Islam, Turisme, dan Toleransi - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
16/01/2005

Islam, Turisme, dan Toleransi

Oleh Luthfi Assyaukanie

Kaum muslim yang memimpikan keberhasilan wisata di daerah mereka (baik di Ternate, Tidore, Lombok, ataupun kawasan lainnya) sudah semestinya belajar dari orang-orang Bali yang sangat toleran dan secara sadar mau menerima berbagai konsekwensi dari indutri ini. Tanpa toleransi, keinginan akan sebuah industri turisme yang berhasil tak akan terwujud.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah berkeliling ke beberapa tempat di Indonesia yang memiliki kawasan alam yang indah dan menjadi tujuan para turis. Di antara tiga tempat yang saya kunjungi adalah Ternate-Tidore, Bali, dan Lombok. Ketiga tempat ini, selain memiliki kawasan wisata yang indah juga dikenal sebagai tempat bersejarah.

Ternate-Tidore adalah dua kerajaan Islam besar pada masa silam dan dua tempat yang menjadi perebutan kekuasaan pelaut-pelaut Eropa. Bali dan Lombok juga merupakan tempat bersejarah yang merupakan salah satu pusat peradaban Hindu di masa silam.

Menarik untuk dicatat bahwa di antara tiga kawasan wisata itu, Bali merupakan kawasan wisata yang paling berhasil dan paling banyak mengeruk devisa bagi pemerintah lokal dan pusat. Sementara kedua kawasan wisata lainnya, yakni Ternate-Tidore dan Lombok kurang berhasil. Bahkan keberhasilan Lombok sepenuhnya bukan karena dirinya sendiri, tapi karena imbas dari wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Mengatakan Bali berhasil karena faktor Hindu dan Ternate-Tidore serta Lombok gagal karena faktor Islam mungkin sebuah penyederhanaan persoalan. Tapi, saya kira, faktor agama ini cukup penting dalam mempengaruhi nasib dan masa depan sebuah kawasan turisme.

Ambillah Ternate-Tidore sebagai contoh. Beberapa penduduk di sana yang saya temui mengharapkan kalau dua pulau ini bisa menjadi kawasan wisata yang berhasil. Tapi ketika saya tanyakan adakah sebuah bar atau kafe untuk para turis asing, salah seorang mengatakan: “dulu ada, tapi semuanya sudah dihancurkan. Baru-baru ini ada satu kafe didirikan, tapi masih takut beroperasi.” Menurutnya, yang menghancurkan kafe-kafe itu adalah kelompok Islam model FPI (Front Pembela Islam) yang alergi terhadap tempat-tempat maksiat.

Kafe atau bar itu mungkin satu persoalan kecil. Tapi, ia menjadi bagian penting dari industri turisme. Apalagi kalau target turisme adalah wisatawan asing, keberadaan kafe dan berbagai asesorinya merupakan hal yang tak terelakkan. Sebetulnya kalau mau jujur, pengguna kafe juga bukan hanya turis asing. Wisatawan lokal dan penduduk setempat juga banyak yang menyukai kafe dan bar.

Penolakan terhadap kafe atau bar jelas berangkat dari ketakutan dan kebencian berlebihan terhadap apa saja yang dicurigai sebagai “maksiat.” Takut atau benci bukanlah sesuatu yang dilarang. Tapi, mengumbar ketakuan dan kebencian dengan cara-cara kekerasan, apalagi merusak, jelas akan menghancurkan semua tatanan kehidupan.

Kaum muslim yang memimpikan keberhasilan wisata di daerah mereka (baik di Ternate, Tidore, Lombok, ataupun kawasan lainnya) sudah semestinya belajar dari orang-orang Bali yang sangat toleran dan secara sadar mau menerima berbagai konsekwensi dari indutri ini. Tanpa toleransi, keinginan akan sebuah industri turisme yang berhasil tak akan terwujud.

Menurut saya, kemaksiatan bukanlah sesuatu yang harus dilarang atau apalagi ditumpas habis. Kemaksiatan adalah unsur intrinsik dalam diri manusia. Ia sama tuanya dengan usia manusia. Kita semua belajar maksiat dari Adam dan Hawa, ibu-bapak semua umat manusia. Dan para Nabi juga tak maksum dari kemaksiatan (nabi-nabi agung seperti Nuh, Luth, dan Ibrahim, semuanya pernah bermaksiat kepada Allah).

Yang perlu dilakukan adalah membuat aturan dan meregulasi “maksiat.” Minuman keras tak boleh dilarang, tapi diberikan tempat-tempat khusus bagi orang-orang yang ingin meminumnya. Prostitusi tak boleh dimusuhi. Tapi diberikan tempat atau lokalisasi yang wajar. Yang diperlukan di sini bukanlah sikap benci dan permusuhan, tapi toleransi dan kerendahan hati.

Di setiap peradaban, minuman keras (khamriyat) dan prostitusi (harem) menjadi bagian dan pernik yang tak terhindarkan, termasuk dalam peradaban Islam di masa silam. Kehidupan manusia bukan melulu tentang kitab suci, shalat, dan mengaji. Meminjam ungkapan seorang teman, sebagaimana energi kesalehan harus disalurkan, energi kemaksiatan juga harus diberi saluran, agar tidak meledak dan tercecer di sembarang tempat. (Luthfi Assyaukanie)

16/01/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya rasa yg utama adalah membasmi outlaws macam FPI itu, mereka itu hanya merendahkan Islam semata..

mengenai turisme saya rasa lebih baik kita serahkan pada warga setempat aja, tentu mereka yg lebih tau akan kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri.. jika mereka yakin bisa mendidik anak2 secara islami dalam industri yg bernuansa maksiat..jika mereka yakin manfaat yg didapat lebih besar dari manfaatnya..jika mereka memang benar2 INGIN..ya mengapa tidak?

idealnya tentu dengan melibatkan ulama dan umara setempat dlm proses pengambilan keputusan tsb..jgn hanya melihat prospek jangka pendeknya saja..

demikian terimakasih, Jika ada yg benar itu datangnya dari Allah SWT, jika ada yg salah itu semata krn kebodohan saya saja.

Wassalam, Dian
-----

Posted by Dian  on  02/26  at  08:02 PM

Saya heran, kenapa teman2 justru mengkritik pengarangnya. Kenapa tidak memberi opini bagaimana seharusnya Topik Islam, Turisme, dan Toleransi di wacanakan atau di dikembangkan secara Islam. Bung Lufti sudah mengutarakan pendapatnya, dengan segala keterbatasan dan kekurangan dia. Seharusnya teman2 mengungkapkan pendapat mengenai Islam, Turisme, dan Toleransi. Dengan adanya masukan pendapat dari banyak pemikir, maka akan dicapai hasil yang semakin baik bagaimana seharusanya Islam, Turisme, dan Toleransi bisa menjadi denyut hidup yang indah. Penduduk tetap beragama Islam, Turisme berkembang dalam suasana Islam, Tolerensi terjalin dengan cara yang tetap menarik semua pihak untuk datang berwisata. Salam Mohamad PSMinggu

Posted by Mohamad  on  02/12  at  02:02 AM

Bismillahirahmanirrahim

seperti baisa, saudara luthfi memunculkan pemikiran yang nyeleneh. pemikiran yang begitu “promiscious” yang dikatakannya toleran. toleran tidak berarti menerima kemaksiatan di depan mata bang luthfi, apalagi berusaha untuk memaklumi keberadaannya karena itu sudah bagian dari manusia dan sejarah manusia. sejarah juga mencatat bahwa manusia pernah menjajah manusia lain, memperbudak manusia lain. tapi apa itu bisa menjadi alasan yanmg cukup untuk mentoleransi hal tersebut terjadi sekarang ini. saya tahu bang luthfi tidak cukup banyak waktu untuk menulis tulisan ini, saya menganggap bahwa bang luthfi hanya secara awam nenulis tentan topik ini, sehingga hasilnya jauh dari harapan jika dilihat secara akademik. tersirat tujuannya hanya sekedar memabngkitkan kontroversi.

ya...banyak alasan mengapa bang luthfi melakukan hal tersebut. luthfi…

menjadikan alasan ekonomi sebagai landasan untuk mencapai sesuatu itu sangat superfisial..dan cenderung membawa manusia menjadi hewan. ini akan menyebabkan orang cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. kalau itu terjadi maka peradaban akan hancur. turisme sebenarnya adalah merupakan kegiatan yang seperti kegiatan sehari-hari adalah bersifat fisik. dalam islam itu bisa dilakukan. Namun aktivitas fisik dalam islam itu diatur oleh norma dan hukum. kalau sampai aktivitas itu melanggar hukum dalam islam..maka hal tersebut tidak boleh dilakukan. dalam pariwisata..bukankan kita bisa menikmati pemandangan alam, melakukan perjalanan, makan minum tanpa harus masuk ke diskotik melihat tarian telanjang. bukankah kita bisa menyajikan pertunjukan karapan sapi misalnya, tanpa menjual minuman keras?

tapi mungkin bang luthfi akan mengatakan, tanpa itu turis asing gak akan tertarik. apa buktinya? kalau seandainya memang demikian...bukankah lebih baik kita menjaga masyarakat dan anak cucu kita dari kerusakan daripada menggalakkan turisme maksiat seperti itu?

rejeki itu bisa kita dapat dengan cara yang halal bang luthfi.

Posted by aminuddin  on  02/06  at  07:02 PM

Saya pernah berlibur ke bali & menginap di rumah temen saya yg orang bali. saya melihat kehidupan di pedesaan & kampung2x sana tidak beda jauh dengan yg di jawa. Saya pernah iseng2x nanya dengan penduduk di sana yg kebetulan beragama islam. “Apakah di Bali ini kalau ada kemaksiatan akan terjadi keributan seperti yg dilakuakn FPI misalnya ?” mereka menjawab” apakah FPi itu tidak pernah berbuat dosa? mereka itu hanya orang2x yg sok suci & cuma cari gara2x saja. saya sbg umat muslim malu dgn sikap mereka. di kampung ini juga banyak orang2x yg suka berbuat maksiat, tapi kita gak bisa munafik karna di dunia ini tidak ada manusia yg sempurna. mereka itu hanya orang2x yg tidak mau menerima ada kenyataan seperti itu/ mungkin karna kurang kerjaan aja. saya gak merasa terganggu dgn adanya kemaksiatan, yg penting asalkan kita secara pribadi bisa menjaga & menegndalikan diri lita maka kita pun gak akan terpengaruh kok. Bahkan salah satu dari mereka ada yg bilang “kalau orang2x muslim seperti itu pasti muslim jawa tuh suka ikut campur urusan orang lain. saya yg orang jawa tidak tersinggung melainkan ketawa sendiri mendenganr omongan mereka, apalagi yg mereka bicarakan itu benar.

Posted by Aswino Vitus Sumopawiro  on  02/01  at  02:02 AM

Terus terang, saya sering mengunjungi tempat-tempat yang anda sebutkan dalam artikel anda.  Dan saya juga memiliki banyak sekali sahabat dekat di daerah tersebut. Dan sebagai seorang muslim, rata-rata masyarakat di sana sangat bersyukur dengan keindahan alam yang masih perawan. Mereka juga cukup bahagia dengan kondisi saat ini.  Justru mereka khawatir, bahwa turisme, munculnya warga pendatang, serta kepulangan para ex TKI/TKW dari luar negeri, yang tanpa filter moral akan menyebabkan :  1. sirnanya budaya setempat 2. merajalelanya perzinaan, seperti banyaknya PSK, baik WTS maupun Gigolo seperti di Bali (tempat “bench marking” anda) 3. munculnya azab Allah, akibat kezaliman semacam itu

Pertanyaannya, apakah artikel anda benar-benar mencerminkan keinginan mayoritas masyarakat di sana? Ataukah asumsi pikiran anda sendiri?  Sebagai cendikiawan, hendaknya anda harus lebih bisa memberikan solusi, ketimbang opini-opini tanpa penyelesaian yang jelas, dan menimbulkan kontroversi.

Posted by rahmat hidayat  on  01/26  at  09:02 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq