Gus Dur Ketemu Huntington - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
15/12/2003

Gus Dur Ketemu Huntington

Oleh Redaksi

Kritisisme terhadap Huntington tersebut diceritakan Gus Dur dalam kesempatan Tadarus Ramadlan di Ponpes. Mahasiswa “baru” Ciganjur asuhan beliau. Selama 11 hari, “minggu rahmah” ramadlan ini, beliau nderes Qathr al-Nada karya ibnu Hisyam. Sebuah pembedahan “lughawiyyah” nahwu, kepada universalisasi peradaban Islam dan Dunia.

Dari Duta Masyarakat, 1 Desember 2003
Oleh Syaiful Arif*

“Profesor, sampeyan itu salah. Jangan dilihat perbedaan pohon yang warna-warni itu, coba lihat hutannya (dari atas), maka akan terlihat bahwa semua sama : hijau ”. Demikian kritik Gus Dur terhadap teori “benturan peradaban” (clash of civilizations) Samuel P. Huntington, yang seakan menjadi “wahyu” tentang terjadinya “perang suci” antara Islam dan Barat. Teori tersebut telah membenarkan bahwa Islam adalah ancaman bagi dunia. Dan penumpasan terhadap para “muslim teroris” itu adalah sah adanya.

Kritisisme terhadap Huntington tersebut diceritakan Gus Dur dalam kesempatan Tadarus Ramadlan di Ponpes. Mahasiswa “baru” Ciganjur asuhan beliau. Selama 11 hari, “minggu rahmah” ramadlan ini, beliau nderes Qathr al-Nada karya ibnu Hisyam. Sebuah pembedahan “lughawiyyah” nahwu, kepada universalisasi peradaban Islam dan Dunia.

Gus Dur bertemu dengan penulis buku Clash of Civilizations and The Remaking of Wordl Order itu, beberapa tahun lalu di Jepang oleh undangan Young mere Simbon, harian terbesar dunia, yang memiliki oplah dua belas juta tiap hari. Gus Dur mewakili Islam, Cang Heng Chi dari Singapore mewakili Konghucu (Duta Besar Singapore untuk Amerika Serikat), dan Prof. Aoki dari Osaka Univercity mewakili agama Shinto Jepang.

Bertemunya Gus Dur dengan Huntington memiliki makna penting, sebab saat ini memang sedang kita saksikan clash antara Barat dan sebagian muslim, yang dikenal dengan “kilatan pedang” jihadnya. Mungkin makna ini bisa disamakan dengan pertemuan Ketum PBNU, Kyai Hasyim Muzadi dengan Bush yunior di Bali, Oktober kemarin. Saat itu Cak Hasyim juga me-warning Bush, bahwa Islam (di Indonesia) bukanlah teroris.

Lebih lanjut beliau mengkritik, bahwa Huntington telah menggeneralisir beragamnya Islam menjadi Islam yang satu: Islam militan. Padahal saat ini tengah terjadi geliat “revivalisme Islam” yang warna-warni. Ada Islam fundamental, Islam liberal, Post-Tradisonalisme Islam, Post-Modernisme Islam, Islam transformatif, Islam emansipatoris, Islam tradisional, Islam modernis, Islam formalis, Islam substantif, dan bahkan istilah Soekarno, Islam sontoloyo.

Nah inilah kesalahan Huntington. Menurut Gus Dur, guru besar ilmu politik Harvard Univercity tersebut menggunakan ukuran ganda dalam teorinya.  Group Yahudi ultra ortodoks, yang setiap hari Sabbat (sabtu), melempari mobil yang lewat di Yerussalem (karena nyetir mobil menurut mereka adalah kerja), sementara kerja dilarang dalam agama Yahudi pada hari sabtu. Akan tetapi, kaum Yahudi ini tetap di-ma’fu, dan tetap menjadi big family dari peradaban Barat yang modern itu. Sementara, ketika ada muslim yang berbuat agak keras dalam beragama langsung dicap ekstrimis dan teroris. Huntington kemudian nggebyah uyah bahwa semua muslim adalah ekstrim. 

Formalisme Islam

Pertemuan dan kritik Gus Dur juga relevan dengan apa yang disebut William Liddle (1996) sebagai ekses liberalisasi politik pasca Soeharto, yakni fenomena bermunculannya gerakan formalisme Islam yang mempunyai dua agenda besar : Jihad melawan Amerika (Barat) dan “nafsu” pendirian al-daulah al-Islamiyyah (negara Islam) layaknya gerakan Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani.

Ada tiga fenomena ekspresi kaum formalis ini. Pertama, berdirinya banyak partai Islam berazas Islam, sebagai pengganti Pancasila. Kita tahu, PPP dan PBB bersikeras memasukkan kembali Piagam Jakarta lewat amandemen Pasal 29 UUD ’45 yang ternyata gagal dalam tiga kali ST MPR (2000, 2001, dan 2003).

Kedua, tuntutan penerapan syari’at Islam, baik oleh daerah seperti Nanggroe Aceh Darussalam dan Sulawesi Selatan, maupun legislasi hukum Islam ke ranah UU. Kita bisa lihat, betapa kontroversi delik zina dalam revisi KUHP oleh Depkeham, serta yang terbaru, RUU Kerukunan Umat Beragama (KUB) oleh Depag, yang menjadikan agama sebagai faktor tindakan kriminal. Secara implisit bisa terbaca, bahwa fihak-fihak dibelakang pembuat berbagai UU tersebut ingin memasukkan syari’at Islam (yang sebatas fiqh) kedalam “palu legislasi” negara.

Ketiga, munculnya kelompok muslim yang dianggap “garis keras”; Laskar Jiihad, Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, dan “hantu” Jama’ah Islamiyyah. Mereka mengusung jargon amar ma’ruf nahy munkar dengan dilapisi pemahaman ayat secara literal bergelorakan ekstrimisme : wa man lam yakun bima anzalallah faulaika hum al-kafirun. Semua yang tidak “serba Allah” maka kafirlah ia ! (Azyumardi Azra, 2003).

Jika melihat fenomena ini, maka memang valid ramalan Huntington. Dia menggambarkan bahwa tengah terjadi gelombang kebangkitan Islam, sebagai indikasi bangkitnya peradaban Timur. Kebangkitan tersebut lahir dari keterasingan sebagian masyarakat yang merasa terluka oleh hegemoni modernitas Barat, sehingga yang muncul kemudian adalah kekerasan atas nama agama (SP Huntington, x: 2003). 

Namun, jika kita kritisi, teori benturan peradaban ini sebenarnya adalah akal-akalan Amerika untuk memperlihatkan bahwa memang ada kekerasan dalam Islam, sehingga diharapkan dunia membenarkan “teror” negara adi daya itu terhadap segelintir muslim lewat isu terorismenya.

Maka, akhirnya Gus Dur berkata, “Profesor, saya terpaksa tidak bisa menerima teori sampeyan. Mengapa? Karena ratusan ribu muslim belajar di Barat. Walaupun mereka belajar teknologi, kedokteran, administrasi, dll, tapi mau tidak mau harus mengambil kultur Barat dalam sehari-hari. Tetapi mereka juga tidak akan jadi Barat seratus persen. Karena itu, harapan anda untuk membaratkan mereka tidak betul”.



*Penulis adalah mahasiswa Pemikiran Politik Islam, UIN Syahid. dan koordinator kajian Ponpes. Mahasiswa Ciganjur, Jakarta.

15/12/2003 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Jangan-jangan cuma akal-akalan Amerika aja untuk memerangi ummat Islam/menghancurkan Islam.
-----

Posted by Muhammad Nur  on  01/29  at  08:01 AM

Lagi, pembodohan Informasi! Menjadi nilai exclusive bagi kalangan akademisi dan teknorat untuk mengangkat citra “kepintaran”, dan menjadi “batu asahan” bagi awam.

Mereka (Barat yang jahil) harusnya diredam dengan merangkul Barat nonjahil. Mudah dikatakan tapi sulit dijalankan bukan?

Kecurangan perilaku selalu lekat pada mereka, semisal bila kita berdialog/berinteraksi diwajibkan melepas atribut keberagamaan kita, sehingga wacana budaya humanislah yang menjadi baju kita, tetapi tidak dengan mereka.

Kita berdialog dengan nilai-nilai luhur akhlak Islam yang karimah, sedangkan mereka menjadikan Perang Salib sebagai acuan/perspektif interaksi. Kapan mau nyambung?

Sebagian dari kita siap menjadi “teroris”. Dan Perang Salib tak terelakkan. Itu yang mereka mau bukan?

Setelah hancur secara moral (globalisasi), hancur secara ekonomi (akibat KKN, IMF, World Bank), dan hancur pada bidang-bidang lainnya membuat kita mudah kalah (menurut anggapan mereka). Itu yang mereka mau, bukan?

Siapa yang teroris?

Posted by Baihaqi  on  01/13  at  12:01 PM

Kadang kita memang harus agak keras terhadap kritikan, namun harus mempunyai dasar yang benar. Saya rasa tanggapan Gus Dur terhadap penilaian Islam itu Teroris sangat benar dan seharusnya kita dukung. Penilaian yang salah terhadap Islam tidak sepatutnya dilawan dengan emosi dan ‘pedang’. Tidak benar kalau ‘nggebyah uyah’ Islam itu teroris. Jangan mengaku Islam kalau membenarkan Terorisme, atau jangan mengaku beragama deh kalau mengamini terosrisme… Pemikiran Prof. Huntington itu ngawur dan sangat berbahaya bagi kedamaian dunia, pemikirannya tidak akan menguntungkan siapapun. Tidak bagi dunia Barat apalagi bagi kaum Muslim. Berpikiranlah dingin dan membuka wawasan dulu sebelum menanggapi sesuatu yang sepertinya menarik untuk ‘disikat’ tapi sebenarnya bumerang bagi kita....

Posted by aditya bentoni  on  12/18  at  01:12 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq