Gempa dan Teologi Apokaliptik - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
05/06/2006

Gempa dan Teologi Apokaliptik

Oleh Luthfi Assyaukanie

Gempa bumi adalah fenomena alam lainnya yang jika terjadi secara dahsyat akan memunculkan bencana besar (disaster). Sama seperti pertistiwa “bintang jatuh,” gempa bumi memiliki aspek teologis yang bersifat apokaliptik dan juga memiliki aspek ilmiah yang bersifat alami.

Bencana dalam bahasa Inggris disebut “disaster.” Istilah ini merupakan gabungan dari dua kata Latin “dis” yang berarti “anti” (against) dan “astrum” yang berarti “bintang” (star). Pada abad pertengahan di Eropa, istilah “disastrum” digunakan untuk merujuk pada bencana yang diakibatkan oleh benda-benda yang jatuh dari langit. Tentu saja, yang dimaksud dengan “benda-benda yang jatuh dari langit” bukanlah bintang, tapi meteor yang merupakan fenomena alam biasa.

Bintang jatuh atau meteor telah lama menjadi mimpi buruk kaum agama di masa silam. Lukisan-lukisan mural yang ada di gereja dan gedung-gedung agama, kerap memuat ilustrasi bintang jatuh sebagai awal-mula bencana dan malapetaka. Gambaran-gambaran tentang akhir dunia (apokaliptik) juga kerap dipenuhi dengan ilustrasi “bintang jatuh” yang oleh para astronom modern, kemudian diidentifikasi sebagai “meteor.”

Bagi kaum agamawan, bintang jatuh atau meteor adalah peristiwa apokaliptik yang memunculkan bencana dahsyat. Begitu dahsyatnya bencana itu, peristiwa bintang jatuh kerap dilukiskan sebagai peristiwa kiamat. Bagi orang yang mendengar atau merasakan secara tak langsung, peristiwa itu barangkali merupakan “kiamat kecil,” tapi bagi orang yang menyaksikan secara langsung dan apalagi mengakibatkannya meninggal, peristiwa itu benar-benar sebuah kiamat.

Bintang jatuh atau meteor adalah peristiwa biasa yang terjadi setiap hari. Ada musim-musim yang kerap disebut sebagai “hujan meteor,” di mana langit dipenuhi pemandangan benda-benda langit yang jatuh ke Bumi. Tentu, tidak semua meteor jatuh ke Bumi. Dan hanya sebagian kecil saja dari ribuan meteor yang memberi dampak bagi makhluk di Bumi. Menurut para ilmuwan, fenomena “bintang jatuh” dalam pengertian disaster atau bencana besar, terjadi setiap setengah juta tahun sekali.

Gempa bumi adalah fenomena alam lainnya yang jika terjadi secara dahsyat akan memunculkan bencana besar (disaster). Sama seperti pertistiwa “bintang jatuh,” gempa bumi memiliki aspek teologis yang bersifat apokaliptik dan juga memiliki aspek ilmiah yang bersifat alami. Para ilmuwan menemukan bahwa gempa bumi bukanlah peristiwa aneh yang jarang terjadi. Tapi, ia adalah peristiwa yang terjadi setiap hari. Tidak kurang satu juta kali gempa bumi dengan berbagai ukuran terjadi setiap tahun.

Baik bintang jatuh maupun gempa bumi akan menjadi peristiwa teologis jika terjadi dalam skala besar, khususnya jika melibatkan kehidupan manusia. Ratusan meteor menghantam Jupitar atau planet lainnya setiap hari, tapi karena tak melibatkan manusia, ia adalah fenomena alam belaka yang tidak memiliki nuansa teologis (siapa yang peduli dengan kiamat di Jupiter?). Gempa juga terjadi setiap saat, dengan berbagai ukuran, di berbagai tempat. Ia bukanlah peristiwa teologis selama tak membuat susah manusia.

Gempa yang baru saja terjadi di Jogjakarta dan Jawa Tengah adalah peristiwa alam dan sekaligus peristiwa apokaliptik. Setidaknya itulah yang saya rasakan pada Sabtu pagi yang mengerikan itu. Saya berada di ruang tunggu Bandara Adi Sucipto, ketika bumi tiba-tiba bergoyang dan atap runtuh. Pada saat itu, saya mengira, kiamat baru saja datang. Pada menit-menit berikutnya, aura kematian terasa menyengat, dan dalam keadaan lemah tak berdaya, Tuhan tiba-tiba hadir. Kita tidak memintanya hadir. Tapi, ia datang begitu saja memenuhi ruang kosong dalam kelemahan kita.

Saya teringat akan kisah-kisah “pengalaman mendekati kematian” (NDE, Near Death Experience) yang banyak diceritakan dunia psikologi. Orang-orang beriman menganggap fenomena NDE sebagai bukti adanya alam lain di luar dunia yang fana. Tapi, pengalaman NDE begitu personal dan kompleks sehingga amat sulit dibuktikan dan dihayati oleh orang yang tidak merasakannya.

Bertahun-tahun, para tokoh agama memandang bencana besar seperti “bintang jatuh” dan gempa bumi secara apokaliptik. Ilmu pengetahuan mencoba menjelaskan setiap perisiwa itu secara ilmiah. Para ilmuwan menemukan bahwa gempa adalah peristiwa alam biasa yang terjadi setiap hari. Komet atau meteor adalah peristiwa yang bisa disaksikan setiap malam.

Namun, bencana besar yang terjadi di Jogja tetaplah sebuah peristiwa apokaliptik, bukan hanya karena ia merusak begitu banyak bangunan dan gedung, tapi karena ia menyentuh kesadaran dan eksistensi manusia. []

05/06/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sebagaimana yang selalu dilakukan, setiap kali terjadi suatu bencana alam terutama yang bersifat masif dan merenggut korban nyawa manusia seperti halnya gempa Jogja dan Jawa Tengah ataupun juga bencana Tsunami dua tahun lampau, kita -yang konon disebut sebagai insan relijius- selalu berusaha melakukan refleksi spiritual-teologis tentang berbagai hal seputar bencana tersebut. Dan, -sebagai konsekuensi dari insan yang mempercayai keberadaan Tuhan- kita tentu akan selalu bertanya apa gerangan maksud Tuhan menimpakan bencana yang sedemikian hebat kepada kita (yang dalam beberapa tahun terakhir senantiasa menimpa kita secara beruntun).

Berbagai argumen tentu berusaha diajukan untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, untuk sesekali, marilah kita coba keluar dari pandangan metafisik seperti ini dan mencoba untuk mengadakan refleksi yang lebih realistis-rasional dan humanis(human-sentris), atau dengan bahasa yang lebih vulgar: mencoba sesekali berfikir materialis(untuk tujuan baik dan tanpa menolak pemikiran metafisis).Sebenarnya, adalah sebuah kekonyolan jika dalam bencana alam khusunya gempa, masih timbul banyak korban untuk wilayah seperti Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa secara ilmiah telah diketahui sejak lama bahwa wilayah Indonesia adalah wilayah yang amat sangat rentan terjadi gempa. Seharusnya diadakan prevensi yang cukup sehingga apabila terjadi gempa tidak muncul korban yang begitu banyak.

Dan langkah prevensi yang paling tepat adalah -sebagaimana yang dilakukan oleh negara rawan gempa lainnya seperti Jepang- dengan mengadakan sosialisasi dan penggalakan perencanaan bangunan-bangunan tahan gempa. Baik untuk fasilitas umum maupun untuk fasilitas pribadi seperti rumah tinggal. Korban gempa hampir seluruhnya adalah korban akibat tertimpa bangunan yang runtuh, dan untuk gempa Jogja dengan korban terbanyak dari daerah Bantul yang secara sosiologis adalah daerah pedesaan dengan bangunan rumah yang masih sangat tradisional sehingga sangat rawan terhadap bencana seperti gempa, maka jika dibandingkan secara relatif dengan daerah perkotaan seperti Jogjakarta hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dan kegagapan pemerintah dalam mengadakan pembangunan selama ini. Pembangunan yang dilakukan -sebagaimana yang juga terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia- hanya terkonsentrasi perhatiannya di kota, dan kurang memperhatikan kondisi ekonomis pedesaan.

Salah satunya pembangunan infrastruktur perumahan rakyat, yang jelas-jelas merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai konstitusi. Ini menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam mengadakan pembangunan, hanya pada simpul-simpul modal -yang menjanjikan income besar baik legal (pajak) maupun ilegal (kolusi, pungli, hingga korupsi)- dan bukannya berkonsentrasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat -terutama rakyat miskin (yang kebanyakan berbasis di daerah pedesaan)- secara riil. Kini, setelah semuanya terjadi, setelah lebih dari 5000 nyawa manusia terenggut, baru diadakan wacana untuk membangun rumah rakyat murah tahan gempa. Pertanyaannya, apakah untuk membangun bangsa ini diharuskan dengan tumbal korban ribuan nyawa rakyatnya?

Wassalam.
-----

Posted by Joeni Arianto Kurniawan  on  06/07  at  07:07 AM

Bagi para korban gempa, saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam, semoga para arwah para korban diberikan balasan yang sesuai oleh Allah.

Menurut ungkapan dari Arabisme:-) bahwa maut atau ajal sebenarnya lebih dekat daripada urat leher kita manusia. Jadi, semua manusia dituntut untuk menaati perintah Allah sebagai pencipta alam semesta dan Tuhan seluruh alam. Masalah ketaatan itu dengan menjadi Islam atau non Islam, kami kaum muslimin tidak berhak memaksakan keislaman kepada saudara yang non muslim.

Yang paling celaka kalau kita tidak bisa mengambil hikmah dari suatu musibah. Tapi saya yakin Pak Luthfie Syaukanie pasti akan semakin intens mendekatkan diri kepada Allah, karena beliau “berhasil” melepaskan diri dari dogma-dogma agama yang mengikat dan cenderung arabisme wal wahabisme.

Dengan derajat demikian, bahkan Nabi Muhammad pun lewat dan tidak mampu mencapainya, karena masih terpengaruh dengan dogma agama dan ajaran Islam. Selamat buat Pak Luthfie, karena selamat dari gempa Jogja.

Posted by Budi  on  06/07  at  02:07 AM

Secara sedarhana (mudah-mudahan tidak salah), saya memahami tulisan saudara Luthfi bahwa dalam tiap fenomena alam yang terjadi, ada dua aspek.

1. aspek ilmiah yang bersifat alami dan “sudah lumrah” untuk terjadi.

2. aspek teologis berupa kesadaran akan “ke-Maha Kuasa-an” Tuhan atas fenomena-fenomena tersebut. Aspek kedua inilah yang akan mengantarkan kita pada kesadaraan akan ketidak berdayaan kita di hadapan Tuhan dan mengajak kita untuk kembali kepada-Nya. Pernyataan ini tentu saja mengandung kebenaran yang tidak mungkin ditampik. Bahwa kemudian banyak orang yang menafsirkan gejala alam itu, terutama yang bersifat menghancurkan tata kehidupan umat manusia seperti gempa bumi, sebagai bentuk cobaan, teguran, atau bahkan siksaan itu adalah masalah lain.

Sayangnya, aspek teologi yang bersifat apokaliptik itu muncul pada diri kita hanya pada saat di mana kita merasa terancam, tertindas, dan tak berdaya menghadapi penindasan orang lain atau amukan alam. Pendek kata, kesadaran akan ke-Maha Kuasa-an Tuhan muncul pada saat-saat kita susah. Sementara pada saat kita senang - karena mendapat rezeki yang banyak, naik kelas, naik jabatan, dll - kita banyak melupakan Allah.

Sehingga seakan-akan segala keberhasilan yang kita peroleh adalah murni hasil usaha kita tanpa campur tangan Tuhan sehingga kita tidak perlu berterima kasih kepada-Nya, sementara segala jenis kesusahan yang menimpa kita adalah 100 persen saham Tuhan sehingga kita harus mendekati-Nya agar Dia berkenan menghindarkan atau paling tidak mengurangi penderitaannya. Sehingga dalam benak kita, secara tidak sadar kita kemudian menggambarkan Tuhan sebagai satu sosok yang begitu kejam karena menyengsarakan makhluk-Nya, dan bukannya Tuhan Yang Maha Penyayang karena telah melimpahkan segala jenis kesenangan pada diri kita.

Kita perlu belajar dari sejarah Rasul saw. di mana setelah beliau secara gilang gemilang berhasil membebaskan kota Mekah dari kemusyrikan dan kejahatan, lalu berduyun-duyun manusia datang pada Islam, Allah SWT menurunkan surat An-Nashr yang intinya adalah menyuruh Rasul saw. untuk bertasbih (memuji Allah) dan beristighfar (memohon ampun). Jadi kewajiban untuk selalu memuji Allah dan memohon ampun dianjurkan bukan ketika dalam kesusahan saja, tapi lebih banyak porsinya justri ketika kita sedang menikmati segala macam kesenangan.

Wallahu A’lam

Posted by Misbahul Huda  on  06/06  at  12:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq