Islam itu Ibarat Spons Raksasa - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
08/09/2002

Hamid Basyaib: Islam itu Ibarat Spons Raksasa

Oleh Redaksi

Saya kira itu malah bentuk pemiskinan. Saya memahami Islam itu sebagai semacam spons raksasa yang bisa menyerap banyak hal. Saya juga berkeyakinan bahwa kebudayaan manusia itu, dari manapun ia berasal dan siapapun yang memperkayanya, adalah kebudayaan bersama manusia. Sebuah warisan budaya milik umat manusia.

Menelisik sisi-sisi religius dalam kegiatan yang secara atributif tidak dipandang religius. Itulah yang dilakukan Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) setiap awal bulan. Kali ini, nilai-nilai religius itu “diperiksa” dari Hamid Basyaib, intelektual muda Islam yang sudah malang melintang di dunia kewartawanan . Ia adalah mantan wartawan Republika, wakil pemimpin redaksi Majalah Ummat (alm) dan penerjemah berbagai buku sekaligus penulis di berbagai media. Dalam talk-show di Radio 68H, Ulil Abshar-Abdalla pada Kamis, 5 September 2002, mewawancarai Hamid seputar bagaimana hidup bermakna baginya. Berikut petikannya:

Bung Hamid, dapatkah Anda bercerita sekilas bagaimana Anda mendapatkan Islam sejak masa kecil Anda?

Sebetulnya sama saja dengan banyak orang. Saya lahir dan besar di sebuah kota kecil, tapi bukan desa, di Lampung. Orang tua saya tidak terikat organisasi apapun. Waktu kecil, saya pun tidak mengenal mazhab. Tapi, setelah agak besar, saya mengerti bahwa sudah jelas bahwa keluarga saya penganut Sunni (berpaham Ahli Sunnah, Red).

Saya juga tinggal di lingkungan pengikut NU, sehingga saya cukup mengerti kultur NU. Saya juga salat di langgar atau masjid NU, termasuk shalat Jum’at. Belakangan, saya baru mengerti kalau ritual-ritual di sana agak berbau tarekat: pada hari-hari besar tertentu, usai salat diisi dengan acara wirid dan zikir bersama, disertai gerak tubuh dan kepala ke kiri dan kanan.

Pada bulan puasa, tentu saya ikut tidur di langgar, menabuh beduk sepanjang malam dan sebagainya bersama teman-teman dari kultur itu, meski keluarga saya cenderung Wahhabi dan sesekali dicibir tetangga secara berbisik sebagai “Muhammadiyah”. (Ketika Nenek meninggal, dan tak ada tahlilan, para tetangga menyebutnya “kayak ngubur kucing saja”).

Apa yang bisa Anda katakan tentang Islam yang Anda terima sejak masa kecil itu?

Pertama, yang paling kuat setelah saya remaja dan mulai berpikir adalah perasaan bahwa saya banyak dibohongi.

Maksudnya?

Banyak hal yang sejak kecil ditanamkan pada diri saya sebagai sesuatu yang sakral dan tidak bisa diubah lagi—karena dianggap hukum baku dari Tuhan—ternyata hanya pendapat ulama saja. Misalnya, saya disuruh menghafal 20 sifat Tuhan dengan dinyanyikan: wujûd, qidam, baqâ’, mukhâlafatuhû li al-hawâdits dan seterusnya itu. Eh, ternyata itu cuma rumusan Al-Asy’ari. Memang, pendapat itu diintisarikan dari Alqur’an. Tapi, semua itu toh hanya pendapat manusia yang kebetulan disebut ulama. Jadi, hal-hal semacam itu -– terutama aturan-aturan fikih yang sering teramat terinci itu—sebenarnya pendapat biasa alias tidak sakral.

Yang kedua, masyarakat kampung saya relatif miskin, meski keluarga saya sendiri tidak bisa disebut miskin. Kala itu, sebentuk teologi dikembangkan: kemiskinan ditransendensi dan dicarikan alasan pemaafnya.

Misalnya bagaimana?

Kemiskinan kaum “pribumi” (Muslim) dibandingkan dengan kemakmuran keturunan Tionghoa yang juga hidup di situ. Rumusannya jadi begini: “Tidak mengapalah kita miskin. Kita miskin cuma di dunia. Kelak, di akhirat kita akan kaya. Mereka, orang-orang Tionghoa itu, memang makmur dan berlimpah harta, tapi semua itu hanya mereka nikmati di dunia yang sangat singkat ini. Kelak, di akhirat mereka akan disiksa di neraka selamanya.” Betapa menariknya pembandingan itu: antara kemiskinan sejenak di dunia dan azab pedih abadi di akhirat!

Jadi, pesannya seolah-olah berbunyi: tak apalah miskin di dunia?

Ya. Lebih jauh lagi, malah ada kecenderungan mempersepsikan kemiskinan sebagai keluhuran; sebagai keunggulan. Sewaktu kecil, saya sungguh nyaman dan tenteram menelan teologi yang “membebaskan” itu. Setelah dewasa, saya tidak lagi dapat menerimanya dengan berbagai alasan. Bagi saya, agama itu untuk kemakmuran manusia di dunia ini. Dengan setengah bercanda bahkan saya sering bilang: “Tentu saja agama itu buat kehidupan di dunia. Sebab, bukankah di akhirat tidak ada lagi agama?

Jadi, dalam pemahaman saya, kaum Muslim—karena kita sedang bicara tentang umat Islam—harus makmur di dunia: makmur secara material, pintar secara intelektual. Pokoknya, semua hal yang unggul-unggul. Sebab, dalam pemahaman saya, agama menganjurkan itu. Misalnya saja tentang anjuran untuk belajar. Saya kira, tidak ada agama lain yang memberi predikat atau sanksi positif atas kegiatan belajar sebagai ibadah. Jadi, secara teoretis, orang Islam mesti pintar semua. Itu pemahaman saya belakangan. Yang saya maksud pemahaman saya yang belakangan itu bukan berarti mandek. Sebab bisa jadi pemahaman itu akan berubah atau bertambah.

Sekarang, Anda sudah banyak membaca dan menelusuri pemikiran Islam. Nah, apakah agama sudah sejalan dengan nafas dan darah Anda, sehingga tidak perlu terlalu dipertunjukkan lagi?

Sebetulnya saya enggan berbicara hal-hal seperti ini. Sebab, saya ingat beberapa ayat Alqur’an yang menyindir ungkapan-ungkapan spiritual semacam ini. Dalam sebuah tulisan, saya menyebut hal semacam itu sebagai “kecongkakan religius”. Sebab, itu merupakan perkara batiniah yang amat sangat personal.

Itu sesuai dengan kecenderungan demonstratif atau pamer religius. Baik dari sisi atribut-atribut (misalnya pakaian, Red) tertentu, ataupun pemikiran yang sok islami. Anda melihatnya bagaimana?

Itu sendiri sebetulnya bisa dipersoalkan dari segi lain. Dalam hal atribut, misalnya, busana beserta segala aksesori yang biasa dikenakan sebagian tokoh Islam itu dalah pakaian Arab, tidak ada hubungannya dengan Islam. Cuma saja, secara kultural dan sosiologis harus diakui bahwa jika seseorang berbusana seperti itu, yang ia niatkan adalah semangat pengidentikan dengan keislaman. Publiknya pun menerimanya secara demikian.

Marshal Hodgson menyebut semua yang muncul dari Timur Tengah itu sebagai islamicate atau (seolah) niscaya berbau Islam. Di Indonesia kecenderungan ini tampak jelas. Kearaban dan keislaman diidentikkan, dijumbuhkan. Tapi yang jelas, dalam konteks kultural dan sosiologis Indonesia, penggunaan atribut-atribut itu cukup jelas menunjukkan pretensi pamer seperti yang Anda sebut tadi. Padahal, pedagang heroin atau senjata di Afganistan pun pakaiannya seperti itu, sebab memang hal itu tidak ada hubungannya dengan Islam.

Anda bicara tentang kearaban dan keislaman. Bagi Anda sendiri, fenomena pamer religius itu terasa mengancam atau tidak?

Saya pribadi merasa tidak. Alhamdulillah sama sekali tidak. Saya cukup hafal gelagat seperti itu, dan cukup mengerti kultur Arab. Tapi yang saya pikirkan bukan diri saya. Yang saya pikirkan, bagaimana orang lain yang kebetulan kurang mengenal kultur Arab berhadapan dengan fenomena itu? Mungkin istilah yang tepat bukan ancaman. Tapi, ada pretensi tentang superioritas dan otoritas moral dan intelektual (keagamaan) dalam diri seseorang kalau dia sudah berpakaian seperti itu. Audiensnya pun cenderung memaknainya seperti itu. Inilah masalahnya.

Saya ingin menanyakan, bagaimana mengembangkan wawasan keislaman yang tepat untuk menanggapi masalah-masalah kontemporer?

Begini, agama ini untuk manusia di dunia. Dan dunia ini luas sekali. Dunia ini terbagi dalam ribuan kotak-kotak kultural dan sosiologis.

Maksudnya?

Artinya, masyarakat-masyarakat punya corak atau pola budaya masing-masing; entah di Irian, di Jombang, di Bosnia atau di New Jersey. Jadi agama, karena ditujukan pada manusia di dunia, tentunya harus berinteraksi dengan subjek-subjeknya yang konkret itu. Yaitu, manusia-manusia yang dari lahir sampai besar dilingkupi oleh suatu pola budaya tertentu. Agama tentunya harus masuk dalam ruang sejarah itu. Agama mustahil hadir di ruang vakum, bukan?

Yang ingin saya katakan: kalau agama dianut oleh masyarakat yang punya kultur dan pola tindak tertentu, misalnya pola berbusana tertentu, sepanjang hal itu tidak melanggar hak orang lain, itu sah saja. Mungkin ini agak kontroversial dan ini masalah lama. Mungkin tidak semua orang harus pakai jilbab semua. Nggak pakaipun nggak apa-apalah. Mungkin akan lebih tepat lagi kalau rumusannya begini: soal itu, soal atribut yang menunjukkan identitas tertentu itu, sangat kecil diukur dari keluhuran dan totalitas yang kaya dari ajaran Islam.

Mestinya, itu tak perlulah jadi kontroversi. Artinya, saya mau pragmatis saja. Saya sering ditanya sejak bertahun-tahun lalu tentang masalah ini. Jawaban saya: “Gampang saja. Kalau mau, Anda boleh pakai ataupun tidak.” Yang pakai jilbab, jangan merasa bahwa mereka yang tidak memakai jilbab itu buruk, kurang Islam dan sebagainya. Yang tidak pakai pun jangan merasa rendah diri dan kurang religius. Busana kelewat sepele untuk dijadikan tolok-ukur keimanan seseorang.

Kalau cadar, seperti yang banyak ditanyakan orang, bagaimana?

Cadar itu sepenuhnya Arab. Di sana ada padang pasir, debu dan lain sebagainya.

Jadi, itu soal penutup debu saja?

Saya cenderung berpendapat begitu. Lagi pula jangan lupa bahwa kebudayaan di dunia ini adalah kebudayaan lelaki. Islam juga, sebagaimana ditafsirkan banyak orang, sangat male-heavy, lebih berpihak pada laki-laki. Lebih-lebih lagi Arab. Arab itu sepenuhnya budaya laki-laki. Bias laki-lakinya sangat kuat sekali. Secara bercanda, saya sering bilang: itu sepenuhnya problem menajemen libido laki-laki yang berantakan, lantas dampaknya ditimpakan pada perempuan. Jadi, perempuan harus ditutup rapat-rapat, supaya tidak memancing libido laki-laki yang blingsatan dan nggak karuan itu.

Aturan fikih kaya raya dengan ketentuan-ketentuan yang menyudutkan perempuan semacam itu, meski didalihkan sebagai justeru untuk “melindungi perempuan”. Misalnya, kalau lelaki dan perempuan keluar rumah bersama, yang lelaki jalan di depan dan perempuan harus melangkah di belakangnya; kalau isteri keluar rumah harus seizin suami (tak ada ketentuan sebaliknya), kalau di rumah tak ada suami tidak boleh menerima tamu lelaki (tak ada aturan sebaliknya); dan tentu saja perempuan tidak boleh jadi imam salat, dan sebagainya.

Kembali ke pokok tema kita tentang bagaimana Anda menghayati Islam. Nah, sekarang ini cenderung ada yang ingin membuat benteng antara yang Islam dan yang di luar Islam. Artinya, Islam dikonsepsikan punya tata cara sendiri yang beda dari umat lain dalam banyak hal. Sebagai seorang muslim, apakah Anda perlu merasa berbeda dari orang lain?

Tidak. Saya sendiri berpendapat mestinya tidak. Tapi, masalahnya bagaimana merumuskan cara yang gamblang untuk mengatakan itu.

Artinya begini, mengapa orang Islam merasa harus punya pakainan khusus, dan makanannya pun harus yang berlabel halal. Padahal, yang halal itu banyak. Semestinya yang diberi label itu yang haram, karena sedikit dan tidak membebani konsumen. Nah, kenapa Islam harus dipandang sebagai sesuatu yang terisolasi?

Saya kira ini tidak bisa dilepaskan dari situasi umum dunia Islam, termasuk politik. Kita tahu, dalam seribu tahun terakhir, Islam sebagai kekuatan politik, kalah di kancah internasional. Teknologinya kalah, ilmunya juga kalah. Jadi ada rasa terancam.  Juga ada perasaan bahwa identitasnya yang paling sejati pun akan tergusur oleh MacDonald, Coca Cola, IBM dan perusahaan-perusahaan multinasional yang dipersepsi sebagai wakil kebudayaan Barat yang hegemonik.

Jadi, dalam keadaan begini, ada kebutuhan dalam diri umat Islam untuk mempertahankan identitasnya yang dianggap paling sejati. Sebab apa? Karena hanya itulah yang dirasakan sebagai satu-satunya miliknya yang tersisa. Yang lain sudah diambil orang. Nah, mengorbankan yang satu itu bukan hal yang mudah bagi mereka yang berpikiran demikian. Sebab itu menyangkut pengaturan hubungan dengan Tuhan dan itu punya konsekuensi keselamatan ataupun kenestapaan hidup kelak di akhirat. Jadi, identitas itu dianggap sangat penting dan harus dijaga betul.

Saya ingin tanya hal-hal yang pribadi. Dalam hal seni, musik apa yang Anda senangi?

Dalam hal musik, saya tersosialisasi oleh musik Barat. Kalau tadi saya bicara soal nabuh beduk di langgar dan sebagainya, itu hanya salah satu sisi hidup saya. Sisi lainnya, pada saat yang sama, saya juga disosialisasikan dengan ide-ide Barat dalam bentuknya yang dangkal. Misalnya dalam bentuk musik. Musik rock, pop dan film Barat merupakan sesuatu yang saya nikmati sejak saya berumur empat tahun, seingat saya. Jadi sejak usia sangat dini saya sudah mendengar Bee Gees, Beatles, The Monkeys, Herman Hermit, Everly Brothers, dan puluhan lainnya, di masa puncak popularitas mereka.

Waktu kecil, seusai dikhitan, uang hadiah para tamu saya belikan piringan hitam Credence Clearwater Revival (CCR). Sungguh nostalgis bagi saya ketika beberapa hari lalu, di pantai Jimbaran Bali, ada pengamen yang menyanyikan Proud Mary dan Have You Ever Seen the Rain? dari CCR. Saya juga cukup banyak, untuk ukuran anak yang belum masuk SD, menonton film Hollywood dan “koboi spaghetti”.

Sekarang, apa jenis musik yang masih Anda suka dan dengarkan?

Praktis semua jenis. Selain pop, saya juga mendengarkan jazz, baik yang mainstream maupun “fusion”, seperti Miles Davis, Dave Grusin, Bob James. Eh, koleksi musik klasik saya cukup banyak, lho, meski diukur dari kolektor sungguhan tidak berarti. Ada Brahms, Vivaldi, Berlioz, Debussy, tentu saja Mozart, Bach dan Beethoven.

Kalau film, jenis apa yang Anda suka?

Karena kita dijejali Hollywood, sosialisasinya dari kecil tentu film Hollywood. Tapi saya paling senang film-film drama. Kalau film action, kan dar-der-dor aja. Saya justeru banyak mendapat pemikiran dan perenungan tentang hidup dari film-film pop itu.

Dari tiga pertanyaan di atas, saya hanya ingin satu hal: Di saat Anda mengonsumsi budaya seperti itu, di mana letak kemusliman Anda? Apa Anda merasa masih muslim?

Jelas sekali. Dalam banyak hal saya merasa keislaman itu diperkuat. Lewat lagu klasik, misalnya. Saya betul-betul merasakan religiusitas -– mungkin tepatnya: spiritualitas—yang terbangkitkan dengan mendengarkan musik. Misalnya lewat simfoni ke-6 Bethooven, ataupun simfoni ke-9 yang paling populer itu. Sampai sekarang, saya terus heran: mengapa ada orang yang bisa membuat komposisi seindah itu? Saya terus meraba-raba apa yang ada di medan imajinasi Beethoven ketika dia menganyam nada-nada yang menakjubkan dalam simfoni maupun sonata-sonatanya itu.

Intinya, bagi Anda, menjadi muslim tidak mesti menyingkirkan produk-produk seperti itu dengan mengisolasi diri hanya bersama nasyid?

Saya kira itu malah bentuk pemiskinan. Saya memahami Islam itu sebagai semacam spons raksasa yang bisa menyerap banyak hal. Saya juga berkeyakinan bahwa kebudayaan manusia itu, dari manapun ia berasal dan siapapun yang memperkayanya, adalah kebudayaan bersama manusia. Sebuah warisan budaya milik umat manusia. []

08/09/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq