JI Itu Sempalan Ikhwanul Muslimin - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
29/09/2003

Musthafa Abd. Rahman: JI Itu Sempalan Ikhwanul Muslimin

Oleh Redaksi

Perdebatan mengenai ada atau tidaknya kelompok Jamaah Islamiyah (JI) masih ramai sampai sekarang. Sebagian orang berpendapat bahwa tuduhan adanya kelompok JI di Indonesia sengaja dibesarkan-besarkan untuk mendiskreditkan umat Islam. Orang-orang berpendapat seperti ini meyakini JI bukanlah kelompok organisasi tapi hanya sebutan untuk masyarakat Islam keseluruhan.

Di Mesir, JI benar-benar ada. JI lahir dalam kondisi sosial politik yang khas di Negeri Piramida. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok sempalan Ikhwanul Muslimin. Pendapat ini dikemukakan oleh Musthafa Abd. Rahman, wartawan yang juga kandidat doktor ilmu politik di Beirut University ini sudah puluhan tahun tinggal di Mesir untuk mengamati dan menulis tentang kondisi sosial-politik-ekonomi di Timur Tengah, ketika diwawancarai Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu yang direkam Kamis, 18 September 2003:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mas Musthafa, Anda yang sudah tinggal lama di Mesir dan memantau terus politik Timur Tengah, bisakah Anda ceritakan sejarah bagaimana munculnya Jamaah Islamiyah di Mesir karena kelompok ini diragukan ada keberadaanya?

MUSTHAFA ABD RAHMAN: Jamaah Islamiyah (JI) yang lahir di Mesir merupakan sebuah organisasi sempalan Ikhwanul Muslimin. Tentu saja, JI selalu identik dengan gerakan Islam radikal. Gerakan ini lahir menjelang tewasnya Presiden Anwar Sadat pada tahun 1981. Pada saat itu, Mesir tengah mengalami situasi sosial politik yang sangat sensitif, karena dua tahun sebelum tewasnya Sadat telah terjadi kesepakatan damai antara Israel dan Mesir yang dikenal dengan Perjanjian Camp David (1979). Masa dua tahun itu (1979-1981) disebut sensitif karena Sadat betul-betul telah melakukan terobosan politik yang sangat berbeda dan sangat tidak popular, yaitu menandatangani perjanjian damai.

Keputusan Sadat yang sangat berani itu, berbeda sekali dengan masa awal ketika dia naik ke tampuk kekuasaan menyusul tewasnya Gamal Abdul Nasser (1970). Masa awal pemerintahan Sadat ditandai dengan kebijakannya untuk merangkul sebanyak mungkin kelompok-kelompok Islam. Itu dia lakukan untuk membendung kuatnya pengaruh gerakan nasserisme yang berpijak pada ideologi nasionalisme Arab. Gerakan Nasserisme pada masa itu tidak hanya kuat di Mesir, tapi juga di Suriah dan Irak, dengan berhasilnya Partai Baath mengambil alih kekuasaan di dua negara tersebut. Di Libya, sosok Moammar Khadafi yang sangat kagum pada figur Abdul Nasser juga berhasil mengambil alih kekuasaan. Di Ajazair juga terjadi hal yang sama, ketika Kolonel Houari Boumedienne berhasil mengudeta pemerintah sebelumnya. Kebetulan dia juga termasuk pengagum Gamal Abdul Nasser. Jadi, gerakan nasionalisme arab yang berbasiskan ideologi sosialisme sangat mendominasi.

ULIL: Jadi, Sadat sengaja merangkul kelompok Islam kanan untuk menandingi kelompok nasionalis Arab atau Islam kiri?

MUSTHAFA: Betul. Tidak lama setelah itu Sadat melancarkan perang melawan Israel, tepatnya pada bulan Oktober 1973. Pada saat itu, dia tidak lagi mengusung panji-panji nasionalisme Arab, tapi berperang dengan mengibarkan bendera Islam. Ini kontras sekali dengan perang Arab-Israel tahun 1967, pada masa Gamal Abdul Nasser berkuasa. Perlu diingat, perang tahun 1973 kemudian disusul oleh aksi embargo minyak yang dilancarkan oleh negara-negara Arab konservatif, yang nota bene warna Islamnya sangat kuat, khususnya negara-negara Teluk.

Dari situlah gerakan Islam menemukan momentum atau peluang dari penguasa Mesir untuk tampil ke pentas perpolitikan nasional, dan itu terus bergulir. Bersamaan dengan itu, Uni Soviet menginvasi Afganistan dan dengan itu Sadat semakin merangkul kelompok Islam. Banyak pemuda Mesir dikirim ke Afganistan untuk berjihad dengan izin atau fasilitas pemerintah.

ULIL: Apakah kelompok Ikhwanul Muslimin termasuk gerakan Islam yang dirangkul Sadat ketika itu?

MUSTHAFA: Ya. Sadat memang membuat kebijakan politik yang jauh berbeda dengan Gamal Abdul Nasser. Pada masa Nasser, gerakan Ikhwanul Muslimin ditindas, tapi di masa Sadat mereka justru dirangkul. Kondisi bulan madu pemerintah dan gerakan Islam itu berlanjut sampai tercapainya kesepakatan Camp David pada 1979. Setelah tercapainya kesepakatan Camp David, otomatis kalangan Islam marah kepada Sadat, karena mereka merasa dikhianati. Nah, masa setelah tercapainya kesepakatan Camp David ini sering disebut-sebut sebagai masa talak atau perpisahan Sadat dengan kelompok Islam.

ULIL: Sebelum tahun 1979 atau masa pra-Camp David, apakah sudah ada perpecahan di tubuh Ikhwanul Muslimin?

MUSTHAFA: Sebetulnya sudah ada pepercahan. Setahun setelah perang tahun 1973 telah lahir satu kelompok sempalan Ikhwanul Muslimin yang dikenal dengan kelompok Thalai’ul Fath (kelompok pelopor pembebasan). Mereka yang tergabung dalam faksi ini pernah mencoba melakukan kudeta dengan cara menyerang Akademi Teknik Militer di Mesir. Dan ternyata mereka gagal. Faksi ini merupakan kelompok sempalan yang tidak puas dengan kebijakan-kebijakan internal Ikhwanul Muslimin sendiri. Jadi titik-titik ketidakpuasan terhadap Ikhwanul Muslimin sudah terjadi dan mulai dirasakan setelah tahun 1973.

Sudah sama-sama kita ketahui gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan yang sangat penting di Mesir, didirikan tahun 1928 oleh Hassan Al-Banna. Gerakan ini punya pengaruh besar di sejumlah negara-negara Islam, termasuk Indonesia.

ULIL: Sebenarnya kapan sih JI itu didirikan di Mesir?

MUSTHAFA: Diduga kuat, JI di Mesir lahir menjelang tewasnya Sadat pada tahun 1981. Memang, tidak ada kejelasan secara pasti kapan ia lahir. Tapi kuat dugaan kalau dia lahir sejak tahun 1979, ketika tercapai kesepakatan Camp David hingga tahun 1981, tahun tewasnya Sadat. Sebelum itu, pada saat yang sama, di Mesir juga lahir sebuah gerakan Islam yang lebih radikal, yang nantinya dikenal bernama Tandzimul Jihad (Jaringan Al-Jihad).

Jadi, ada dua sayap radikal yang merupakan sempalan gerakan Ikhwanul Muslimin, yakni Jama’ah Islamiyah dan Tandzimul Jihad. Dua sayap radikal ini diduga kuat melakukan merger sehingga kemudian dikenal sebagai Jamaah Al-Jihad yang dipimpin Ayman Al-Zawahiri yang saat ini menjadi orang kedua di Tandzimul Qaidah (Jaringan Al-Qaidah). Nah, Jamaah Al-Jihad inilah kelompok yang berhasil membunuh Presiden Sadat pada bulan Oktober 1981.

ULIL: Setelah bersatunya dua kelompok ini, apakah radikalisme di Mesir semakin meningkat?

MUSTHAFA: Kecenderungannya demikian. Hanya saja ketika berhasil membunuh Sadat, masa depan merger tersebut menjadi tidak begitu jelas. Sebab setelah itu tiba-tiba saja mereka hilang. Namun demikian, hilangnya konstelasi politik yang didominasi merger kedua gerakan itu, lalu diikuti suatu gerakan yang cukup besar yaitu lahirnya Tandzimul Qaidah yang tiba-tiba mencantumkan nama Ayman Al-Zawahiri sebagai orang kedua setelah Osama bin Laden. Maka dari itu, antara Tandzimul Qaidah dan Jamaah Islamiyah juga diduga kuat terjadi merger. Mereka saat ini menjadi perbincangan utama di pentas politik Timur Tengah.

ULIL: Bagaimana ide pokok, gagasan, atau ideologi yang melandasi JI ini menurut Anda?

MUSTHAFA: Seperti halnya garakan radikal Islam lainnya, JI juga terinspirasi oleh karya-karya Sayyid Qutb dan Hassan Al-Banna yang sarat dengan ideologi anti hegemoni asing dan anti Amerika khususnya. Inilah yang menjadi pijakan mereka.

ULIL: Apakah di sana juga ada ide tentang Khilafah Islam atau Negara Islam Nusantara seperti yang diusung oleh JI Abdullah Sungkar di Indonesia?

MUSTHAFA: Betul. JI memang terang-terangan mengusung gerakan Pan-Islamisme yang pernah diusung oleh Jamaluddin Al-Afghani pada abad ke-19. Dalam pandangan mereka, Pan-Islamisme merupakan alternatif dari sistem nation-state atau negara bangsa yang menurut mereka harus diubah karena mengantarkan hegemoni asing atas negara-negara muslim.

ULIL: Jadi, konsep negara bangsa yang menjadi ciri negara modern ini dianggap sebagai konsep yang tidak Islami?

MUSTHAFA: Betul. Maka dari itu, menurut mereka harus ada alternatif Islam dari sistem yang ada sekarang. Inilah gagasan yang diperjuangkan Tandzimul Qaidah saat ini dengan Ayman Al-Zawahiri sebagai otaknya.

ULIL: Sejauh mana hubungan kelompok ini dengan aksi-aksi terorisme; apa yang mereka lakukan setelah sukses mebunuh Sadat?

MUSTHAFA: Setelah terbunuhnya Sadat, banyak sekali aksi kekerasan terjadi di Mesir. Misalnya serangan terhadap wisatawan mancanegara. Kasus terakhir adalah aksi terorisme atas turis asing di kota wisata Luxor pada tahun 1999. Misalnya lagi, tiba-tiba terjadi penyerangan terhadap bus wisata. Walaupun tidak membawa korban, tapi sudah diketahui bahwa yang melakukan hal itu punya latar belakang politik tertentu.

ULIL: Menurut Anda, kenapa mereka menjadikan orang asing sebagai sasaran, sama seperti yang kita alami pada bom Bali?

MUSTHAFA: Kalau berbicara secara makro, mungkin itulah manifestasi dari antipati mereka terhadap hegemoni asing. Tapi kalau berbicara pada tataran mikro, kita dapat mencermatinya dengan cara yang lain. Perlu diketahui, sektor wisata adalah salah satu penghasil devisa terbesar di Mesir selain Terusan Suez, minyak, dan transfer gaji orang Mesir yang bekerja di luar Mesir. Dengan hitung-hitungan seperti itu dapat dikatakan bahwa devisa ini termasuk salah satu faktor yang potensial melanggengkan kekuasaan pemerintahan seperti Presiden Husni Mubarok. Itulah yang hendak mereka pukul.

ULIL: Kalau begitu, bagaimana sebetulnya visi dan misi mereka; hanya bersifat terorisme atau merongrong pemerintah yang berkuasa saja, atau mereka punya tujuan lain yang bisa diperhitungkan pihak lawan atau Barat?

MUSTHAFA: Seperti yang saya katakan tadi, mereka mengusung gagasan Pan-Islamisme. Gagasan Pan-Islamisme ini pada intinya sama dengan gagasan tentang kekhalifahan Islam, mendirikan negara Islam internasional. Jadi, mereka ingin kembali ke masa seperti Dinasti Ottoman yang pernah berkuasa di Turki dan negara-negara Islam lainnya misalnya. Jadi gagasannya untuk mendirikan negara Islam internasional, seperti yang pernah dideklarasikan Tandzimul Qaidah tahun 1998, yang sering disebut sebagai front untuk memerangi kaum Yahudi dan Nasrani. Saya kira, dalam pandangan mereka, tujuan “mulia” itu selama ini banyak dihambat oleh konspirasi orang Yahudi.

ULIL: Kalau tujuannya sebesar itu, kenapa manifestasinya melalui aksi serangan atas turis, membom gedung ini dan itu. Artinya kok munculnya seperti tindakan kefrustrasian?

MUSTHAFA: Memang ini yang sangat disayangkan banyak pihak. Mereka mungkin tidak punya cara lain kecuali melakukan perang-perang gerilya semacam itu. Otak mereka buntu untuk menemukan cara lain yang lebih elegan. Selama ini masyarakat Mesir sendiri menyayangkan, tidak setuju, bahkan mengutuk tindakan-tindakan tersebut. Bagi mereka, gerakan mereka sama sekali tidak mengubah situasi apapun, bahkan sebaliknya makin memperburuk situasi.

ULIL: Bagaimana sikap Ikhwanul Muslimin sebagai organ besar yang dulunya menjadi induk kelompok-kelompok ini?

MUSTHAFA: Seperti saya terangkan pertama tadi, justru gerakan mereka merupakan sempalan dari Ikhwanul Muslimin. Jadi, Ikhwanul Muslimin sama sekali tidak mendukung bahkan bertentangan dengan mereka. Mereka yang mengambil jalur radikal ini menganggap Ikhwanul Muslimin terlalu akomodatif atau teramat lembek menghadapi kekuasaan rezim-rezim di Timur Tengah. Jadi gerakan ini juga merupakan refleksi sikap tidak puas terhadap Ikhwanul Muslimin itu sendiri. []

29/09/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sebenarnya apa ide pokok atau ideologi yang di emban ikhwanul muslim dan bagaimana metode penerapannya? apa yang menjadi pengikat antar anggota ikhwanul muslim?
-----

Posted by Midori Salsabilla  on  01/22  at  04:01 AM

Artikel Musthafa Abd. Rahman sangat menarik, walaupun bagi saya analisanya sedikit kurang lengkap. Tetapi saya yakin sebagai pengamat gerakan-gerakan islam di Timteng Sdr. Musthafa sebenarnya sangat mafhum dengan konstelasi harokah disana namun tentunya kalau untuk dipetakan secara lengkap disini, saya juga maklum akan panjang jalan ceritanya. Secara pribadi saya dulu pernah melakukan penelitian (baik pustaka maupun penelitian observatif dan partisipatif) untuk kepentingan skripsi saya tentang perkembangan kelompok jamaah tarbiyah di Indonesia. Mau tidak mau membahas tentang kelompok jamaah tarbiyah, saya pun harus juga menelusuri sisi genealogis kelompok ini yang asal usulnya berasal dari Ikhwanaul Muslimun Mesir (IM).  Nah, ketika membahas IM inilah saya menemukan kenyataan ternyata kelompok ciptaan Hasan Al Bana ini memang dikemudian hari terpecah-pecah dalam beberapa fraksi. Gejala perpecahan di tubuh IM sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Al Bana hidup pada tahun 1940-an, ketika sekelompok anggota IM radikal pimpinan Abdurahman Al Sindi mendirikan sebuah fraksi yang diberi nama Jihazz al Sirri (Aparatus Rahasia). Kelompok inilah yang dikemudian hari membuat masalah dengan membunuh PM Mesir saat itu, Nuqraisy sehingga pemerintah Mesir memiliki alasan politik untuk membunuh Al Bana sekaligus membekukan keberadaan IM pada tahun 1949. Adapun soal terpecahnya IM pada tahun 1970-an, saya pikir bukan hanya terpecah menjadi 2 atau 3 tapi banyak (saya memiliki daftar sementara beberapa fraksi dari IM ini) diantaranya adalah Tanzimul Jihad, Takfir Wal Hijriyah, Al Jihad dan Jamaah Islamiyah yang rata-rata memiliki kedekatan ideologis dengan Syukri Musthafa, salah seorang Qutbis fanatik. Yang terakhir disebut merupakan merupakan organisasi mahasiswa islam radikal Mesir yang melakukan gerakan ofensifnya pada akhir tahun 1970-an dan diperkirakan mereka pula yang merekrut sekelompok taruna Akademi Militer Mesir pimpinan Islambouli yang pada tahun 1981 dalam suatu parade militer membunuh Presiden Sadat. Selanjutnya tentang apakah JI di Mesir memiliki hubungan dengan JI yang sekarang sedang banyak ditakuti oleh negara-negara Asia? Secara ideologis bisa saja iya, tapi secara organisasi saya kok ragu. Mengapa demikian? Dalam pengamatan yang saya lakukan, saya melihat bahwa ide-ide IM yang terekspor ke indonesia dan negara-negara asia tenggara adalah ide-ide Al Bana yang cenderung moderat dan anti kekerasan. Adapun ide-ide Sayid Qutb di Indonesia saat ini justru banyak diadopsi oleh kalangan NII, yang salah satunya adalah kelompok Abdulah Sungkar, yang sejak tahun 80-an rajin “mengirim” orang ke Afghanistan. Dalam beberapa wawancara yang saya lakukan dengan beberapa anggota NII sejak tahun 1994, mereka sering mengistilahkan komunitas islam dengan istilah “jamaah islamiyah” (mengambil dari istilah fiqih politik tentang dikotomi Darul Islam dengan Darul Harb). Nah rupayan inilah yang saya pikir kemudian dibesar-besarkan dan didramatisir oleh para intel, sehingga pada fase berikutnya secara cerdas demi kepentingan politik dan ekonominya AS mengeksploitasi nama ini menjadi sebuah organisasi teroris internasional… Terima Kasih. Semoga analisa seadanya saya ini ada yang lebih bisa melengkapi dan mengkritisinya.Wassalam

Posted by sherva  on  11/03  at  04:12 PM

Dengan wawancara diatas, sangat bagus sekali untuk dipelajari dan diamati dan sebagai info baru dalam menguak / mengetahui sepak terjang, tujuan, visi&misi dan keberadaan JI (teroris) yang dapat mengganggu keutuhan NKRI dan kedamaian di wilayah ASEAN.Untuk Saudara Musthafa Abd.Rahman saya sangat salut. SEMOGA TUHAN MEMBERKATI ANDA.

Posted by YOHANES AGUNG BASUKI  on  10/27  at  06:10 PM

uraian disana dapat saya tangkap hanya sebagai uraian gambaran menurut sudara mustafa tidak ada data2 otentik yang di sajikan dalan artikel ini. saya khawatir ini hanya akan menjadi suatu bacaan biasa yang kebenarannya kurang bisa di percaya mungkin kalau saya juga tinggal lama dan beraktivitas di mesir.. apakah boleh saya berpendapat yang lain.. mungkin berbeda dengan yang di uraikan oleh saudara mustafa?? untuk itu saya menyarankan artikel lebih berorientasi pada fakta yang ada datanya. syukron jiddan.

Posted by jefrizal  on  10/25  at  09:11 AM

Ass.

Melihat paparan JI dari Pak Mushthafa, saya melihat penjelasannya masih perlu verifikasi. Di buku-buku karya sarjana Amrik, misal, John L. Esposito, yang saya baca, JI bukanlah sempalan dari IM. Kalau Tandhimul Jihad memang, iya.

Lagi pula analisis yang diungkapkan Pak Mushthafa saya pandang masih dugaan-dugaan belaka. Ini kan tidak ilmiyah, non empiris. Saya pikir pendapat Pak Musftahfa juga terkait dengan opini berita media massa, yang kebenarannya sangat nisbi.

Posted by m.hasan syari'ati  on  10/24  at  07:11 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq