Ikonoklasme Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
18/07/2005

Ikonoklasme Islam

Oleh Luthfi Assyaukanie

Sikap ikonoklastik kalangan Islamis juga diperluas kepada anti-Barat dan anti produk pemikiran Barat secara umum. Dalam bentuknya yang ekstrem, sikap ini berbentuk penghancuran fisik terhadap monumen-monumen dan ikon-ikon yang didirikan peradaban Barat.

Dalam bahasa Inggris, perbuatan atau kegiatan itu disebut “iconoclasticism.” Saya tak tahu apa istilah Indonesianya yang tepat. Tapi, secara umum, iconoclasticism berarti tindakan penghancuran patung, lukisan, monumen, atau simbol-simbol (icons), baik karena alasan teologis maupun politis.

Para pelaku tindakan pengrusakan atau yang biasa disebut “iconoclasts” umumnya berangkat dari pemahaman literal terhadap ajaran agama bahwa patung, lukisan, monumen, dan benda-benda seni adalah “berhala” yang dapat membuat orang beriman menjadi musyrik.

Keyakinan iconoclasticism yang muncul dalam tradisi Kristen dicurigai berasal dari pemahaman literal terhadap perintah kedua dari Sepuluh Perintah (ten commandments) agung, yakni perintah yang melarang umat Kristen membuat atau menyembah karya pahat atau patung.

Gerakan ikonoklastik pernah sangat kuat pada masa pemerintahan Leo III (680-741), Kaisar Romawi di Bizantium. Pada masa ini, sang Kaisar memerintahkan pemusnahan seluruh lukisan, patung, dan benda-benda seni yang dianggap dapat membawa kaum Kristen kepada kemusyrikan.

Dalam Islam, gerakan ikonoklastik dimulai sejak zaman Nabi. Hanya selang beberapa tahun sebelum Leo membuat kebijakan resmi penghancuran patung-patung itu, Nabi Muhammad dan para sahabat beramai-ramai menghancurkan patung-patung di sekeliling Ka’bah, karena dianggap sebagai benda-benda yang dapat membuat kaum muslim musyrik.

Perbuatan Nabi yang bersejarah itu, karena dilakukan pada saat “fath Makkah” (penaklukkan kota Mekah), kemudian menjadi inspirasi kaum muslim untuk menganut paham ikonoklastik dalam menyikapi patung dan kesenian secara umum. Seperti pernah dikatakan oleh Seyyed Hosein Nasr dan Louis Lamya Al-Faruqi, akibat diharamkannya seni lukis dan patung dalam Islam, muncul seni kaligrafi sebagai alternatif.

Bisa dimengerti kalau peradaban Islam yang begitu agung di masa silam tak banyak mewarisi seni lukis dan patung. Sementara karya kaligrafi dan seni tulis Alquran berkembang sedemikian maju.

Berbeda dalam tradisi Kristen yang semakin liberal, sikap ikonoklastik sesungguhnya masih menggelayuti tradisi Islam. Jika Anda menyimak siaran radio, TV, atau buku-buku fatwa di Timur Tengah, masalah lukisan dan patung masih tetap menjadi pembahasan utama.

Yang menarik, dalam pembahasan itu, ada perluasan tema-tema ikonik, dari patung-patung dan lukisan tradisional kepada tema-tema yang lebih umum. Apa saja yang dapat membuat orang terkagum-kagum dan kemudian menjadi musyrik dianggap haram, dan karenanya harus dimusnahkan.

Beberapa penulis Arab bahkan mengaitkan tema-tema ikonik kepada modernitas. Ini, misalnya bisa dilihat pada karya-karya kaum Islamis seperti Sayyid Qutb dan Muhammad Qutb, tampak jelas penggunaan kata-kata seperti “berhala modern” dan “hubal abad ke-20” (hubal adalah patung di Mekah yang dihancurkan Nabi), untuk merujuk konsep-konsep modern seperti demokrasi, pluralisme, dan sekularisme.

Sikap ikonoklastik kalangan Islamis juga diperluas kepada anti-Barat dan anti produk pemikiran Barat secara umum. Dalam bentuknya yang ekstrem, sikap ini berbentuk penghancuran fisik terhadap monumen-monumen dan ikon-ikon yang didirikan peradaban Barat.

Muhammad Qutb, dalam bukunya yang terkenal, Jahiliyah Qarn al-‘Isyrin (jahiliah abad ke-20), menganggap bahwa zaman modern adalah zaman jahiliah yang kurang lebih sama dengan zaman jahiliah pada masa Nabi. Jika jahiliah masa Nabi diwakili oleh kaum kafir Quraish, jahiliah modern diwakili oleh peradaban Barat. Dan jika pada jahiliah masa silam ada berbagai jenis berhala, pada jahiliah abad ke-20, berhala-berhala itu adalah poduk pemikiran orang-orang Barat.

Sebagian kaum muslim yang terpengaruh dengan buku-buku seperti itu, meyakini bahwa zaman jahiliah terulang kembali dan setan-setan jahiliah bermunculan lagi. Barat mereka samakan dengan Quraish, dan produk-produk pemikiran Barat mereka anggap sebagai berhala-berhala yang berbahaya.

Salah satu respon radikal dari sikap semacam itu adalah pengrusakan. Pengeboman WTC pada 11 September empat tahun silam, adalah contoh yang sangat jelas dari sikap ikonoklastik kaum muslim radikal. Buat mereka, WTC adalah sebuah “ikon” yang didirikan peradaban Barat, dan karenanya harus dimusnahkan.

Serangkaian pengeboman di London, beberapa hari lalu, dipastikan juga buah tangan kaum radikal Islam di Inggris yang tak sudi melihat “ikon-ikon” peradaban Barat. Para pengebom itu rela “bunuh diri” demi memusnahkan monumen-monumen modern, seperti stasiun kereta api dan bus (yang tentunya membunuh orang-orang di sekelilingnya). Tindakan brutal dan biadab ini adalah bagian dari keyakinan ikonoklasme yang masih terus menghantui sebagian kaum muslim. [Luthfi Assyaukanie]

18/07/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sebagai “cendekiawan” seharusnya mampu berlaku adil dalam melihat suatu persoalan sehingga tulisan dan gagasan sdr dapat diterima. Gagasan sempit yang hanya melihat kelemahan satu kelompok (baca : Islam) dan menutup mata pada yang lain (baca : Barat) menunjukkan keberpihakan dan kepicikan penggagasnya.

Jika Anda melihat pemboman World Trade Center di New York (9/11)/01) dan pemboman di London UK, akhir-akhir ini, Anda mungkin lupa atau sengaja memakai “kaca mata kuda” dalam mrlihat permasalahan ekonoklasme.

Bagaimana pendapat Anda dengan pemboman dan pembunuhan ratusan ribu warga sipil Muslim tak berdosa di Iraq, Afganistan, dan Palestina oleh aliansi Barat ? Bagaimana Anda melihat WTC dan Londom di satu sisi dan bergelimpangannya anak-anak, wanita, dan orang tua dan orang cacat Muslim di sisi lain ?

Saya sarankan Anda berfikir sehat dan adil dalam melihat suatu permasalahan sehingga gagasan Anda bermakna.

Wassalam,

A. Azzam Ridwan

Silver Spring, Maryland
-----

Posted by A Azzam Ridwan  on  07/26  at  04:07 AM

Komentar Pak Usep: Pak Luthfi dkk sendiri sesungguhnya seorang iconoclast ketika merobohkan “icon-icon” suci Islam seperti dengan mengusung gagasan Abu Zayd bahwa Al-Quran produk Budaya, Fiqih Lintas Agama, Muhammad tidak ada bedanya dengan Mahatma Gandhi, Karl Marx dll. Bahkan sesungguhnya dampaknya lebih kejam dari pembom WTC karena sangat mungkin meracuni berjuta orang awam yang tak faham Islam.

Tanggapan saya:  Sungguh aneh ketika seseorang yg melontarkan suatu pemikiran demi suatu pencerahan dianggap lebih kejam dari orang yang melontarkan maut ke gedung WTC di mana ribuan orang tak berdosa menjadi korbannya! Dan sungguh aneh ketika suatu kaum seperti JIL yg menggagas ajaran yg damai, toleran, dan pluralis dianggap menyebarkan racun! kalau kedamaian, toleransi dan pluralisme dianggap sebagai racun, saya ngeri membayangkan ajaran macam apa yg kaum Anda pegang?

Posted by Haryo S. Pinandito  on  07/20  at  04:07 AM

Menurut saya iconoclasm merupakan kenyataan sejarah semua idoeologi dan Agama. Masih ingat dalam ingatan bagaimana Amerika merobohkan icon patung Saddam Hussain, Sekolompok ummat Hindu merubuhkan Masjid Babri. Sebagian pelopor Protestan juga melakukan hal yang sama ketika berontak pada faham Katolik. Calvin dan Zwingli menghancurkan patung St.Irenaeus sebagai icon Katolik.

Ummat Islam dahulu melakukan iconoclasm secara lebih cantik dengan mengubah Konstantinopel sebagai icon romawi menjadi istambul. Sebaliknya Masjid Sofia diubah menjadi gereja atau museum. Semua ummat beragama dan pejuang ideologis melakukannya baik secara intelektual maupun dengan cara kekerasan. Itu kenyataan sejarah.

Pak Luthfi dkk sendiri sesungguhnya seorang iconoclast ketika merobohkan “icon-icon” suci Islam seperti dengan mengusung gagasan Abu Zayd bahwa Al-Quran produk Budaya, Fiqih Lintas Agama, Muhammad tidak ada bedanya dengan Mahatma Gandhi, Karl Marx dll. Bahkan sesungguhnya dampaknya lebih kejam dari pembom WTC karena sangat mungkin meracuni berjuta orang awam yang tak faham Islam

Posted by Usep Mohamad Ishaq  on  07/19  at  01:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq