Indonesia Berpikir - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
06/02/2005

Indonesia Berpikir

Oleh Hamid Basyaib

Televisi makin terbukti sebagai pesawat ajaib. Haji Arifin Ilham memahami benar keajaiban itu dan meraih limpahan berkah darinya. Belum dua tahun berselang ketika dia kali pertama tampil di layar televisi memulai “Indonesia Berzikir”. Para karyawan perusahaan TV itu, yang berperan sebagai ahli citra (imagolog), membantu menemukan nama yang memikat bagi programnya.

Televisi makin terbukti sebagai pesawat ajaib. Haji Arifin Ilham memahami benar keajaiban itu dan meraih limpahan berkah darinya.

Belum dua tahun berselang ketika dia kali pertama tampil di layar televisi memulai “Indonesia Berzikir”. Para karyawan perusahaan TV itu, yang berperan sebagai ahli citra (imagolog), membantu menemukan nama yang memikat bagi programnya.

Sejak itu, banyak pemirsa televisi akrab dengan acara yang menampilkan pemandangan amat mengesankan: jamaah masjid, lelaki dan perempuan (tentu saja kaum perempuan duduk di bagian belakang), memadati seluruh ruangan dengan seragam putih, dan meratap bersama. Mereka dipimpin Arifin Ilham, yang bersila di atas sajadah khusus di barisan terdepan.

Dia melafalkan asmaul husna dengan cengkok (qiraah) yang diatur semerdu mungkin sambil melumuri wajah bersihnya dengan kucuran airmata. Dia menambahinya dengan penjabaran konsekuensi sifat-sifat Tuhan yang terangkum dalam asma Tuhan yang disebutnya. Umumnya, penjabaran itu bernada penyesalan atas dosa-dosa manusia ("kita"), ungkapan betapa kecilnya manusia di hadapan kemahabesaran Tuhan, dan seterusnya.

Setelah berulang-ulang memimpin acara serupa, dia hafal kapan saat-saat yang tepat untuk merendahkan suara atau menekankan vibrasi guna menambah intensitas efek getaran.

Dia juga paham rukun terpenting dalam adab memohon sesuatu kepada Tuhan: merendahkan suara dan diri, memohon dengan sangat dan penuh harap, seraya menekankan ketakberdayaan kita. Bentuk terbaik dan paling representatif untuk semua itu tentu saja menangis.

Para jamaah serentak mengikuti komandonya -dengan kucuran air mata yang tak kalah deras. Banyak di antara mereka yang tak sanggup melafalkan asma seperti diteladankan; mereka terlalu sedih hingga tenggorokan tercekat, dan hanya mampu terisak-isak.

Kamera bergerak lambat, menyorot berganti-ganti antara mendekat (termasuk meng-close up wajah sang pemimpin zikir dari berbagai sudut) dan menjauh, meliput keseluruhan ruang dalam masjid. Maka, yang muncul adalah satu jam pemandangan mengesankan: barisan rapi orang-orang yang duduk dengan khusyuk, tertunduk atau menadahkan tangan dengan linangan air mata. Semuanya berbusana putih-putih, mulai kepala hingga kaki.

Demikianlah, zikir bersama -kegiatan yang lazim dimaknai sebagai ibadah yang terpuji- di tangan Arifin Ilham dikemas sebagai show yang sukses dengan cepat. Kamerawan mampu memproyeksikan efek teatrikalnya dengan baik; mereka hafal cara tepat memilih sudut pengambilan gambar (angle).

Seperti acara-acara nyanyi dan tari, “Indonesia Berzikir” segera meluap keluar kotak televisi. Orang-orang segera antre meminta Arifin Ilham menggelar acara serupa di daerah mereka masing-masing. Sang ustad melayani semua lapisan masyarakat -juga pengajian-pengajian para ibu kalangan atas, termasuk para pejabat negara- yang ingin berzikir hanya bersama saudara-saudara sepengajian di rumah salah satu anggota. Syaratnya ringan saja: semua peserta harus berseragam putih, terlepas dari seragam asli kelompok-kelompok pengajian itu.

Apa yang sesungguhnya disajikan Arifin Ilham dengan pertunjukan tersebut? Tidak banyak, selain penegasan tentang betapa besarnya dosa-dosa “kita” dan betapa pentingnya menyadari hal itu. Solusi apa yang sedang dicoba ditawarkannya? Tidak ada.

Pesatnya popularitas “Indonesia Berzikir” tentu terdongkrak oleh relevansinya dengan situasi mutakhir: krisis di banyak sektor, rentetan bencana yang seakan tak kenal henti, sementara kinerja para politisi belum juga menggembirakan dan tak ada seorang pun pemimpin yang mampu menunjukkan arah yang cukup jelas kepada bangsa tentang cara mengatasi serba masalah itu. Dalam banyak hal, mereka semua terkesan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.

Arifin Ilham dan orang-orang yang mengikuti metodenya tentu berhak untuk mencari suaka dari semua kepengapan tersebut dengan ramai-ramai berzikir secara demonstratif. Dalam hal itu, dia bahkan bisa dikatakan inovator, kalaupun bukan inventor, yakni penemu cara baru dalam berzikir. Dia membalik cara tradisional yang dinasihatkan semua ulama: hendaknya kita berzikir dengan diam, sesendiri mungkin, di bilik sunyi kita masing-masing.

Jika kita boleh menggagas sesuatu yang berfaedah, kita menyarankan mereka agar mengadakan “Indonesia Berpikir”. Makin berat krisis kita rasakan, makin penting acara itu -dan kian perlu kita berzikir di bilik masing-masing- bukan di depan kamera televisi atau di gedung besar secara masal. Membisikkan asmaul husna di kamar kita masing-masing mungkin akan menghindarkan kita dari salah satu jebakan yang menganga: semangat pamer, ekshibisionis, riya.

Televisi memang benda ajaib. Ia bersisi dua: bisa mencerahkan pemirsanya, bisa pula mengirim pesan salah (tapi seolah benar dan luhur). “Indonesia Berzikir” adalah yang kedua. (Hamid Basyaib)

06/02/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (60)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Asswwb..saudara2ku seiman...perbedaan pendapat adalah sunatullah..!!! tapi bukan mjd alasan untuk menghujat, merendahkan dan melontarkan kata2 keji...ayo kita sama2 beristighfar..ayo kita sama2 merendahkan diri, melapangkan dada.. tidak ada yg bisa melarang bila ada yg tidak setuju dengan dzikir Ust. Arifin...tapi kritiklah secara santun, secara islami...kita satu tubuh saudaraku, kita sama2 saudara semuslim…
sebaiknya kita doakan spy Allah memberikan petunjukNya kepada kita semua, shg siapa yg ternyata salah bisa melakukan koreksi, perbaikan di masa yang akan datang. Pleaseeee..saudara2ku hentikan saling menghujat...duuuh kok sakit hati ini membacanya. meskipun ada perbedaan kita mestinya ttp bersatu, saling bergandengan tangan shg agama yg kita cintai hidup dan mati ini tdk smakin terpuruk. Wassalam

Posted by Sakinah  on  06/14  at  05:58 PM

Saya melihat umumnya yang memberi komentar adalah orang-orang yang tidak pengetahuan baik dalam pengetahuan agama islam maupun pengetahuan tentang si Arifin Ilham ini.

Yang mengomentari zikir arifin ilham baik, dia tidak atau belum mengetahui bagaimana seorang islam seharusnya berzikir, saya sarankan sebaiknya banyak membaca dan mendalami ajaran islam yang sebenar-benarnya.

Yang mengomentari bahwa arifin ilham berzikir untuk berdakwah, karena dia nggak pernah tau arifn ilham yang sebenarnya.

Saya setuju pendapat saudara rofiq elqolbi, bahwa arifin ilham ini memang jago berdagang dan berbisnis agama,orang ini pandai mengemas agama menjadi komoditas yang dijual dengan harga tinggi dengan bantuan media televisi atau media lainnya.Coba aja perhatikan, semua pengikutnya sekarang ini sudah menjadi kaya raya dari hasil keuntungan menjual agama. Termasuk juga tentunya Bos Besarnya si Arifin Ilham.

Manusia model mereka itu katanya mengajarkan tasawuf yang tidak mencintai dunia, tapi kenyataan sehari-hari mereka itu gila kehormatan, gila pujian, gila harta dan gila kehidupan dunia, jadi udah gak mikir lagi duit yang didapat darimana, pokoknya gimana caranya bisa punya harta banyak. Anehkan.....?.

Untuk yang ingin tau sifat arifin ilham sehari-hari, coba aja datangin rumahnya yang di sentul atau yang lainnya, datangnya jangan pake mobil mewah, kalo bisa jalan kaki aja. Nanti bisa tau deh sifat arifin ilham yang sebenarnya.

Lepas dari semua yang ada di dunia saat ini, saya sampaikan kepada semuanya bahwa kita sekarang hidup pada masa menjelang hari kiamat. Keberadaan manusia-manusia seperti arifin ilham adalah merupakan tanda-tanda jaman, seperti yang rosulullah katakan “Akan muncul pada hari akhir seseorang yang akan memperoleh keuntungan dunia dengan menjual agama. (HR Tirmidzi), hadits ini saya kutip dari Buku Harun Yahya Hari AKhir danAl Mahdi.

Wassalam.

Posted by Oding WS  on  08/18  at  11:45 PM

ZIKIR YANG DIEKPLOTASI TIDAK LEBIH HEBAT DARIPADA FILM INDIA YANG MELODRAMA (BISA NANGIS SAMBIL NYANYI),BAGAIMANAPUN APA YANG DICAPAI DALAM INDONESIA BERZIKIR CUKUP BERMANFAAT SEBAGAI TAHAP AWAL PENGERTIAN YANG SESUNGGUHNYA.(SEBAGIMANA UNGKAPAN PEPATAH CINA PERJALANAN 1000 LIE DIMULAI DENGAN LANGKAH PERTAMA)
-----

Posted by sopati  on  03/08  at  03:04 AM

Arifin Ilham tergolong sukses mengemas zikir menjadi sebua tontonan kolosal yang mengharu biru. Tapi, ada beberapa hal yang mesti dilihat dengan lebih jernih. Benar, zikir yang dikembangkan Arifin Ilham mengajak kita mengenali dan mengakui dosa kita.

Hanya saja cara Zikir Arifin Ilham tidak dikenal dalam Islam. Dalam arti zikir yang dilakukan secara massa dengan setengah histeris dan menagis. Sunggug Arifin seorang aktor brilian yang mampu menyulap panggung bertunjukan bernama “Indonesia Berzikir” sebagai arena pelarian kaum yang frustasi mengatasi hidup.

Zikir ala Arifin Ilham tidak dikenal di masa Nabi Muhammad. Rasulullah juga tidak pernah mengajarkan zikir yang mengharu biru. Bahkan dalam Al Qura sendiri tidak ada perintah bahkan anjuran berzikir dengan cara kolosal dan pamer. Dalam surat Al A’araf jsutru diperintahkan sebaliknya. Berdoa dengan “tadhorru’an” (rendah hati) dan “khufyah” (suara yang hening dan tidak berisik). Artinya ALlah sendiri memerintahkan umatnya untuk berdoa dengan suara khafi (dalam hati) dan bukan suara jahr (suara yang terdengar). Ini untuk menghindari riya’.

Jika dikatakan zikir Arifin Ilham penuh berkah, mungkin benar untuk seorang Arifin sendiri. Setelah hampir dua tahun menjalankan roda bisnis zikirnya, kin iArifin menjadi host acara mistik di TPI berjudul “Rahasia Ilahi”.  Sepintas penuh kesan kegamaan. Sebenarnya ini acara mistik seperti “Dunia Lain” dan sebaginya.

Menjelang Ramadhan lalu. Arifin malah membuat ibadah baru. Di harian Kompas bulan November 2004, dia memasang iklan “Umroh Lailatul Qodar Bersama Arifin Ilham”. Pertanyaannya, adakah Rasulullah mengajarkan kita untuk umorh lailatul qodar? Tidak ada, bung. Ini semata-mata bisnis yang aji mumpung karena sedang banyak jamaah.

Contoh lain. Dalam paemran properti di JHCC Ferbruari lalu, Arifin tampil sebagai seorang pengusaha properti dengan Perumahan Az Zikra di Bukit Sentul. Selain rumah ada lagi yang ditawarkan. Mau tahu? Solat tahajjud berjamaah, zikir bersama, tausiyah mingguan, dan lain-lain. Artinya yang dijual bukan semata-mata rumah, tapi ibadah dijadikan barang dagangan.

Posted by rofiq elqolbi  on  03/07  at  05:04 AM

Saya kurang pendidikan mengenai masalah analisa sosial dan perspektifnya tapi dari postingannya sdr. seno mengenai perspektif mistis, naif, dan struktur ini..saya jadi “gatel” jari2 sedikit 

Biarpun saya kurpen dlm analisa sosial, tapi menurut saya ketiga aspek tsb sgt berkaitan dan idealnya seorang muslim menganalisa permasalahan sosialnya lewat ketiga aspek tsb sbg satu kesatuan bukannya tok dr aspek struktur saja.

Struktur pun ada yg ciptaan manusia ada yg ciptaan tuhan. Hukum alam adl struktur ciptaan tuhan yg kita tdk bisa merubahnya toh. Kalo sistem hukum buatan manusia a.k.a. struktur hukum bisalah kita rubah tetapi kalo pelaksananya tidak bermoral apakah sistem bisa jalan. indonesia bisa saja kita rubah bentuknya jadi persero misalnya tetapi kalo dirutnya koruptor apa iya bakalan jadi lebih makmur?

Demikian mengenai perspektif analisis sosial dinamis intelektualistik dinamis partisipatif.

Kalo menilik fenomena arifin ilham, saya sama sekali tidak melihat apa yg salah dr situ. Saya bertanya2 apakah para postinger yg “kontra” pernah menghadiri acara arifin? krn paktua2 saya selalu berpetuah, jgn lah menghakimi akan sesuatu yg kamu kurang mengerti...Apakah karena aspek jualannya??? lah memangnya JIL enggak jualan apah?? Apakah karena kurang berpikir??? lah kalo berpikir mulu berbuatnya kapan??

Kalo mengenai JIL, saya berbulan2 yg lalu msh bisa menikmati artikel2 disini tapi sekarang saya rasa mesti cari web islam liberal indonesia yg laen karena JIL sekarang udah jadi Jaringan Islam Lemot 

Wassalam Dian

Posted by Dian  on  02/26  at  10:02 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq