Evolusi Pemahaman Keagamaan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
27/10/2002

Evolusi Pemahaman Keagamaan

Oleh Ahmad Fuad Fanani

Dewasa ini, tafsir-tafsir keberagamaan yang muncul di masyarakat lebih banyak berasal dari satu arah, yaitu tafsir dari lembaga keagamaan. Selain itu, tafsir keagamaan yang ada juga terlalu berorientasi pada pemahaman keagamaan yang bersifat vertikal dan legal-formal. Artinya pemahaman keagamaan yang dipupuk adalah yang berhubungan dengan ibadah ritual, doktriner, dogmatis, dan berhubungan dengan kesadaran langit (ketuhanan).

Dewasa ini, tafsir-tafsir keberagamaan yang muncul di masyarakat lebih banyak berasal dari satu arah, yaitu tafsir dari lembaga keagamaan. Selain itu, tafsir keagamaan yang ada juga terlalu berorientasi pada pemahaman keagamaan yang bersifat vertikal dan legal-formal. Artinya pemahaman keagamaan yang dipupuk adalah yang berhubungan dengan ibadah ritual, doktriner, dogmatis, dan berhubungan dengan kesadaran langit (ketuhanan).

Sementara itu, tafsir-tafsir lain yang dilakukan secara radikal dan kreatif kadangkala sering ditolak kemunculannya dengan berbagai alasan yang dipaksakan. Padahal, sebuah kebenaran tafsir keagamaan tidak serta merta muncul dari satu sisi, namun harus digali dari berbagai segi dan perspektif.

Sebuah tafsir tunggal agama sesungguhnya jauh dari sehat karena akan mengakibatkan terjadinya penyelewengan pada pesan agama yang awalnya bertujuan mulia. Karena, sikap dasar bawaan manusia tidak jauh dari kenaifan, keserakahan, dan nafsu menundukkan lainnya. Hal itu terbukti ketika khalifah Al-Ma’mun pada masa Dinasti Abbasiyah menerapkan mihnah (inkuisisi) yang berisi kewajiban penduduk untuk berpaham teologi Mu’tazilah. Peristiwa lain nampak pada penguasa Taliban tempo hari yang memaksakan penerapan syariat Islam secara radikal pada penduduk Afghanistan. Begitu juga lembaga gereja-gereja Katholik sebelum Konsili Vatikan Kedua yang membekukan pemahaman keagamaan sebagai sesuatu yang eksklusif dengan menyatakan “tidak ada keselamatan di luar gereja”. (Perlu dicatat bahwa setelah Konsili vatikan Kedua, gereja Katholik menjadi sangat inklusif karena mereka mengakui bahwa di luar gereja, yakni dalam epercayaan dan agama selain Katholik, juga terdapat keselamatan).

Evolusi Pengetahuan Agama

Doktrin yang banyak tertanam dalam benak pikiran dan perilaku umat beragama adalah bahwa kebenaran agama bersifat tunggal, pasti, dan tuntas. Mereka menganggap, bahwa agama adalah wilayah yang harus disucikan dari kreatifitas dan kritik manusia. Sebab, agama adalah wilayah milik Tuhan yang terjamin kebenarannya. Orang yang berani mengkritik agama justru dianggap orang yang gila, aneh, jauh dari kebenaran.

Namun, bila kita kembali ke sejarah turunnya agama-agama di dunia, sesungguhnya agama tidak bisa lepas dari unsur kreatifitas manusia. Bila wilayah agama dianggap sebagai wilayah Tuhan semata, lantas kenapa muncul agama-agama baru yang bertugas sebagai pelengkap dan penyempurna agama terdahulu? Seperti agama Islam yang berita turun dan kebenarannya terdapat dalam kitab Injil, dan agama Nasranipun ada dalam kitab Taurat milik agama Yahudi. Artinya, secara tidak langsung dapat dipahami bahwa Tuhan sangat paham atas kondisi perubahan zaman, alam, serta tingkat pengetahuan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan menurunkan agama-agama yang --meminjam istilah Frithjof Schuon- di dalamnya terdapat titik temu bersama yang mestinya harus digali dan dimunculkan.

Evolusi agama yang berwujud pada keberagamaan manusia itu, menurut Robert N. Bellah berjalan sesuai dengan tingkat perkembangan kebebasan dan situasi masyarakat yang mengelilinginya. (Beyond Belief, 2001) Fokus utama evolusi keagamaan adalah sistem simbol keagamaan itu sendiri. Maksudnya, arah utama perkembangannya adalah simbolisasi dari yang sederhana menuju simbolisasi yang terdiferensiasi. Evolusi dari agama primitif menuju ke agama historis dan kemudian berkembang menjadi agama modern adalah contoh bagaimana agama berubah dari pengaruh situasi kekuasaan okultis yang bermetaformosis dengan keyakinan yang bersifat rasional.

Berkaitan dengan evolusi keagamaan di atas, Abdul Karim Soroush, seorang pemikir Islam liberal dari Iran yang sering dijuluki sebagai “Luther Islam”, mengajukan teori penyusutan dan pengembangan keagamaan. Dalam cara kerja teori ini, sebuah kebenaran teks keagamaan tidaklah bersifat final. Artinya, meskipun agama adalah sebuah doktrin dari Tuhan yang dijamin kebenarannya, akan tetapi pemahaman agama masih bersifat relatif dan terbuka dari berbagai interpretasi baru. (Reason, Freedom, and Democracy in Islam, 2000) Nilai kebenaran sebuah agama dapat dilihat dari dua hal, yaitu kebenaran teologis dan kebenaran historis. Kebenaran teologis pada dasarnya yang mengetahui hanyalah pencipta agama itu sendiri (baca – Tuhan). Tidak ada satu pihak pun yang berhak merasa paling tahu tentang kebenaran teologis ini. Sedangkan kebenaran historis sebuah agama dapat dilacak dari sejauh mana agama tersebut dapat bermanfaat dan membebaskan umat manusia dari belenggu-belenggu kejahatan. Jadi, antara kebenaran agama dan pemahaman agama haruslah diberikan garis demarkasi yang jelas dan ketat.

Soroush juga menegaskan, bahwa dalam pemahaman keagamaan, mutlak diperlukan adanya evolusi yang bersifat dinamis, kritis, dan progresif. Oleh karena itu, ilmu agama haruslah diposisikan sama dengan ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat manusiawi dan bersifat relatif (tidak ada kebenaran tunggal). Pengetahuan agama dan kebutuhan zaman yang baru haruslah dicarikan jawabannya terus menerus dengan ijtihad para agamawan seperti halnya ilmu kemanusiaan lain semisal biologi, fisika, kimia, astronomi, dan sebagainya.

Orang yang menghindari pemikiran evolusi keagamaan dengan dalih menjaga kemurnian agama sesungguhnya secara tidak langsung justru membekukan agama sehingga agama menjadi kehilangan elan vitalnya dan cenderung menjadi kekuatan yang tidak membebaskan bagi pra pemeluknya. Ilmu atau pemahaman keagamaan tidaklah bersifat sempurna dan berlaku sepanjang waktu, sebab ia terikat dengan sistem budaya yang juga senantiasa berubah. Maka, pemahaman keagamaan yang terus berkembang adalah salah satu bentuk usaha reformasi dan kebangkitan keberagamaan.

Membaca dan Memaknai Agama

Sesuai dengan watak evolusi agama yang harus diejawantahkan, maka tradisi kritik dan pemunculan tafsir yang heterogen menjadi suatu kemestian yang wajar dan tak terelakkan. Tradisi ini bertujuan agar peran-peran profetik agama sebagai kekuatan moral dan pembebasan lewat perilaku pemeluknya dapat muncul lagi ke permukaan. Keragaman tafsir juga mempunyai nilai positip sebagai upaya kontekstualisasi teks agama pada problem-problem kemanusiaan masa kini.

Dalam pemunculan keberagaman tafsir keagamaan, metode dekonstruksi yang dicetuskan oleh Jacques Derrida layak dijadikan alternatif paradigma dan cara kerja. Metode yang pada awalnya dipakai dalam bidang sastra dan filsafat ini, bertujuan untuk membongkar, menguak, atau meleburkan setiap jenis struktur yang dipaksakan kebenarannya, sehingga tidak menyisakan ruang untuk bertanya, menggugat, atau mengkritik.

Dalam bidang keagamaan, dekonstruksi terhadap teks ini memungkinkan kita untuk membongkar monopoli tafsir atas otoritas tertentu yang menegaskan mengenai “kebenaran” atas nama Tuhan, negara atau penguasa. Sehingga definisi dan praktek pencarian “kebenaran” menjadi demokratis dan berparadigma antroposentrik. Dalam hal ini, manusia menjadi pusat tafsir yang berusaha untuk menggali kebenaran yang beragam secara obyektif.

Evolusi keagamaan yang menghargai pluralitas itu dengan sendirinya menekankan adanya --meminjam istilah Mohamed Arkoun—historisitas logos dalam pembacaan teks. Maksudnya, dalam pembacaan teks agama mutlak diperhatikan rentang waktu kemunculan, kompleksitas, serta latar belakang ideologi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, Arkoun mengkritik adanya sebuah pensakralan pengetahuan agama (taqdis al-afkar ad-diniyyah) yang sering terjadi pada umat beragama. (Al-Islam: Al-Akhlaq wa al-Siyasah, 1990) Sebab, sebuah pensakralan menjadikan manusia terbelenggu pada kebenaran tunggal dan penerimaan tanpa reserve sebuah penafsiran teks keagamaan. Padahal, kemunculan teks pada masa lalu pasti tidak terlepas dari dimensi politis dan ideologis sang pengarang.

Berkaitan dengan itu, Arkoun menawarkan kita agar jernih dan jeli membedakan pemikiran keagamaan yang ada pada era klasik, skolastik, dan modern. Untuk itu, model pembacaan teks dengan metode hermeneutika yang berusaha menghadirkan teks masa lalu agar bisa terpakai pada zaman sekarang layak dilakukan. Dalam metode ini, latar belakang kemunculan teks, maksud pengarang, struktur bahasa, nilai atau simbol pengetahuan, dan kontekstualisasi adalah sebuah lingkaran yang senantiasa berkelindan. Sehingga, sebuah teks keagamaan tidak serta merta dipakai secara simbolik tanpa mengkaji makna substantif dan moral yang ada di baliknya.

Dengan bahasa dan istilah berbeda, Mohammad Abed Al-Jabiri juga menegaskan, bahwa krititisme dalam pembacaan dan pemaknaan kembali teks keagamaan mutlak dilakukan. Sedangkan metodologi yang ditawarkan adalah metode strukturalis; analisis sejarah, dan kritik ideologi. Metode strukturalis digunakan sebagai pembacaan teks secara literal dan membatasinya dalam melokalisir kebenaran yang bersifat sementara. Sedangkan analisis sejarah adalah mencari pertautan pemikiran sang pengarang teks dengan ruang lingkup sejarah budaya, sosial, politik, serta sosiologisnya. Kritik idelogi mengungkap maksud pengarang dalam penciptaan karya melalui episteme yang dirujuknya. (Post Tradisionalisme Islam, 2000).

Dengan model pembacaan dan pemaknaan agama yang tidak terjebak pada simbol dan homogenitas seperti diatas, maka umat beragama dapat diharapkan menjalankan keberagamaan baru yang humanis dan membebaskan. Penegasan Soroush bahwa “agama terakhir sudah datang, akan tetapi pemahaman agama yang terakhir belum datang” adalah kata kunci untuk memulai keberagamaan baru. Ke depan, umat beragama diharapkan dapat saling hidup bersama dengan menghargai perbedaan, melakukan dialog antar-intra iman, serta giat bekerjasama untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan dan menggalakkan demokratisasi. Wallahu A’lam.[]

27/10/2002 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

assalaamu’alaikum wr. wb.

Guru kami sudah berkali-kali menasihati kita utk membaca Qur’an.. tentu bukan tilawahnya saja ya, tapi sampai pada tadabburnya (tadabbur adalah memikirkan makna ayat-ayat Al-Qur’an, baik yg tersirat maupun yg tersurat)… sebagian anak HI masih ‘khawatir’ dlm melakukan penafsiran… bisa dipahami sih, karena memang kita tdk berhadapan dgn bacaan biasa, melainkan Al-Qur’an… lagipula, banyak jg yg rajin baca Qur’an tapi lalu jadi sesat, misalnya JIL… tapi menurut guru kami (dan menurut saya juga), yg bakal tersesat adalah mrk yg tdk komprehensif…

misalnya begini.. kita lihat surah Al-Ikhlas… kenapa namanya “Al-Ikhlas”? pasti ada hubungannya dgn ikhlas kan? nah, apa makna ikhlas? apakah ikhlas berarti lapang dada? misalnya kita meminjamkan uang kepada teman yg setengah memaksa, dan kita meminjamkannya dgn setengah hati… apakah ini yg dinamakan tdk ikhlas? padahal di surah Al-Ikhlas sama sekali tdk ada hubungannya dgn “pinjam uang” atau “dgn senang hati memberikan pinjaman"… dgn demikian, kata “ikhlas” pun perlu didefinisikan kembali…

nah, barudak JIL itu kalo baca Qur’an suka gak komprehensif… contohnya, dlm Al-Qur’an tdk pernah disebutkan shalat 5 waktu… yg ada hanya 3 waktu (silakan buktikan sendiri)… lalu mrk simpulkan : shalat itu yg wajibnya hanya 3 kali… itu pun tdk perlu pake tata cara secara fisik, krn tdk ada tuntunan teknis shalat dlm Al-Qur’an… cara berpikir begini ini kurang komprehensif, karena pada kesempatan lain, Al-Qur’an sering menyuruh kita utk mengikuti Rasulullah saw… dan Rasulullah saw. shalatnya lima kali sehari (yg wajib)… begitu maksudnya komprehensif…

jadi bagaimana cara menafsirkan Qur’an? tentu saja tdk ada cara baku… tapi saya akan coba memberi sedikit alternatif cara berpikir ya… sbg contoh, kita pake saja surah Al-Fatihah… dah pada hapal kan? terjemahannya jg dah hapal kan? kalo belum, mulailah hapalkan sekarang…

1. Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahmaan) dan Maha Penyayang (Ar-Rahiim) 2. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam 3. Yang Maha Pengasih (Ar-Rahmaan) dan Maha Penyayang (Ar-Rahiim) 4. Sang Raja / Penguasa Hari Akhir 5. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon 6. Tunjukilah kami jalan yang lurus 7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk pada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan sesat Aamiin…

what next? gak susah kok… tinggal menyusun daftar pertanyaan, lalu dijawab… saya coba susun pertanyaannya ya, silakan cari jawabannya sendiri… kalo bisa pertanyaannya ditambah juga lebih bagus…

1. Kenapa kita harus menyebut nama Allah (seperti pada bacaan Basmalah)? Efek apa yg diinginkan dari menyebut nama Allah?  2. Kenapa nama yg disebut pada ayat pertama adalah “Ar-Rahmaan” dan “Ar-Rahiim”? Allah memiliki 99 asmaul husna, mengapa yg 2 ini yg dipilih? adakah hubungannya dgn keseluruhan kandungan surah Al-Fatihah?  3. Dilihat dari huruf2 pembentuknya, “Ar-Rahmaan” dan “Ar-Rahiim” nampak seperti dua kata yg berasal dari akar kata yg sama… apakah persamaannya? apa pula perbedaannya?  4. Apa buktinya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Apakah bencana2, musibah2, penyakit, kelaparan dan peperangan adalah bukti bahwa Allah tdk sayang pada manusia? Bagaimana menjelaskannya?  5. Kenapa “Ar-Rahmaan” dan “Ar-Rahiim” diulang kembali pada ayat ketiga? Apakah ini suatu ‘pemborosan’ kata? Mungkinkah Al-Qur’an boros dlm menggunakan kata?  6. Kenapa kita harus memuji Allah? Benarkah semua perbuatan-Nya terpuji? Bagaimana kita menjelaskannya pada org2 Atheis?  7. Allah adalah “Rabb” seluruh alam… apa artinya “Rabb”? Apa bedanya dgn “Ilah”? (keduanya sama2 diterjemahkan sbg “Tuhan” dalam bahasa Indonesia, namun maknanya sebenarnya berbeda) 8. Apakah hubungannya “Ar-Rahmaan”, “Ar-Rahiim”, “Rabb” dan status Allah sbg “Raja / Penguasa Hari Akhir” yg disebutkan pada ayat ke-4? Kesan apa yg hendak ditimbulkan dari urutan ini?

sejauh ini saya baru bahas sampe ayat ke-4… sudah ada 8 pertanyaan, dan sebenernya masih banyak lagi… apalagi kalo sampe tuntas ayat ke-7, barangkali ada puluhan pertanyaan… silakan dicoba, kerahkan semua kemampuan berpikir, salurkan hawa panas ke otak dan coba cari apa yg hendak dikatakan oleh Al-Qur’an… kadang2, setelah membaca ayat yg sama, dua org yg berbeda bisa memperoleh penafsiran yg beda, tapi dua2nya benar… bahkan seseorang bisa mendapatkan penafsiran yg berbeda jika ia membaca ayat yg sama pada dua hari yg berbeda… inilah keajaiban Al-Qur’an… ahli fisika akan menemukan hukum2 fisika di dalamnya, ahli matematika akan menemukan ajaran2 matematik pula… demikian juga ahli antropologi, peneliti HAM, ahli biologi, ahli oseanografi, bahkan setiap org dari semua disiplin ilmu akan merasa beruntung mendapatkan bacaan seperti Al-Qur’an… tentu saja, itu kalau mrk mau berpikir…

pegang kata-kata saya :  Al-Qur’an gak pernah salah… karena yg nulis adalah Allah…

selamat ber-tadabbur ria!
-----

Posted by Huan Kok Pek-lek Chiu  on  03/30  at  10:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq