Ide Agama Mirip dengan Pasar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
09/03/2003

Dr. Muhammad Chatib Basri Ide Agama Mirip dengan Pasar

Oleh Redaksi

Kebenaran mungkin tidak bisa diraih oleh manusia sebagai mahluk yang serba finite (terbatas). Karenanya, kata Dr. M. Chatib Basri yang akrab dipanggil Dede, perlu dibuka bursa pasar bebas gagasan untuk menjamin hak kebebasan berpikir dalam agama.

Kebenaran mungkin tidak bisa diraih oleh manusia sebagai mahluk yang serba finite (terbatas). Karenanya, kata Dr. M. Chatib Basri yang akrab dipanggil Dede, perlu dibuka bursa pasar bebas gagasan untuk menjamin hak kebebasan berpikir dalam agama.

Dalam perbincangan tentang agama dan iman ini dengan Ulil Abshar Abdalla dari kajian Utan Kayu hari Kamis (6/3), ekonom muda alumni Australian National University (ANU) yang sekarang menjabat wakil direktur LPEM UI ini menunjukkan kemiripan agama dengan diktum ekonomi, yakni tarik-menarik antara pendulum kebebasan yang ditawarkan Milton Friedman dan adanya aturan ala John Maynard Keynes.

Berikut petikan wawancara yang menarik ini:

Bagaimana Islam diperkenalkan pada Anda sejak kecil?

Saya mesti menggali ingatan. Satu hal yang saya ingat, saya lahir dan besar dalam sebuah tradisi keberagamaan keluarga. Peristiwa keagamaan yang paling membekas sedari kecil, misalnya berbuka puasa. Saya terbiasa duduk-duduk bersama menjelang berbuka puasa. Saat kecil. saya sendiri belum berpuasa, tapi sudah coba-coba ikut sahur. Dimulai dari suasana-suasana seperti inilah pengalaman keagamaan saya dibentuk. Bukan sesuatu proses by-choice, tapi lebih karena tradisi bentukan keluarga.

Dalam perkembangan berikutnya, barulah saya mempelajari sedikit demi sedikit. Tapi saya tak seperti Anda yang mengerti betul tentang agama. Saya belajar sedikit setelah proses pembentukan tradisi dari keluarga tadi berjalan. Sebagaimana yang lain, salat Idul Fitri beramai-ramai juga merupakan suatu pengalaman spiritual awal saya.

Apakah Anda pernah merasakan pengalaman yang yang paradoksal dalam beragama ketika remaja?

Kebetulan hal itu tak terjadi. Saya tak pernah mengalami hal yang pahit, dalam arti kata, kecewa. Yang sering sekali mengganggu adalah soal pemikiran. Seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan tentang agama. Saya ‘kan belajar agama dari guru mengaji dan yang banyak diajarkan dengan kata-kata “jangan dan jangan”. Jangan begini dan jangan begitu. Seolah-olah hidup ini hanya soal haram dan halal. Kadang muncul kontradiksi dalam pemikiran; apa betul begitu? Tapi untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu itu, saya takut. Namanya juga masih kecil. Saat itu saya masih anak ingusan. Akhirnya, hal seperti itu diterima saja sebagai kontradiksi, meski saya rasakan meresahkan.

Anda bersekolah di SMP Kanisius. Ada pengalaman dengan teman-teman non-muslim Anda?

Itu yang saya sebut kontradiksi tadi. Di sekolah Katolik itu saya berjumpa dengan pastur-pastur. Banyak sekali di antara mereka yang baik-baik. Anda tahu, yang diajarkan kepada kita sewaktu kecil ialah hal-hal yang bersifat konvensional. Misalnya, klaim kebenaran (claim of truth) bahwa yang benar mesti (agama) kita saja. Orang yang menganut kepercayaan lain tak pernah benar. Nah, kemudian muncul tanda tanya di benak saya: apa iya orang lain yang sebaik ini tak masuk surga? 

Apakah orang baik hanya ada dalam agama kita saja?

Itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Tapi kalau mau menggali lebih jauh, saat itu saya juga takut. Masalahnya, kita dibesarkan dalam suatu tradisi yang mengatakan: kalau hal-hal seperti itu, jangan ditanya-tanyalah! Nanti malah berdosa. Mungkin, itu terjadi karena kita terlalu familiar dengan proses seperti itu.

Saat Anda mulai melakukan refleksi dan sadar bahwa banyak orang di luar agama kita yang baik, apakah tak menimbulkan gugatan batin?

Ya. Itu sebetulnya yang saya alami. Gugatan batin itu lebih dalam level pemikiran. Karena permasalahannya sederhana saja: pastur ini baik sekali, tapi kok nanti nasibnya sial amat karena dicap masuk neraka?! Itu ‘kan pemikiran yang sederhana saja; bahwa dia tak di jalan Tuhan. Ini menimbulkan pertanyaan yang susah sekali dijawab pada saat itu. Tahun1980-an, saya kira, kita takkan ketemu dan berbincang-bincang dalam soal keberagamaan sebebas ini. Tapi sekarang saya bisa bertemu dan membaca tulisan Anda (Ulil Abshar-Abdalla, Red).

Anda sekolah di Kanisius tahun 1979-1982. Apakah ada semacam konflik di keluarga Anda? Sebagai keluarga muslim, Anda justru memilih pendidikan formal di sekolah non-muslim..

Untungnya tak ada. Memang, keluarga saya cukup terbuka dalam hal itu. Justru persoalan datang dari diri saya ketika berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Lho, selama ini yang diajarkan pada saya adalah Islam itu paling baik dan benar, tapi ternyata, di luar Islam juga ada orang yang baik-baik. Itu yang menimbulkan pertanyaan eksistensial dalam diri saya.

Sewaktu SMA, saya juga bersekolah di Kanisius (tahun 1982-1985). Lalu buku catatan harian Ahmad Wahib terbit. Saya sempat membacanya di kelas tiga SMA. Saya kagum sekali setelah membaca buku yang disunting Johan Effendy itu. Pikiran yang muncul: “boleh juga rupanya memikirkan hal-hal tabu (yang dituliskan Wahib). Saya tak merasa salah mempertanyakan hal tabu.

Anda sudah membaca buku Wahib ketika duduk di kelas tiga SMA?

Ya, tahun 1985. Saya ingat, buku itu bersampul warna hijau dan berjudul Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Wahib ‘kan dibesarkan di Realino, sebuah seminari di Yogyakarta. Ada beberapa hal yang menggugah saya. Ternyata, pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saya, juga menghinggapi orang lain. Lalu saya berpikir, jangan-jangan hal seperti ini merupakan hal yang sangat privat.

Jadi buku Wahib tergolong buku penting dalam hidup Anda, dan ikut menentukan penghayatan keimanan Anda?

Betul. Hanya ketika saya menceritakan buku itu pada teman-teman saat duduk di tingkat satu perguruan tinggi (Ia kuliah di fakultas Ekonomi UI tahun 1986-1992, Red), mereka malah bilang kalau buku Wahib itu berbahaya. Saya juga tak mengerti.

Ketika Anda kuliah di UI, sudah ada kebangkitan gairah keislaman di kampus-kampus dengan ditandai munculnya kelompok-kelompok usrah. Bagaimana Anda berinteraksi dengan kelompok usrah?

Betul. Di kampus saya, kecenderungan itu sudah cukup kuat waktu itu. Tapi hal itu tak sampai berpengaruh pada saya pribadi. Saya sering sekali tak bisa ketemu dengan kelompok-kelompok seperti itu, lebih karena diskusi dan sudut pandang mereka terpusat pada hal-hal yang simbolistik. Kesan saya, pertanyaan yang sifatnya esensial, jarang sekali dibahas. Yang muncul lebih pada persoalan simbol. Misalnya, kita berbicara tentang Islam sebagai kelompok. Hal itu yang sering sekali diangkat, sehingga Islam seakan-akan lebih sebagai sebuah organisasi saja.

Anda sudah menganggap gejala komunalisme seperti itu sebagai suatu hal yang janggal?

Ya. Karena buat saya --ini sekali lagi berangkat dari pengalaman yang sangat pribadi dan subjektif-- ada hubungan yang sifatnya lebih privat, dan itu tak bisa diinstitusionalkan dalam sesuatu yang sangat baku. Misalnya Islam mesti A-B-C-D. Saya punya pengalaman pada 1980-an. Saat itu ayah saya sakit dan harus dioperasi. Saya tak tahu mau berbuat apa lagi. Dalam salat, saya berdoa dan bisa betul-betul khusyuk. Saya tak tahu, apakah ini bisa disebut eskapisme atau apa.

Yang jelas, ini menyangkut tanggung jawab saya. Sepertinya, dengan begitu saya bisa merasa lebih tenang. Pengalaman seperti itu, adalah sesuatu yang sangat privat bukan? Jadi tak bisa dibakukan dalam pernyataan “kalau Anda tak melakukan ini dan itu, Anda bukan kelompok kami”, misalnya.

Anda menghayati iman dan agama sebagai sesuatu sangat pribadi?

Ya. Ini berbeda misalnya, dengan sikap kita dalam organisasi. Organisasi lebih terobsesi mengumpulkan orang banyak dengan identitas yang sama. Agama yang dibentuk bagaikan organisasi sering sekali memunculkan perdebatan. Pada waktu itu, hal-hal seperti itu masih sangat sensitif sehingga kalau kita mau bertanya jadi ada kekhawatiran dan ketakutan.

Apalagi, Anda bukan mahasiswa yang spesialisasinya belajar agama sehingga merasa tak punya kapasitas. Apa begitu?

Betul. Saya ingat, ceramah Nurcholish Madjid pada Desember 1992, di hadapan sekitar 4.000 pemuda dan mahasiswa muslim di Masjid Amir Hamzah Taman Ismail Marzuki (TIM). (Diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen dan Pengembangan Infak (LMPI) mengambil tema: “Telaah Kritis atas Kelompok Pembaruan Keagamaan”, Nurcholish mendapat serangan tajam dari Daud Rasyid, Ridwan Saidi dan lain-lain, Red). Nurcholish muncul di TIM dengan gagasan tentang agama yang hanif. Saya hadir dalam diskusi itu. Saya merasa, ceramah beliau sesuatu hal yang luar biasa. Saya senang Cak Nur ngomong seperti itu, dan merasa ada yang lebih otoritatif untuk berbicara tentang hal yang banyak menggelisahkan saya itu.

Dalam gagasan Cak Nur, Anda menemukan gambaran tentang model Anda beragama?

Ya. Itu yang saya rasakan. Apalagi, ketika itu Cak Nur muncul dengan pernyataan bahwa Islam harus dilihat dalam perspektif sejarah. Kalau dilihat begitu, Islam itu bukan lagi sebagai kelompok masyarakat, tapi agama yang universal. Itu yang saya simpulkan ketika itu. Paling tak, ada perasaan bahwa Cak Nur punya otoritas untuk berbicara. Ini sebetulnya argumen yang tak benar, sebab mengambil kesimpulan bahwa yang benar adalah yang punya otoritas. Celaka juga kita kalau begitu. Tapi karena saya menganggap diri sebagai orang awam dalam agama, maka saya harus bertanya pada yang lebih tahu.

Ketika mahasiswa, apakah Anda pernah terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai Islam atau membaca buku-buku keislaman?

Ya, terutama setelah saya membaca catatan harian Ahmad Wahib. Setelah itu, baru muncul buku-buku Cak Nur berjudul Islam, Kemoderenan dan Keindonesiaan. Itu yang kemudian membuat saya lebih tertarik lagi membaca buku-buku keislaman. Utamanya ketika Nurcholish berbicara bahwa kita hanya bergerak dalam pusaran kebenaran yang relatif. Maka, mesti ada yang namanya free-market idea (pasar bebas ide). Nah, saya lantas seperti diklik. Sebab ketika belajar ekonomi, saya juga belajar tentang pasar di mana kita juga harus bersaing. Saya kira, ada kemiripan antara ide agama dan pasar.

Sebenarnya pasar bebas gagasan sama dengan pasar bebas barang?

Betul. Karena kita tak bisa klaim mana yang benar, karena kita hanya bergerak dalam kebenaran relatif, maka kebebasan menjadi sesuatu yang penting, di mana orang bisa bergerak dan tak ada satu orang pun yang bisa klaim kalau pendapatnya paling benar. Yang kita khawatirkan bila ada yang mengangap yang benar hanya ada dalam diri kita sehingga kita mungkin membuat jarak bipolar antara saya dan bukan saya (in-group dan out-group). Nah, celaka kalau sudah seperti itu.

Dalam disiplin ekonomi, siapa ekonom yang Anda kagumi karena dipandang terkait dengan “kebenaran” agama dalam ekonomi?

Saya sangat mengagumi dua orang ekonom. Dari sisi kebebasan berfikir, saya kagum pada Milton Friedman. Di sisi lain, saya kagum John Maynard Keynes. Friedman percaya betul dengan kebebasan. Termasuk dalam hal yang tadi saya katakan, bahwa sesuatu yang ultimate (tak terbatas seperti Tuhan) itu tak pernah bisa kita jangkau. Karena relativitas kebenaran dan pikiran kita sebagai makhluk yang terbatas, maka kompetisikan saja ide-ide kita tentang kebenaran itu ‘kan? Karena tak ada satu pihak pun yang bisa mengklaim bahwa idenya paling benar. Sebenarnya basis dari premis Friedman selalu bicara tentang hal itu. Perlu kebebasan dalam dalam berkompetisi.

Dari Keynes, yang menarik ialah concern-nya bahwa kita tak bisa sepenuhnya lepas, tak seluruhnya “bebas.” Ada bagian-bagian tertentu, di mana kita melihat ada hal yang perlu kita bicarakan. Kita duduklah. Ini dua hal ini yang saya kita sangat penting. Jadi pendulum ekonomi itu sebenarnya Friedman dan Keynes. Seperti agama yang bergerak antara kebebasan dan seperangkat aturan

Terakhir, apa refleksi Anda tentang keberagamaan kita saat ini, terutama setelah tragedi WTC?

Saya kira persolannya bukan masalah agama Islam atau agama lainnya kalau dikaitkan dengan tragedi 11 September. Ini terjadi pada sikap yang menganggap bahwa suatu kelompok punya kebenaran mutlak atau absolutisme. Ini terjadi juga dengan nasionalisme, ‘kan? Sebenarnya yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat juga mirip dengan yang dilakukan Al-Qaedah dari sisi yang lain, karena mereka menganggap bahwa di luar mereka semua musuh. (Pidato George W. Bush saat mengajak negara lain mendukung langkahnya menyerang Irak, ia berkata: “barangsiapa yang tak bersama Amerika menyerang Irak berarti turut melawan Amerika”, Red).

Itu juga yang dituduhkan ketika tragedi WTC; bahwa yang di luar mereka --yang menganggap kebenaran itu harus dikejar dengan cara kekerasan—adalah musuh mereka. Saya melihat, pattern ini selalu terjadi ketika kita menganggap bahwa yang kita percaya adalah sesuatu yang tak bisa lagi diutak-atik, sesuatu yang final. Itu yang menjadi persoalan []

09/03/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq