Islam Liberal, Pemurtadan Berlebel Islam - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
01/04/2002

Islam Liberal, Pemurtadan Berlebel Islam

Oleh Redaksi

Islam Liberal atau JIL (Jaringan Islam Liberal) adalah kemasan baru dari kelompok lama yang orang-orangnya dikenal nyeleneh. Kelompok nyeleneh itu setelah berhasil memposisikan orang-orangnya dalam jajaran yang mereka sebut pembaharu atau modernis, kini melangkah lagi dengan kemasan barunya, JIL.

01/04/2002 09:37 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Menurut pendapat saya, terbentuknya JIL disebabkan oleh karena memeluk salah satu agama merupakan keharusan di negeri ini. Beragama tertentu adalah paksaan di negeri kita. Ini bertentangan dengan prinsip Islam sendiri yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Pemaksaan-pemaksaan inilah yang menyebabkan para pencari kebenaran tidak punya tempat selain dalam wadah agama yang tersedia. Sementara itu, agama apapun di dunia ini, kebenaran dianggap tidak usah dicari. Dia diyakini sudah ada di dalamnya dan bersifat mutlak. Oleh sebab itu agama bukan tempat yang cocok bagi lahirnya kebenaran-kebenaran baru.

Lantas bagaimana solusinya ?

Sederhana saja. Laksanakan secara konsekuen bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Artinya perlu ada kebebasan untuk tidak memeluk agama apapun, karena memang sesungguhnya agama itu ada dalam kalbu manusia sebagaimana dinyatakan dalam salah satu petikan syair Jalalluddin Rumi (1207-1273) sbb:

Jangan tanya apa agamaku Aku bukan Nasrani, Bukan Yahudi Bukan Majusi Dan ...... bukan pula Islam. Karena begitu kau sebut sebuah nama, pasti berbeda dengan yang ada dalam hatiku.

Di dalam wadah “agama kalbu” yang “tanpa label” inilah sesungguhnya para pencari kebenaran dapat sepuas-puasnya melahirkan kebenaran-kebenaran baru yang terus berkembang sesuai dengan ruang, waktu dan peradaban manusia yang terus berubah.

Oleh sebab itu, JIL sebaiknya jangan menggunakan label agama tertentu. Ganti saja dengan JATNI (Jaringan Agama Tanpa Nama Indonesia). Saya yakin, cepat atau lambat sebagian besar umat di negeri ini akan masuk di dalamnya, termasuk saya.

#1. Dikirim oleh anonim  pada  22/08   02:08 PM

Saya tak setuju dengan pendapat Anda. Bagi saya, Islam liberal itu membawa kepada pemahaman yang dalam.

Thanks.

#2. Dikirim oleh emha ulul jana  pada  26/08   11:08 AM

Sebuah buku yang pernah ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz, Aliran-Aliran Sesat di Indonesia, memang merupakan sebuah buku yang sangat menarik untuk dimasukkan ke tempat sampah.

Betapa tidak? Ia dengan seenaknya “memaksa” seseorang untuk menggunakan etika ketika orang lawan bicaranya mencoba menunjukkan kebusukannya.

Lihat saja bagaimana ia mendiskreditkan Nurcholis Majid dan bagaimana pula ia mengagungkan dirinya sebagai seorang yang paling benar di dunia ini Wahai HAJ sadarlah sebelum maut menjemputmu.

#3. Dikirim oleh Gus Is  pada  18/11   08:11 AM

Seenaknya saja mengklaim diri seseorang atau lembaga itu sesat.  Kalau memang Anda tidak sesat, kenapa keadaan tetap begini.  Yang kaya makin kaya, yg miskin makin miskin. Zakat, Shadaqoh tidak pernah membebaskan orang miskin di Indonesia.  Tunjukilah yang benar itu yg mana jika memang anda memegang yg benar.

#4. Dikirim oleh Sandy S. Utama  pada  12/12   08:12 AM

Saya sudah membaca beberapa buku karangan haj, yang isinya rata-rata mengkritisi tentang penyimpangan yang terjadi di Indonesia hususnya. Terus terang saya sempat terbawa oleh emosional haj yang ditulis melalui buku-bukunya. Bahkan saya sempat berdebat panjang dengan dosen tasawuf saya setelah saya membaca buku haj yang berjudul tasawuf pluralisme dan permurtatan dan tasawuf belitan iblis. Untuk sekedar membuktikan apakah tulisan haj dapat dibuktikan kebenarannya atau tidak.

Namun, saya tidak mengerti mengapa haj begitu menaruh sensitifisme terhadap UIN jakarta, padahal ia sendiri adalah alumni IAIN Jogjakarta, dan ia merasa sangat pintar mengomentari setiap orang yang ia anggap menyimpang, seakan-akan ialah yang paling pintar… juga banyak hal lain sekitar bid’ah yang ditayangkan dari tasawuf....dari buku-bukunya tidak semuanya salah dan tidak semuanya benar, saya hanya mengambil yang positifnya saja, sebagai bahan untuk menambah wawasan.. 

Mungkin saya tidak akan mengometari haj, karena saya merasa dialah yang lebih paham dan lebih betul akan kebenaran yang ada. Bukanlah perbuatan yang membuat perubahan, tetapi lisanlah yang bisa merubah segalanya…

#5. Dikirim oleh purwadaksi rahmat  pada  13/12   06:12 PM

Apakah paham Islam liberal bertentangan dengan firman Allah SWT dan sabda Nabi saw seperti tercantum dibawah ini:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari ummat ini mendengar (agama) ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Wallahu ‘allam.

#6. Dikirim oleh ridwan  pada  26/01   07:01 AM

Wah Kalo gitu jangan-jangan anda sendiri yang murtad??? apakah anda tau kalo JIL itu semuanya murtad, anda kan bukan Tuhan/Rasul??? jadi anda jangan seenaknya sendiri dong!!! N gue tetep dukung bang ULIL (Merdeka)

#7. Dikirim oleh Anton  pada  22/06   01:06 PM

Saya orang awam pingin nimbrung sedikit ttg pluralisme dan klaim kebenaran sepihak.

apa yang membuat bapak meyakini bahwa islam adalah satu-satunya agama yang paling benar? kalo boleh, tolong jawaban yang tidak dogmatis..

apakah tuhan (personal) yang MAHA BESAR dan MAHA BIJAKSANA akan menyiksa seseorang didalam api neraka untuk selama-lamanya hanya karena orang tersebut tidak menganut dogma tertentu? atau katakanlah, “salah” menganut dogma?

sekedar kutipan: “agama dimasa mendatang adalah agama kosmik. agama tersebut seharusnya melampaui konsep tuhan yang bersifat personal dan menghindari dogma-dogma teologi..” (Albert Einstein)

sepengetahuan saya, yang “mendekati” deskripsi einstein diatas adalah agama buddha. bagaimana menurut bapak?

terima kasih

#8. Dikirim oleh Benyamin  pada  05/10   05:10 AM

tulisannya sangat menarik. apa yang ditulis mungkin tidak semua betul akan tetapi ini bisa jadi bahan instropeksi bagi yang tertuduh karena memangtulisan-tulisan yang anda sebarkan di beberapa media + website islamlib.com sudah keterlaluan, seakanj-akan anda yang paling modern dan paling benar mensikapi modernitas dengan mengatakan yang komit pada islam sebagai islam tekstual, padahal tidak tampak sama sekali peran anda dalam perkembangan islam.

#9. Dikirim oleh sandy  pada  15/10   12:10 PM

Tulisan Hartono baik artikel dan buku yang berjudul"Pemurtadan di IAIN” yang konon menurut hartono ditulis sejak tahun 1977. Merupakan buku yang paling jelek yang pernah saya tahu. Buku itu isinya menyalahkan orang lain, hampir semua tokoh-tokoh Islam murtad. Bahkan dengan tidak berakhlak menyebut-nyebut tokoh-tokoh Islam seperti Cak Nur, Harun Nasution, Ulil, abd.Muqsith sebagai agen JIL yang mana arti dari JIL dipelintir menjadi (Jaringan Iblis Laknat). Kalau menurut saya justru Hartono dan antek-anteknya adalah kelompok pendusta-pendusta Agama, yang mempermainkan hadits dan ayat-ayat Qur’an untuk mengkafirkan dan memurtadkan orang lain.

Hartono, at-tamimi dan teman-temannya adalah manusia-manusia bodoh karena mengesampingkan fungsi akal, nalar, dan tidak punya tatakrama.

Yang paling lucu, ketika diskusi dengan Ulil, abdul muqhsith di Masjid UIN Jakarta, 16 April 2005 dalam bedah bukunya Hartono “Pemurtadan di IAIN”, argumentasi yang dipaparkan oleh Hartono dan at-Tamimi sangatlah emosional, kering dari pemahaman pluralisme, kering dari akhlak karimah dan kering spiritual. Pembawaannya sangat emosional dan Kasar.

Bahkan sebenarnya dia sangat pengecut dan penakut. Masak diskusi bersama Gus Ulil dan Gus Muqsith bawa pasukan, teriak-teriak Allahu Akbar lagi. Memang mau perang atau klarifikasi pemikiran.

Hartono-hartono...antum itu perlu banyak belajar dari Kang Ulil dan teman-teman JIL.

Hartono...jaga lidahmu jangan sembarangan mengkafirkan orang lain, kamu bukan Tuhan...lebih liberal saya mengatakan kamu adalah orang bodoh yang berlagak ilmuan.

#10. Dikirim oleh shohibul faroji  pada  15/04   10:04 PM

Sebagai non muslim, saya sangat tertarik dengan JIL ketika mendengar Ulil menyatakan bahwa agama sebagai sebuah organisme yang tumbuh dan berkembang. Saya 100 persen setuju dengan dia. Saya sendiri beranggapan bahwa semua agama selayaknya hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan kebudayaan manusia. Kita sudah meninggalkan “wajah keras” agama hampir satu milenium lalu, dan mempertahankan agama yang berwajah keras dan justru tidak bertoleransi pada kemanusiaan adalah sama saja membawa kebudayaan manusia kembali ke masa-masa kehancurannya sebelum pemikir-pemikir dan nabi-nabi besar dilahirkan.

Tulisan Hartono di atas kembali mengeraskan sifat agama, khususnya di sini agama Islam. Saya kira tulisan ini tidak bisa menggugah siapa pun yang berharap akan kemajuan agama. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah agama yang dimaksudkan untuk mengedepankan “kemajuan berpikir” karena jika kita melihat sejarah lahirnya agama-agama besar dunia, nabi-nabi pembawa agama tersebut (Muhammad SAW, Yesus Kristus, Ibrahim/Abraham, Buddha, Socrates dll) mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu pembaharuan kehidupan manusia.
-----

#11. Dikirim oleh rn  pada  13/04   02:04 AM

Saudara Hartono silahkan saja kalau saudara yang terhormat merasa benar. Saya sungguh tidak percaya kalau ada orang mengatakan bahwa paham agama dia paling benar, apalagi jika kemampuannya hanya sumpah serapah saja. Bagaimana dengan statement Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya didalam Al Qur’an ;"Islamlah kamu......” Padahal saat itu
Al Qur’an dan nabi Muhammad belum ada dan perintah sholat belum turun. Bukankah 3 hal tersebut adalah ciri Islam? Bukankah statement tersebut harusnya menjadi tonggak pluralisnya Islam kedepan.

#12. Dikirim oleh Sri Hadijoyo  pada  24/11   12:23 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq