Islam Warna-warni - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
13/08/2002

Islam Warna-warni

Oleh Luthfi Assyaukanie

“Islam Warna-warni” adalah sebuah ungkapan yang ditemukan tak hanya berdasarkan pilihan eksotisme kata-kata semata, tapi juga berdasarkan dalil teologis (kalamiyyah), fikih (fiqhiyyah), maupun sosiologis (ijtimaiyyah) yang dirujuk ketika rancangan iklan itu dibuat. Dengan kata lain, slogan ini merupakan hasil renungan atas doktrin esensial Islam dan kenyataan sejarah Islam itu sendiri.

Dari Koran Tempo, 13 Agustus 2002

Iklan layanan masyarakat “Islam Warna-warni” yang dalam beberapa minggu belakangan selalu menghiasi wajah layar kaca dua televisi nasional terbesar RCTI dan SCTV tiba-tiba menghilang. Seperti diberitakan sebuah media, kedua penanggung jawab televisi itu mengaku telah memutuskan secara sepihak pembatalan penayangan iklan itu karena adanya somasi oleh Majelis Mujahidin (MM), organisasi Islam yang dikenal lantang mengampanyekan antipembaruan Islam.

Banyak orang yang menyayangkan dan mengkritik tindakan sepihak kedua stasiun televisi tertua di Tanah Air itu. Sambil menyayangkan sikap MM yang arogan karena merasa dirinya paling berhak menafsirkan Islam, banyak pihak menyayangkan RCTI dan SCTV karena “mau enaknya sendiri” dan “tak bertanggung jawab” yang tanpa membicarakannya dengan Komunitas Islam Utan Kayu (KIUK), pembuat dan pemilik iklan tersebut.

Saya kira, keberatan banyak orang yang secara luas bisa disimak dari mailing list Islam liberal cukup beralasan dan bisa dipahami. RCTI dan SCTV dinilai telah “mengembuskan iklim penindasan berekspresi” dengan menghentikan penayangan iklan tersebut.

Saya tak ingin memperpanjang perdebatan seputar kekhawatiran dan tindakan reaksioner dua stasiun televisi itu. Dalam ruang yang terbatas ini,saya hanya ingin menjelaskan asal-usul dan sejauh mana frase “Islam Warna-warni” itu bisa dipertanggungjawabkan.

Kebetulan saya terlibat dalam pembuatan rancangan iklan itu. Bersama teman-teman KIUK, kami menggodok dan mendiskusikan setiap kata yang akan ditayangkan dalam iklan tersebut. Frase “Islam Warna-warni” adalah pilihan akhir yang keluar dari kesadaran penuh dan bukan dari kehendak main-main yang tak punya dasar sama sekali.

Pesan yang ingin disampaikan dari iklan tersebut adalah bahwa Islam adalah agama yang beragam ketika dia dipraktekkan oleh kaum muslim. Secara gamblang, pesan itu mengajak umat Islam menolak pemahaman satu Islam, karena pemahaman seperti ini dapat menjurus pada pembenaran kelompok tertentu dan menafikan kelompok lainnya. Keyakinan terhadap banyak Islam akan membuka peluang terhadap pluralisme dan keragaman sosial.

Dalam media modern, slogan adalah sesuatu yang penting. Dia bukan hanya frase yang harus enak didengar, tapi juga harus menjadi jargon psikologis bagi para pendengar atau pemirsanya. Teman-teman di KUIK yang sebagian besar bekerja di media, tentu saja sangat menyadari psikologi media ini. Slogan adalah alat penyampai yang sangat penting dan menentukan.

“Islam Warna-warni” adalah sebuah ungkapan yang ditemukan tak hanya berdasarkan pilihan eksotisme kata-kata semata, tapi juga berdasarkan dalil teologis (kalamiyyah), fikih (fiqhiyyah), maupun sosiologis (ijtimaiyyah) yang dirujuk ketika rancangan iklan itu dibuat. Dengan kata lain, slogan ini merupakan hasil renungan atas doktrin esensial Islam dan kenyataan sejarah Islam itu sendiri.

Secara teologis, Islam selalu hadir dalam bentuk yang tidak pernah seragam. Sejak wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam selalu dihadapkan pada beragamnya keyakinan (akidah) umat Islam, baik mengenai ketuhanan, kenabian, wahyu, maupun persoalan-persoalan ghaybiyyat lainnya. Secara teologis, Islam selalu hadir dalam wajahnya yang beragam, dalam bentuk Murjiah, Syiah, Khawarij, Muktazilah, maupun Ahlussunnah.

Tradisi keilmuan fikih juga memiliki keragaman wajah Islam yang tak ada tara bandingnya. Fikih selalu memegang tradisi aktsaru min qaulayn (lebih dari dua pendapat), yang berarti selalu ada kemungkinan kebenaran lain di luar kebenaran yang kita yakini.

Sebuah hadis Nabi mengatakan: la yafqahu al-rajulu hatta yara fi al-qur’ani wujuhan katsiratan (tidak dianggap faqih seseorang sehingga ia melihat banyak dimensi dalam Al-Quran). Perbedaan pendapat adalah inti dari ajaran fikih. Karenanya, kita tak bisa berbicara tentang satu Islam secara fikih.

Secara sosiologis, Islam juga hadir dalam wajahnya yang beragam. Karena itu, tepat sekali yang dikatakan Aziz Azmah, intelektual asal Suriah, “Secara sosiologis kita tak bisa bicara tentang satu Islam, tapi Islam-Islam” (Islams and Modernities, 1996). Ada banyak Islam di dunia modern: ada Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam FPI, IslamWahabi, Islam Laskar Jihad, Islam Liberal, dan lain-lain.

Sejak masa Nabi hingga sekarang ini, Islam selalu hadir dalam warnanya yang beragam. Adanya warna-warni dalam Islam bukanlah sesuatu laknat atau bencana yang harus disesali dan bahkan dikecam. Tapi, sebaliknya, seperti yang dikatakan Nabi, harus disyukuri, karena merupakan bagian dari rahmat Allah (ikhtilafu ummati rahmah).

Al-Quran sendiri dengan gamblang mengingatkan kita semua bahwa banyaknya wajah Islam adalah merupakan “kesengajaan” yang dibuat oleh Allah. Dalam surat Hud (11) ayat 118-119 dan surat al-Ma’idah (5) ayat 51, dengan sangat jelas Allah menolak ketunggalan (wahidah) dan sebaliknya menciptakan keanekaragaman (mukhtalifin).

Banyaknya keragaman ini pastilah ada hikmah besar yang harus dipelajari oleh kaum muslim, dan bukannya malah ngotot menolak keragaman Islam dengan memaksakan satu versi Islam. Penolakan terhadap Islam-Islam adalah penolakan terhadap sunah yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran. []

13/08/2002 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

islam warna warni dengan warna warni islam jelas berbeda, bedanya menurut saya adalah kalau Iww adalah suatu pemahaman bagai mereka yang sudah membaca dan mengetahui warna warni islam, sedangkan warna warni (WWI) adalah bagi mereka yang belum ber tafaqquh dan akrab dengan terminologi-terminologi islam, apalagi lagi membaca dan mendalami istilah-istilah kalamiyah, fiqhiyah sebab ini istilah dan hanya dapat di pahami oleh orang-orang arraasikhuna fil ilmi (yang mendalami ilmunya), jadi bagimereka yang berreaksi berlebihan agar mendalami lagi fiqh agama yang bukan hanya dari fiqih itu. untuk menemukan satu kebenaran yang beragam itu

r Hakim
-----

Posted by R. hakim  on  05/17  at  03:06 AM

Assalamu’alaikum, Sdr Luthfie Asyaukani yang terhormat, Saya menganggap esensi dari tulisan anda sangatlah baik ( karena saya tak mampu memikirkan yang seperti itu ).  Tetapi saya menemukan beberapa hal yang cukup menganggu kenikmatan saya membaca tulisan anda, karena saya kuatir anda bisa terjebak ke dalam penghujatan terhadap orang lain.  Begini,

1. Anda Menulis bahwa MM sebagai organisasi yang lantang mengkampanyekan antipembaruan Islam.  Dari mana anda tahu hal itu ? Apakah mereka sendiri yang menyatakan demikian?

2. Bagaimana anda tahu bahwa MM itu arogan dan merasa paling berhak menafsirkan Islam ?  Apakah secara explicit ada pernyataan demikian dari pihak mereka ?

3. Kedua TV swasta hanya menjalankan prinsip-prinsip dalam bisnis.  Sangat tidak adil apabila anda mem”vonis” mereka telah menghembuskan iklim penindasan berekspresi. Saya pribadi sangat menyukai Iklan tersebut, dan memahami makna dalam dari iklan tersebut, tetapi saya kira MM juga punya alasan sendiri sehingga mereka keberatan dengan iklan tersebut.  Saya kuatir bahwa, alasan MM untuk berkeberatan dan alasan anda untuk membuat Iklan tersebut sebetulnya “Nggak Nyambung”, karena tidak mengetahui alsan masing-masing. 

Wassalamu’alaikum

Posted by Rizki Budiman  on  03/31  at  12:04 AM

Saya tidak menanggapi masalah ungkapan"IWW" sepanjang ungkapan itu masih dalam koridor esensial Islam.

Yang menarik adalah bahwa keanekaragaman yang terjadi hingga kini bahkan kemasa datang merupakan kesengajaan yang diciptakan oleh Allah. Ini mengisyaratkan kita untuk menjadi kaum yang mau berfikir bila ada perbedaan kita berusaha mencari sumbernya dari mana jika ternyata memang bersumber dari Qur’an dan sunnah maka perbedaan hanya pada sisi rel yang lain tetapi masih diatas rel yang sama yang pada akhirnya akan bermuara pada tujuan yang sama.

Mempertahankan kebenaran yang kita anut dan menyalahkan yang lain tanpa pernah berusaha mencari kebenaran hanya akan memecah belah persatuan umat justru akan lebih baik jika kita mensyukuri adanya perbedaan itu dan secara bersama-sama mencari sumbernya-sumber hingga tuntas dan jelas, niat baik prosesnya baik tentu hasilnya InsyaAllah baik.

Wassalam B.Eko

Posted by bambang eko  on  08/04  at  10:09 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq