Irshad Manji - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
06/06/2005

Irshad Manji

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Saya kini sedang menikmati buku Irshad Manji, The Trouble with Islam Today. Dia bukan seorang sarjana muslim. Tapi dengan jujur dia telah mengungkapkan sesuatu yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang “dipraktekkan” dalam masyarakat. Saya mendapat banyak pelajaran dari buku ini, sebab pengarangnya adalah sedikit di antara muslimah yang berani melontarkan “suara lain”.

Saya kini sedang menikmati buku Irshad Manji, The Trouble with Islam Today. Dia bukan seorang sarjana muslim. Tapi dengan jujur dia telah mengungkapkan sesuatu yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang “dipraktekkan” dalam masyarakat. Saya mendapat banyak pelajaran dari buku ini, sebab pengarangnya adalah sedikit di antara muslimah yang berani melontarkan “suara lain”.

Jujur harus diakui, dalam hukum Islam banyak sekali bentuk-bentuk “diskriminasi” atas perempuan. Ini bukan berarti Islam tak membawa perbaikan bagi hak-hak perempuan. Islam telah membawa banyak hal positif bagi perempuan. Tapi, sementara definisi tentang hak-hak perempuan terus bergerak, hukum Islam “mogok” di tengah jalan, dengan alasan ia sudah ketentuan Tuhan yang tidak boleh diutak-utik. “Ulama laki-laki” seakan-akan seenaknya menjustifikasi diskriminasi itu dengan bersembunyi di balik “hukum-hukum Tuhan” yang konon tak boleh diubah. Ini sama dengan memakai agama untuk melanggengkan ketidakadilan.

Karena itu sikap saya, sebagaimana Manji, jelas: Islam harus ditafsirkan terus-menerus sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang dalam masyarakat. Islam tak boleh dihentikan geraknya dengan dalih Tuhan sudah memberi batas-batas yang jelas tentang perempuan.

Bagi saya, hubungan antara agama dan pemeluknya bersifat dialektis (‘alaqah jadaliyyah): agama tak bisa bersikap “burung unta”, acuh terhadap “protes-protes” yang dilontarkan pemeluknya. Agama harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pemeluknya. Tapi pemeluk agama juga harus bisa menyesuaikan diri dengan “visi moral” yang dikehendaki agama.

Hubungan dialektis antara agama dan pemeluknya itu mengandaikan bahwa agama dan pemeluknya saling menyesuaikan diri. Agama tak bisa meletakkan diri secara doktriner seperti “diktator” yang memaksakan hukum-hukumnya walau jelas hukum-hukum itu tak sesuai dengan kebutuhan umatnya. Tapi manusia juga tak bisa meletakkan dirinya secara absolut sebagai “kriteria” tunggal. Karena itu, pengalaman manusia dalam beragama sama pentingnya dengan teks ajaran itu sendiri. Ajaran agama muncul karena merespons pengalaman manusia dalam situasi yang spesifik, dan karena itu juga dibentuk oleh kondisi historis. Tapi agama, selain terkondisikan oleh sejarah, juga melampaui sejarah. Agama adalah “di dalam” sekaligus “di luar” sejarah.

Salah satu sikap sebagian umat Islam yang saya anggap kurang tepat adalah anggapan bahwa Islam yang “benar” dan “lurus” sudah tersedia, sudah selesai, karena sudah terkandung dalam ajaran-ajaran yang diwedarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Umat Islam tak perlu repot-repot lagi “mencari”. Buat apa “mencari jalan kebenaran”, toh semuanya sudah tersedia dengan komplit dalam ajaran yang ada.

Islam memang telah diwedarkan dengan tuntas oleh Nabi. Tapi penerapannya juga tidak semudah yang dibayangkan. Penerapan ajaran Nabi harus tetap kreatif dan dinamis, dan karena itu penelaahan rasional dalam bentuk ijtihad diperlukan. Di situlah proses pencarian Islam berlangsung. Anggapan bahwa semuanya telah “selesai” dan “sempurna” adalah cerminan dari kemalasan berpikir, “spiritual complacency”.

Karena pencarian penting, maka pengalaman manusia juga menjadi penting. Agama tidak bisa menundukkan pengalaman manusia sepenuhnya, sebaliknya pengalaman manusia tidak bisa “mengarahkan” agama sepenuhnya. Yang terjadi adalah proses dialektis: Islam adalah “imam” sekaligus “makmum” terhadap umat Islam. Begitulah sebaliknya.

Karena itu, selain buku Manji, karya Asra Q Nomani, Standing Alone in Mecca: An American Woman’s Struggle for the Soul of Islam juga perlu dibaca. Buku ini berkisah tentang seorang perempuan muslimah asal Pakistan yang terseok-seok mencari “jiwa Islam” yang sesungguhnya melalui pengalaman hidup yang pasang surut. “Otobiografi spiritual” Ziauddin Sardar, Desperately Seeking Paradise, juga layak dibaca. Sardar bercerita tentang perjalanannya mencari Islam, bergabung dengan banyak kelompok Islam, termasuk Jamaah Tabligh.

Buku-buku Manji, Nomani, atau Sardar, menunjukkan bahwa “menjadi muslim” yang relevan dengan abad modern bukanlah pekerjaan mudah. Selalu ada pergulatan dan pergelutan di sana. [Ulil Abshar-Abdalla]

06/06/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (16)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Kang Ulil, sampeyan bilang sampeyan “mendapat banyak pelajaran dari buku ini, sebab pengarangnya adalah sedikit di antara muslimah yang berani melontarkan “suara lain”.”.

Nah, yang pengen saya tahu adalah bagaimana pendapat sampeyan tentang substansi dari bukunya Irshad Manji tersebut. Terutama masalah “justifikasi” homoseksualisme dan masalah “Tujuh Puluh Perawan”.

Terus terang saya tertarik dengan JIL, dan saya pengen tahu lebih lanjut sikap JIL (spesifiknya Kang Ulil) tentang hal-hal yang “kontroversial”, contoh: apakah kang Ulil memahfumi keberadaan “ayat-ayat setan” seperti halnya Irshad Manji?

Posted by joko telono  on  09/11  at  04:12 PM

Saya sudah membaca buku Irshad Manji yang edisi Indonesianya berjudul: Beriman tanpa rasa takut. Bagi saya buku lebih condong sekedar suatu perspektif (dan tidak baru lagi) melihat Islam dalam konteks internal dan global. Tapi “toh” tak perlu buru-buru memvonis pikiran-pikiran Manji benar atau salah. “Toh” Manji sendiri menyediakan kesempatan untuk berdiskusi. Semangat untuk ekplorasi inilah yang harus dihargai, sehingga Islam tidak dinyatakan selesai sekedar dengan sebuah fatwa. Bukankah Allah sendiri selalu mengingatkan manusia untuk menggunakan nalarnya?  Tapi nalar membutuhkan metodologi berfikir dan data valid juga representatif?, maka pertanyaannya, benarkah semua data yang diungkap oleh Manji memenuhi syarat tersebut? Pertanyaan serupa juga selayaknya kita ajukan ketika kita menerima keberagamaan kita sebagai sesuatu yang “sudah jadi” melalui para imam-imam sebelumnya.
Kalau itu terjadi rasanya generasi sekarang menjadi generasi ampas, yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali sekedar meng-"amini" masa lalu. Kalau yang di-amini benar tak masalah, kalau salah, siapa yang bisa mengubah sejarah kalau tidak umat saat ini? Ayoo ... jangan berhenti berdiskusi, tapi dengan kepala dingin loh, karena Allah maha Pengasih dan Penyayang. Ok ...

Posted by Rafif Ali  on  09/10  at  03:15 PM

Semoga Ulil diberi sadar dan kembali ke jalan yang benar. Kasihan dia ....

Posted by Anang Firdaus  on  08/20  at  12:04 PM

Saya kurang setuju dengan hal tersebut.
-----

Posted by subagyo  on  06/20  at  05:07 AM

Mas ulil saya salut atas paparan anda dalam menyikapi buku irshad manji,memang begitulah seharusnya karena Tuhan sendiri tiada membedakan makhluknya berdasarkan gendernya.Memang sekarang ini banyak kaum muslim sendiri kurang menyadari hal tersebut dan mengedepankan gender, sehingga kurang mengakui persamaan hak manusia.Dan kalo saya boleh memberi saran di halaman muka website ini, mas ulil jangan hanya menyebut Tuhan kita adalah Tuhan segala agama,tetapi Tuhan kita adalah Tuhan adalah Tuhan segala Manusia,karena banyak diantara saudara kita yang tidak mempunyai agama tetapi juga mengakui adanya Tuhan dan meng-Esakanya dan Tuhan kita adalah juga Tuhan segala benda dan makhluk yang ada di alam semesta.

Posted by Dwi Adi Waspodo  on  06/19  at  06:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq