Hijabisasi Perempuan dalam Ruang Publik - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
25/11/2001

Hijabisasi Perempuan dalam Ruang Publik

Oleh Nong Darol Mahmada

Dalam Islam tidak jelas dikotomi publik dan privat. Perempuan Islam tetap menjalankan tugas reproduksinya tanpa meninggalkan kehidupan publiknya. Ini terlihat dari keterlibatan dan keaktifan isteri-isteri Nabi dan sahabat-sahabat perempuan beliau yang bisa kita baca dalam sejarah hidup Nabi.

Ruang publik yang dimaksud di sini adalah semua wilayah kehidupan sosial yang memungkinkan kita untuk membentuk opini publik. Pada prinsipnya, semua warga masyarakat boleh memasuki ruang ini, entah itu perempuan maupun laki-laki. Yang dipercakapkan dalam ruang ini adalah persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan umum yang dibicarakan tanpa paksaan. Dalam ruang ini tercipta iklim demokratis, karena dengan itulah konsensus yang bebas dari paksaan dan dominasi bisa dicapai.

Konsep ini diambil dari Habermas tentang teori masyarakat dan mengundang perdebatan dikalangan feminis. Karena masyarakat yang dimaksudkan Habermas dalam penciptaan opini publik ini, kata para feminis, mengabaikan perempuan yang identik dengan ruang privat. Karenanya, pembagian dikotomi antara publik dan privat menjadi salah satu aspek analisa para feminis.

Awal kritik tentang dikotomi publik dan privat ini disampaikan oleh Mary Walstonecraft, seorang pelopor feminis liberal abad kedelapan belas. Dalam masyarakat yang kontemporer, katanya, pertumbuhan kapitalisme dan peraturan-peraturan dalam sebuah negara menimbulkan kebingungan dalam bentuk dikotomi antara ruang publik dan privat. Kemunculan ekonomi pasar, sebagai tanda awal kapitalisme pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas amat menganggap penting pemisahan antara publik dan masyarakat. Kehidupan publik dianggap berhubungan dengan urusan dan layanan yang diberikan negara. Masyarakat menyediakan hak-hak bagi laki-laki, tidak pada perempuan. Padahal hanya sedikit laki-laki yang berperan dalam ruang publik. Menurut Walstonecraft, menyingkirkan perempuan dalam ruang publik akan menyuburkan dominasi terhadap perempuan. Tidak hanya feminis liberal yang mengkritik dikotomi ruang terhadap perempuan ini, feminis radikal dan feminis sosialis juga melakukan hal yang sama.

Mesjid sebagai Ruang Publik

Dalam Islam, terlepas dari kritik feminis, konsep ruang publik yang diterangkan Habermas ini ada dan tercipta ketika Nabi Saw masih hidup. Seperti yang dikatakan oleh Fatima Mernissi dalam bukunya Women in Islam, tata ruang yang diciptakan Nabi pada awal-awal Islam, telah mengondisikan iklim demokratis yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Kalaupun ada dominasi itu hanya ada pada Nabi. Karena Nabi mempunyai otoritas wahyu dari Allah sehingga mempunyai posisi dan peran sebagai problem solver yang menjawab semua persoalan umat Islam.

Dalam Islam tidak jelas dikotomi publik dan privat. Perempuan Islam tetap menjalankan tugas reproduksinya tanpa meninggalkan kehidupan publiknya. Ini terlihat dari keterlibatan dan keaktifan isteri-isteri Nabi dan sahabat-sahabat perempuan beliau yang bisa kita baca dalam sejarah hidup Nabi.

Kenapa hal ini terjadi? Menurut Mernissi karena sejak awal tata ruang yang diciptakan Nabi sudah mengondisikan perempuan untuk aktif dalam ruang publik. Ruang yang diciptakan Nabi yang terdiri dari mesjid, tempat tinggal Nabi dan isteri-isterinya serta sahabat-sahabat terdekatnya, telah mebentuk kesatuan. Kesederhanaan bentuk pemukiman mereka, kedekatan satu sama lain, dan kedekatan mereka dengan mesjid, memberikan dimensi demokratik dalam masyarakat muslim. Pada saat itu, mesjid menjadi pusat kegiatan politik dan keagamaan. Suara dan aspirasi kaum perempuan juga terakomodir di sini dan menjadi opini publik. Sama halnya dengan suara kaum laki-laki. Ingat misalnya kasus Ummu Salama yang memprotes Nabi dan kasus Kubaysya binti Ma’an.

Menyatunya tempat tinggal dan mesjid ini tidak menghalangi keterlibatan perempuan Islam, baik isteri-isteri Nabi atau sahabat-sahabatnya, dalam berperan baik sosial, politik dan keagamaan. Perempuan-perempuan biasa keluar masuk mesjid untuk mendapatkan pendidikan dari Nabi. Jalinan perasaan antara perempuan dan mesjid telah menciptakan poros dalam masyarakat dan mengangkat tingkat kesadaran dan peran serta mereka dalam masyarakat. Hasil nyatanya telah dapat disaksikan pada zaman Nabi dengan munculnya banyak sahabat perempuan teladan.

Hijabisasi (pembatasan) perempuan dari ruang publik

Setelah Nabi Saw wafat, aktivitas perempuan berangsur-angsur surut. Ditambah dengan peristiwa keterlibatan Siti Aisyah (isteri Nabi) dalam memimpin perang unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa itu kontroversial dikalangan pemikir Islam klasik. Ada satu pendapat yang mengatakan, tindakan itu merupakan ijtihad Aisyah sehingga tidak berdampak politis apa-apa dan ia mendapatkan satu pahala. Ada juga sebagian kalangan yang mengatakan, peristiwa itu biang perpecahan umat Islam. Sehingga menjadi legitimasi perempuan Islam untuk tidak berkiprah di bidang politik. Ini juga didukung dengan adanya hadis yang diriwayatkan Abu Bakrah tentang kepemimpinan perempuan.

Puncak pembatasan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada dinasti Umayah masa Khalifah Al-Walid II (743-744 M), perempuan pertama kalinya ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Gaung keterlibatan perempuan, pada masa ini, hampir tidak terdengar. Pada akhir kekhalifahan Abbasiyah yaitu pada pertengahan abad ke-13 M, sistem harem telah tegak kokoh.

Pada periode inilah, lahirnya tafsir-tafsir Al-Qur’an klasik semisal Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya. Ini mempengaruhi penafsiran-penafsiran mereka yang mengabaikan ayat-ayat kesetaraan. Pada masa ini juga, hadis-hadis yang tadinya merupakan sunnah yang hidup (living sunnah) menjadi terkodifikasikan dalam bentuk baku. Sehingga tak bisa dipungkiri akan adanya hadis-hadis yang bersifat misoginis, merendahkan perempuan.

Kondisi ini melahirkan pemikir Islam yang ingin mengembalikan posisi perempuan seperti dalam zaman Nabi Saw. Gerakan ini diawali oleh Qosim Amin, salah satu murid Muhammad Abduh, dalam bukunya Tahrirul Mar’ah yang merupakan tonggak gerakan perempuan dunia Islam. Qosim mempreteli konsep hijab, poligami dan thalaq yang katanya sangat merendahkan perempuan Islam. Sekarang, banyak pemikir Islam yang menyuarakan hal itu. Bahkan beberapa pemikir perempuan secara serius menggali teks-teks suci, misalnya Fatima Mernissi di Marokko, Riffa’at Hassan di Pakistan, Amina Wadud Muhsin di Malaysia, Nawal Al-Saadawi di Mesir dan sebagainya.

Di Indonesia, hijabisasi terhadap perempuan sempat ramai lagi seiring dengan derasnya tuntutan diberlakukannya syari’at Islam. Dan hijabisasi merupakan agenda pertama dari penerapan syariat Islam. Ini bisa kita lihat dalam bentuk diwajibkannya memakai jilbab, pembatasan ruang gerak dan sebagainya. Contohnya di Aceh dan Padang atau daerah-daerah yang menghendaki pemberlakuan syariat Islam. Bahkan mesjid yang dulu berfungsi sebagai ruang publik sekarang hanya milik kaum lelaki. Praktek-praktek seperti ini pun terjadi di negara-negara yang mendasarkan pada syari’at Islam, misalnya Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi, Sudan dan sebagainya. Dalam konteks sekarang, dimana kesetaraan perempuan tidak lagi dipersoalkan, membatasi perempuan dari ruang publik merupakan langkah yang mundur bagi keberlangsungan masa depan Islam.

25/11/2001 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Dalam beberapa hal saya setuju dengan tulisan yang dibuat oleh Nong Darul Mahmadah. saya berpandangan bahwa banyak ulama’ yang mencoba mempolitisir qur’an dan hadits sebagai sebuah bentuk legitimasi kekuasaan kaum laki-laki. dalam konteks ini perlu pembacaan yang benar terhada teks-teks agama yang terkesan mendiskriditkan kaum perempuan. islam telah menampatkan perempuan pada posisi yang agung yang setara dengan kaum laki-laki. maka tidak benar jika perempuan mempunyai posisi yang jauh lebih rendah dari kaum laki-laki. di sisi lain dalam menelaah teks keagamaan jika kita menggunakan metode barat secara utuh dan tidak mempertimbangkan tradisi keilmuan islam. maka ini adalah sebuah bentuk arogansi yang perlu di kaji ulang.
-----

Posted by zuhron arofi  on  04/02  at  12:04 AM

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya tidak percaya perempuan adalah makhluk lemah. Perempuan adalah manusia, dan bagaimana pun pertimbangannya, manusia adalah makhluk yang paling sempurna, paling perkasa dan paling pantas untuk menjadi khalifah di bumi. Perempuan adalah salah satu jenis manusia yang berbeda dengan laki-laki. Memang kekuatannya berbeda dengan laki-laki, tetapi sama kuatnya.

Manakah yang lebih kuat, prosesor Intel atau AMD? Jawabannya tentu tidak sederhana. Jika dilihat dari satu sisi, barangkali Intel memang yang terbaik. Tapi dari sisi yang lain, jelas-jelas AMD lebih unggul darinya. Masalah yang kompleks ini muncul akibat adanya perbedaan spesifikasi di antara keduanya.

Kalau harus berburu hewan di hutan, menebang pohon, atau berperang, barangkali secara umum memang laki-laki lebih pandai melakukannya. Allah memberinya otot-otot yang kuat, fisik yang tangguh dan harga diri yang sangat tinggi. Tapi laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan.

Kalau masalahnya menyangkut aspek-aspek kerapian, ketelitian, ketelatenan, dan kedisiplinan, perempuan justru jauh melampaui laki-laki. Allah memberinya kesabaran, kelembutan hati, kecermatan dan mental yang kuat. Tapi perempuan membutuhkan laki-laki untuk melindunginya.

Allah tidak bodoh. Tidak ada ketidaksengajaan dalam segala tindakan-Nya. Allah tidak menciptakan laki-laki dan perempuan tanpa tujuan. Jika memang laki-laki dan perempuan itu sama, buat apa Allah menciptakan dua jenis manusia? Allah menciptakan dua jenis manusia yang berpasangan ini karena memang yang satu tidak akan bisa hidup tanpa pasangannya. Keduanya saling melengkapi, dan tidak ada di antara mereka yang boleh mengklaim dirinya paling unggul.

Islam menjadikan laki-laki sebagai pemimpin bukan untuk merendahkan perempuan. Kedudukan “pemimpin” dan “yang dipimpin” hanyalah pembagian tugas belaka. Seorang pemimpin tidak lebih mulia daripada yang dipimpin. Seorang pemimpin tidak memiliki kekuatan apa-apa tanpa dukungan yang dipimpin.

Pikiran perempuan cenderung terfokus pada satu hal. Ini adalah keunggulan baginya, karena dengan cara ini, pekerjaan yang ia lakoni bisa ia selesaikan dengan sangat baik, bahkan melebihi laki-laki. Namun laki-laki memiliki keunikan tersendiri, yaitu mampu membagi pikirannya ke dalam banyak hal. ‘Spesifikasi’ inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin. Karena itu, Islam menjadikan laki-laki sebagai pemimpin.

Seorang pemimpin tidak berarti serba lebih dibandingkan yang dipimpin. Allah menjanjikan surga khusus bagi para pemimpin yang adil, namun di sisi lain juga telah menyediakan neraka khusus bagi para pemimpin yang zalim. Mereka yang dipimpin, dalam hal ini, tidak menerima ancaman yang serupa dengan para pemimpin.

Seorang pemimpin bisa jadi lebih bejat daripada yang dipimpin, dan hal ini sangat umum terjadi di masyarakat yang tidak Islami. Oleh karena itu, keputusan Allah untuk menjadikan laki-laki sebagai pemimpin tidak boleh ditanggapi berlebihan. Laki-laki tidak boleh sombong, dan perempuan pun tidak boleh rendah hati.

Jika pemimpin adalah rangka atap, maka yang dipimpin adalah batu bata yang membangun temboknya. Rangka atap memang sangat penting untuk melindungi penghuni rumah dari sengatan matahari dan hujan, namun ia tidak bisa berdiri tanpa tembok yang kokoh.

Kesalahan yang umum terjadi pada umat Islam adalah karena mereka memandang bahwa laki-laki lebih mulia daripada perempuan. Sesungguhnya Allah Maha Adil. Allah hanya menilai ketaqwaan manusia, tidak lebih dan tidak kurang. Seorang perempuan bisa mencapai derajat yang jauh melampaui laki-laki, demikian juga sebaliknya, jika mereka benar-benar bertaqwa.

Khadijah ra. adalah sosok wanita yang tidak akan terlupakan oleh umat Islam hingga akhir jaman. Kita tidak bisa menganggapnya sebagai tokoh figuran atau sekedar pelengkap dalam dakwah Rasulullah saw. Perannya di sisi Nabi Muhammad saw. sangat penting, bahkan vital.

Khadijah ra. adalah istri pertama Rasulullah saw. Rasulullah saw. berpoligami, namun hal tersebut dilakukannya setelah Khadijah ra. wafat. Usianya 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah saw., dan ketika dinikahi, ia sudah menjadi seorang janda. Ia adalah saudagar kaya, sedangkan Muhammad saw. adalah seorang pedagang sederhana. Cinta tumbuh di antara mereka karena keluhuran akhlaq masing-masing.

Meski jauh lebih dari suaminya dan seorang janda pula, namun cinta Rasulullah saw. padanya tidak tanggung-tanggung. Dari sekian banyak istri Rasulullah saw., yang dinikahinya dalam keadaan perawan hanya satu, yaitu Aisyah ra. Ia juga dikenal paling cantik dan paling muda, sehingga wajar jika paling disayang. Namun Aisyah ra. sendiri mengaku cemburu pada Khadijah ra. Padahal, ketika Rasulullah saw. menikahi Aisyah ra., Khadijah ra. telah wafat.

Kecemburuan Aisyah ra. bukan tanpa alasan. Rasulullah saw. memang sangat mencintai Khadijah ra., bahkan setelah ia wafat. Rasulullah saw. seringkali menyebut-nyebut istri pertamanya itu dan memuji-muji kebaikannya. Beliau pun rajin berziarah ke makamnya, dan seringkali menangis jika mengingatnya. Begitu kuat ikatan di antara mereka, hingga Aisyah ra. yang paling muda dan paling cantik pun cemburu pada orang yang telah lama wafat!

Khadijah ra. memang bukan perempuan sembarangan. Ia adalah seorang perempuan besar yang telah ditakdirkan untuk berpasangan dengan seorang lelaki agung.

Setelah menerima wahyu yang pertama kalinya di Gua Hira, Rasulullah saw. pulang ke rumahnya dalam keadaan menggigil ketakutan. Belum pernah beliau demikian ketakutan sebelumnya. Dalam keadaan pucat, ia terduduk, menggigil dan ketakutan. Dalam situasi-situasi genting semacam ini, yang hadir untuk menenangkannya bukanlah sahabat terdekat seperti Abu Bakar ra., bukan pula seorang pemuda perkasa seperti Ali bin Abu Thalib ra., namun Khadijah ra. Rasulullah saw. ketakutan karena menyangka dirinya telah didatangi oleh setan, namun Khadijah ra. menguatkannya dengan keyakinan. Ia yakin suaminya tidak akan didatangi oleh setan, karena ia adalah pria yang amat soleh dan tidak pernah berbuat kejahatan walau secuil pun. Di saat Rasulullah saw. merasa ragu, bahkan ketakutan, Khadijah ra. berada di sisinya dan mengembalikan keberaniannya.

Khadijah ra. adalah seorang saudagar kaya. Kekayaannya itu habis tanpa sisa ketika rakyat Mekkah memutuskan untuk mengisolir Rasulullah saw. dan para pengikutnya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk mengeluhkan keadaan ini. Ia pernah merasakan menjadi orang kaya, namun tidak mengeluh ketika harus menjadi miskin. Dalam masa-masa ini, bahkan Rasulullah saw. pun merasa sedih atas nasib para pengikutnya. Beruntung, ia memiliki seorang istri yang tegar bagai batu karang di sisinya.

Khadijah ra. tidak bisa memimpin pasukan di medan perang. Ia juga tidak bisa mengkoordinasi kerja sedemikian banyak pengikut Rasulullah saw. Ia pun tidak memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dengan berbagai pihak untuk mengamankan jalan dakwah suaminya. Namun ia mampu menyokong Rasulullah saw. dengan kekuatannya sendiri. Dengan keberadaan dirinya, Rasulullah saw. dapat tegar hingga akhirnya keluar menjadi pemenang. Jauh setelah Khadijah ra. wafat, kekuatannya masih tersisa dan membuat Nabi Muhammad saw. tetap tegar di jalan dakwah.

Perempuan setara dengan laki-laki. Hak tersebut tidak perlu diperjuangkan lagi, karena memang demikianlah adanya sejak dahulu kala. Jika ada penyimpangan, maka bukan Islam yang salah, namun kitalah yang salah menafsirkan.

Manusia kini terbagi dalam dua ekstrem. Di ekstrem yang satu, ada pendapat yang mengatakan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Ini adalah pemikiran yang aneh, dan ironisnya, banyak umat Islam yang berada di ekstrem ini. Di sisi lain, ada pula ekstrem lain yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama. Memang mereka setara, namun tidak sama. Ketika kita menyamakan laki-laki dan perempuan, muncullah penderitaan, dan yang paling menderita biasanya justru perempuan.

Dalam rangka ‘menyamakan’ laki-laki dan perempuan, maka kaum feminis pun menyamakan batas-batas auratnya dengan laki-laki. Hasilnya tentu tidak menyenangkan. Hormon seksual laki-laki berjumlah 10 kali lipat dari perempuan, dan akibatnya laki-laki jauh lebih mudah terangsang daripada perempuan. Ketika perempuan tidak lagi menutup auratnya, maka muncullah pemerkosaan, pelecehan seksual, dan di mata laki-laki, perempuan tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu.

Ke mana kita akan berkiblat? Ke Amerika Serikat? Ke Eropa? Apakah kaum perempuan di sana hidup bahagia? Di negara-negara maju, pemerkosaan adalah hal yang amat lazim terjadi. Biasanya perempuan dibuat mabuk terlebih dahulu, lalu dalam keadaan tidak sadar atau setengah sadar, ia bisa diperlakukan seenaknya. Ini adalah fakta yang terjadi di sana. Ratusan perempuan kehilangan keperawanannya pada malam pesta dansa (prom night), dan tak satu pun di antara mereka yang tidak menyesal, meski mereka melakukannya dengan kesadaran sendiri. Jika mereka mengatakan bahwa negara-negara barat menjunjung tinggi hak perempuan, maka hal tersebut adalah sebuah kebohongan yang amat besar.

Ketika perempuan dipaksa untuk menjalani aktivitas seperti laki-laki, akan muncul pula ketidakseimbangan. Biasanya karena merasa tidak mau kalah dengan laki-laki, kaum feminis akan terjun ke dalam bidang-bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Namun perempuan bukanlah laki-laki. Kondisi kejiwaannya berbeda, dan spesifikasi dirinya pun jelas berbeda. Ketika perempuan disibukkan dengan aktivitas di luar rumah, maka ia pun lupa dengan anak-anaknya. Padahal, tidak ada yang lebih baik dalam hal mendidik anak daripada perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mengungguli perempuan dalam hal ini. Ketika perempuan telah lupa dengan anak-anaknya, muncullah generasi muda yang bejat dan semakin bejat saja seiring jaman berganti.

Laki-laki tidak sama dengan perempuan, dan tidak perlu memaksakannya untuk sama. Tapi laki-laki dan perempuan jelas setara. Allah menciptakan manusia dalam keadaan berpasangan untuk saling melengkapi. Karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, dan ada pula hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Tidak ada gender yang unggul dalam Islam. Yang ada hanyalah pembagian tugas.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Posted by Pemerhati JIL  on  03/29  at  06:03 AM

assalamualaikum wr wb

buat saudaraku ukhti nong darul mahmada. membaca dari artikael yang anda tulis disini saya dapat menarikkesimpulan bahwa anda adalah seorang muslimat yang cukup berwawasan, mempunyai paham paham keislaman yang lumayan ( walaupun dengang semua itu anda gunakan untuk kebebasan umat!) tetapi sayang anda dalam membuat pernyataan terlalu coindong kearah dunia barat berorientasi/berkiblat kedunia barat. Camkanlah wahai saudaraku tiada kebebasan,kesenangan ,kepuasan abadi di dunia ini.walaupun anda melakukan ini semua untuk membuat umat islam lebih flexibel dalam menjalankan agamanya, namun anda telah keluar dari rel rel ajaran ISLAM. wassalamualaikum wr wb.

Posted by junaidi  on  12/15  at  09:12 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq