Iman untuk Toleransi - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
05/06/2006

Iman untuk Toleransi

Oleh Sukidi

Situasi intoleransi keagamaan di negeri kita akhir-akhir ini, mengingatkan saya pada filsuf John Locke (1632-1704). Di masanya, Locke benar-benar dicekam suasana intoleransi keagamaan dan tahun-tahun penuh konflik berdarah di Inggris. Dari kota pengungsian Amsterdam di Belanda abad ke-17, Locke menulis surat terbuka berbahasa Latin, Epistola de Tolerantia, yang diterjemahkan Popple ke bahasa Inggris menjadi A Letter Concerning Toleration (1689). Surat yang sangat terkenal itu menyerukan pentingnya toleransi dalam kerangka kebebasan agama dan sipil.

05/06/2006 04:19 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Kekeliruan abad pertengahan di eropa, yang di akui juga sebagai masa “suram” kehidupan meng-gereja, jangan sampai terulang lagi di masa kini, jangan sampai terjadi pada kawan-2 umat islam.

Masa suram itu sudah memberikan pelajaran yang sangat penting yang mengubah cara hidup meng-gereja. kita umat manusia tidak perlu terperosok 2 kali dalam pengalaman yang sama dalam hal cara menjalankan kehidupan ke-imanan (agama).

kesalahan yang terjadi di masa kini, pasti efeknya “sangat dasyat dan mengerikan” dibandingkan yang terjadi di masa lalu itu. Teknologi sekarang sudah maju, alat untuk membunuh masal sudah banyak di pasaran....tinggal tunggu apalagi? sekali dipicu......agama menjadi penyebab kiamat!

#1. Dikirim oleh suyana  pada  06/06   12:06 AM

Menurut hemat saya, suasana intoleransi beragama di negeri kita ini berakar pada faktor internal dan eksternal:

1. Dari faktor internal (agama), adanya kecenderungan untuk memaksakan penafsiran tunggal atas kebenaran (agama) pada semua orang. Kita terkadang lupa bahwa tiap orang mempunyai alur dan pola pemikiran tersendiri. Bahkan dalam diri tiap orang itu, alur dan pola pemikirannya juga dinamis. Keragaman dan dinamisme merupakan sunnatullah yang tak mungkin dihilangkan.

Bahwa kemudian peran para ulama (atau orang yang lebih tahu dalam hal agama) untuk menunjukkan pada orang lain itu memang diperlukan, tapi pada akhirnya masing-masing individulah yang menentukan apakah penafsiran itu benar atau cocok untuk dirinya atau tidak. Kebebasan untuk menerima atau menolak “fatwa” ulama itu tidak serta merta menafikan peran para ulama. Kearifan semacam ini telah ditunjukkan oleh imam-imam besar fiqih yang tidak memaksakan hasil ijtihadnya kepada orang lain. Yang mau mengikuti silakan, dan yang mau menolak juga monggo kerso.

Kecenderungan untuk “memaksakan” ini seakan mempunyai peluang yang besar untuk disalurkan saat kita merasa berada di posisi atas. Orang tua akan berpeluang lebih besar untuk “memaksa” anaknya. Begitu juga orang kaya atas orang miskin, para pejabat atas rakyat biasa dan tentu saja yang mayoritas atas minoritas.

2. Faktor-faktor eksternal (non agama) seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, dll.,sering ikut menyulut suasana intoleransi agama. Kecemburan ekonomis sering menyulut pertikaian dengan mengembel-embeli isu agama. Contoh kerusuhan di Kalimantan dan Timor Timur (sebelum merdeka) merupakan contoh-contoh yang gamblang. Karena kepentingan politis tertentu, tidak jarang beberapa orang yang tidak bertanggung jawab berusaha menskenariokan sebuah kerusuhan yang bernuansa agama. Banyak pihak yang menyatakan bahwa kerusuhan di Ambon itu disutradarai oleh tokoh-tokoh politik.

Akhirnya marilah kita menyadari bahwa Allah SWT. telah dengan “sengaja” menciptakan makhluk-makhluk Nya secara beragam, bukan saja dalam bentuk fisiknya, tapi lebih kompleks lagi adalah dalam cara dan pola berfikirnya. Semua itu tidak lain ditujukan agar masing-masing dapat mengenal dan mempelajari kelebihan dan kekurangan sehingga masing-masing terus dalam proses belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, atau “Lita’arafu”.

Wallahu A’lam

#2. Dikirim oleh Misbahul Huda  pada  06/06   01:07 AM

Makna toleransi dalam islam sudah sangat jelas, mana yang bisa ditolerir dan mana yang harus ada garis tegas pembatas.

Untuk sesuatu yang berada di luar islam, jelas sekali islam mengajarkan toleransi untuk tidak saling mengganggu, terutama sesuatu yang menyangkut akidah dan ibadah.

Tetapi untuk sesuatu yang mengatasnamakan islam, tetapi tidak bersandar kepada alquran dan sunnah, islam dengan tegas menyatakan bahwa orang tersebut sebenarnya bukan islam, hanya berpura-pura islam ( Al-Baqarah 2-20), dan Rasulullah mengambil tindakan tegas untuk itu.

#3. Dikirim oleh razan  pada  06/06   05:06 PM

Mas Sukidi, anda itu harus memahami juga “perbedaan” antara TOLERAN terhadap “Manusia”, “Suku Bangsa” dan “Ras” dengan istilan TOLERAN terhadap “AGAMA”.

Kalau kita, dan tentu anda juga, TOLERANSI terhadap AGAMA diluar ISLAM harus mengikuti “rambu-rambu” yang ditentukan oleh AL Qur’an dan Hadits. Dan saya juga yakin begitu, TOLERANSI yang dilakukan oleh Agama NON ISLAM kepada Agama ISLAM tentu menggunakan “RAMBU-RAMBU” mereka sendiri.

#4. Dikirim oleh Kristianto H.R  pada  07/06   02:06 AM

Dalam masalah AKIDAH dan IBADAH tidak ada kata toleransi Mas!.Hanya mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan Dan Muhammad utusanNya sebagai penutup segala nabi. Jadi Tidak ada kata toleransi dalam hal iman!

#5. Dikirim oleh khairul amri  pada  07/06   01:07 PM

saya dalam beberapa bulan ini banyak sekali pertemuan yang membahas toleransi. ketika mengikutinya saya melihat kita hanya berkutat di teori saja, tidak pernah menyentuh ke permasalahan yang terjadi di masyarakat. saya hanya ingin menjelaskan bahwa kita sering lupa bahwa di masyarakat kita yang notebene awam, mereka sering sangat toleran dengan perbedaan yang mereka hadapi. walau masih ada perasaan membenarkan ajaran yang mereka percayai tapi dalam bergaul mereka mengatur pergaulan mereka dengan orang yang berbeda dengan mereka. contoh orang Islam yang berjualan di pinggiran jalan, mereka tidak pernah tidak melayani penjual yang berbeda dengan mereka, kecuali kita yang mengetahui adanya ancaman dan teori bahwa kita sedang diserang secara ideologi, sehingga kita sering meracuni pikiran mereka yang “polos” dengan keterancaman itu. sebenarnya kita yang harus belajar dengan mereka.
-----

#6. Dikirim oleh supri  pada  25/06   08:06 PM

coba donk tulis mslh intoleran dlm al-qur’an

#7. Dikirim oleh topan  pada  29/10   11:18 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq