Ironis, Haji Menjadi Status Sosial yang Dilembagakan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
26/01/2003

Masdar Farid Mas’udi: Ironis, Haji Menjadi Status Sosial yang Dilembagakan

Oleh Redaksi

Memang haji telah menjadi status sosial. Itu karena pertama, orang yang berhaji dianggap orang Islam yang saleh, karena telah menyempurnakan agamanya, dan secara ekonomi kaya atau lebih dari cukup. Saya kira itu konotasi dari masyarakat kita yang jauh dari Mekkah. Berbeda dengan rukun Islam yang lain, haji dan zakat mengandung problem kelas karena hanya yang mampu yang dituntut memenuhinya.

Haji merupakan sebuah sistem simbol yang tidak terlalu berguna apabila kita tidak mampu menangkap welt (makna terdalam) dari ritualisme haji. Pemakaian ihram misalnya, merupakan tahap permulaan liminalitas dan pemisahan total dari ikatan-ikatan sosial dan temporal. Karena itulah, kata Masdar F. Mas’udi, beragama masa depan adalah menghidupkan dimensi sosial, termasuk dalam masalah haji. 

Berikut ini wawancara Burhanuddin dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Masdar, Wakil Khatib Syuriah PBNU dan Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta pada Kamis, 23 Januari 2003:

Pak Masdar, Anda pernah menulis tentang regulasi haji.  Dalam tulisan itu, Anda mengritik waktu penyelenggaraan manasik haji yang cenderung merefer pada Hadis ketimbang Alquran. Apakah kritik Anda didasarkan pada teks naqliyah ataukah semata alasan rasionalitas saja?

Pertama-tama, saya perlu mengatakan, bahwa saya ini termasuk Islam tradisionalis sekaligus Islam progresif, karena saya masih percaya pada teks. Saya ingin mengambil inspirasi sebanyak mungkin dari teks-teks agama (Alquran dan Hadis) untuk menjadi acuan kita dalam menyelesaikan problem problem kemanusiaan, termasuk yang selama ini kita dapati dalam pelaksanaan haji.

Ada ritual haji yang mendapatkan perhatian khusus bagi saya, yaitu ritual melontar jamarat/jumrah di mana jutaan orang terkonsentrasi pada titik yang sama di Mina. Yang agak spesifik dari ritual ini adalah berhimpunnya lebih dari 2 jutaan jamaah haji sehingga menimbulkan banyak kecelakaan yang pernah sampai memakan ribuan korban jiwa. Menurut saya, ini merupakan suatu ironi; di mana seharusnya ibadah haji dijalankan untuk mengagungkan nama Tuhan, tapi pengorbanan atau “kesia-siaan” nyawa manusia yang sangat dihormati justru terjadi. Salahnya, kita sering menganggap pengorbanan jiwa manusia yang terinjak-injak itu sebagai suatu kewajaran.

Saat wukuf, terjadi juga konsentrasi 2-3 juta orang dalam satu ruang dan waktu bersamaan. Apa problem yang muncul dari situ?

Ada titik konsentrasi jamaah haji, yaitu Mina (untuk mabit), Arafah (untuk wukuf) dan di Masjidil Haram (untuk tawaf, termasuk sai dari Shafa ke Marwah). Di Arafah yang padat, memang belum pernah terjadi korban jiwa karena terhimpit atau terinjak injak. Namun masyaqqat-nya (kendala) adalah perjalananaan dari Mekkah ke Arafah, dan dari Arafah ke Mina. 3 juta orang berbondong–bondong melakukan perjalanan pada waktu yang sama adalah suatu fenomena luar biasa, dan menimbulkan masyaqqat atau haraj (kesulitan) yang luar biasa. Jarak perjalanan dari Arafah ke Mina, yang kurang lebih 17 km, bisa ditempuh dalam puluhan jam. Pada musim panas, mereka (jamaah haji) sangat tersiksa karena terhimpit selama puluhan jam dalam kendaraan yang tidak memungkinkan AC-nya dihidupkan.

Haji adalah ritual untuk menapaktilasi Bapak Monetheisme, Ibrahim. Ada unsur antropologis menyangkut konsep space (ruang) dalam rites de passage haji, untuk memakai istilah Arnold van Gennep. Komentar Anda?

Sebenarnya ada 2 dimensi yang bisa dinapaktilasi dalam ritual wukuf; tempatnya yang spasial dan waktu yang temporal. Sebenarnya, yang pertama dinapaktilasi adalah tempat, karena tidak mungkin merujuk pada waktu yang sama. Tempat napaktilas itu pun telah mengalami perluasan karena membludaknya jamaah haji dan mendapat justifikasi teologis dari fatwa ulama Arab Saudi dan Khadimul Haramain.

Saat Nabi Ibrahim melontar batu tidak diketahui titik pastinya. Tapi kemudian didefinisikan sebagai daerah Mina. Proses napak tilas dalam haji ini idealnya bisa menjangkau dimensi spasial dan temporal, atau deimensi waktu dan tempat. Tapi dua dimensi itu kacau balau dan berantakan karena konsentrasi jamaah yang sangat padat dalam proses pelaksanaan haji.

Misalnya, mabit di Mina menurut fikih adalah bermalam di Mina atau bain al-jabalain (di antara dua gunung). Tapi beberapa tahun terakhir ini telah mengalami perluasan sampai ke Muzdalifah. Sementara kekacauan di bidang waktu misalnya, terjadi dalam perjalanan Arafah-Mina. Diperlukan singgah di Muzdalifah untuk mengambil kerikil, tapi banyak yang gagal karena ketika tiba di Muzdalifah matahari sudah terbit. Akhirnya, pelacakan napak tilas dari kedua dimensi tersebut lepas.

Di samping itu, density atau kepadatan yang luar biasa menimbulkan korban jiwa, terutama orang-orang tua, ibu-ibu dan anak anak. Karena itu, saya berpikir tentang prinsip Alquran yang menyatakan ‘wa mâ ja’alnâ ‘alaikum fi al-dîn min haraj. Artinya, Tuhan tidak mencari kesusahan atas manusia sekadar untuk membuktikan kesetiaannya, tapi kesetiaan itu ada dalam hati, sebagaimana dikatakan banyak ayat.

Dalam Islam, salah satu pertanda kasih sayang Tuhan adalah ritual shalat. Orang tak mampu berdiri boleh melaksanakannya dengan duduk dan seterusnya. Jadi sebetulnya ada banyak dispensasi juga dalam ibadah.

Bukankah haji sarat ritual simbolik yang menuntut kita untuk mampu mengeluarkan simbol dari makna harfiahnya?

Ajaran-ajaran dan ritual keagamaan seperti shalat, haji dan lain-lain merupakan sistem simbol untuk mengungkapkan pemujaan, penghormatan, kepasrahan dan ketundukan kita pada Tuhan. Di samping itu, ada simbol-simbol yang memberikan dimensi kemanusiaan. Kalau shalat itu mengungkapkan hubungan manusia dengan Tuhan, puasa antara manusia dengan diri sendiri (karena di dalamnya ada prinsip kejujuran dan pengendalian diri), maka haji merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan alam semesta.

Itu bermakna: pertama, napak tilas asal-usul manusia secara biologis: yaitu dari Nabi Adam dan Hawa sebagai nenek moyang kita.  Kedua, juga menapaktilasi asal-usul tradisi spiritualitas kita yang punya keterhubungan dengan Nabi Ibrahim maupun Nabi Adam sendiri. Sebenarnya, seluruh prosesi haji itu adalah napak tilas dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim. Itu disimpulkan misalnya, dari ritual sa’i antara Shafa dan Marwah yang dirujuk dari kisah Siti Hajar. Ritual ini merefleksikan usaha keras untuk mencari anugerah Allah dengan bekerja bukan hanya menengadahkan tangan. Kemudian thawaf, wukuf, sampai melontar jumrah di Mina, itu merupakan pengalaman spiritual dari Nabi Ibrahim. Bahkan memakai baju ihram merupakan tanda perlucutan segala atribut sosial dan kita semua sama di hadapan Allah.

Selama ini referensi teologis pelaksanaan haji selalu merujuk pada hadist saja. Bukankah Nabi sendiri menjalankan hanya sekali seumur hidupnya?

Nabi memang sekali saja berhaji, sebab pada kesempatan sebelumnya sempat gagal dihadang oleh kafir Quraisy. Sejarah ini menimbulkan satu tafsiran yang mempersempit cakrawala haji itu sendiri. Misalnya, waktu haji sebenarnya 3 bulan, sebagaimana dikatakan Alquran: al-hajj asyhurun ma’lûmât (waktu haji adalah beberapa bulan yang tertentu). Kitab-kitab tafsir menafsirkan tiga bulan dibolehkannya melaksanakan haji, yakni bulan Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Tapi karena Nabi hanya sekali berhaji pada jam-jam dan waktu-waktu itu saja, maka disimpulkan bahwa tidak ada keabsahan wukuf di luar tanggal 9-13 Dzulhijjah dengan mencontoh apa yang dilakukan Nabi. Padahal kalau merujuk Alquran, waktu 3 bulan itu adalah waktu pelaksanaan haji yang sebetulnya longgar. Kalau bisa direorganisasi, haji bisa dilaksanakan pada 3 bulan dan tidak harus di satu titik waktu saja.

Jadi sebenarnya prosesi haji managable (bisa dimenej) dan bisa ada penggiliran. Misalnya, negara Asia Timur pada bulan Syawal. Hal itu bisa bergantian sehingga orang bisa lebih khusyu’ menjalankannya, karena ada penghayatan terhadap simbol-simbol haji yang penuh makna. Selain itu, pembiayaan haji juga bisa dtekan lebih murah, aman dan menghindari sistem kuota karena bisa dibaca sebagai menghalangi niat orang beribadah. Dengan begitu, ibadah haji, baik secara spiritual maupun kemanusiaan lebih bisa dicerna.

Saat ini ‘kan tidak seperti itu. Kondisi di sana sangat crowded/penuh sesak, makanya ada adu kekuatan untuk menyingkirkan orang lain yang bisa mengganggu kekhusyu’an ibadah. Ini lebih ironis lagi. Terlebih jika kita cerna melalui penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Akibatnya, haji dipahami sekadar ritualisme sebagaimana ibadah-ibadah lain.

Anda pernah berbicara tentang adanya “kontradiksi” antara teks Alquran dan hadis dalam hal teknis pelaksanaan haji sehingga Anda memberi solusi kembali pada kaidah I’mal al-nash aula min ihmalih. Bisa Anda elaborasi lebih lanjut?

Selama ini, memang kebanyakan nash yang dijadikan referensi oleh para ulama maupun pelaksana haji adalah hadist Nabi yang berbunyi: khudzû ‘annî manâsikakum (ambillah dariku teknis pelaksanaan manasik haji, Red). Hadist ini menunjukkan bagaimana cara pelaksanaan haji. Di situ tidak termasuk soal waktu.

Soal waktu disebutkan dalam nash lain, yaitu Alquran: al-hajj asyhurun ma’lûmât. Hadis ini menerangkan tentang pelaksanaan haji, sedangkan tempat pelaksanaannya dijelaskan oleh hadist lainnya: al-hajj ‘arafah (haji adalah (wukuf) di Arafah) pada intinya. Karena hadist itu, disimpulkan bahwa wukuf itu di Arafah (dimensi tempat) dan pada hari arafah (dimensi waktu), yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Jadi hadist tersebut secara tidak langsung menganulir, atau membikin tidak singkron dengan ayat al-hajj asyhurun ma’lûmât yang oleh beberapa tafsir disebutkan 3 bulan.

Dengan demikian, selama ini kita lebih mengutamakan hadist dengan resiko menganulir ayat yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip ushul fiqh; bahwa sumber ajaran tertinggi adalah Alquran. Sebenarnya kerancuan hierarki demikian tidak boleh terjadi karena hadist paling jauh hanya bisa menerangkan/ menjabarkan nash Alquran.

Di sisi lain, berkaitan dengan ritualisme, haji dipersepsikan sebagian orang untuk mendongkrak status sosial yang kemudian dilembagakan. Bagaimana menurut Anda?

Memang haji telah menjadi status sosial. Itu karena pertama, orang yang berhaji dianggap orang Islam yang saleh, karena telah menyempurnakan agamanya, dan secara ekonomi kaya atau lebih dari cukup. Saya kira itu konotasi dari masyarakat kita yang jauh dari Mekkah. Berbeda dengan rukun Islam yang lain, haji dan zakat mengandung problem kelas karena hanya yang mampu yang dituntut memenuhiny.

Haji juga memang telah menjadi kelas sosial tertentu di Indonesia. Karena itu, sebutan haji melekat dan menjadi sebuah prestise juga. Ini adalah ekses dari pemahaman kita terhadap agama yang terlalu ritualistik dan menekankan pada aspek ibadah mahdlah atau simbolisme dari keagamaan tanpa diimbangi secara proporsional dari dimensi keagamaan lainnya, yaitu kemanusiaan.

Saya kira tantangan beragama ke depan, adalah bagaimana menghidupkan semangat keberagamaan pada dimensi sosialnya dan kemanusiaannya yang hilang. Fenomena ini juga yang menyebabkan selalu adanya friksi antar kelompok dalam mempertentangkan segi-segi simbolik yang tidak bisa diperdebatkan secara rasional. Kenapa? Karena simbol adalah dogmatis.

Kalau begitu, perlu adanya pengaturan regulasi orang yang berhaji untuk kesekian kalinya, jika dikaitkan dengan krisis sosial-ekonomi kita. Problemnya, mungkin haji seperti traveling, telah menjadi fenomena masyarakat modern yang kemudian menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Komentar Anda?

Ide pengalokasian dana haji yang kedua dan ketiga kalinya ke dompet dana-dana kesejahteraan sosial adalah dimensi sosial agama yang tersingkirkan oleh semangat ritualisme yang berlebihan.

Memang ada tumpang tindih kepentingan di sini. Misalnya, sudah umum bahwa bisnis para kiai dan muballigh serta alumni-alumni Timur Tengah dan IAIN adalah pada masa haji, entah sebagai guide atau yang lain. Pelaksanaan haji menjadi sebuah profesi. Saya kira, hampir tertutup kemungkinan mensosialisasikan pada masyarakat tentang perlunya untuk tidak menekankan sisi kuantitas haji, dan mengalihkan alokasi dananya untuk misi-misi social. Akhirnya, ini tetap menjadi dilema kita. []

26/01/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq