dengan kekerasan, “ kata Masdar Farid Mas’udi dari Pokja PBNU.

Atas dasar itu, penting kiranya kita menyimak point penting dari pertemuan antara KH. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah PBNU) dan Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif (Ketua PP Muhammadiyah) pada tanggal 2 dan 16 Januari 2002. Pertemuan terakhir yang juga melibatkan tokoh-tokoh antaragama itu bertujuan menegaskan kembali komitmen NU dan Muhammadiyah untuk menampilkan wajah Islam yang sejuk dan ramah di Indonesia. “Perlu pendekatan kultural religius,” demikian ditandaskan KH Hasyim Muzadi (Kompas, 7/2/2002). Karena itu, untuk lebih mengetahui program-program yang akan dilakukan Pokja yang dibentuk NU-Muhammadiyah dalam menindaklanjuti keputusan bijaksana tersebut, sekaligus menyoroti fenomena mutakhir perang total melawan teroris pasca kejatuhan Taliban, Ulil Abshar Abdalla dari Kajian Utan Kayu mewawancarai Masdar F Mas’udi (Pokja NU) dan Dr. Rizal Sukma (Pokja Muhammadiyah). Petikannya:

Ulil: Pak Masdar sebagai salah satu tim Pokja NU, apa kira-kira latar belakang pertemuan dua tokoh ormas Islam terbesar di tanah air tersebut?

Masdar: Latar belakang pertemuan kedua tokoh ini memang secara internal karena kedua belah pihak menyadari dalam sejarah pergerakan umat Islam terjadi beberapa perbedaan yang pernah dihayati dan dirasakan oleh konstituen masing-masing. Sementara dalam konteks keindonesiaan yang sekarang kita rasakan, kita alami, dan kita hadapi bersama, kita menemukan begitu kompleksnya persoalan bangsa kita ini. Umat Islam sebagai mayoritas penduduk di negeri ini, dan NU dan Muhammmadiyah sebagai dua organisasi besar umat Islam tentu memikul tanggung jawab moral yang sangat berat untuk ikut memecahkan persoalan-persoalan bangsa yang multidimensi ini. Saya kira itu dari konteks internal Islam dan kebangsaan Indonesia kita.

Ulil: Secara spesifik, disebut soal keinginan agar Islam di Indonesia itu tampil dalam wajah yang damai.

Masdar: Itu karena ada konteks eksternal dalam dunia Islam pada umumnya yang belakangan terkait dengan beberapa fenomena, katakanlah, kekerasan yang juga dikaitkan dengan tragedi terorisme di New York. Seperti kita ketahui, hal itu telah menimbulkan gelombang kesalahpahaman yang semakin menggeliat kembali di kalangan umat Islam satu pihak dan di kalangan masyarakat lain, katakanlah Barat, Amerika khususnya di lain pihak. Tragedi 11 September telah memberikan citra yang sangat negatif kepada kelompok tertentu dari umat Islam. Kadang-kadang orang juga tidak begitu arif untuk membedakan antara apa yang dilakukan oleh sekelompok kecil umat Islam dengan mainstream atau mayoritas umat Islam secara keseluruhan, sehingga dosa yang dilakukan oleh sekelompok itu harus ditanggung bersama oleh umat Islam.

Ulil: Saya rasa ini karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kita tidak bisa menghindari bahwa memang di dalam umat Islam sendiri ada sejumlah kelompok yang kecil jumlahnya yang dianggap sebagai kelompok yang radikal. Bagaimana Anda melihat masalah ini secara proporsional?

Masdar: Sebenarnya radikalitas yang muncul di berbagai kelompok, apakah kelompok agama, kelompok etnis, juga kelompok lain itu merupakan fenomena yang kompleks. Radikalitas dilakukan oleh manusia dengan segala dimensi kemanusiaannya, apakah yang psikologis, apakah yang sosial, dan juga politis. Begitu juga saya mencoba memahami dari radikalitas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu di lingkungan umat Islam itu juga mempunyai akar kompleks.

Sebenarnya kalangan mainstream tidak menyukai tindakan-tindakan radikal, dan saya kira, kelompok garis keras itu selalu kelompok kecil di antara keluarga besar. Oleh sebab itu kelompok dominan yang tidak menyukai langkah-langkah radikal yang berwujud kekerasan, saya kira, tidak perlu melakukan tindakan represif dan melebihi porsinya, juga diperlukan adanya pemakluman. Dengan rasa berat kita juga harus memberikan empati kepada kelompok-kelompok yang terpaksa melakukan tindakan radikal. Saya kira mereka juga tidak sepenuhnya menginginkan hal itu, meskipun mungkin sudah kadung mengendap di bawah sadar mereka.

Ulil: Anda bisa sebut salah satu faktor kenapa mereka terpaksa mengambil jalan seperti itu?

Masdar: Saya kira, katakanlah, misalnya di dalam lingkungan keluarga besar bangsa kita ini. Beberapa tindakan kekerasan yang muncul misalnya di Poso, di Kalimantan, di Ambon, dan sebagainya saya kira itu lebih dari sekedar pelampiasan perasaan kesal atau kejengkelan kepada orang yang beda etnis atau beda agama. Tapi mesti memiliki akar sosial, akar struktural yang mendalam. Akar struktural atau sosial itu mungkin mengendap si bawah sadar mereka sehingga akhirnya dengan gampang dipicu oleh kelompok lain yang kebetulan juga memiliki kepentingan atau melakukan intervensi. Inilah yang tejadi.

Menurut saya dalam konteks kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal di tingkat global pun tentu ada ruang dimana mereka mencoba mendasarkan atau menjustifikasi tindakan radikalnya supaya bagi mereka sendiri tidak hanya sebuah kekonyolan. Pasti ada sesuatu yang mereka impikan. Karena sesuatu mungkin mereka anggap dunia ini tidak pas bagi mereka. Mungkin perasaan dunia ini tidak pas bagi mereka barangkali merupakan sesuatu yang tidak mudah dicerna oleh kelompok dominan, oleh kelompok mayoritas, tapi bagi mereka ada persoalan yang menghimpit di jiwa mereka. Inilah perlunya kebesaran hati dari kelompok besar, kelompok yang kuat untuk memaklumi, sehingga tidak hanya tindakan kekerasan, tindakan hukuman yang diberikan kepada mereka, tapi juga dialog. Sebenarnya mereka adalah orang yang ekstrim yang berada di ujung kesendirian, dan karena itu, mereka merasa tidak ada lagi ruang untuk berdialog karena tidak ada orang yang mau diajak berdialog bagi mereka, sehingga akhirnya bahasa kekerasanlah yang dipakai.

Ulil: Beralih ke Rizal Sukma sebagai salahsatu tim Pokja Muhamadiyah. Anda bisa bercerita sedikit bagaimana latar belakang pertemuan itu dari perspektif Muhammadiyah?

Rizal: Sebenarnya ada semacam ketersambungan dari keprihatinan antara Pak Syafi’i Ma’arif dan juga KH Hasyim Muzadi mengenai perkembangan negeri kita ini, terutama dalam dua hal, dan itu juga telah disampaikan di dalam konferensi pers waktu itu. Yang, pertama, mengenai kemungkinan Indonesia berada di ambang kisis yang sangat serius baik pada tataran moral, maupun pada tataran politik dan ekonomi. Kedua, adanya kesamaan concern dan kepihatinan mengenai kemungkinan terjadinya benturan-benturan di antara umat beragama dan juga di kalangan muslim sendiri. Dua hal ini yang saya kira kemudian mempertemukan kedua pemimpin dari kedua organisasi Islam besar untuk membahas langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi kedua isu tersebut.

Ulil: Dalam pertemuan itu tampaknya kedua tokoh ini menekankan pentingnya menampilkan Islam sebagai agama yang damai dan tidak menakutkan. Kenapa ini menjadi begitu penting dan diangkat pada pertemuan itu?

Rizal: Ini saya kira penting, karena hal ini bisa dirasakan dan juga disepakati oleh Pak Syafi’i dan juga Pak Hasyim bahwa hubungan antara, katakanlah Indonesia dalam hal ini dalam konteks pergaulan dunia yang lebih luas terutama dengan Barat itu tidak mesti ditandai oleh —seperti apa yang dikatakan Pak Hasyim dengan mengutip Samuel P. Huntington— clash of civilization tapi juga dengan misalnya faithful for existence.

Dalam hal ini, adanya wacana-wacana keras di dalam masyarakat Islam di Indonesia sendiri itu dikhawatirkan akan semakin memperkuat stereotiping di kalangan masyarakat Barat, juga kalangan non muslim bahwa Islam itu sangat keras. Menurut kedua tokoh ormas Islam ini merupakan concern bersama yang harus juga dipecahkan. Tentunya saya sepakat dengan Pak Masdar tadi ketika mengatakan dialog itu adalah sarana yang cukup baik untuk membicarakan masalah ini.

Ulil: Tadi Pak Masdar menekankan satu point penting bahwa kita sebagai anggota dari himpunan masyarakat Islam yang besar yang tergabung dalam NU dan Muhammadiyah perlu memberikan semacam empati atau pemakluman terhadap teman-teman kita yang dianggap sebagai kaum radikal. Bagaimana menurut Anda?

Rizal: Saya kira itu tepat sekali. Karena di dalam pertemuan itu juga Pak Hasyim mengatakan dengan istilah beliau pada waktu itu ini adalah mereka adalah bagian dari kita juga kelompok-kelompok yang selama ini mungkin terabaikan. Dalam artian kita tidak pernah libatkan (engage) mereka di dalam sebuah dialog. Saya kira, itu merupakan salah satu cara terbaik dalam memperluas bagaimana perbedaan-perbedaan kemudian dibawa pada tataran perdebatan yang lebih meluas dan juga teratur.

Ulil: Saya akan bertanya kepada Anda secara pribadi sebagai salah satu anggota pengurus Pemuda Muhammadiyah, sebetulnya potensi radikal itu tidak saja ada pada kelompok-kelompok kecil yang radikal, tapi mungkin juga terjadi pada kelompok NU dan Muhammadiyah sendiri. Bagaimana menurut Anda mengantisipasi masalah itu?

Rizal: Saya kira potensi itu ada hampir di semua kelompok dan bukan hanya kelompok kemasyarakatan dan keagamaan. Itu hampir merata. Di sini saya kira persoalan yang serius di dalam organisasi-organisasi yang besar seperti NU dan Muhamadiyah itu adalah bagaimana mengembangkan sebuah mekanisme. Suara sekecil apapun itu memiliki tempat untuk mengekspresikan adanya pemikiran-pemikiran seperti itu dan jangan disingkirkan. Mekanisme ini yang belum tertata dengan baik yang harus dikembangkan, baik itu pada level wilayah, maupun pada level pusat. Tapi corcern apapun yang dimiliki oleh individu-individu di dalam komunitas tersebut itu harus diberikan sarana-sarana untuk itu.

Ulil: Saya kira menarik soal mengembangkan bahasa dialog. Bagaimana komentar Pak Masdar?

Masdar: Saya kira ini merupakan konsekuensi dari satu tata nilai baru yang sekarang ini menjadi penekanan kita yaitu pluralisme. Pluralisme itu bukan hanya kesediaan memaklumi perbedaan hal-hal yang bersifat primordial, agama, etnis, suku, ras, dan sebagainya, tapi juga kesediaan untuk memberikan ruang, memberikan tempat kepada orang yang secara politik, ekonomi, sosial dan ideologi itu marginal. Sehingga jangan dianggap selesai kalau kita sudah bisa membangun pengertian antaragama yang toleran dan sebagainya, tapi secara struktural masyarakat ini ternyata di dominasi oleh kelompok tertentu. Saya kira ini toleransi sosial yang penting.

Menyikapi masalah identifikasi Islam sebagai teroris misalnya, persoalan ini sangat complicated, karena dalam lingkungan masyarakat Barat ini juga tidak serta merta mengidentifikasikan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang worlds call teroris itu sebagai stereotype dari Islam. Demikian juga umat Islam tentu saja tidak bisa menerima begitu saja stereotiping seperti itu, karena misalnya di Indonesia beberapa kelompok yang sering diidentifikasi sebagai kelompok garis keras itu jumlahnya sangat kecil dibanding mayoritas yang sangat besar. Akan tetapi memang biasanya orang lebih tertarik kepada yang tidak ordinary, yang tidak biasa. Itu yang menjadi berita. Sehingga dulu ketika ada berita sweeping di Indonesia itu yang terkesankan benar seolah-olah sweeping itu sudah terjadi dan sweeping itu merupakan prilaku umum dari seluruh umat Islam di Indonesia. Itu sama sekali tidak benar.

Ulil: Ini permasalahan soal konotasi umat Islam dengan kekerasan ini menjadi serius karena peristiwa-peristiwa yang berkembang setelah tragedi New York. Apakah tidak mungkin orang Islam sendiri atau kita sebagai umat Islam mengkritik diri (self-correction), apa sebenarnya yang salah pada diri kita ini sehingga hal-hal yang seperti itu terjadi?

Masdar: Saya sendiri tidak pernah secara psikologis terbebani dengan tuduhan Islam identik dengan kekerasan. Mudah-mudahan mayoritas umat Islam juga tidak perlu tergoda dengan generalisasi seperti itu, sehingga tetap bisa berpikir jernih baik ke dalam maupun ke luar. Secara ke dalam artinya kita bisa melihat apakah memang ada persoalan-pesoalan yang berakar di dalam tubuh umat Islam. Apakah di dalam konsep teologinya, apakah di dalam bangunan sosialnya, stuktur masyarakatnya yang memungkinkan beberapa kelompok umat Islam itu bersikap keras. Kalau kita dibebani dengan stigma umat Islam adalah umat keras kita tidak bisa berpikir jernih. Kita akan menjadi ekstrim nanti. (ekstrim dalam cara yang lain). Kelompok mayoritas yang katakanlah menganut paham toleran, menghargai pluralisme, ini bisa berpikir lebih objektif dengan melakukan refleksi kritis terhadap kita sendiri baik bangunan teologi, maupun sosial.

Ulil: Kesimpulannya adalah bahwa kita mungkin perlu mengembangkan sikap rileks. Rileks dalam pengertian tidak perlu terbebani oleh citra tadi itu sehingga kita bisa melakukan dialog dengan siapa pun.

Masdar: Saya kira Barat sendiri, bahkan Amerika tidak ingin menggeneralisir. []

10/02/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq