Fundamentalisme dan Neoliberalisme - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
26/09/2006

Fundamentalisme dan Neoliberalisme

Oleh Luthfi Assyaukanie

Saya tidak tahu kapan mulanya dua istilah itu disandingkan dan didiskusikan secara bersamaan. Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali pembicaraan tentang dua konsep itu. Umumnya, pembicaraan mengarah kepada satu penilaian, yakni bahwa fundamentalisme dan neoliberlisme merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. Secara simplistik, ancaman itu diteriakkan dengan menciptakan slogan seperti “fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.”

Fundamentalisme dan Neoliberalisme adalah dua kata yang berbeda. Keduanya bisa bertentangan dan bisa saling bertemanan. Secara umum, fundamentalisme berarti gerakan sosial-politik yang ingin mengembalikan suatu kondisi pada nilai-nilai yang asasi, yang fundamental. Kendati istilah ini bisa dikenakan kepada gerakan apa saja, tapi ia lebih sering disematkan kepada gerakan keagamaan. Dari sini kita mengenal istilah “Fundamentalisme Kristen,” “Fundamentalisme Hindu,” dan “Fundamentalisme Islam.”

Sementara itu, neoliberalisme adalah sebuah fenomena sosial-politik yang biasanya dialamatkan kepada sekelompok penguasa dan intelektual di Barat yang mendukung dan ingin menghidupakan kembali gagasan-gagasan liberalisme klasik. Neoliberalisme adalah kata lain dari “liberalisme baru.” Neoliberalisme kerap dianggap sebagai pendukung pasar bebas, ekspansi modal, dan globalisasi.

Saya tidak tahu kapan mulanya dua istilah itu disandingkan dan didiskusikan secara bersamaan. Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali pembicaraan tentang dua konsep itu. Umumnya, pembicaraan mengarah kepada satu penilaian, yakni bahwa fundamentalisme dan neoliberlisme merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. Secara simplistik, ancaman itu diteriakkan dengan menciptakan slogan seperti “fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.”

Sebenarnya, meletakkan fundamentalisme dan neoliberalisme dalam satu keranjang tidaklah terlalu tepat. Seperti dikatakan di atas, dua istilah ini bisa saling bertentangan dan bisa juga saling bertemanan. Di Amerika, fundamentalisme Kristen dapat berkolaborasi dengan rezim neoliberalisme pimpinan George Walker Bush. Kelompok-kelompok fundamentalis Kristen seperti Moral Majority dan Evangelistic Association merupakan pendukung setia presiden Bush.

Namun di negara-negara berkembang, fundamentalisme (baik Kristen maupun lainnya) cenderung bersikap kritis terhadap neoliberalisme. Gerakan keagamaan di Amerika Latin, yang biasa dikenal dengan sebutan “Teologi Pembebasan” adalah kelompok yang paling rajin mengecam neoliberalisme.

Karena itu, orang sering mengatakan bahwa kritik-kritik dan kecaman terhadap liberalisme baru atau neoliberalisme sesungguhnya datang dari sisa-sisa semangat Marxisme, baik yang hidup dalam gerakan-gerakan sosial kiri, maupun gerakan-gerakan keagamaan. Perlu dicatat, ketika Marxisme dan pemikiran sosialis masih berjaya (sekitar tahun 1960-an), kaum agamawan adalah salah satu kelompok yang paling bersemangat mendukung gagasan sosialisme.

Dari sundut pandang ini, pertentangan agama/fundamentalisme dengan neoliberalisme merupakan rejuvenasi dari pertentangan klasik antara Liberalisme dengan Marxisme. Kendati Marxisme semakin tidak populer pasca runtuhnya Uni Soviet, semangatnya masih terus tumbuh dalam kelompok-kelompok keagamaan dan kelompok-kelompok sosial berhaluan “kiri.”

Bagi kelompok-kelompok fundamentalisme agama (Islam khususnya), anti-neoliberalisme bisa juga dijadikan argumen dan semangat baru untuk menghidupkan gagasan “ekonomi syari’ah.” Sementara bagi kelompok-kelompok kiri, ini adalah momentum untuk menghidupkan sisa-sisa Marxisme yang semakin dilupakan orang. Karenanya, sungguh tepat apa yang dikatakan David Horowitz, bahwa kaum fundamentalis dan kelompok kiri bisa saja saling bersatu dalam sebuah “persekongkolan yang kotor” (unholy alliance). []

26/09/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

JIL termasuk neoliberalisme, fundamental atau orientalis gaya baru..? apakah harus kematian diantara kamu yang akan membuatmu kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya.?
-----

Posted by dajjalus zaman  on  10/16  at  01:11 AM

“point yang menggantung?”

Salam hormat mas lutfi, Beberapa artikel dan opini yang ditulis mas lutfi, biasanya berciri aktual, analitis (beberapa bahkan cukup “isnpiratif”, misalnya:  Fit dan proper test MUI, al Qur’an dan Orientalisme, Hilangnya akal sehat Amerika, adaptasi agama dan sekulerisme, dll, untuk menyebut beberapa ) dan sebagian kaya referensial (Ibn Warraq, Khaoirudin al Tunisi, Ibn Abdul Wahab, dll) bahkan sebagian lain bisa disebut alternatfe( Kapitalisme Religius?, Dispotisme Islam, Protestanisme Islam, Demonisasi dll)

Tapi entah untuk tulisan editorial kali ini kok terasa “hambar”-untuk tidak mengatakan klise-- dari segi pesan ‘esensial’ nya. (meski saya buru-buru harus memahami keterbasan space yang tersedia).

Wacana fundamentalisme dan neo-liberalisme yang dijelaskan mas lutfi seperti mengulang atau repetisi atas diskusrus umum, bahkan beberapa point justru ‘mengaburkan’ perkembangan wacana yang ada. Tentang fundamentalisme misalnya, jika mas lutfi setuju akhir-akhir ini istilah fundamentalisme lebih banyak disematkan pada kelompok agama bisa saja benar, tetapi sayang mas lutfi tidak menyertakan “polemic” para intelektual agama (khususnya Islam; seperti Hasan Hanafi, Fatima Marnisi, Sayed Hudein Nasr, dkk) dengan berbagai argumenya yang cukup menarik, ternyata “emoh” menggunakan istilah “fundamentalisme”, diantaranya karena bias dan a histories dalam tradisi Islam. Selain di dalamnya demikian menumpuk “warna-warni” alirannya.

Begitu juga istilah Neo Liberalisme, penjelasan sangat umum mas lutfi yang cenderung simplistis mengaburkan bahaya gurita neolib yang lebih besar dari sekedar motif hegemoni ekonomi dan politik. (mas lutfi pasti faham bagaimana jika wacana neolib ini di dekati dengan keilmuan cultural studies).

Akibatnya, penyandingan fundamentalisme dan neoliberalisme sebagai sesuatu yang oposisi binner memang sesuatu yang paradoksal. Seperti yang dijelaskan mas lutfi sendiri. Pada praktek empirisnya bisa silang-saling mendukung dan nenpengaruhi. Tetapi, “mengclaim” semangat yang menghidupi kedua kelompok “kiri” dan “kanan” (kalau masih relevan kategori ini?) dari semangat marxisme, adalah sesuatu yang terburu-buru (mas lutfi bisa lihat kelompok-kelompok perlawanan terhadap neolib berbasis adat dan kelompok “hijau” yang mendasari sikap perlawanannya bukan di semangati oleh ‘marxisme’), apalagi jika keduanya dianggap penerusan dari konflik klasik liberalisme dan marxisme? Terasa ada nuansa generalisasi wacana dari mas lutfi, yang bisa berakibat pada reduksi aneka ragam perlawanan terhadap neolib dan makna ragam fundamentalisme itu sendiri. Bukankah dunia hari ini telah menjadi “sepihan” tak utuh lagi?

Dalam konteks lokal, kelompok HTI, MMI, kelompok Salafi, Tarbawy, (tidak termasuk FPI dan FBR yang menurut saya bersifat “proyek”) dan semacamnya (sekalipun saya beseberanangan dengan ‘ideologi perjuangan’ mereka), sepertinya butuh penelitian khusus jika dikatakan semangat yang mendasari perlawanan terhadap neolib adalah semangat marxisme. Sebab referensi bacaan mereka, sependek yang saya tahu, cukup selektif dan ketat.

Tetapi menjadi relevan jika konteksnya adalah gerakan teologi pembebasan di Amerika latin. Dan agaknya perlu pembahasan khusus jika “kiri” dan “kanan” itu serta merta di kontekstualisasikan di situasi Indonesia.

Nah, justru yang menarik bagi saya adalah kutipan mas lutfi dari David Horowitz, bahwa kaum fundamentalis dan kelompok kiri bisa saja saling bersatu dalam sebuah “persekongkolan yang kotor” (unholy alliance).

Fundamentalis yang mana? Kiri yang mana? Adakah mereka seragam? Dan persekongkolan kotor yang bagaimana praksisnya, jika dikontekstualisasikan dlm konteks keindonesiaan. Kalau ini yang menjadi inti bahasan mas lutfi, justru akan lebih “mencerahkan”. Sayang justru titik point inilah yang digantung? Atau memang sekedar sampai pada level provokasi? Semoga saya salah!

Posted by Eko c  on  10/02  at  10:11 PM

Sebenarnya kalau bicara faham fundamentalis dan neoliberalis, adalah pemikiran yang bersifat ekstrim, artinya melihat sesuatu secara berlebihan. Dengan kata lain persoalan kehidupan masa lalau, masa kini, dan masa datang- sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu pertentangan itu berlebihan, hanya untuk kepentingan sesaat dan menjaga eksistensi diri saja.

Posted by abdus salam  on  10/02  at  12:11 AM

tentang istilah fundamentalis yang disematkan kpda Islam, seharusnya itu ga usah kita pasarkan lagi. karena memang Islam sebagai sebuah agama sekaligus sistem hidup, sejak kelahirannya tidak pernah menawarkan itu. yang benar adalah, istilah ini muncul dari mulut mereka2 yang tidak “seneng” dengan islam, sebagai sebuah sistem hidup. dan memang kenyataan ini akan terus ada. padahal islam, sekali lagi adalah sebuah sistem hidup, jika kita mau secara jujur & hati2 memahami islam. memahami islam dari referensi aslinya, dengan menggunakan metodologi yang benar. Semoga kita bisa jujur & hati2 dalam memahami islam, memahami islam tidak sekedar dari perjalanan hidup umatnya (sejarah), apalagi sejarah yang kita temukan sekarang boleh jadi sudan banyak intervensinya. satu hal yang pasti, ISLAM sebagai sebuah sistem hidup tidak akan pernah hilang, walaupun meraka mencoba menghilangkannya, dan sekarang sistem itu memang sebagian besar sedang hilang, belum menyatu secara penuh… kalo hendak tau bahwa islam adalah sebuah sistem hidup, silahkan kunjungi referensinya (Quran, Sunnah, Ijma, Qiyas syar’i). selamat berfikir sahabat semua....!

Posted by Muhammad Sai  on  09/29  at  09:09 PM

Menyoal kedua kata antara Fundamentalisme dan Neoliberalisme seolah-olah tak selamanya berbanding lurus, hingga nyaris tak ada ujungnya. Betapa tidak, selama ini kita menggap jargon fundamentalisme selalau dialamatkan kepada mereka yang beranggapan bahwa agamanya sangat suci. Tentunya, setiap terdapat permasalahan pelik dalam mengarungi kehidupan mereka selalau berpandangan rigi, kakau. Artinya, segala persoalan kekinian harus diselesaikan dengan kembali kepada kitab sucinya. Begitu pun dalam pameo Neoliberalisme, kita malah asyik dengan model baru penjajahan barat terhadap kita. Tengok saja, dalam aspek keekonomian, cara yang dipakai adalah budaya kapitalis. Terlenbih lagi, dalam hal berkarya dan bisnis. Kita hanya bangga dengan prodak negara-negara maju. lantas dimanakah keadilan itu? Alih-alih menjalankan risalah Tuhan dan mengakpanyekan buah dari ke uletan. Nyatanya, menyimpan sejuta permasalahan, hingga membuat masyarakat terpuruk, mulai dari segi ekonominya sampai aspek keyakinan pun tak kunjung selesai. Walhasil, kedua ungkapan itu mengisahkan ketertindasan bagi umat manusia. Sudah tentu, nuansa-nuansa kemanusiaan pula raib sekaligu etrkubur entah dimana? yang jelas kedua pameo itu malah mnjadikan Isalm terpuruk. Adalah wajar bila ada ungkapan Fundamentalisme Agama dan Fundamentalisme Pasar. Pasalnya, mereka tak pernah ramah lingkungan, keyakinana orang lain dan jeri payah orang lain dalam melakukan penciptaan. Bukan mencari solusi arif dan bijaksana, malah memeperkeruh susana. Hingga kita amini tesis David Horwitz `bahwa kaum fundamentalis dan kelompok kiri bisa saja saling bersatu dalam sebuah “persekongkolan yang kotor” Singkat kata, kedua kata itu hanya `beda nama, sama rasa`. Mereka malah berupaya menggengkan sekaligus mengakarkan tradisi saling menindas manusia.

Posted by Ibn Ghifarie  on  09/29  at  06:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq