Janganlah Agama Menjadi Sekat - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
21/06/2004

Dr. Imam B. Prasodjo bertutur tentang pengalaman keagamaannya: Janganlah Agama Menjadi Sekat

Oleh Redaksi

Setiap orang pasti mengalami fase-fase keberagamaan yang dinamis selagi hayat masih dikandung badannya. Fase-fase tersebut seolah membentuk grafik keberagamaan yang tak jarang bersifat fluktuatif. Hal ini sesuai sabda Nabi yang pernah menggambarkan bahwa aspek keimanan selalu bersifat yazîd wa yanqush. Keberagamaan seperti ini juga dialamai oleh Dr. Imam B. Prasodjo, sosiolog yang juga aktifis sosial ini.

Setiap orang pasti mengalami fase-fase keberagamaan yang dinamis selagi hayat masih dikandung badannya. Fase-fase tersebut seolah membentuk grafik keberagamaan yang tak jarang bersifat fluktuatif. Hal ini sesuai sabda Nabi yang pernah menggambarkan bahwa aspek keimanan selalu bersifat yazîd wa yanqush. Keberagamaan seperti ini juga dialamai oleh Dr. Imam B. Prasodjo, sosiolog yang juga aktifis sosial ini.

Menurut Imam ketika bertutur kepada Ulil Abshar-Abdalla Kamis (3/05), periode keberagamaan dirinya dimulai dari yang paling sederhana: fase ritualistik. Selanjutnya, fase tersebut mengalami perkembangan menuju fase ideologis, intelektual, spiritual, dan untuk selanjutnya memasuki “fase kemanusiaan tanpa tapal batas”. Untuk tahu lebih jauh tentang fase-fase keberagamaan itu, berikut petikan perbincangan dengan dosen FISIP Universitas Indonesia yang sering muncul sebagai “host” di beberapa acara talkshow sejumlah stasiun televisi swasta Tanah Air:

ULIL ABSHAR-ABDALLA (ULIL): Mas Imam, kita akan berbincang tentang pengalaman keagamaan Anda. Pertanyaan awal saya, bagaimana sosialisasi agama dalam keluarga ketika Anda kecil?

IMAM B. PRASODJO (IMAM): Sebagaimana kebanyakan anak Indonesia, saya termasuk beruntung karena sempat mengalami masa kanak-kanak di kampung, tepatnya desa Merden di Banjarnegara, dekat Banyumas Wonosobo. Ayah saya pada saat itu tinggal di Jakarta. Sementara, saya hidup bersama paman saya. Saya sengaja ditinggal di desa, katanya biar belajar ngaji. Kakak dan adik saya hidup di Jakarta. Di dalam suasana kampung itulah saya sekolah dari kelas satu sampai kelas tiga SD. Jadi saya sempat mengalami masa-masa tidur di langgar.

Waktu itu, pagi hari saya sekolah SD, sore di madrasah, dan malam mengaji seperti anak-anak kampung. Saya masih ingat mengaji dengan terjemah bahasa Jawa. Misalnya “alîf lâm mîm, dzâlikal kitabu lâ raiba fîh” yang diartikan ing dalem iki kitab kang ora dimamangi. “Fîhi” atau ing dalem iki kitab, “hudan lil muttaqîn” atau pituduh kanggo wong akeh. Yang begitu-begitu saya masih ingat. Tapi sayang, saya tidak sempat khatam.

ULIL: Aduh.. sayang sekali, terus?

IMAM: Ketika melanjutkan sekolah di SMA, saya sudah mulai mengenal Islam. Mungkin, yang saya kenal ketika itu --kalau memakai terminologi yang agak keren-- adalah bentuk Islam yang ideologis. Waktu itu saya sudah hidup di Jakarta. Nah, ketika itulah saya mulai mengenal aktivitas Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Di zaman itu, di kancah dakwah sedang ngetop-ngetopnya sosok Toni Ardy. Saya sempat mengagumi dia, dan juga MS Ka’ban. Dulu Ka’ban itu selalu berkeliling ke mana-mana untuk mengadakan pelatihan nilai-nilai dasar Islam.

ULIL: Apa kesan Anda tentang Islam Ideologis ini?

IMAM: Di situlah saya mulai mengenal kotak-kotak. Dan belakangan saya baru tahu bahwa ayah saya sendiri pernah aktif dalam sebuah organisasi Islam, tetapi dengan nuansa ideologis yang agak kurang. Setahu saya, dialog-dialog keagamaan pernah diadakan di rumah saya dengan banyak tokoh, mulai dari Cak Nur, Mas Dawam, dan Gus Dur. Waktu itu, kita tidak berbicara masalah gerakan yang lebih terkotak. Di masa itu, saya juga sudah mengenal apa itu sosialisme, walau cuma kulit-kulitnya. Dan ketika itu sudah mulai ada asumsi bahwa kapitalisme itu pasti jelek, dan yang paling baik tentu saja Islam. Waktu itu, gerakan GMNI, PMII, dan lain-lain memang cukup semarak. Jadi, kita masuk dalam kancah Islam yang ideologis, dan itu terasa sekali.

ULIL: Setelah fase ideologis yang Anda jalankan waktu di SMA, fase apa lagi selanjutnya?

IMAM: Istilah Islam-ideologis itu dalam artian yang spesifik mengarah ke Islam-organisatoris. Selanjutnya, kebetulan setelah selesai SMA, saya mendapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar AFS (American Field Service) di Amerika. Di Amerika, saya masuk ke dalam keluarga yang sangat agamis dan saleh sekali, tepatnya di wilayah Arizona. Mereka dari kalangan Kristen-Lutheren. Di situlah untuk pertama kali, seorang dari kampung masuk terjerembab di wilayah gunung yang begitu panas dengan agama dan budaya yang lain. Keluarga itu cukup agamis, tapi agamanya berbeda sekali dengan latar belakang agama saya.

ULIL: Jadi selama ikut program AFS, Anda sempat punya pengalaman spiritual juga, ya?

IMAM: Pengalaman spiritual justru saya alami setelah kembali ke Indonesia. Pengalaman tadi kan pengalaman tentang keragaman. Dan waktu itu, bisa dikatakan saya sedang mengalami fase Islam-intelektual. Saya mulai gandrung membaca karya-karya intelektual tentang Islam. Nah, waktu pulang, belum sampai satu tahun saya menetap di rumah, dan di masa-masa saya masih melampiaskan kerinduan kepada orang tua, ibu saya meninggal secara mendadak. Dia meningggal ketika saya sedang mengantar teman AFS dari Jerman yang selama satu tahun satu bangku bersama saya di Amerika menuju bandara. Ibu saya mengalami stroke di Airport Halim, dan langsung koma. Sejak saat itulah saya mulai mengenal Islam sebagai bagian dari spiritualitas. Di situlah konsep berserah diri, tawakkaltu ‘alalLâh, yang selama ini saya kenal mulai bisa saya hayati. Jadi selama ini, ketika orang selalu berbicara tentang konsep berserah diri, kata-kata itu masih bersifat kosong bagi saya. Baru setelah mengalami musibah itu, saya benar-benar meresapi maknanya. Apalagi dua tahun setelah ibu meninggal, ayah saya juga menyusul. Waktu itu, saya menjelang tingkat tiga di bangku kuliah. Jadi perjalanan penghayatan spiritual itu cukup lama.

ULIL: Pengalaman beragama seperti apa sih yang Anda alami ketika itu?

IMAM: Untuk pertama kali barangkali, saya menunaikan salat tanpa pernah menghiraukan bilangan rakaatnya. Pokoknya, sebelum saya merasa tenang, saya nikmati terus. Pengalaman itu berlangsung selama berbulan-bulan. Saya selalu salat di Masjid Al-Azhar. Salat subuh saya berangkat juga. Dari situlah terjadi peningkatakan spiritualitas yang luar biasa. Sebab belum pernah saya merasakan nikmatnya kedekatan dengan Tuhan melalui saluran-saluran ritual yang selama ini saya pelajari.

ULIL: Oh ya, Anda juga sempat punya pengalaman menjadi escort atau pendamping seorang penulis novel terkenal dari Trinidad, V S Naipul. Saat itu, dia tengah menyiapkan novelnya di Indonesia, Among Believers. Anda bisa sedikit bercerita tentang itu?

IMAM: Waktu itu saya baru pulang dari Amerika. Saya diminta ayah untuk menemani seorang turis sebenarnya. Waktu itu saya baru akan kuliah di Fakultas Sastra program diploma UI. Di situlah saya berkenalan dengan turis ini. Sebetulnya, maksud saya ketika itu hanya nyari uang selagi masih luntang-lantung. Saya tidak menyangka kalau orang itu adalah seorang penulis kaliber dunia, dan novelis yang sangat terkenal. Makanya, saya melayaninya tanpa ada pertimbangan apapun. Yang jelas, saya antar dia ke pesantren-pesantren dan ke Gus Dur di Tambak Beras, Jombang. Dari Tebu Ireng, saya lantas mengantarnya ke Pak Umar Khayam. Saya sama sekali tidak menyangka kalau perjalanan itu dia tulis. Jadi, dia tidak fair juga sebetulnya.

ULIL: Apakah sempat terjadi perdebatan antara Anda dan dia dalam perjalanan?

IMAM: Banyak sekali. Apalagi, waktu itu saya nothing to lose saja. Wong saya pernah mau meninggalkan dia di Jogja, saat saya merasa dia membuat statemen yang sangat menghina. Pertama, waktu dia saya bawa ke Pesantren Pabelan. Setelah lima belas menit dia melihat pesantren, dia membuat statemen yang menyakitkan: “Wah, (kondisi) ini persis seperti yang terjadi di novel Charles Dicken. Ini tempat di mana orang-orang bodoh mempertahankan kebodohannya.” Terus dia bercerita tentang seorang guru yang menyuruh muridnya membersihkan kandang kuda untuk melestarikan kebodohannya. Pokoknya, segala obrolan yang kira-kira cukup memberi kesimpulan kalau orang ini memang kurang ajar.

Tapi ketika itu masih saya tahan. Tibalah saatnya di Jogja ketika saya berusaha memperkenalkan Jogja sebagai kota budaya. Saya antar dia ke seniman Amri Yahya. Begitu pulang ke hotel, dia marah-marah. Dia mengatakan, “Saya datang dengan biaya mahal, tidak untuk menjadi turis!” Karena waktu itu saya masih anak SMA, saya pikir perjalanan seperti itu sudah bagus banget. Makanya, saya terus bilang: “Ok, kalau Anda tidak suka, sekarang saya akan pulang ke Jakarta. You take care your self!.”

Saat itu, saya juga berusaha mempertahankan tesis bahwa pesantren adalah sebuah subkultur yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Jadi, saya bilang, kalau Anda mengharapkan teknologi di situ, ya tidak ada. Tapi di situ ada sikap hidup, pendidikan, dan kiai sebagai figur sentral dan menjadi reference bagi pola-pola dan nilai-nilai, the living values. Jadi di situlah nilai pesantren. Jadi, Anda tidak bisa memahami itu semua dalam waktu lima belas menit. Lima belas menit is a crime, dan hanya tahu hal-hal yang sifatnya tidak menyentuh ke dalam.

ULIL: Mas Imam, tadi Anda membuat periodesasi pengalaman keagamaan dari yang ritual, ideologis, intelektual, sampai yang spiritual. Ada tahapan setelah itu?

IMAM: Tahapan yang saya buat ini bukan sesuatu yang mutually exclusif. Ini sekedar menceritakan bahwa di masa kecil, saya betul-betul intensif menjalankan ritualisme, dan saya sering kali tidak dapat menghayati makna spiritual itu. Terus, muncul periode di mana saya sangat digenjot dengan persepsi “ini Islam”, “ini sosialisme”, dan “ini sekuler”. Periode itu berlanjut pada tingkat satu dan tingkat dua di UI. Makanya di UI juga ada HMI Independen, HMI, GMNI dan lain sebagainya. Itu kan kotak-kotak. Itu periode yang sangat intensif dalam kehidupan saya. Terus muncul periode yang bersifat spiritual tadi; yang kemudian memudarkan perhatian saya terhadap sekat-sekat.

Sekat-sekat menjadi luntur lagi saat saya makin aktif dalam masalah-masalah kemanusiaan. Sebab, ternyata yang namanya penderitaan itu tidak mengenal agama dan sekat-sekat. Jadi, orang Kristen, Islam, Hindu, Budha, atau siapa saja, bisa saja terkena bencana. Dalam periode ini, saya tidak bisa lagi berpikir bahwa anak yang sedang luar biasa menderita ini Islam atau Kristen; kita tolong atau tidak? Kenyataan ini ditambah lagi pada saat yang sama, saya pernah berdampingan dengan orang-orang yang entah apa agamanya, tapi menunjukkan keihlasan luar biasa dalam aktivitas-aktivitas kemanusiaan. Setelah ditanya apa agamanya, dia justru menjawab, “Saya tidak beragama”. Itu sering saya alami.

Keluarga saya yang di Amerika waktu menjalani program AFS itu, tradisinya sangat Katolik, tapi dia mengaku tidak beragama. Di situ juga saya menemukan nilai-nilai yang saya sangat tidak setuju; dia sangat bebas membiarkan anak-anaknya mempraktikkan seks bebas (free-sex). Tapi di sisi lain, dia adalah seorang aktivis kemanusiaan tanpa pandang bulu. Sehingga, orang seperti saya yang jelas-jelas Islam ini dia tampung hidup bersama mereka. Saya ingat, suatu ketika dia mengatakan, “This is idul fitri”, dan dia lantas mengantar saya ke masjid. Dari sini jugalah, saya merasakan adanya dimensi-dimensi kemanusiaan yang sempat saya alami ketika melihat konflik di Ambon, Maluku, Poso, dan lain sebagainya.

ULIL: Jadi, rasa kemanusiaan yang tanpa bulu itu juga yang ikut menginspirasi Anda untuk aktif dalam gerakan rekonsiliasi konflik di Ambon, Poso dan lain-lain?

IMAM: Itu paling tidak memudahkan saya pada saat tergerak untuk berdialog dengan kelompok-kelompok umat beragama. Perisai kemanusiaan itu begitu universal, menurut saya, untuk dikorbankan oleh sekat-sekat agama. Inilah barangkali apa yang dimaksud dengan Islam-rahmatan lil ‘âlamîn (Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, Red).

21/06/2004 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya mempunyai kesamaan pikiran dengan pendapat pak Imam B Prasodjo , terus terang saya berasal dari keluarga pelangi ( atau yang disebut Clifford geertz Abangan Isala ). paman dan bibi dari pihak ayah saya katolik dan juga beberapa sepupu saya juga kristen selain itu pada waktu kecil saya juga tinggal di lingkungan gereja karena kebetulan pendetanya adalah sepupu kakek saya dari pihak ibu .mungkin hal itu yang mempengaruhi pendapat dan peikiran saya mengenai agama. Ada satu hal yang yang selalu menghantui pikiran saya mengenai agama yaitu mengapa saya harus mengikuti agama orang tua saya tanpa saya mempunyai kebebasan memilih apa agama saya ,kenapa saya harus solat 5 waktu atau puasa hanya karena orang-orang bilang bahwa itu semua tersebut dalam alquran dan itu tidak dapat diperdebatkan lagi tanpa memberikan penjelasan mengenai esensi dari ritual tersebut , sementara saya tidak menemukan yang disebut kesenangan spiritual dari salat itu sendiri . Beranjak remaja saya juga menanyakan kepada ibu saya kenapa saya tidak boleh masuk sekolah katolik hanya karena ibu saya bilang bahwa dia takut saya takut masuk katolik karena bersekolah disitu , lalu saya berhubungan dengan seorang gadis katolik dan ibu saya melarang lagi-lagi karena dia bilang bahwa itu tersebut di quran tanpa menyebut esensinya . hal itu malah sempat membuat saya anti kepada semua hal yang berbau islam . ketika saya berada di masyarakat saya juga merasakan adanya rasisme ataupun konflik2 terhdapa agama2 lain . dimana agama menjadi tameng untuk melegalisasikan perbuatan kekerasan terhadap yang dianggap keliru oleh agama, padahal hal itu hanya dilakukan oleh pihak2 yang endapat keuntungan dari adanya konflik tersebut . ketika saya beranjak SMA saya mengikuti kegiatan kepramukaan yang disitu saya bertemu dengan berbagai individu dengan beragam latar belakang dan mereka mau bersatu untuk ewujudkan sebuah visi bersama dalam hal ini melakukan kegiatan yang mewujudkan nasionalisme .hal ini lah yang mulai membuka pandangan saya tentang pluralisme dan juga nasionalisme indonesia . Ketika saya beranjak dewasa saya memasuki gerakan kemahasiswaan bercorak nasionalis dimana saya mengharapkan bahwa saya akan mendapat pengalaman seperti di SMA . tapi ternyata realitas politik kampus mengecewakan saya dimana saya melihat bahwa organisasi tersebut ( GMNI ) juga ternyata terlalu sempit dalam memandang dunia.terutaa pada bagaimana mereka mengahalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya , juga bagaimana mereka memonopoli kebenaran menurut versinya sendiri termasuk juga mendewakan soekarno senagai seseorang sempurna tanpa cacat .dan juga perilaku elite2 kampus yang tidak mencerminkan visi dan misi mereka .  Setelah itu saya bergabung dengan sebuah organisasi bernama AIESEC , disini saya menemukan bahwa orang dengan berbagai latarbelakang agama , negara dan budaya dapat bekerjasama tanpa memandang latar belakang masing2 demi mencapai tujuan “peace and fullfillment of humankind potential “ .sebuah nilai yang dapat dicapai oleh seorang dengan nilai yang dapat diterima oleh semua makhluk di bumi ini tanpa membedakan latar belakangnya . Disini saya menjadi bertanya apakah negara dan agama masih diperlukan untuk membentuk sebuah masyarakat yang humanis ?? ada yang mau memberi tanggapan !!! saya setuju pada pemahaman bahwa teologi akan menjadi usang apabila tidak memberi kebebasan kepada pemeluknya untuk berkomunikasi dengan tuhannya dan tidak dicampuri oleh pendapat orang lain yang memaksakan kehendaknya , makanya saya sangat sedih dan kecewa ketika melihat bahwa di SMA negeri saya dulu ternyata para guru dengan dalil legitimasi agama bahwa orang yang memakai jilbab adalah makhluk suci tanpa mereka memahami bahwa sesuatu hal yang dipaksakan dari luar hanya akan membuat orang seseorang yang munafik karena melihat segala suatu hal dari luarnya saja seperti stereotyping bahwa semua orang hitam adalah bodoh ,semua orang indonesia adalah teroris tanpa mampu membedakan antar individu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing .oleh karena itu saya mepunyai pendapat bahwa yang menyebabkan konflik adalah manusia itu sendiri bukan agama , tuhan atau negara . semua hal tersebut akan menjadi pedang bermata dua tergantung manusianya Yang saya inginkan disini apakah saya akan mendapat pencerahan spiritual seperti anda dan meyakini agama saya sekarang ( perlu diketahui saya juga mempelajari agama lain walupun saya masih beragama islam ) . saya juga memilih untuk berada di tengah2 dan mencoba menerima smua pendapat dengan hati lapang karena jika saya enghakimi orang lain menurut pendapat saya sendiri maka saya akan sama seperti semua yang kecam . pada akhirnya hal tersebut hanya merupakan pendapat saya yang belum tentu benar , seperti syair lagu john lenon “ imagine world without religion and country so the world will unite as one “ apakah hal itu terjadi ?? “ humanity without border!! saya mohon agar surat ini dimuat dan kalau misalnya tidak dimuat tolong berikan alasannya kepada saya

Regards

PW
-----

Posted by Primadi Wahyuwidagdo Soerjosoe  on  06/28  at  09:07 PM

Semua yang saya utarakan berikut ini adalah definisi-definisi yang dibatasi oleh dimensi keilmuan serta pengetahuan saya akan agama, khususnya Islam, karena itu saya mohon diluruskan jika ditemukan kalimat yang salah atau argumen saya yang keliru.

Pertama, membaca wawancara soerang Mas Ulil terhadap Mas Imam, saya merasakan adanya suatu penyegaran dan upaya-upaya membuka tabir yang selama ini tidak tersentuh oleh indikasi-indikasi doktrin religi, dimana saya dan mungkin muslim lain belum tentu mengetahui secara pasti apakah suatu yang sudah diputuskan ulama merupakan terjemahan hak dari yang diinginkan Allah, jangankan Allah, banyak penafsiran serta garis-garis terlarang yang dulunya pernah disampaikan Rosulollah akhirnya menyimpang begitu saya terima.

Kedua, Saya juga pernah mengalami step by step seperti Mas Imam hanya saja tidak secara struktural, tetapi langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan perilaku kemanusiaan di masyarakat yang saya anggap sebagai suatu hal yang universal jika agama dijadikan fundamental. Karena bukan hanya Islam yang mengajarkan dilarang mencuri, tetapi kepercayaan orang Jawapun dari dulu sudah menganjurkan “ojo pek pinek marang liyan”, lalu apa yang sebenarnya yang terjadi dengan ditemukannya judul agama jangan dijadikan sekat, saya pikir sekat itu berpulang kepada individu masing-masing, maunya dijadikan sekat atau dijadikan pengetahuan, kalo rumah kita ditembok langsung mana ada orang bisa ke rumah kita ? tapi kalau kita memberi pengetahuan kepada orang lain “Ini rumah saya, dan halaman itu sudah saya beli, berarti itulah hak saya”...akhirnya tetangga kita semua tahu “Ooo, itu rumah pak A, rumah pak B dan seterusnya.

Ketiga, Jujur saja pertama saya membaca tulisan kajian utan kayu di Jawa Pos, saya sangat terhenyak antara marah, negatif thinking, dan prihatin, tetapi selanjutnya saya merasakan adanya gejolak-gejolak yang menyatakan bahwa Islam Liberal sudah waktunya membuat posisi di dunia bahwa anggapan Islam itu kaku, ketinggalan zaman, dan hal kuno lainnya bisa dientas, dan saya beranggapan bahwa sebenarnya nilai-nilai agama itu tidak perlu dipertentangkan kebenaran atau kesalahannya, tetapi lebih pada keuniversalan suatu nilai agama bagi kehidupan manusia.

Posted by Santoso Mahargono  on  06/25  at  01:06 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq