Gagasan Salafi-Jihadi Sedang Diterjemahkan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
12/09/2006

Sidney Jones: Gagasan Salafi-Jihadi Sedang Diterjemahkan

Oleh Redaksi

Konflik dan silang sengketa Timur Tengah senantiasa berdampak sampai jauh ke Indonesia. Proses radikalisasi masyarakat Indonesia pun berlangsung lewat persebaran gagasan-gagasan yang muncul di Timur Tengah. Bagaimana itu bisa terjadi? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Sidney Jones, Project Director International Crisis Group (ICG) untuk kawasan Asia Tenggara Kamis, 31/8, lalu.

Konflik dan silang sengketa Timur Tengah senantiasa berdampak sampai jauh ke Indonesia. Proses radikalisasi masyarakat Indonesia pun berlangsung lewat persebaran gagasan-gagasan yang muncul di Timur Tengah. Bagaimana itu bisa terjadi? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Sidney Jones, Project Director International Crisis Group (ICG) untuk kawasan Asia Tenggara Kamis, 31/8, lalu.

NOVRIANTONI (JIL): Mbak Sidney, tampaknya agresi Israel ke Libanon kemarin menjadi inspirasi penting bagi milisi-milisi Islam dimanapun untuk merekrut anggota dan menghimpun kekuatan kembali. Apa komentar Anda?

SIDNEY JONES: Bisa jadi inspirasi. Saya kira, yang paling ditakuti negara-negara di luar Timur Tengah adalah: masalah Libanon justru menjadi magnet yang menarik mujahidin dari seluruh dunia. Tapi itu masih bergantung pertama-tama pada apakah mereka punya dana. Kedua, apakah ada tempat latihan. Ketiga, adakah cara-cara praktis untuk betul-betul dapat menolong Hizbullah. Tapi saya kira, itu sangat sulit. Karena kelompok yang sudah jelas jaringannya saja, seperti al-Qaida dan salafi-jihadi yang Sunni sudah mulai kesulitan dana. Tapi kalau bergabung dengan kelompok Syiah di Libanon, siapa tahu sumber dananya ada. Ini satu faktor yang harus dipikirkan juga.

JIL: Kemarin banyak sekali kelompok-kelompok yang sudah unjuk kebolehan perang untuk berangkat ke Libanon. Apakah kelak itu akan jadi duri dalam daging bagi masyarakat Indonesia?

Ya. Yang harus diingat, setiap kali ada sesuatu seperti perang di Irak atau di Afganistan, atau perang seperti di Libanon kemarin, selalu ada pos-pos yang muncul tiba-tiba dengan menarik orang yang ingin menjadi mujahidin. Mereka didaftarkan dan lain sebagainya. Tapi sepanjang yang saya tahu, jarang sekali nama-nama yang didaftar di pos-pos itu betul-betul berhasil berangkat. Sebab, prosesnya tidak segampang menuliskan nama. Harus ada logistik, dana, dan banyak hal lainnya. Kalaupun logistik dan dana sudah didapat, msalahnya juga belum selesai. Karena ada kesulitan untuk mencari jalan masuk ke daerah perang dan kesulitan lainnya.

Memang tidak mustahil beberapa orang, mungkin puluhan atau sedikit lebih dari itu, bisa tetap berangkat. Tapi begitu sulit memberangkatkan begitu banyak orang, apalagi betul-betul ikut ke medan perang. Biasanya, kalau mereka mau bergabung ke medan perang, mereka ke Malaysia dulu, ikut suatu organisasi LSM di Malaysia. Mungkin bisa berangkat lewat jalur itu. Tapi karena Sunni dan Syiah tidak bersatu, maka kontak dan jaringan mereka yang ada di Libanon tidak begitu baik dengan kelompok-kelompok yang ada di Indonesia. Mereka yang di Palestina mungkin lebih luas kontaknya, apalagi dengan adanya kelompok Ikhwanul Muslimin di sana.

Nah, dalam kasus Irak, sampai saat ini, setahu saya tidak ada satu orang dari Asia Tenggara pun yang ikut bergabung dengan pemberontakan atau perlawanan di sana. Mungkin ada saja, tapi saya belum lihat. Saya kira, walau banyak omong-omongan tentang pentingnya ikut sebagai mujahidin di sana, tapi itu tidak terjadi. Jadi dalam kasus-kasus seperti itu, jangan lihat kata-kata saja, tapi lihat bagaimana mereka bisa mengumpulkan apa yang diperlukan untuk berangkat. Kalau ada banyak infak di Indonesia, mungkin mereka bisa berangkat. Tapi saya kira kemungkinannya kecil.

Saya kira, ancaman dari kelompok yang sudah ada di Indonesia jauh lebih besar daripada orang yang mungkin sekarang ini baru mau berangkat sebagai mujahidin.

JIL: Apa tafsiran Anda terhadap keberatan Israel atas partisipasi Tentara Nasional Indonesia dalam tentara perdamaian PBB di Libanon?

Menurut saya, itu wajar. Kalau tidak punya hubungan diplomatik, kan wajar saja. Jadi saya kira, kalau Indonesia betul-betul mau ikut pasukan di sana, atau misalnya mau menjadi semacam broker atau perantara dalam proses perdamaian Arab-Israel, sebaiknya harus ada hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi untuk sekarang, secara politik itu tidak mungkin dilakukan di Indonesia. Jadi saya kira, bukan sesuatu yang aneh kalau Israel atau negara-negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel tidak bisa ikut serta dalam misi perdamaian PBB. Mungkin Indonesia tidak dilihat sebagai kelompok yang netral.

JIL: Apa dampak agresi Israel ke Libanon terakhir terhadap pasang-surut aktivitas terorisme di dunia?

Mungkin terlalu dini untuk tahu dengan pasti apakah perang di Irak dan Libanon saat ini betul-betul menimbulkan dan memperkuat bentuk-bentuk terorisme baru. Tapi kita tahu, dulu George W Bush pernah bilang kalau dia akan masuk Irak untuk melawan teror. Tapi tampaknya, yang terjadi justru sebaliknya. Terorisme, sekarang menurut saya justru lebih kuat dari pada sebelumnya, apalagi di daerah Irak dan sekitarnya. Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Saya kira ada dua aspek yang perlu diperhatikan oleh Indonesia. Satu, sekarang ada banyak bahan-bahan bacaan berbahaya dari bahasa Arab yang sedang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diedarkan kepada masyarakat Indonesia, termasuk tulisan Abu Mus’ab al-Zarqawi, pemimpin al-Qaidah asal Yordania. Juga termasuk tulisan gurunya yang bernama al-Maqdisi. Memang pengaruh gagasan-gagasan itu tidak cukup kuat kalau hanya dengan buku-buku saja. Harus ada orang yang mengajarkan apa isinya lewat proses mentoring.

Maka dari itu, saya kira kelompok-kelompok pengajian sangat penting perannya dalam proses radikalisasi itu, karena tinggal menunggu buku semacam itu saja sebagai petunjuk, terus diajarkan dalam kelompok kecil semacam halaqah. Dengan cara itu, orang bisa meyakinkan orang lain bahwa apa yang ada di dalam buku itu benar adanya.

Kedua, sewaktu saya melihat website yang ditemukan sesudah Dr. Azahari tertembak, di sana juga ada daftar ulama-ulama yang perlu ditaati oleh kelompok Islam. Tapi yang menarik, semuanya adalah orang-orang yang ditahan atau dibunuh oleh pemerintah di beberapa negara di luar negeri. Ada beberapa yang ditahan di Arab Saudi, ada yang sudah meninggal seperti al-Zarqawi, dan ada yang masih ditahan di Suriah, Mesir, dan lain sebagainya. Ada juga yang sudah meninggal seperti pemimpin kelompok Jamaah Islamiah di Mesir yang bernama Mohammad al-Farraj dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz. Buku-buku mereka hampir semuanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Jadi sekarang, dampak perang di Irak memang tidak terlihat dalam bentuk fenomena orang pergi ke Irak untuk ikut berperang, tapi lewat buku-buku yang menggerakkan sentimen masyarakat Indonesia. Dan saya kira, pengaruh dari literatur ini lebih kuat daripada apa yang bisa dilihat di televisi.

JIL: Ustad Abu Bakar Ba’asyir yang ditduh pemimpin Jamaah Islamiah di Asia Tenggara sekarang sudah bebas dari tahanan. Dia kini sudah leluasa bicara apa saja tentang Indonesia, dan tak peduli apakah dia berbahaya atau tidak. Apakah selama ini Amerika dan Australia terlalu paranoid menghadapi Ustad Abu atau pribadinya sudah berubah?

Saya kira, apa yang dikatakan dan disiarkan oleh Abu Bakar Ba’asyir sekarang ini, satu kata pun tak berbeda dengan apa yang dia katakan pada tahun 1970-an. Jadi, dia konsisten sekali selama 30 tahun lebih. Demokrasi dianggap kafir dan harus dilawan, negara Islam harus didirikan, hanya syariat yang boleh berlaku, dan hukum Allah lebih penting dari hukum manusia. Tidak ada yang berubah. Yang berubah sedikit adalah suasana.

Sekarang, kalau dia bicara seperti itu di tengah suasana Indonesia yang sudah demokratis, tidak seperti zaman Soeharto dulu lagi, tidak banyak orang yang marah. Dan sekarang, justru banyak orang yang marah sekali dengan perkembangan dunia internasional. Tapi saya kira, pengaruh Abu Bakar Ba’asyir sekarang ini lebih besar daripada sebelumnya. Dia sudah menjadi simbol perlawanan atas Amerika Serikat dan Australia, apalagi kalau tekanan dua negara itu menguat supaya dia tetap ditahan. Jadi, dengan kekuatan simbolik yang ia punya, saya kira dia akan lebih populer lagi dan lebih besar, walau ia sendiri tidak berubah sejak dari dulu.

JIL: Yakinkah Anda kalau proses demokratisasi Indonesia berjalan mulus dan rakyat makin pintar, maka akan lebih banyak orang yang kritis dalam menyikapi pernyataan-pernyataan Ustad Abu?

Jelas. Dengan demokrasi, bukan berarti radikalisasi tidak akan muncul, karena demokrasi di Indonesia pun tidak lahir dengan mudah. Apalagi kita tahu kalau kelompok NII (Negara Islam Indonesia) misalnya, sudah muncul sebagai balasan terhadap represi dan tindasan keras pemerintah terhadap mereka sejak tahun 1970-an dan awal 1980-an. Kenapa saat itu orang-orang Indonesia banyak yang pergi ke Afganistan? Bukan saja untuk menolong orang Afganistan yang berperang melawan Uni Soviet, tapi juga untuk dapat kapasitas demi melawan Soeharto.

Jadi saya kira, bukan demokrasi yang bersalah dalam hal ini. Tapi benar, dengan adanya demokratisasi, begitu gampangnya orang menyiarkan agama yang macam-macam. Tapi dalam masa sekarang ini, sebetulnya lebih penting suara yang tidak setuju dengan Abu Bakar Ba’asyir lebih banyak dan lebih sering didengar, apalagi oleh pemerintah. Saya melihat, satu kekurangan atau kelemahan Indonesia sampai saat ini, bukan karena tidak melarang atau menyensor suara-suara radikal seperti itu—karena saya dari dulu tidak setuju dengan sensor. Saya menyesal, sampai saat ini Presiden sendiri atau orang-orang setingkatnya di kabinet, tidak dengan gamblang menjelaskan kepada masyarakat Indonesia mengapa kelompok semacam itu menjadi ancaman, dari mana asal mereka, dan apa latar belakangnya.

Bagaimana bisa sampai saat ini masih ada orang Indonesia yang nggak yakin bahwa Jamaah Islamiah itu betul-betul berwujud. Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat Indonesia yang betul-betul yakin bahwa apa yang terjadi di Indonesia dari pihak teroris itu hanya bikinan Malaysia, karena Noordin M Top orang Malaysia. Padahal, siapa guru Noorrdin M Top? Kan orang Indonesia semuanya; yang dulu terusir dari Indonesia dan hijrah ke Malaysia. Jadi saya kira, sudah saatnya ada public information campaign, agar paling sedikit orang Indonesia bisa tahu kenapa orang-orang itu terus-menerus dipermasalahkan oleh orang luar.

Saya kira, yang penting sekarang ini adalah bagaimana betul-betul bisa meng-counter atau membantah apa yang diajarkan oleh kelompok jihadi yang ada sekarang ini. Prakteknya nggak begitu sederhana. Peranan kepolisian memang sangat penting, tapi mereka tidakbisa bertindak sendiri. Harus ada dukungan dari pihak-pihak lain di Indonesia seperti LSM, pemerintah, organisasi masa, dan lain sebagainya.

JIL: Dalam amatan Anda, apakah kampanye serupa juga dilakukan kelompok salafi-jihadi secara teratur?

Saya kira, ada macam-macam kelompok yang penting untuk dimengerti, bukan satu kelompok saja. Ada Jamaah Islamiah, dan ada juga kelompok sempalan Jamaah Islamiah yang namanya kelompok Noordin. Ada beberapa kelompok yang bergerak di daerah tertentu saja, seperti di daerah konflik semacam Poso atau beberapa kelompok di Jawa Barat. Memang tidak semuanya sama rapi dan ahlinya dalam mengajak dan merekrut orang baru. Tapi di antara semuanya, mungkin yang masih paling kuat adalah Jamaah Islamiah, walau strukturnya sudah banyak yang hancur karena penagkapan-penangkapan yang sudah terjadi.

JIL: Ada banyak orang yang berharap agar konflik-konflik dari negara luar tidak mempengaruhi situasi sosial-politik di dalam negeri. Anda melihat persoalan-persaoalan ekternal Indonesia sudah merecoki harmonisasi sosial di Indonesia?

Ya. Saya kira sudah cukup memikirkan persoalan di dalam negeri saja daripada banyak dipengaruhi faktor ekternal. Tapi yang menarik saat ini adalah pertanyaan apakah Pancasila sebagai common platform orang Indonesia bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi sekarang ini. Penting sekali adanya semacam prinsip yang bisa merangkum semua suku, semua agama, dan sebagainya dalam tatanan sosial di Indonesia. Tapi yang sedikit sulit dengan Pancasila adalah kenyataan bahwa ia dikaitkan dengan zaman Orde Baru. Saya kira, Pancasila bisa saja dipakai kembali seperti zaman Presiden Sukarno. Hanya saja, harus tetap hati-hati dengan usaha menghidupkan kembali Pancasila, apalagi mengaitkannya dengan unsur-unsur dari zaman otoriter dulu.

Jadi, saya setuju kita harus mencari sesuatu yang betul-betul bisa meng-embrace atau merangkul semua suku dan semua aspek yang begitu berbeda-beda di Indonesia. Tapi itulah; ada siksaan dari zaman dulu yang bisa merusak usaha menghidupkan kembali semangat Pancasila. Makanya, saya kira kalau tidak ada pilihan lain, Pancasila mungkin bisa menjadi suatu jawaban atau suatu wadah bersama lagi. Jangan bicara tentang ideologi Pancasila, karena kita nggak mau ada ideologi negara lagi. Hanya saja, kalau tidak ada sesuatu yang kongkret, yang betul-betul melawan ajaran yang tidak plural dan tidak merangkul semua, tidak juga melindungi minoritas-minoritas yang ada di Indonesia, saya kira lambat laun semua orang Indonesia akan rugi.

JIL: Anda sedang membayangkan disintegrasi?

Saya kira, disintegrasi terlalu jauh. Saya tidak melihat apa yang dinamakan Indonesia sekarang ini akan pecah-belah. Tapi memang, kalau saya bicara dengan kelompok non-Islam di sini, tampak adanya rasa yang cukup kuat ke arah itu, apalagi di Indonesia bagian timur, terlebih kalau kecenderungan seperti ini terus terjadi. Tapi mungkin itu hanya persepsi saya. []

12/09/2006 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Kenapa harus mencatut salafy dengan embel2 jihady? Memangnya ada salafy jihady, salafy yamany, salafy haroky, salafy ini, salafy itu, salafy dll? Sejak kapan salafy di pecah2 spt itu? Salafy itu bukan sebuah kelompok sbgmana IM, HT, JIL, JT, dll kelompok sempalan yg ada...yang bisa terpecah dan berubah seiring perkembangan jaman,situasi ato pemikiran para tokohnya. Salafy itu sdh paten, krn dia itu adlh nisbat kepada ajaran salaf (Rasul beserta para shabatnya) yaitu islam yang murni yang belum ternoda oleh kotoran2 bidah,pemikiran2,isme2,dll yang menyamarkan islam. Jika ada yang salah pada orang2 yg “mengaku” salafy, maka kesalahan itu tdk boleh dinisbatkan kpd “salafy” ato ajaran “salaf” nya krn itu sama saja dgn menyalahkan ISLAM itu sndiri. Kesalahan yg trjadi adalah krn piciknya pemahaman org2 tsb krn tdk bertanya kpd para ulama ahli ijtihad, sok berfatwa mslh2 kontemporer. Dan ini terjadi di setiap jaman semenjak jman shahabat,tabiin,serta tabiut tabiin. Ada saja org2 yg menisbatkan diri kpd Islam, Ahlussunnah, ato Salaf yg tersesat dan nyata2 bertentangan dgn manhaj salafus sholeh dan manhaj salaf berlepas diri dari mereka. Sbgmana syair yg sgt terkenal : “ Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila, sementara Laila sendiri tdk merasa memiliki hubungan dgnnya” Jadi camkan itu, semoga kalian mendapat petunjuk-NYA…

Posted by Ummu Arif  on  11/22  at  07:54 PM

Heran sungguh heran, mengapa JIl nanya ke sidney, apa tujuannya??Mana tahu dia penderitaan saudara-saudara muslim kita disana, apalagi dia seorang kapitalis...Kalo anda mau tau Salafi, makanya mengaji, mencari Ilmu agama itu bukan pada kaum orientalis...Cape deh

Posted by si bolang  on  08/07  at  01:21 PM

Dari judulnya terkesan sekali berusaha untuk mejustifikasi kelompok tertentu dalam umuat islam.  Kita tidak boleh lagi terkooptasi oleh pemikiran yang berusaha memecah belah kaum muslimin, apalagi segolongan umat yang ingin menjalankan agama islam secara “kaffah”. Dalam islam tidak ada yang pengkataggorian ektrem, fundamental atau moderat kesuanya itu hanya akal-akalan kaum kapitalis untuk memecah belah kaum muslimin.  Seharusnya kita bangga dengan apa yang dilakukan oleh ustad abu bakar ba’syir yang gigih ingin menerapkan islan secara kaffah.  jadi seluruh gerakan islam yang ada hendaknya sudah harus mereposisikan diri dalam pemikiran dan perbuatan. Kita harus ingat bahwa tujuan kita dalah satu yaitu mengembalikan lagi islam sebagai sumber dan pedoman hidup manusia untuk semua aktivitasnya, karena kita diciptan oleh Allah dan Dia telah memeberikan pentunjuk jalan yang benar. Marilah semua bersatu unyuk kejayaan islam janganlah kita bersatu untuk kehancuran islam.
-----

Posted by suwardi  on  09/27  at  10:10 PM

Mestinya bukan Sidney Jones tempat untuk bertanya. Coba ke Hamas langsung atau Libanonnya. Jelas-jelas Sidney itu sama dengan anda. Hingga dia bilang wajar kalau Israel tidak menerima jika nggak punya hub diplomatik ikut bantu. Kalau anda disiksa sama seseorang atau siapalah apa orang sekitar anda nggak ada yang bantuin meski oarang itu nggak punya hub saudara paling nggak tetangga, kan. Enteng banget, bilang wajar. Coba dibaca lagi sejarah Hamas sejarah Zionis Israel sampai perang salib. Siapa yang menumpahkan darah kebencian paling dalam. Semoga penanya dan yang ditanya nggak bodoh-bodoh amat untuk melihat lagi sejarahnya dan nggak bodoh-bodoh amat mengeluarkan statment yang membelokkan kebenaran.

Posted by LIA  on  09/27  at  02:10 AM

Saya sependapat dengan komentar sebelumnya...salafi tidaklah identik dengan Ekstremis Kanan. salafi merupakan ajaran untuk kembali pada ajaran Islam yang murni… Kalaupun banyak orang-oramh salafi yang terkesan keras itu bukanlah ajarannya melainkan gerakan-gerakan kelompok itu sendiri. Poin kedua yang ingin saya tekankan, jika ingin aksi-aksi jihad dan bom bunuh diri hilang maka aksi teroris dunia sebenarnya yaitu AS dan Israel harus terlebih dulu dihentikan. karena aksi-aksi Jihader tersebut hanyalah reaksi defensif dari kondisi yang menekan mereka…

Posted by Beben  on  09/26  at  05:09 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq