Isra Mikraj Menuntun Peningkatan Kecerdasan dan Spiritualitas - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara,
19/09/2005

Achmad Chodjim: Isra Mikraj Menuntun Peningkatan Kecerdasan dan Spiritualitas

Oleh Redaksi

Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim, penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam, Kamis (8/9) lalu.

19/09/2005 14:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Memang luar biasa pandangan pak Chodjim ini. Saya menunggu wawancara atau artikel-artikel lain dari pak Chodjim. Bravo JIL.

#1. Dikirim oleh Ahmad Arief  pada  27/09   07:10 AM

Assalamualaikum

Aku copy wawancara ini, kurenungkan isinya, kubaca ulang, penafsiran begitu original, belum pernah aku baca sebelumnya.

Ini suatu bukti, penafsiran ayat-ayat dalam Al Qur’an itu bisa bermacam-macam, tergantung pada kedalaman pengetahuan sejarah Islam, pemahaman arti kata demi kata arab kuno, dan bagaimanakah seseorang menyampaikan idea perenialnya.

Terima kasih mas Chodjim.

Wassalam

#2. Dikirim oleh H. Bebey  pada  27/09   12:10 PM

mas2 dan mbak2di JIL, bolehkah saya tahu buku2 apa saja yang ditulis oleh mas Chodjim? Saya tertarik sekali membaca semua pemikiran mas Chodjim ini, karena saya gemar mempelajari “HAKIKAT” dari segala sesuatu….bukan hanya kulitnya saja…penafsiran hakikat Isra Miraj oleh mas Chodjim ini begitu memukau saya.

Tolong beritahu via email, buku2nya mas Chodjim, atau emailnya mas Chodjim sekalian, tolong.

Terimakasih.

#3. Dikirim oleh Munardi S  pada  04/10   03:10 PM

Pemahaman yang sangat dalam mengenai hakikat hidup dan cerminan dari Isra’ Mi’raj yang dikupas lebih dalam. Saya kagum dengan Bpk Achmad Chojim dalam mengulas ini semua dari sisi Makrifat, seperti buku-buku beliau yang saya baca juga yaitu Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Djenar.

Salut & Salam Hormat
——-

#4. Dikirim oleh Syaifu Rachman  pada  09/06   04:06 PM

Saya kebetulan punya buku karangan beliau, Syekh Siti Djenar dan kebetulan? chemistry-nya cocok dengan jiwa saya. Mohon kalo ada informasi mengenai MILIS atau PENGAJIAN yang diadakan Bpk Chodjim bisa diinformasikan kepada pembaca, siapa tau ada yang berminat untuk “ngangsu kawruh” bersama beliau.

Terima kasih.

#5. Dikirim oleh Puji T  pada  25/02   04:17 AM

Riwayat Isra mi’raj yang diperoleh lewat Abu Dazar Ghafari, Malik bin Sh’sha’ah ataupun Anas bin Malik (yang setelah melampaui beberapa orang lagi/sanad, baru menjadi catatan Imam Bukhari dan Imam Muslim), samasekali tidak muncul dari Al Quran.Sebaliknya mereka saja yang menarik Al Qur-an ke dalam kisah Isra Mi’raj mereka. Akar kata-kerja asraa (dalam QS17:1), kemudian manusia mengistilahkannya menjadi kata benda: israa. Demikian pula, akar kata-kerja araja-ya’ruju, yg oleh Al Quran ditampilkan dalam sembilan ayat, di antara teradapat kata-jadian (mabniy) ma’aarij (QS70), kemudian manusia membuat istilah mi’raj (bentuk tunggal dari ma’aarij). Bila memang apa yang diriwayatkan dalam hadits yang panjang itu benar dan rasional, Al Quran akan mengatakannya seperti itu. Sebetulnya, kalau kita tidak tergopoh-gopoh mengimaninya artinya mengfungsikan alat (teknos) manusia yang tertinggi yakni akal, sepertinya kata kerja asraa bi ‘abdihi (Allah telah memperjalankan seoranghambaNya) tidak akan terlalu jauh ngelantur yang kemudian memancing kontroversi apakah ruh dan jasadnya, atau ruhnya saja, disamping timbul kesan untuk perintah shalat Rasulullah Al Mustafa SAW harus menjemputnya ke Mustawa, Baitul Makmur, Lauhul Mahfudh atau Sidratul Muntaha tempat-tempat tidak populer (disebut sekali saja dalam Al Quran) yang pada gilirannya hadits-hadits itulah menjelaskannya.Ya, namun kita sudah kadung menyepakati bahwa hadits berfungsi menjelaskan atau menjabarkan Al Quran, jika tidak begitu kita dicap inkarusunnah, kafir, aliran sesat, mu’tazilah, wahabi atau sekularis dst. (persis seperti kisah dosa besar atau kafir zaman kemelut dunia Islam ketika belum sampai 25 tahun sepeninggal Rasulullah).
Sebetulnya kalau mau berfikir sederhana QS17:1 menyatakan bahwa Allah ingin memeperluas wawasan RasulNya.seperti halnya tentang Kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun atau bani Israil, kini giliran menceriterakan sebuah lokasi yakni tempat para nabi di Yerusalem. Dan salah satu hasil karya gemilang adalah (yg dlm bahasa Al Qur-an masjid terjauh/Aqsho) sinagoge yang pernah dibangun oleh nabi Sulaiman, namun karena laku lampah bani Israil selalu membikin malapetaka (latufsidunna fil ardhi marratayn), di antaranya bani Israil memusuhi dan mencelakakan nabi Isa AS, (liyasuu-u wujuuhakum:mencoreng muka sendiri) akhirnya kisah dan hasil karya yang gemilang itu punah oleh tangan Titus Vespianus thn 70M. Akhir ayat QS17:7 menyebutkan: ….wa liyutabbiruu maa ‘alaw tatbiraa.Artinya:…..dan mereka   menghancurkan total apa yang jadi kebanggaan bani Israil. Soal perintah sholat sudah jelas tertera pada QS20:132 atau QS29:45 di Makkah dan digencarkan di Madinah, di antaranya QS17:78-80. Jelasnya perintah shalat itu (di antaranya) ada pada surah Israa atau surah Bani Israil.
Karena itu, kalau mau berbicara Al Qur-an, kuasai dulu beberapa ayat. Pada mush-haf telah disiapkan ruku’ (‘ain) hingga terbentuklah pargraph. Demikian pula surah Makiah atau Madaniah. Itu semua punya makna dan hari dikaji.  Kuasai dulu Al Qur-an, baru menyusul hadits, itu urutan berilmu agama. Masih banyak item-item yang harus dibuka, tunggu respon

#6. Dikirim oleh Mustafa Adnani  pada  10/07   05:43 PM

Al Quran telah banyak menyajikan informasi tentang kehidupan di dunia yang serba realistis, nyata, konkrit. Salah satu informasi yang nyata adalah manusia akan berhadapan dengan kematian (Al Akhirah, yaumul aakhir, yaumul Qiyaamah, Assaa’ah dll.) Untuk itu, Allah menjelaskan kepada kita pada alam kematian itu ada kehidupan. Dan hidup dalam dunia lain ini, yang buminya, langitnya (termasuk matahari, bulan dan bintang-gemintangnya) bukan yang sekarang ini (QS14:48). Pada gilirannya, kalimat amana bilyaumil akhir (yaumul Qiyamah atau alAkhirah) disingkat dengan istilah “yu-minuuna bilghaib”. Namun ketika sampai ke tangan manusia istilah ghaib jadi bias.Apakah dalam pengertian terminologi atau harfiah, sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.Dari sekian banyak jumlah pembiasan, istilah yu-minuuna bil ghaib ini, dialamatkan kepada kisah yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar Ghafari, Malik bin Sha’-sha-‘ah dan Anas bin Malik, yang setelah melewati bebarapa orang(generasi) sampailah ketangan Bukhari dan Muslim,  itulah kisah Isra Mikraj, yang sama sekali kisah itu tidak disinggung dalam Al Qur-an. Para mufassir hanya menyeret-nyeret bahwa kisah isra itu adalah wahyu, dengan cara mengikut sertakan beberapa ayat (QS53:1-18, QS17:1 dan QS17:60)ke dalamnya.
Mari kita berfikir lebih ilmiah, ketimbang mengimani dengan taklid. Mampukah kita membuktikan bahwa kisah Isra mikraj itu adalah wahyu?.  Apa perlunya mencari hikmah dari kisah yang fiktif. Hikmah akan diperoleh dari kisah yang konkret atau pasti, sebgaimana, yakni kisah-kisah dari Al Quran atau alhadits yang tidak paradox dengan Al Quran.

#7. Dikirim oleh Mustafa Adnani  pada  25/07   03:27 AM

Pak Ustad Ahmad Chojin Bolehkan saya dikirimi buku tentang syeh siti jenar melalui email saya ?

#8. Dikirim oleh endro santoso  pada  12/09   02:22 PM

subhanalloh, luar biasa kajiannya tentang isra Mi’raj.bisa kenalin dong dengan mas chojim

#9. Dikirim oleh syaeful Hidayat  pada  23/11   05:33 AM

sungguh penjelasan yang luar biasa bisa diterima baik secara akal maupun bathin tentang penjelasa isro mi’raj dan saya sangat setuju dan mengerti dg penjelasan tsb, krn selaras dengan pemikiran saya mengenai hal itu, pokoknya Pak Ahmad Chojim memang pengarang buku yang tajam, jernih dan membumi

#10. Dikirim oleh tanty indianti  pada  07/08   06:12 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq