Ilusi Khilafah Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
14/10/2008

Ilusi Khilafah Islam

Oleh Saidiman

Ketika Muhammad membangun komunitas politik di Madinah, dia tidak pernah mengemukakan satu bentuk pemerintahan politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Apa yang disebut politik Islami tidak lebih dari ijtihad politik para elit Islam sepeninggal Muhammad. Tidak ada mekanisme politik standar yang berlaku bagi pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masing-masing terpilih melalui mekanisme politik yang berbeda. Pemerintahan-pemerintahan selanjutnya bahkan menjadi sangat lain, karena yang ada hanyalah pemerintahan berdasarkan garis keturunan. 

Reportase Tadarus Ramadan JIL “Mengaji al-Islam wa Ushul al-Hukm” karya Ali Abd. Raziq (1888 – 1966)

Perdebatan seputar institusionalisasi politik Islam melalui negara yang mengemuka pada diskusi kedua Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal menjadi tema utama pada diskusi yang ketiga ini. Diskusi ini menjadi sangat menarik karena yang dibahas adalah teori Ali Abdul Raziq dalam buku al-Islam wa Ushul al-Hukm mengenai negara Islam. Titik utama keterangan Raziq adalah bahwa Nabi Muhammad tidak datang sebagai pemangku wahyu politik yang oleh karenanya harus menyebarkan risalah negara Islam. Sebagaimana rekan-rekannya sesama nabi, Nabi Muhammad hanyalah pembawa risalah agama, tidak lebih dari itu.

Luthfi Assyaukanie yang tampil sebagai pembicara pertama mengupas isi dan latar belakang historis kelahiran buku yang sedang dikaji. Sementara pembicara kedua, Ihsan Ali-Fauzi, mencoba melakukan teoretisasi terhadap karya ini dan memberi konteks terhadap realitas dunia Islam masa kini.

Al-Islam wa Ushul al-Hukm muncul di tengah perdebatan seputar wacana khilafah menyusul dihapusnya khilafah oleh Mustafa Kemal Attaturk pada tahun 1924. Banyak kalangan yang menilai bahwa kelahiran buku ini adalah bentuk dukungan teologis semata kepada keputusan Attaturk membubarkan institusi khilafah. 

Kedua tokoh sezaman ini kemudian memperoleh kecaman luar biasa dari otoritas Islam di pelbagai dunia Islam. Beruntung bagi Attaturk karena ia memegang kekuasaan politik. Sementara kecaman yang diterima oleh Raziq dari otoritas dan masyarakat Islam Mesir membuat posisi-posisi sosialnya dilepas satu persatu. Raziq yang awalnya adalah salah satu ulama universitas al-Azhar dipecat dari jabatannya tersebut.

Kelahiran buku ini sebetulnya berada pada situasi dunia Islam yang sedang bergejolak. Tahun 1924, Mustafa Kemal Attaturk mengambil inisiatif menghapuskan bentuk pemerintahan khilafah Turki, satu-satunya khilafah Islam yang masih tersisa. Alasan utama Attaturk mengambil inisiatif adalah bahwa bentuk negara khilafah adalah sistem pemerintahan kuno yang tidak mampu memenuhi tantangan zaman, terutama karena Turki semakin terpuruk di bawah sistem pemerintahan ini. Butuh inovasi baru yang lebih segar dan modern, yaitu sekularisme.

Penghapusan khilafah kemudian dengan cepat memperoleh reaksi dari para pemimpin politik Islam dan terutama dari para ulama. Penghapusan ini memberi angin segar kepada komunitas-komunitas politik di luar Turki yang selama ini memang menunggu momen itu untuk mendeklarasikan diri sebagai khalifah. Dua komunitas politik yang sangat bernafsu adalah Raja Mesir, Fuad, dan Jazirah Arab. 

Sebelum buku ini terbit, seorang ulama Mesir terkemuka, Rasyid Ridha, mempublikasikan sebuah tulisan di jurnal Al-Manar yang intinya memberi dukungan terhadap khilafah. Ada sementara anggapan yang mengatakan bahwa Raziq memberi jawaban balik terhadap artikel Ridha itu melalui buku Al-Islam. Di sisi lain Raziq, melalui buku ini, sebetulnya juga melakukan kritik terhadap nafsu penguasa Mesir untuk menjadi khalifah. Serangan pada dua otoritas inilah yang kemudian menempatkan Raziq pada posisi yang sangat berbahaya, yakni menghadapi otoritas agama dan politik sekaligus.

Secara teoretis, Raziq tampak meminjam paparan Ibn Khaldun mengenai pembedaan antara khilafah dan kerajaan. Khilafah adalah rezim Qur’ani yang beriorientasi ukhrawi. Di dalamnya adalah solidaritas sosial atau ashabiyyah. Sementara kerajaan hanyalah sistem politik dengan orientasi duniawi semata. Sistem politik bisa berubah dari kerajaan menjadi khilafah, demikian pula sebaliknya, ditentukan oleh seberapa besar solidaritas sosial terjalin untuk kepentingan ukhrawi. Belakangan ini, menurut Ibn Khaldun, khilafah telah turun menjadi kerajaan karena kurangnya solidaritas sosial yang beriorientasi ukhrawi. Akan tetapi kerajaan bisa bangkit lagi menjadi khilafah jika politik pemerintahan dapat diislamkan dan islamnya dapat dipolitikkan.

Bagi Raziq, selamanya yang terjadi adalah politik kekuasaan. Tidak pernah terjadi kekuasaan politik memiliki nuansa religius sekaligus. Di sini Raziq berusaha membangun teori untuk menolak definisi khilafah yang menyatakan bahwa khilafah adalah bentuk pemerintahan yang bersumber dari ilahi dan disetujui oleh ummat. Pertama-tama Raziq menantang semua pendukung khilafah untuk menunjukkan bukti doktrin Islam yang berbicara mengenai bentuk pemerintahan. Menurut Raziq, tidak ada satupun nash al-Qur’an yang menyatakan satu bentuk pemerintahan atau sistem politik Islam. Yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan mengenai posisi Muhammad sebagai pembawa risalah. Raziq kemudian mengutip sejumlah dalil yang menunjukkan bahwa Muhammad hanyalah pembawa risalah, dan tidak memiliki otoritas untuk melakukan pemaksaan. Dengan tidak adanya paksaan, maka sesungguhnya Muhammad tidak menunjukkan otoritas politik yang ada dalam doktrin agama. Kekuatan pemaksa hanya milik otoritas politik dan bukan otoritas agama.

Raziq tidak memungkiri fakta mengenai terbentuknya komunitas politik, namun semua itu hanyalah fenomena historis yang tidak diwajibkan oleh syariah. Ketika Muhammad membangun komunitas politik di Madinah, dia tidak pernah mengemukakan satu bentuk pemerintahan politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Apa yang disebut politik Islami tidak lebih dari ijtihad politik para elit Islam sepeninggal Muhammad. Tidak ada mekanisme politik standar yang berlaku bagi pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masing-masing terpilih melalui mekanisme politik yang berbeda. Pemerintahan-pemerintahan selanjutnya bahkan menjadi sangat lain, karena yang ada hanyalah pemerintahan berdasarkan garis keturunan.

Fakta ini memberi bukti bahwa Islam tidak pernah menetapkan khilafah sebagai keharusan politik, bahkan ia tidak Islami sama sekali. Raziq menulis:
“Agama Islam terbebas dari khilafah yang dikenal kaum Muslim selama ini, dan juga terbebas dari apa yang mereka bangun dalam bentuk kejayaan dan kekuatan. Khilafah bukanlah bagian dari rencana atau takdir agama tentang urusan kenegaraan. Tapi ia semata-mata adalah rancangan politik murni yang tak ada urusan sama sekali dengan agama. Agama tidak pernah mengenalnya, menolaknya, memerintahkannya, ataupun melarangnya. Tapi, ia adalah sesuatu yang ditinggalkan kepada kita agar kita menentukannya berdasarkan kaedah rasional, pengalaman, dan aturan-aturan politik. Begitu juga, pendirian lembaga militer, pembangunan kota, dan pengaturan administrasi negara tak ada kaitannya dengan agama. Tapi semua itu diserahkan pada akal dan pengalaman manusia untuk memutuskan yang terbaik.”

Untuk mendukung argumentasinya, Raziq menggunakan argumentasi historis dan kutipan sumber-sumber doktrin Islam. Secara historis bentuk kekuasaan politik dalam masyarakat Muslim terus berubah. Menurut Raziq, kekhalifahan yang pernah ada dalam Islam bukanlah doktrin melainkan fenomena sejarah semata. Pandangan ini kontan merisaukan sejumlah ulama. Rasyid Ridha menyatakan bahwa pandangan Raziq ini akan sangat menyulitkan ummat Islam yang sekarang terpecah-pecah dalam komunitas-komunitas politik kolonialisme. Sekali lagi Raziq mengemukakan bahwa untuk urusan agama sangat mungkin tercipta solidaritas Islam secara global, tapi adalah mimpi untuk memikirkan solidaritas semacam itu untuk urusan politik.

Raziq mengutip banyak sekali nash al-Qur’an untuk mendukung argumentasinya. Ihsan Ali-Fauzi mengemukakan bahwa buku ini bisa jadi sangat menjemukan karena hampir setiap argumen selalu didasarkan pada nash al-Qur’an. Menurut Ihsan, ini juga cukup mengecewakan sebab Raziq adalah sarjana politik lulusan Oxford, namun tidak terlalu menggunakan perangkat teori politik modern untuk mendukung pendiriannya, Raziq malah kembali masuk ke dalam cara berpikir Islam tradisional. Namun begitu, lanjutnya Ihsan, ini sebetulnya adalah fenomena umum di kalangan masyarakat Islam. “Ilmu politik tidak pernah berkembang di dunia Islam,” ungkap Ihsan.

Di antara sedikit ayat al-Qur’an yang dianggap berbicara mengenai politik adalah “Yã ayyuha alladzîna ãmanû athî’û allah wa atî’û al-rasûl wa ûlî al-amr minkum..” dan “Wa law raddûhu ilã al-rasûli wa ilã ûlî al-amr minhum la’alimahu alladzîna yastanbitûnahu minhum.” Menurut Raziq, para ulama telah melakukan manipulasi ayat sehingga ulil amr menjadi istilah yang bermakna politik. Padahal menurut al-Baydhawi itu adalah ungkapan untuk menyebut sahabat-sahabat Nabi. Al-Zamakhsyari menyebut itu sekedar istilah untuk menyebut ulama.

Dari penjelasan ini bisa disimpulkan bahwa Raziq sesungguhnya adalah peletak dasar konsep sekularisme di dunia Islam. Dalam bukunya Raziq mengutip Hobbes dan Locke, namun pengaruh terbesarnya berasal dari Ibn Khaldun. Meminjam istilah Leonard Binder, Ihsan menyebut liberalisme yang dikembangkan Raziq adalah “rejected alternative,” karena masih terobsesi dengan dasar-dasar liberalisme dalam Islam, yang tidak sesuai dengan panggilan terdekat zamannya. Namun begitu, menurut Ihsan, hanya Faraq Foudah yang berani melanjutkan pemikiran Raziq dengan menawarkan pembacaan sejarah yang lebih kritis terhadap realitas kekuasaan di dunia Islam sejak masa Khulafa al-Rasyidun. 

Satu hal yang belum clear dari buku ini adalah pembedaan antara khilafah (emperium) dan negara bangsa. Hanif dan M. Dawam Rahardjo mengemukakan pertanyaan itu: apakah yang dibahas oleh Raziq adalah imperium atau sekedar negara bangsa? Tampak bahwa Raziq tidak melakukan pembedaan secara jelas mengenai dua bentuk komunitas politik tersebut. Jawaban sementara yang barangkali kurang memuaskan adalah bahwa yang dikemukakan oleh Raziq adalah semua bentuk komunitas politik.

14/10/2008 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (142)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sekarang, pendapatan saudi/orang hanya sama dengan pendapatan orang czech/capita, sebuah negaran ex komunis. Artinya, adalah, kemauan ekonomi di Saudi tidak bisa mengikuti kemajuan ekonomi negara barat, misalnya AS, yang pernah sama income/capita nya dengan saudi , Hal ini terjadi karena satu dan lain hal, yaitu tatanan masyarakat yang bisa dibilang gagal untuk menghadapi tantangan jaman. Kenapa tidak bisa menghadapi tantangan jaman? Anda bisa pikir sendiri. Bukti nyata dalam kurun waktu hanya 33 tahun, telah terjadi kemerosotan dalam hal pendapatan. Benar materi tidak bisa dipakai sebagai satu2nya tolok ukur,sebab ada hal2 lain yang bisa kita pakai sebg indikator kemajuan negara tsb. Kita bisa lihat bhw. income percapita merosot karena jumlah penduduk yang jauh lebih meningkat (mungkin rata2 wanita saudi punya 4 sampai 5 anak) sehingga pertumbuhan angka pembagi untuk mencapai figure income percapita menjadi jauh lebih besar dibanding pertumbuhan incomenya. Apakah berarti boleh dibilang memiliki anak banyak2 akan mengorbankan kwalitas hidup keluarga tsb, karena incomenya tidak tumbuh secepat banyaknya anak lahir? Anda jawab sendiri dan akan subjektif jawaban kita masing2. Kalau saya akan menjawab anak banyak itu bisa jadi asset, dan bisa jadi masalah. Bagaimana caranya bisa jadi asset? Misalnya pendidikan yang baik. Walau jumlah anak meningkatluar biasa Tapi tatanan masyarakat tsb bisa memberi peluang untuk anak itu tumbub besar dan bekerja mendapat gaji yang tinggi sesuai dg keahlian, tentu tidak masalah dg. pertumbuhan penduduk yang pesat. ITu yang saya maksud anak banyak bisa jadi asset. Sekarang liat lebih luas lagi, bagaimana bisa mendapat gaji tinggi?, misalnya jadi profesiional di bidang2 yang menjanjikan, yang selama 35 tahun ini juga tumbuh pesat. Sekarang apakah seperti itu yang terjadi di Saudi? Selama masa 35 tahun terakhir, sebut satu saja kemajuan teknologi, yang pada akhirnya berdampak kepada kemajuan negara itu dalam banyak hal yang pada akhirnya memberi pekerjaan yang layak untuk anak2 tsb. (misalnyan income, kesempatan untuk maju, berkarya, mobilitas tinggi, dll) yang berasal dari negara2 kaya minyak, yang dg.asumsi karena kaya maka mustinya punya dana untuk bisa maju dalam banyak hal. Jawabnya adalah setahu saya tidak ada. (tau kalau rahasia yach). Selama 35 tahun terakhir sebut apa yang negara2 lain, mis. asia timur atau eropa barat, yang level kemakmuran nya setaraf dengan negara2 kaya minyak itu sudah capai? Amat sangat banyak. Satu aja yach, internet.
Adakah hal ini berhubungan dg. nilai2 yang ada didalam masyarakat tsb? Jawabnya adalah Absolutely!
Kitasambung kapan2 yach

Posted by miki  on  09/13  at  12:46 AM

YOu see, dunia itu tidak selurus, seindah, sesimple yang kita inginkan, I wish it was, but it is not. I am feeling sassy today, so here it is. Saya mengerti khilafah islam adalah sebuah ide yang baik. Problemnya adalah apakah hal itu bisa berjalan saat ini. Jawabnya sangat disayangkan adalah tidak. Sesudah bla..bla..bla.. panjang, kesimpulan saya sebaiknya ditaruh di bagian depan ini supaya bisa jadi eye catcher anda sekalian.Yaitu: negara2 kristen sebelum john calvin, martin luther, adalah negara2 yang bisa dibilang memiliki/menggunakan nilai2 yang bisa dibilang mirip dengan pola kepemimpinan khilafah islam Whether the catholic like it or not, kredit dari kemajuan negara2 barat adalah dipicu dari terjadinya revolusi di gereja2 eropa. Dan sesudah beberapa waktu berlalu, bisa dibilang negeri2 mayoritas catholic baru berusaha merubah sendiri tatanan nilai2 mereka untuk bisa mengkondisikan masyarakat mereka shg. bisa mengikuti kemajuan negeri2 protestan dalam semua hal. Hasil yang paling terpenting dari semua itu adalah revolusi industri. Itulah summary, kesimpulan akhir dari saya.
Maka mari kita mulai omongan ini lebih detail. Pertama saya ingin bilang bhw. saya tidak ada masalah sama sekali kalau khilafah ada di Indonesia, karena saya sifatnya pasif, dan saya juga merasa sudah tua,tidak lama lagi didunia ini, jadi kasarnya who cares what would happen with the entire world after I died. So, meneruskan diskusi tadi, kita bisa nyatakan sebab2 khilafah tidak layak untuk dijalankan, Dibutuhkan banyak tulisan yang akan disampaikan, tapi dalam forum ini tidak bisa semua.
Kita semua berbicara mengenai sebuah sistem yang telah melewati masa ratusan tahun . Jadi apakah boleh saya bilang, Jika sistem khilafah memang ada, dan a winning sistim kenapa tidak ada khilafah islam yang bertahan sampai sekarang? spt saya bilang sebelumnya, kita ngomong periode ratusan tahun. Tentu kita jawab, karena sontoloyo2 barat yang beramai2 ngerjain khilafah islam terakhir yaitu OTToman empire, shg. tidak ada khifalah islam lagi. Saya juga bisa bilang, kalau benar khilafah islam itu sebuah winning system, koq kalah sich? Tentu kita bisa bilang lagi, jangan melihat ke periode per 100 tahunan, tapi lihatlah secara panjang, ada masa2 dimana khilafah islam berjaya, tapi saya bisa bilang lagi yang mana? bisa bilang lihat itu grenada di spanyol, itu adalah sisa2 kejayaan islam yang dihasilkan oleh sistem khilafah, Terus saya bilang “tapi spt yang baru dibilang, itu sisa2, saya bukan mau sisa2 saya mau bukti nyata, yang masih berjalan”. Karena saya bisa bilang pyramid di mesir itu sisa2 kejayaan masa para pharaoh berkuasa. Terus apa hal tsb. bikin perusahaan2 kontraktor ornag mesir sekarang ini akhlinya bikin pencakar langit 100 tingkat? Akhirnya kita bt dech udah lah. Point saya ngomong adalah didepan mata saya yang mumpung masih hidup ini, tidak ada satupun negara islam yang bisa memberi konfirmasi bhw. sistem khilafah adalah the one that we should embrace. Saya tidak tahu ada negara islam sekarang yang menggunakan sistem khilafah. Tetapi, untuk lebih melebar lagi mari gunakan negara dengan mayoritas islam yang bisa dibilan relatif paling maju masyarakatnya. How about Malaysia? Mohon maaf sebesar2nya kepada orang malaysia yang melayu, tetapi, malaysia ada diposisi sekarang adalah karena orang suku tionghoanyalah yang bisa membuat malaysia maju.Silahkan liat perbandingan jumlah orang melaya, tionghoa. Mau bilang Kuwait, UAE atau Bhahrain?, maaf sekali lagi, tapi kita ke sana 40 tahun yang lalu, tidak ada apa2 selain pasir dan pasir dan pasir, dan tidak ada orang berbondong2 datang cari kerja.  Pembangunan fisik negara2 tsb. bisa dikreditkan kepada negara2 barat yang memiliki kepentingan mereka sendiri untuk datang kesana plus para pekerja dari banyak tempat.  Saudi Arabia? Saudi Arabia tidak pernah mengeluarkan data pengangguran. Kenapa ayo? Dan jika anda bilang kalau memang banyak yang menganggur koq banyak TKI yang kesana? Karena Orang saudi tidak mau jadi pekerja kasar, karena mereka mendapat bantuan keuangan dari kerajaan, dan kerajaan masih bisa, karena dari minyak tsb. Berarti Saudi negara kaya dong, lha iya kaya, tapi kalau dilihat dalam kurun waktu30 tahun terakhir sich bisa dibilang payah. Pada tahun 1974, saat embargo minyak, pendapatan orang saudi /orang pernah sama dengan pendapatan amerika/orang.

Posted by miki  on  09/13  at  12:44 AM

OKE OKE OKE YES !
Insyalloh khilafah akan tegak jo !

Posted by Eeb Rz  on  09/06  at  07:23 AM

mungkinkah khilafah pada zaman sekarang itu bisa ditegakkan......sedangkan khilafah itu sendiri adalh estafet dari sistem kerosulan......perjuangan Muhammad Rosululloh selama 23 tahun lalu kunci kekuasaan langsung diberikan kepada ABu bakar.....slm 700 th Islam berjaya....lalu diteruskan dengan sistem Raja-raja/bangsa-bangsa.......

Posted by bahrul  on  08/04  at  10:58 AM

saya percaya pemerintahan islam pasti bangkit.. dan itu adalah keniscayaan. memang sekarang terlihat begitu sulit kecuali bagi orang - orang yang ikhlas, dan terus menerus, karena sejarah seluruh nabi dan rosul yang sering kita baca sejak kecil itu terjadi bukan sekejap, tapi itu terjadi bertahun-tahun. seperti ketika nabi musa membangun perahu atau bahtera yang besar, saya yakin juga itu dikerjakan dengan tingkat kesabaran yang tinggi dan tempo atau waktu yang lama.
begitu juga cerita-cerita nabi-nabi yang lain yang terdengar happy endingnya saja.. dan begitu cepat.
apalagi perkembangan teknologi yang selalu menawarkan cara-cara praktis sehingga cara berpikir kitapun ikut praktis.. dan dampaknya memabawa kepada perubahan islami yang mustahil dapat dilakukan pada masa yang serba cepat ini. inilah tantangannya.. tantangan bagi umat islam indonesia sekarang ini.

Posted by din-din  on  07/30  at  02:39 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq